Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 114 ( Novel Lama )


__ADS_3

Belum juga menaruh tas di mejanya, Arsen sudah menghampiri gadis cantik yang sedang asyik membaca buku tebal yang di yakini Arsen adalah sebuah novel.


Namun judul di novel itu membuat Arsen bingung. Karena sungguh tak masuk akal, Clarice membaca novel yang mungkin sudah tidak bisa di beli dalam kondisi baru itu. Sebuah judul novel yang bagi Arsen sudah sangat jadul itu membuatnya mengerutkan kening.


Novel lama karya Habiburrahman El Shirazy yang di terbitkan pertama kali tahun 2007 di mana mengisahkan tentang seorang Mahasiswa Indonesia yang bekerja keras sekaligus menuntut ilmu di Al-Azhar University Kairo itu memang terdengar sangat lama bagi Arsen. Bahkan di telinga kita sendiri, bukan?


Padahal sangat banyak novel - novel bagus yang baru terbit. Kenapa Clarice memilih novel lama di tengah gempuran banyaknya penulis baru dengan mahakarya baru?


Namun tidak di pungkiri jika jalan cerita novel tersebut sangat bagus dan menarik. Bahkan menguras air mata dengan kisah harunya, ketika tokoh utama yang bernama Khairul Azzam bisa pulang ke Indonesia dan kembali berkumpul dengan Ibu dan adik - adiknya.


Pikiran Arsen masih terus berputar. Tapi menggumamkan semua itu hanya di dalam hati saja.


' Untuk apa dia yang merupakan gadis modern membaca novel yang sudah tidak di cetak lagi itu? '


' Memangnya sebagus apa ceritanya? '


Gumam Arsen di dalam hati, yang memang tidak pernah membaca novel itu. Hanya dapat memperkirakan saja kapan novel itu terbit, dan sebuah kilasan yang di ceritakan di sampul belakang..


Pertanyaan itu membuatnya reflek membaca judul novel itu secara langsung.


"Ketika Cinta Bertasbih!" gumamnya membaca judul novel di tangan Clarice.


Hingga gadis yang fokus membaca dengan menunduk itu melirik ke atas, dan melihat Arsen yang duduk dengan menghadap ke belakang, menghadap dirinya secara penuh.


Memperbaiki posisi, Clarice meletakkan novelnya di atas meja. Dan ia kembali membaca tanpa menyapa Arsen. I atau dan sudah malas meladeni seorang playboy, batinnya.


Bukan ia tidak tertarik pada Arsen yang tampan. Tapi ia hanya tidak suka bersaing, apalagi hanya karena urusan laki - laki yang tidak terlalu penting untuk remaja seusianya.


Kekagumannya pada sang ketua kelas saja belum terjawab dan tidak tau harus bagaimana, sudah datang lagi lelaki tampan yang menarik hati banyak gadis remaja. Termasuk matanya sendiri.


Hanya mata, tidak sampai turun ke hati! itu yang di tegaskan Clarice sejak kemarin.


"Kenapa membaca novel lama seperti ini?" tanya Arsen. "Bahkan mungkin sudah tidak di cetak ulang..." lanjutnya.


"Bagiku tidak harus membaca novel baru, yang penting jalan ceritanya bagus dan memiliki nilai yang bagus!" jawab Clarice menatap Arsen. "Dan novel ini memang sudah tidak di cetak lagi, mangkanya aku meminjam dari perpustakaan sekolah." lanjutnya kembali menunduk untuk membaca part selanjutnya.


Namun sepertinya ia sudah tidak akan bisa fokus lagi untuk membaca jalan ceritanya. Karena Arsen terus saja mengajaknya bicara ini dan itu.


"Memangnya menceritakan tentang apa? jatuh cinta?" tanya Arsen yang memang tidak pernah membaca novel itu.


"Baca saja sendiri!" jawab Clarice cuek.


Arsen menyebikkan bibirnya mendengar jawaban Clarice yang sangat singkat dan terkesan cuek.


"Lihat!" ucap Clarice melirik sisi kanan. Dimana dari arah sana mulai banyak siswa yang berdatangan. "Mereka semua menatap dan melihat aneh kepadamu yang duduk di sini." ucap Clarice lirih. Sehingga hanya Arsen yang dapat mendengarnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Arsen. "Kita berteman, kan? sama seperti dengan mereka."


"Iya, tapi karena kamu anak baru jadi mereka melihat kamu aneh duduk dengan menghadap ku seperti ini!"


