
Duduk di atas motor berdua dengan sahabat yang lawan jenis memang terlihat tidak jauh berbeda dengan pasangan kekasih. Tapi bedanya mereka tidak terlihat bersikap lebay atau bersikap yang di buat - buat seperti anak remaja pacaran jaman sekarang.
Yang berani mencium pipi ketika sedang duduk berdempetan, di saat berada di tempat seperti arena balap seperti ini. Tanpa malu dan tanpa ragu, karena banyak teman yang melakukan hal serupa. Di tambah tidak ada orang tua atau keluarga yang turut serta, ataupun sekedar melihat.
Celingukan di atas motor untuk mencari sosok Vino, namun yang di dapat Clarice hanyalah penjelasan Author barusan. Di mana banyak anak muda berbagai usia yang melakukan hal semacam itu.
Bahkan sang perempuan ada yang pindah ke jok depan dan yang lelaki bisa dengan mudah memeluk dari belakang. Meskipun hati Clarice mencibir hal itu, tapi nyatanya bibir Cla hanya bisa miring dengan rasa malas. Tanpa protes atau bagaimana, karena di jaman sekarang sudah banyak anak sekolah yang seperti itu. Bahkan di usia mereka yang belum genap 17 tahun.
Di kanan kiri Clarice dan Naufal juga merupakan pasangan muda mudi, bedanya mereka terlihat lebih dewasa, dan menyadari untuk tidak mengumbar kemesraan kelewat batas seperti yang lain. Atau bisa jadi mereka sama seperti Clarice, sahabat. Entahlah, yang jelas Clarice tidak mengenal mereka.
"Memangnya kamu ada yang kenal dengan mereka yang sedang bertanding?" tanya Clarice pada Naufal, setelah sosok pembalap yang menurutnya tidak asing melintas bagai kilatan petir yang menyambar pohon.
Di mana setelah mereka melintas, banyak penonton yang langsung turun di tepi jalan untuk melihat dua motor yang masih terus berkejar kejaran menuju titik putar balik.
"Sebenarnya ada. Tapi entah, dia jadi ikut atau tidak. Kemarin dia cuma bilang akan ikut. Tapi tadi aku tidak sempat tanya lagi!"
"Siapa?" tanya Clarice penasaran.
Mungkin saja yang lewat barusan memang sebenarnya dia benar - benar mengenalnya. Karena mata itu benar - benar tidak asing bagi Clarice.
"Ada pokoknya. Kalau nanti dia jadi datang kamu pasti tau!" jawab Naufal santai. "Aku tidak tau dia pakai motor yang mana! Di rumah dia punya beberapa motor yang biasa untuk dia pakai balap."
"Anak orang kaya dong?"
"Ya... sama seperti kita. Bedanya, hobi dia di dunia balap dan di dukung oleh orang tuanya. Dan juga Kakak laki - lakinya adalah seorang pembalap nasional."
"Hah!" pekik Clarice dengan mata membulat. "Serius?"
"Ya!" jawab Naufal singkat sembari mengamati dua motor yang mulai kembali mendekat.
Dan Clarice langsung mengambil ancang - ancang untuk bisa memperhatikan pemuda yang membawa CBR250RR yang sama persis dengan yang sedang ia duduki. Motor milik Naufal.
Dan lagi - lagi Clarice benar - benar merasa mengenali mata itu, tapi dimana? batinnya terus bertanya - tanya.
Sayang sekali motor itu hanya lewat sekelebat mata saja. Sehingga sulit untuk di amati lebih jeli. Apalagi terhalang oleh penonton yang lainnya.
Namun saat kedua motor sampai di garis finish, ternyata motor CBR itulah yang di nyatakan sebagai pemenang di babak pertama penyisihan.
***
Perlombaan terus berlanjut. Hingga setelah di dapatkan 6 pemenang, barulah Clarice kembali melihat motor yang di kemudikan oleh pemilik mata tak asing tadi lewat. Sehingga Clarice memilih untuk berdiri dari duduknya untuk menunggu motor itu kembali ke titik start sekaligus titik finish.
Clarice berdiri di atas pijakan kaki penumpang, kedua tangan berpegangan pada pundak Naufal yang menyangga motor menggunakan penyangga tengah di tambah dengan kaki panjangnya.
