
"Maksudnya kamu...." Zio menggantung pertanyaannya. Namun sepasang matanya menatap lekat wajah Zahra. Seolah tak percaya dengan status yang ingin ia ucapkan.
Mengangguk pelan, "Iya!" sahut Zahra dengan senyum canggung. Tentu ia tau apa yang ada di dalam pikiran Zio. Ia juga paham, mungkin Zio tidak enak hati untuk menyebut julukan akan dirinya.
"Oh.."
Zio mengangguk pelan dan segera membuang pandangan ke arah yang lain. Ingatannya seketika kembali pada suatu masa. Dimana ia pun pernah membuat seorang perempuan memilih untuk menjada di banding hidup dengan dirinya.
Dialah Calina Agasta.
' Apa dia sudah menikah lagi dan memiliki anak? '
Mengingat nama Calina, seketika ia teringat akan malam yang pernah mereka lalui. Tidak kah malam itu membuat Calina hamil?
Mengingat semua itu membuat Zio seperti orang linglung. Dia hanya diam seribu bahasa. Hanya helaan nafas yang sampai dapat di dengar oleh Zahra yang juga masih betah berdiri di tengah lobby bersama putri kecilnya.
"Ada apa, Pak Zio? Kenapa diam saja?" tanya Zahra.
"Oh, tidak!" jawab Zio reflek. "Aku hanya teringat dengan seseorang."
"Janda juga?" tebak Zahra.
"Hemm.. Iya!"
"Janda dari Bapak?" tanya Zahra lagi.
"A...?" Zio membulatkan matanya lebar. Tak percaya jika Zahra akan mengatakan hal itu. "I...iya..." jawab Zio tersenyum kikuk.
"Saya kira istri Bapak hanya almarhumah Bu Naura..."
"Kamu tau tentang Naura?" tanya Zio menyipitkan mata.
"Hem..." Zahra mengangguk pelan. "Dari cerita teman - teman dan profil yang beliau tinggalkan."
Zio mengangguk lemah. Dunia benar - benar berjalan begitu cepat. Tanpa terasa dirinya yang dulu hidup bahagia bersama Naura, seolah tak ada satu hal pun yang menghalangi kebahagiaan mereka.
Nyatanya mautlah yang memutus segala suka cita yang mereka bangun selama bertahun - tahun.
"Jadi... kamu tau alasan aku di pindah ke luar kota, dan kembali di panggil ke sini?" tanya Zio lirih. Antara malu dan ragu.
Zahra tersenyum manis, "saya tau, Pak!"
"Lantas menurutmu, apakah aku ini hanya sampah perusahaan?"
Zahra menggeleng cepat, "tentu saja tidak!" jawabnya, "saya tau Pak Zio memiliki kinerja yang bagus!"
"Tau dari mana?"
"Teman - teman."
Zio mengangguk sembari tersenyum kecut. Memalukan, tapi biarlah. Toh semua sudah berlalu. Ia pun sudah kehilangan apa yang ia perjuangkan. Kini hanya ingin fokus untuk memperbaiki diri
"Ya, sudah kalau begitu. Aku harus... pulang..." pamit Zio tersenyum samar bahkan sedikit kaku.
"Iya, Pak Zio.. Silahkan." jawab Zahra dengan sopan dan mengangguk ramah.
Zio berlalu dari ruang lobby. Sedangkan Zahra masih menatap punggung tegap Zio yang terlihat berbeda saat tidak mengenakan jas kerjanya.
"Mama... Ayo...cepat!" suara gadis kecil yang masih menggenggam tangan nya menarik - narik untuk segera memasuki gedung.
__ADS_1
"Iya, Felia. Ayo!"
Melangkahlah karyawan pengganti Naura itu memasuki gedung Rumah Sakit Jiwa, guna menemui seseorang.
***
Malam harinya, adalah malam minggu. Malam yang panjang untuk para dara muda. Namun menjadi malam yang sepi dan sunyi untuk seorang Zio Alfaro.
Lelaki itu hanya menyibukkan diri dengan perencanaan planning perusahaan. Duduk di depan sebuah laptop bergambar apel yang di gigit. Di sebelahnya hanya ada secangkir kopi buatannya sendiri.
Ruang tengah yang pernah di penuhi kehangatan sosok Naura, kini hanya terasa dingin nan sepi.