"Oh ya?" tanya Arsen. "Apa karena aku tampan jadi banyak yang menganggap aku lebih baik duduk di kursi ku sendiri? tanpa harus berkenalan dengan gadis cantik seperti mu?"


Clarice menarik mundur sedikit wajahnya dari Arsen, matanya memicing tajam. Ia benar - benar tidak tau arah bicara Arsen.


"Apa maksud mu?" tanya Clarice.


"Maksud u, apa sebaiknya aku duduk di kursi ku sendiri? supaya kalian para gadis tidak berebut untuk bisa dekat denganku!" jelas Arsen membuat Clarice mendelik.


Bukkk!


Buku tebal itu menimpuk lengan Arsen yang bersandar di atas sandaran bangku.


"Percaya diri sekali kamu!" hentak Clarice. "Balik sana ke mejamu! sebentar lagi pasti Lia akan datang!"


"Aku akan pergi kalau kamu sudah memberi tahu akau, siapa nama kamu?"


"Kamu sudah bertanya kemarin! untuk apa tanya lagi!" hentak Clarice.


"Tapi aku sudah bilang, kalau aku lupa!"


"Dan aku sudah bilang untuk mencari namaku di absensi saja!" jawab Clarice.


"Memangnya di absensi ada foto kamu?" tanya Arsen. "Ada 22 nama murid perempuan di kelas ini, bagaimana aku tau itu yang menjadi nama kamu!" jelas Arsen sedikit memaksa supaya Clarice segera menyebutkan namanya.


"Itu bukan urusanku, Buaya Darat!" jawab Clarice mengingat betapa akrab Arsen dengan gadis yang bahkan baru di kenal pemuda itu kemarin.


"Tapi itu jadi masalah buatku!"


"Yang penting kemarin aku sudah menjawab. Kalau kamu lupa, itu menjadi urusanmu dengan otakmu, kenapa sampai lupa!" jawab Clarice dengan cuek dan jual mahal.


Tapi seperti itulah seorang Brighta Clarice Agasta. Ia tak ingin menjalin hubungan yang mengarah pada status berpacaran. Dari cara Arsen ingin sekali mengenal dirinya, di saat banyak anak gadis di kelas, ia takut jika Arsen mencoba untuk merebut hatinya di saat banyak gadis yang mengejarnya.


Bukannya sok percaya diri, tapi waspada itu penting. Apalagi mereka baru berkenalan.

__ADS_1


Arsen memicingkan matanya dalam diam, dalam kepalanya ia sungguh sedang berfikir keras. Kenapa Clarice sedemikian acuh dengan dirinya, di saat banyak anak gadis menawarkan diri untuk hang out di malam minggu besok.


"Itu! Lia datang! Pergi sana. Lia tidak akan tega mengusir anak baru yang belum tau jalan untuk sampai di mejanya." ucap Clarice membuat Arsen tergelak tanpa suara, dan segera menoleh ke arah pintu, dan mencari sosok yang namanya Lia.


"Mana yang namanya Lia?" tanya Arsen tanpa menoleh Clarice. Ia tetap menatap pintu, di mana ada Hanna dan Lia yang memasuki kelas secara bersamaan.


"Yang pakai tas merah!" jawab Clarice.


"Oh..." sahut Arsen tanpa berniat untuk beranjak dari kursinya.


"Cepat pergi sana!" lirih Clarice sembari melirik Hanna dan Lia yang menatapnya dengan seulas senyum tipis penuh arti.


Seolah keduanya tengah bertanya. bagaimana mungkin anak baru itu mendekati Clarice? kapan kenalnya? tidak mungkin kalau baru pagi ini berkenalan, kan?


Hanna dan lia semakin mendekat, dan...


"Hai, Cla!" sapa Hanna yang langsung duduk di kursinya, sambil terus memandangi Clarice dan Arsen secara bergantian dengan di sertai sebuah senyum jahil.


"Hai, Han!" balas Cla tersenyum.


Sedangkan Lia yang kursinya tengah di duduki oleh Arsen, memilih untuk duduk di bangku sebelahnya yang kosong. Sembari menatap Arsen, dan berharap laki - laki itu segera pindah dari kursinya. Karena cepat atau lambat, pemilik kursi yang ia tempati pasti akan datang.


"Pergilah... Lia mau duduk!" ucap Clarice kembali mengusir Arsen untuk kesekian kalinya.


Arsen menoleh pada gadis yang di lirik oleh Clarice, yang tak lain adalah Lia.