Motor CBR itu akhirnya kembali dari titik putar balik dengan posisi yang nyaris sejajar. Hanya saja motor lawan juga sama mirip dengan motor pemuda yang ingin di lihat Cla. Sehingga Clarice harus jeli. Untung masih ada helm yang sedikit membedakan.
Clarice yang sudah bersiap sedemikian rupa untuk melihat lebih jelas siapa gerangan di balik helm teropong, segera menajamkan pandangan matanya ke arah helm merah berkilat seperti api hitam. Dan saat itulah sorot matanya bertemu dengan pemilik motor itu.
Rupanya pembalap yang ingin sekali di lihat Clarice menyadari jika ada dirinya yang sedang berdiri di atas motor Naufal. Dan sepertinya pemuda itu juga mengenali Clarice. Dan saat melihat Clarice ada di sana, dia sempat terhentak kaget. Namun demikian hanya berlangsung satu detik saja.
Sebagai pembalap tentu ia tidak boleh lengah. Karena lengah sedikit nyawa dan kemenangan yang menjadi taruhannya.
Hingga pemuda itu kembali menggeber gasnya lebih dalam, dan tanpa sadar ia yang baru saja di posisi hampir tertinggal kini justru melewati lawannya dengan hanya berbeda jara 50 cm saja.
Suara riuh tepuk tangan kembali terdengar. Namun pemuda tadi tidak lagi fokus pada suara tepuk tangan yang memberinya selamat karena masuk ke dalam tiga besar. Pemuda itu segera meminggirkan motornya untuk bisa di ganti dengan motor selanjutnya. Dan ia langsung membawa motornya untuk berputar arah, untuk bisa kembali melihat Clarice yang berdiri di antara para penonton.
Hingga matanya kembali melihat Clarice yang masih berdiri dengan menghadap dirinya.
__ADS_1
' Apa dia mengenali aku? '
Gumam pemuda itu tersenyum dalam hati.
' Siapa sebenarnya dia? '
Gumam Clarice di dalam hati, dengan memicingkan matanya dengan sia - sia. Karena jarak terlalu jauh.
Dua anak manusia dengan pertanyaan berbeda, namun tatapan mengarah satu sama lain. Meski dari jarak sejauh itu.
Ingin rasanya sang pemuda menghampiri Clarice, untuk melihat dengan siapa gadis itu datang. Karena orang yang duduk di jok depan tertutup oleh barisan penonton. Dan lagi mereka berjarak 300 meter. Sangat tidak memungkinkan untuk bisa melihat siapa yang membonceng Clarice.
Waktu terus bergulir, dan tatapan mata keduanya akhirnya terputus juga. Karena jarak yang jauh, di tambah berapa orang mulai mengikuti gaya Clarice yang berdiri di atas motor. Dengan kaki yang menapak pada pijakan penumpang.
Hingga lotre kembali di keluarkan setelah di dapatkan 3 pemenang. Pemuda itu mendapat giliran pertama, untuk melawan satu temannya. Tak ingin fokusnya terganggu. Pemuda tersebut memilih untuk tidak menoleh pada Clarice yang masih dengan posisi sama untuk melihat.
Beruntung, pemuda yang tampaknya sudah sangat lihai dan berpengalaman itu rupanya kembali menang. Dan dia menunggu lawannya yang kini tengah melaju di atas lawan untuk menentukan juara tiga.
Pemuda yang beruntung itu kini hanya bisa berdoa supaya bisa memenangkan balapan yang sudah menjadi hobinya sejak tiga tahun terakhir itu.
Dan kini ia sudah bersiap dengan lawan yang sudah memenangkan dua kali start sebelum ini. Kali ini pemuda yang di lihat Clarice melawan pemuda lain untuk menentukan juara 1 dan juara 2.
Dengan mempersiapkan dirinya penuh, pemuda itu siap dan yakin akan mendapatkan juara 1 untuk kedua kalinya di aspal yang sama. Setelah bulan lalu ia pun memenangkan juara 1 di balapan motor dengan CC150. Di mana pemuda itu menggunakan motor keluaran Yamaha tipe R15 berwarna biru hitam.