Sedang di ketinggian sekian puluh meter, malam minggu menjadi malam yang hangat untuk keluarga kecil Kenzo dan Calina.
Malam telah larut, setelah sepanjang sore hingga malam mereka menghabiskan waktu di taman kota. Kini Calina menemani Clarice di kamar gadis kecil itu. Membacakan sebuah kisah di negeri dongeng untuk mengantarkan putri pertamanya tidur nyenyak di malam yang dingin.
Dan sepasang mata bulat kecil itupun akhirnya terlelap. Karena sang ibu terus menerus mengusap kepalanya sambil bercerita dengan penuh kelembutan. Hingga membuat kelopak matanya terasa berat.
"Good night! I love you..." ucap Calina mengakhiri cerita dengan sebuah kecupan di kening Clarice.
Ia perbaiki selimut tebal sang putri. Ia tatap dalam wajah cantik Clarice. Di wajah itu, meski tak tercium darah Kenzo, nyatanya ada garis wajah Kenzo yang terukir di sana. Mungkin karena Kenzo lah yang merawatnya sejak kecil, dan Kenzo lah yang di panggil Daddy olehnya. Sehingga Clarice sedikit mendapat kilatan wajah khas Kenzo.
Seulas senyum pun terbit dari bibir Ibu dua anak itu. Ia merasa cukup bahagia. Karena meski Clarice lahir saat dirinya masih berstatus janda, tapi setidaknya Clarice memiliki cinta seorang laki - laki yang dengan bangga menyebut Clarice sebagai anak pertamanya.
Senyum indah Calina terus mengembang. Mengantarkan dirinya kembali pada momen - momen tersulit di dalam hidupnya. Hingga senyum yang semula senyum bahagia, menjadi senyum miris hingga akhirnya lenyap entah kemana.
š Flashback On . . .
Wanita yang dulu di juluki sebagai bunga desa itu, kini berstatus sebagai janda. Di tengah statusnya, ia tengah mengandung anak mantan suaminya. Tentu semakin hari perut wanita 27 tahun itu semakin besar.
Meski ia dekat dengan seorang pria yang tak lain adalah bos mantan suaminya, tak lantas membuat dirinya bisa dengan mudah menikah dengan pria itu. Selain status janda hamil 9 bulan yang ia sandang saat ini, juga karena status sosial yang membuat dirinya maju mundur untuk berjuang.
Ya, wanita berambut pirang dan pendek yang dekat dengan sosok Kenzo Adhitama, CEO salah satu perusahaan besar di Ibukota.
Calina Agasta, wanita itu berdiri di dekat jendela apartemen kecil yang di berikan Kenzo untuk ia tinggali sampai kapanpun ia mau. Sepasang matanya yang basah menatap lurus ke bawah. Melihat keramaian Ibukota saat jarum jam menunjukkan jam istirahat bagi pekerja kantoran maupun pekerja lapangan.
Ia baru saja memeriksakan kehamilannya tadi pagi. Berbaur dengan puluhan ibu hamil yang mengantri. Ia menolak tawaran Kenzo untuk di periksa secara VIP meski perutnya sudah besar.
Selama proses antri, semua Ibu hamil selalu di temani suaminya. Atau minimal ada yang menunggunya di ujung lorong dan bercakap melalui kode. Sementara dirinya hanya duduk sendiri. Melihat kanan kiri, dan hanya bisa memendam rasa iri dan miris.
' Andai Mama sudah datang ... '
Lirihnya dalam hati. Mama Shinta di kabarkan akan segera datang dari desa. Namun karena suatu hal di perjalanan membuat Mama Shinta terlambat datang di Ibukota.
Setelah selesai dengan sesi antrian dan rangkaian pemeriksaan, Calina pulang bersama Mang Heru yang hari itu di tugaskan Kenzo untuk mengantar Calina ke Rumah Sakit.
"Langsung pulang, Neng?" tanya Mang Heru.
"Iya, Pak!" jawab Calina tersenyum.
"Neng, saya boleh tanya?"
"Boleh, tanya saja, Pak!" jawab Calina.
"Apa Neng Calina tidak ingin menikah lagi?"
Calina menajamkan pandangannya. Seolah tak percaya dengan pertanyaan Mang Heru. Pertanyaan singkat itu memang bisa dengan mudah di ucapkan siapa saja. Tapi untuk yang di tanyai tentu saja sesuatu yang berat untuk di jawab dengan jujur.