"Aku sudah tau namanya Cla..." ucap Arsen menatap Lia. "Siapa nama lengkapnya?" tanya Arsen pada Lia yang sontak mengerutkan keningnya bingung.


"Maksud kamu apa?" tanya Lia yang bingung.


"Kalau kamu mau aku pindah dari kursi ini, beri tahu aku siapa nama teman kalian ini!" ucap Arsen menunjuk Clarice yang memicingkan matanya kesal pada Arsen.


"Aku sudah mendengar dia memanggilnya Cla..." ucap Arsen menunjuk Hanna. "Tapi aku lupa siapa nama panggilnya."


"Tanya saja sendiri padanya.." jawab Lia menatap lelaki yang memang ia akui sangat  tampan. Tak memungkiri jika seandainya dirinya yang di dekati oleh Arsen, dia pun tidak akan menolak. Atau justru berbangga diri.


"Aku sudah bertanya padanya, Lia... tapi dia tidak mau menjawab!" jawab Arsen yang justru lebih hafal nama Lia di banding nama Clarice. "Katanya semalam sudah menjawab, untuk apa menjawab lagi!" jelas Arsen membuat Lia dan Hanna mendelik kemudian kompak menatap Clarice.


"Kalian semalam bertemu?" tanya Hanna.


"Ya, kami tidak sengaja bertemu di mall!" jawab Arsen.


"Oohh..." Lia dan Hanna sama - sama mengangguk paham.


"Sekarang jawab aku! siapa nama panggilan lengkapnya?" tanya Arsen mengulang pertanyaan untuk kedua kalinya. "Kalau kamu tidak mau menjawab, mulai hari ini aku akan duduk di sini." ancam Arsen tanpa ragu pada Lia.


"Memangnya kenapa?" tanya Arsen tanpa rasa bersalah. "Mau anak baru atau anak lama, status kita di sini sama. Sama - sama murid!" jawab Arsen tersenyum penuh kemenangan. "Sama - sama pelajar! dan sama - sama bayar sekolah!"


Dan tiga gadis itu akhirnya hanya bisa saling pandang satu sama lain secara bergantian. Bukan hanya mereka, tapi juga anak - anak yang baru datang, dan melihat Arsen dikerubungi tiga gadis sekaligus.


Dan mereka heran ketika suara Arsen sedikit tinggi ketika menjelaskan bahwa mereka sama - sama seorang murid. Dan yang menjadi pertanyaan mereka, kenapa Arsen terlihat seperti tengah mendekati Clarice?


"Tunggu! tunggu! tunggu!" ucap Arsen mengangkat kedua tangan, seolah meminta mereka semua untuk diam dan tak berkata apapun.


"Cla..." gumam Arsen lirih, dengan sepasang mata yang menatap dalam pada Cla. Hingga membuat Clarice menahan nafasnya. Ia yakin jika Arsen akan berkata...


"Clarice...." desis Arsen yang semalam hanya mengingat nama Ris saja.


Clarice menghela nafas panjang karena dugaannya benar. Bukan karena Arsen berhasil mengingat namanya. Tapi ia masih heran, kenapa pemuda itu sulit sekali mengingat namanya. Sampai harus mendapatkan clue dari Hanna terlebih dahulu.


"Benar, kan? Clarice..." tebak Arsen setelah melihat wajah Clarice yang hanya bisa menghela nafas, tanpa bisa membantah. Sudah bisa di tebak jika jawabannya sudah pasti benar dan tidak salah kali ini.


"Jawab aku... benar tidak?" tanya Arsen sedikit memaksa hingga ia condongkan kepalanya ke arah bangku Cla. Dan Clarice reflek bersandar pada kursi, lalu menyebikkan bibirnya malas. "Tapi aku semalam hanya menemukan nama Risa saja yang mengenakan nama Ris... tidak ada Clarice!" gumam Arsen mengingat pencarian semalam.


"Memangnya kamu cari dimana?" sahut Hanna.


"Di grup chat!" jawab Arsen. "Di barisan nomor yang tak aku kenal, yang ada nama Ris cuma Risa. Tapi aku sangat ingat kalau dia tidak menyebutkan nama Risa!" jelas Arsen.


"Jelas saja!" sahut Lia. "Dia memang tidak mencantumkan nama panggilannya di sana!"


"Lalu?"


"Cari saja di absensi! Setelah kamu tau nama lengkap ku, kamu akan tau nama apa yang aku gunakan di sana!" sahut Clarice sedikit ketus.