Dan kini, ia sudah memandang lurus ke depan. Ia harus menang di hadapan Clarice. Gadis cantik yang saat ini sedang berdiri di belakang seseorang yang belum ia ketahui.
' Kalau aku menang! kamu orang pertama yang aku datangi! '
Janjinya dalam hati dengan mengingat nama Clarice. Tanpa berniat melihat sang gadis, takut jika konsentrasinya buyar hanya karena seorang gadis.
' Siapa pun kamu yang ada di balik helm itu, aku yakin kamu pasti menjadi pemenangnya! '
"Tiga!" teriak ketua panitia menggunakan megaphone.
"Dua!" lanjutnya.
"SA...TUU!" serunya di iringi dengan suara geberan motor dari sang calon juara terbaik.
Suara riuh penonton mengiringi babak akhir yang akan menentukan siapa pemenangnya. Dua motor melaju dengan sama - sama menarik gas lebih dalam. Sama - sama berusaha, sama - sama ingin menang. Dan sama - sama bermain secara fair play. Hingga akhirnya...
Ya! pemuda yang hanya terlihat sepasang mata dengan kulit wajah yang putih itu naik sebagai pemenangnya. Kembali menjadi juara bertahan dan kali ini di 250CC tentu namanya mulai melambung.
Dan dengan bangga sang ketua panitia menarik tangan pemuda itu ke atas. Menunjukan pada penonton yang kini turun ke jalanan untuk melihat lebih jelas seperti apa wajah sang juara bertahan. Dan yang pasti beberapa di antaranya mengabadikan momen itu.
Sebuah papan bertuliskan nominal uang sebesar Rp. 2.000.000,- segera di serahkan kepada pemenang. Sungguh tak sebanding dengan harga motor yang ia gunakan, dan uang itu pun bagi sang pemenang tidak ada apa - apanya. Tapi menang dalam menjalani passion nya adalah sesuatu yang menakjubkan dan ada rasa bangga tersendiri.
Berbagai kalimat sorak sorai sang ketua panitia di ikuti dengan suara dari para penonton yang meminta untuk sang juara bertahan membuka helm nya. Karena bulan lalu sang juara tidak mau membuka helm nya. Karena merasa masih menjadi anggota baru.
Clarice juga ikut turun ke jalan setelah Naufal memarkir motornya lebih dekat. Ia sangat ingin tau siapa yang ada di balik helm itu. Dan Naufal sigap memberi penjagaan pada sang sahabat supaya tidak sampai di ganggu oleh orang lain. Terutama dari tangan pemuda yang jahil.
Merengsek memasuki kerumunan yang mayoritas adalah laki - laki, Clarice seolah lupa jika dirinya adalah gadis belia yang masih banyak di lirik oleh lelaki mata keranjang.
"Kenapa kamu ingin sekali melihat siapa pemenangnya?" tanya Naufal yang kini memposisikan diri seolah dirinya adalah kekasih Clarice.
Ia sudah sangat mengenal dunia semacam ini. Ia tau kapan harus mengambil posisi sebagai pacar pura - pura, dan kapan harus mengembalikan posisinya sebagai sahabat.
"Aku seperti mengenalnya!" jawab Clarice sembari terus merengsek ke depan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Naufal terus memposisikan tangan di kedua lengan Clarice, dan ia berjalan tepat di belakang Clarice.
"Entahlah, menurutku matanya sangat tidak asing!" jawab Clarice yang dua meter lagi akan mencapai garis penonton terdepan.
"Hati - hati, Cla!" ucap Naufal khawatir.
"Iya! Ayo cepat!"
Sementara di depan sana, sang juara mulai melepas pengait helm teropong berjenis Simpson Speed Bandit yang sore itu ia kenakan.
Tangan terangkat ke atas untuk mengangkat helm seharga sekitar 6 jutaan itu. Semakin helm terangkat ke atas semakin terlihatlah leher sang pembalap, hingga memperlihatkan dagu putih mulusnya. Dan semakin dekat pula Clarice untuk bisa mencapai garis depan.