"Memangnya ada yang mau menikahi wanita hamil seperti saya, Pak?" tanya Calina balik. "Saya yakin tidak semua laki - laki bisa menerima dengan tulus anak di dalam rahim saya ini, Pak." lanjutnya terdengar cukup memilukan.
__ADS_1
"Jika ada?"
"Jika ada mungkin saja mereka hanya kasian.."
"Tidak semua laki - laki seperti itu, Neng."
"Dari mana Pak Heru tau?"
"Saya juga laki - laki, tentu saya tau, Neng!" jawab Mang Heru tersenyum lirih dari kaca spion.
Dari obrolan itu, Calina sangat berharap jika kelak akan ada laki - laki yang menyayangi anaknya dengan tulus.
Namun obrolan itu berakhir bersamaan dengan mobil Alphard yabg di kemudikan Mang Heru berhenti di lampu merah. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil CRV hitam berhenti di samping mobil Alphard.
Calina menoleh ke samping, ia seperti tak asing dengan mobil itu. Dan benar saja, itu adalah mobil milik Kenzo. Cepat - cepat Calina menurunkan kaca mobil.
"Mas Kenzo!" serunya dari jendela. Ia yakin yang ada di balik kemudi pasti Kenzo.
Menyadari ada kepala yang keluar dari jendela, lelaki yang ada di balik kemudi CRV pun reflek menoleh ke sisi kanan. Kemudian menurunkan kaca jendelanya. Senyum pun ia ukir di bibir tipisnya.
"Sudah selesai?" tanya Kenzo.
Mengangguk cepat dan tersenyum senang, "sudah!" jawab Calina. "Kamu dari mana?" tanyanya.
"Meeting!" jawab Kenzo.
Sorot mata Calina beralih pada sisi kiri Kenzo. Ada mata yang juga melihatnya dari bangku penumpang itu. Saat ia mencoba untuk mengintip, lampu hijau sudah menyala. Mobil pun harus kembali melaju.
"Hati - hati!" seru Kenzo melambaikan tangan sembari melajukan mobilnya pula.
Calina yang di penuhi tanda tanya siapa gerangan di samping Kenzo pun hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Tangan melambai pelan.
Saat mobil Alphard melewati mobil Kenzo bersamaan dengan Calina menutup kaca mobil, barulah ia dapat melihat siapa di bangku penumpang bagian depan.
Gadis berambut pirang yang pernah ia temui sedang makan siang bersama Kenzo di mall beberapa bulan lalu. Senyum yang terukir pun seketika lenyap begitu saja. Pikirannya melayang entah kemana.
Ia hanya diam bersama angan - angan yang tak kunjung berakhir. Mimpi yang tak kunjung tercapai.
' Siapa sebenarnya wanita itu? '
Tanya Calina dalam hati.
Di hari - hari terakhir menjelang kelahiran anaknya, sungguhlah Calina berharap Kenzo akan menemani dirinya. Menekan rasa sakit saat melahirkan.
Tapi gadis itu? Siapa dia? Kenapa selalu hadir di sisi kenzo?
Semakin ciutlah nyali Calina untuk merebut hati seorang Kenzo. Ia usap perut buncitnya, untuk mencari kekuatan dari dalam sana. Dalam hati ia berharap agar tidak cemburu. Namun mana mungkin bisa ia lakukan. Hatinya sudah tertancap dalam nama Kenzo Adhitama.
Apalagi setelah ia tau, jika Gilang sang dewa penyelamat adalah Kenzo. Nama Gilang hanya ia jadikan samaran. Semua terungkap, saat Calina menemukan motor yang pernah ia kendarai itu terparkir di parkiran roda dua apartemen.
š Flashback Off . . .
Dari kisah itu, siapa sangka jika malam ini, ternyata putrinya justru memiliki garis wajah yang mirip dengan Kenzo. Meski pria itu bukanlah ayah kandung Clarice.
Calina tersenyum. Mengenang kembali masa - masa itu. Mengubur ketakutan akan sang anak yang tak akan memiliki sosok Ayah.
"Daddy Kenzo sangat menyayangimu, Nak..." lirih Calina kembali mencium kening putrinya.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
__ADS_1