"Jadi jawaban aku benar, kan? nama kamu Clarice!" seru Arsen mulai meyakini jawabannya tidak akan meleset kali ini.


"Ya! kamu benar! sekarang kembalilah ke tempat mu! lima menit lagi guru akan datang!" usir Lia yang terpaksa harus berdiri dari duduknya, karena pemilik bangku yang ia duduki sudah datang.


Tergelak penuh kemenangan, Arsen berdiri dari duduknya, "Baiklah! aku tinggal menemukan nomor ponselmu!" ujar Arsen.


Clarice memicingkan matanya melihat Arsen yang beranjak dari duduknya dan mulai melangkah menuju bangkunya yang ada di deret nomor dua dan bangku nomor 3.


Sorot mata kembali bertemu, ketika Arsen sudah duduk di bangkunya dan menatap Clarice yang menoleh padanya dan menatap tajam dirinya, yang sama sekali tidak takut dengan tatapan sang gadis.

__ADS_1


Justru Arsen mengartikan jika tatapan Clarice sedang menantang dirinya untuk meluluhkan kekuatan hati yang sedang di bangun gadis itu.


' Okay! I'll do! '


Gumam Arsen di dalam hati. Pemuda itu terus tersenyum menggoda pada sang gadis, namun sang gadis masih mengerutkan bibirnya.


Setelah menatap Arsen dengan tatapan yang mematikan, mata Clarice terarah pada lelaki di bangku sebelahnya. Di mana sang ketua kelas sudah duduk di sana. Entah kapan lelaki itu datang. Yang jelas, ia bau melihat etika sang pemuda melepas topinya, dan memasukkan ke dalam laci yang ada di bawah meja.


' Mau pakai topi, mau tidak. Kamu tetap saja tampan! '


Gumam Clarice di dalam dunia lamunannya. Dalam hatinya ia sudah cekikikan setiap  melihat sang pemuda.


"Cla?" suara yang sangat ia kenali memanggil dari deret nomor 3, dan bangku nomor 3 dari depan.


"Hem? ya?" jawab Clarice menoleh sang sahabat.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Naufal penasaran sejak tadi Cla menoleh ke belakang. Itu karena Naufal tidak sempat melihat jika baru saja Arsen duduk di depan Clarice hingga membuat Cal memicingkan mata pada Arsen. Naufal datang saat Arsen sudah sampai di bangkunya.


"Tidak ada!" jawab Clarice tersenyum lucu pada Naufal.


Ya, Naufal satunya laki - laki yang bisa membuat Clarice tertawa lepas. Karena ia mendapat rasa persahabatan yang tulus dari Naufal, sejak di Junior High School.


Dan jika Clarice di tanya, siapa pemuda pertama yang menarik pandangan mata dan hatinya pertama kali?


Maka jawabannya adalah Naufal Mahardhika. Teman satu kelas saat Junior High School, dan kala itu mereka pertama kali berkenalan di kelas 7. Siapa sangka lama - lama keduanya akrab, di tengah Clarice yang selalu menyimpan perasaan yang kala itu tak tau apa artinya.


Yang jelas dia suka dan selalu ingin melihat sang pemuda. Meski nyatanya rasa itu hanya terus terpendam di dalam dada karena tidak pernah terungkapkan.


Hingga berakhir dengan sebuah persahabatan, karena Cal tau jika Naufal memiliki kekasih di sekolah lain. Meskipun Cla yakin itu hanya cinta monyet semata.


Lagi pula perasaan cinta yang ia miliki seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi rasa peduli. Dan berujung pada saling menjaga dan menyayangi dalam artian sahabat.


Jika teman yang tidak mengenal mereka sejak Junior High School, pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Atau dua anak manusia yang memiliki hubungan spesial, yang belum jelas arah dan sebutannya. Dan jika kekasih Naufal melihatnya, sudah pasti akan cemburu.


Itu karena keduanya tak sungkan untuk jalan berdua, kerja kelompok berdua di rumah, makan berdua di kantin, bahkan berboncengan motor berdua jika Clarice ingin pulang ke rumah sang Papa.


Karena Naufal tinggal di komplek perumahan elite yang bersebelahan dengan komplek perumahan Papa Zio.


Dan Naufal sering ke sekolah bawa motor sendiri, meskipun tak jarang pula di antar oleh sopir. Ia termasuk salah satu murid yang lolos ujian SIM sekolah khusus Alexander International School.