Helm terbuka dan sang pemuda mengibaskan kepala dengan rambut hitamnya ke kiri. Adegan itu di iringi dengan suara riuh para gadis remaja yang sejak tadi menunggu dan menahan rasa penasaran sejak tadi. Seperti apa wajah di balik helm mahal itu.
Dan wajah yang terlihat sama sekali tidak mengecewakan mereka semua. Karena memang sangat tampan dan sangat cocok untuk mengendarai CBR250RR. Dan menjadi pemenang tentu menambah bumbu sedap untuk sang pemuda.
Dan bertepatan dengan itu, Clarice sampai di barisan terdepan. Ia terengah tak percaya dengan siapa yang ada di depan mata. Wajah tampan dan rupawan, yang hampir setiap hari muncul di depan matanya saat di sekolah.
"Arsen!" pekik Clarice dan Naufal bersamaan.
Menghela nafas, Arsen tersenyum pada orang di sekitarnya, ia belum menyadari keberadaan Clarice dan sahabatnya di sekolah. Begitu merasa ada yang hanya diam membeku di barisan depan. Barulah Arsen menoleh ke arah penonton. Dan di sanalah matanya terpaku, menatap clarice yang juga membeku melihat dirinya.
Tatapan datar yang di iringi senyum ramah, berubah menjadi tatapan berbinar dan senyum cerah.
"Cla!" lirih Arsen memanggil nama Clarice dengan nama akrabnya.
Kemudian ia menoleh pada seseorang yang berada di samping Clarice.
' Ternyata Naufal yang pergi dengan mu, aku kira siapa! '
Batin sang pembalap muda.
Meletakkan helm nya di atas motor, kemudian ia langsung menghampiri Clarice sesuai janjinya tadi. Akan menghampiri Clarice jika ia mendapat juara 1.
"Berfotolah dengan ku, Cla!" ajak Arsen menarik pelan tangan Clarice yang masih membeku.
Gadis itu tak percaya jika pembalap dengan juara bertahan itu adalah Arsen. Dan kini ia di tarik oleh sang pemuda untuk foto bersama di depan banyak orang. Sungguh canggung, dan membuatnya gugup.
"Ambil foto ku dengan Clarice, Fal!" pinta Arsen mengeluarkan ponsel tiga mata miliknya dan menyerahkan pada Naufal.
"Ya...ya... baiklah!" jawab Naufal yang sudah lama menduga jika Arsen memendam rasa pada Clarice sejak awal pemuda itu pindah ke Alexander International School..
Arsen mengambil kembali papan bertuliskan nominal uang 2 juta itu, dan membawanya foto berdua dengan sang gadis. Sungguh membanggakan ketika bisa menang di hadapan gadis yang sudah lama ia incar.
Bersikap profesional, Clarice tersenyum manis di beberapa foto yang di ambil oleh Naufal. Dan juga beberapa pose. Salah satu pose yang membuat Arsen senang adalah ketika ia merangkul pundak Clarice dan menatap wajah cantik itu dengan lekat dan penuh rasa kagum. Sedangkan Clarice melihat Camera dengan senyum manisnya.
Tak lupa mereka juga foto bertiga sebagai kenang - kenangan, dengan seorang panitia yang membantu mengabadikan.
***
Sementara di sisi lain, tanpa di ketahui oleh Clarice maupun Naufal, ada sosok Felia yang ternyata sore itu juga di ajak temannya menonton balapan liar. Saat melihat betapa tampan wajah sang juara, ia terlihat sangat mengagumi bahkan bersorak lirih.
Namun saat kemudian melihat sang juara menarik tangan seorang gadis, ia sedikit kecewa. Dan kemudian ia tertegun ketika yang di tarik ternyata Clarice untuk di ajak berfoto ke depan. Ia sempat berfikir, dari sekian banyak gadis kenapa Clarice yang di pilih? Apakah kecantikan Clarice terlalu menonjol?
Namun saat melihat pemuda itu akrab dengan Naufal, ia baru menyadari dan menYimpulkan jika sang juara bisa jadi adalah teman keduanya.
' Clarice memang beruntung, di kelilingi pemuda tampan dan kaya raya... '
__ADS_1
Lirih Felia dalam hati. Bibirnya tersenyum kagum pada saudara tirinya itu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...