Kembali menghadap depan, bertepatan dengan guru olah raga memasuki kelas. Dan ketua kelas sigap meminta semua murid untuk berdiri dan menyambut datangnya guru pertama yang mengajar di pagi hari.


Memulai pelajaran dengan berdo'a kemudian sang guru olah raga yang merupakan seorang laki - laki berusia sekitar 29 tahun itu meminta untuk semua berganti baju. Dari seragam sekolah menjadi seragam olah raga, yang memang tidak boleh dipakai dari rumah. Kecuali jika di rangkap.


Aturan yang tak terbantahkan!


Selesai mengganti baju, semua murid di kelas X-3 di minta untuk datang ke salah satu lapangan yang tersedia. Yaitu lapangan basket. Pagi itu mereka akan berolah raga BAB Basket.


Berjalan bersama Hanna, Clarice yang sudah mengenakan baju olah raga berupa celana pendek dan kaos pendek itu berjalan dengan santai mendekati lapangan. Meski pun ia ragu dengan kegiatan olah raga yang akan mereka lakukan.


Dia adalah seorang kapten Cheerleader, bukan kapten basket. Mungkinkah dia bisa memainkan bola basket?


Sejak di Elementary School, ia selalu gagal memasukkan bola ke dalam ring bola basket. Lalu apa jadinya jika hari ini ia akan memainkan bola basket di hadapan sang ketua kelas yang ia sukai. Belum lagi anak baru yang mulai merecoki dirinya.


Bukan tidak tertarik dengan Arsen, karena yang ada hari ini ia sangat bimbang. Kedua pemuda itu sama - sama menarik dari segi fisik. Soal hati, Clarice tidak mengenal keduanya.


Jika sang ketua kelas, mereka memang sudah berada di kelas yang sama hari pertama masuk sekolah. Tapi tidak pernah sekalipun bercakap lebih dari 2 menit.


Jika Arsen, mereka baru kemarin pagi satu kelas, dan baru semalam saling mengenal dan bercakap. Dan untuk saat ini yang ada di dalam benak Clarice adalah Arsen seorang playboy. Tapi semua hanyalah dugaan awal dari hasil pantauan pagi ini.


Kembali pada hati yang resah, saat hendak sesi olah raga basket di mulai. Sebagai gadis seumuran Clarice, tentu masih suka malu - malu dengan lawan jenisnya. Apalagi jika jelas terlihat jika dirinya tidak bisa memainkan bola basket.


Sebelum pada kegiatan inti, semua berbaris rapi untuk melakukan pemanasan. Entah kebetulan atau sengaja, ketika Clarice berbaris di barisan nomor dua, ternyata tepat di samping kanannya adalah barisan anak laki - laki.


Dan yang sangat di luar nalar Clarice adalah... kenapa harus Arsen yang berdiri tepat di sampingnya?


Meskipun senang karena ia selalu terlihat jika tengah di dekati sang pemuda. Tapi rasa tidak sukanya dnegan Arsen senang sekali di dekati anak - anak dari kelas lain, membuat Cla malas berhubungan dengan Arsen.


Ketika Mr. Faiz atau guru olah raga nya itu meminta murid nya untuk merentangkan kedua tangan demi mengambil jarak, maka yang terjadi adalah ujung jemari lentik Clarice di tarik - tarik kecil oleh Arsen yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.


Tanpa ragu lagi, Clarice memukul punggung tangan Arsen. Namun pemuda itu justru tersenyum menghadap depan, tanpa melihat sang gadis sama sekali. Tentu saja itu membuat Clarice merasa kesal.


' Awas kamu, ya! dasar bocah meresahkan! '


Ancam Clarice di dalam hati. Sepasang matanya melirik ke kanan, di mana Arsen masih terlihat mengulum senyumnya.


Selama sesi pemanasan tak henti - hentinya Arsen mencuri pandang pada Clarice. Dan itu membuat Cla reflek membuang muka ke arah lain.


Setelah sesi pemanasan berakhir, semua siswa berbaris rapi untuk bergantian mencoba dribbling kemudian memasukkan bola ke dalam ring.


Dengan menarik nafas panjang, Cla berdiri di urutan nomor tiga, dari tim perempuan. Sementara tim laki - laki masih duduk bersantai.


"Vino! jaga ring!" perintah Mr. Faiz pada sang ketua kelas.

__ADS_1


Wajah Clarice yang gugup semakin tegang, seiring pemilik nama mulai mendekati ring.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2