
Meninggalkan area toilet dengan langkah kaki yang gontai, Clarice tidak bisa lagi konsentrasi. Kenyataan yang baru saja ia dapati memang tidak secara langsung membuatnya sakit hati. Tapi cukup menggores dan mengecewakan dirinya saja.
Padahal sebelum ini, ia memang sudah berniat sejak awal, untuk tidak peduli jika Vino berpacaran atau menjalin hubungan apapun dengan gadis mana pun. Sebelum ini ia memang tidak pernah sakit hati melihat Vino berdekatan dengan Neha.
Karena memang sang gadis menyadari dirinya yang belum mendapat ijin untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan ataupun persahabatan. Ia sendiri juga takut untuk berpacaran dengan siapapun. Mengingat nasehat sang Ibu yang menunjukkan banyaknya kasus tidak layak yang lakukan oleh anak-anak di bawah umur.
Tapi entah, ketika kenyataan sang idola menjalin hubungan dengan Neha dan menanggalkan status jomblonya, sang gadis justru merasa kecewa dan berharap apa yang ia dengar siang ini hanyalah mimpi.
Tapi mana mungkin semua ini mimpi?
Sedangkan sebatang coklat di tangannya, sebuah gelang oleh-oleh dari pulau dewata bertuliskan namanya, bahkan tengah ia genggam degan erat. Namun Clarice tidak mau serta merta menerima semua ini adalah nyata.
Akhirnya ia cubit lengan kirinya dengan kecil dan cukup keras. Hingga menimbulkan rasa sakit yang tak tertahan untuk tidak memekik.
"Aduh!" pekiknya lirih dan tertahan.
Dari sini sang gadis mulai sadar, jika semua ini adalah nyata. Tapi dirinya tidak boleh menangis ataupun sedih berlebihan, bukan?
Sejak awal ia sudah berjanji untuk tidak sakit hati melihat Vino berhubungan dengan siapa saja.
' Jadilah Clarice yang seperti baisa, Cla...'
Lirih Clarice di dalam hatinya. Memperingatkan dirinya agar tidak berlebihan dalam mengagumi sosok Malvino Lubis.
Clarice yang masih berjalan menuju kelas, tidak menyadari jika sejak tadi Vino masih menatap punggungnya dari posisi yang tidak berubah. Punggung yang masih bersandar pada dinding, satu tangan kiri yang masuk ke dalam saku celananya. Kemudian mata menatap sendu pada tubuh tinggi nan semampai sang ketua Cheerleader.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh sang pemuda ketika melihat Clarice sedemikian rupa. Ia sempat mengerutkan keningnya ketika mendengar Clarice mengaduh. Padahal dari pengamatannya , Clarice tidak sedang mengalami satu hal apapun yang membuat sang gadis terluka. Misal tersandung dan sebagainya.
Ya, karena Clarice mencubit lengannya tepat di depan tubuhnya. Sehingga posisinya yang membelakangi Vino tidak akan membuat sang pemuda tau, jika ia tengah mencubit lengannya sendiri.
Saking terbawa nya perasaan akan hubungan baru yang di jalin oleh Vino dan Neha, Clarice sampai tidak menyadari dengan apa yang ada di dekatnya sekalipun.
Kalaupun ada siswa lain yang lewat, yakinlah jika sang gadis tidak akan menyadari hal itu. Ia sungguh sedang seperti manusia tanpa isi kepala normalnya.
Dia bahkan tidak menyadari jika di depan sana ada Arsen yang keluar dari kelas dan langsung menatap pada dirinya yang berjalan bagai tiada nyawa yang penuh. Bagai manusia dengan tulang yang melunak dan tak membentuk manusia secara utuh.
Sebelum ini, Arsenio Wilson, sang pembalap itu merasa aneh ketika melihat Clarice tak kunjung kembali dari toilet. Saat hendak ingin izin ke toilet, Vino sudah lebih dulu izin dan juga tak kunjung kembali.
' Apa mereka sengaja membolos mata pelajaran Kimia ini? '
Gumam Arsen di dalam hati.
' Kenapa tidak ajak aku juga? '
Lanjutnya berangan dalam hati.
' Kimia memang sangat membosankan! '
' Sebaiknya aku susul saja mereka... Tapi mereka benar di toilet, atau justru pergi ke kantin? '
Arsen mulai memikirkan ide terbaik untuk bisa keluar dari kelas. Namun semua ide rasanya sudah buntu. Sampai akhirnya...
__ADS_1
"Sir... saya boleh ke toilet?" tanya Arsen mengangkat satu tangannya ke udara.
Sebelum menjawab, sang guru Kimia melihat semua bangku, tentu sangat mudah untuk bisa mengetahui bangku mana yang kosong. Dan itu membuat sang guru memicingkan matanya.
"Masih ada yang keluar dua anak. Jadi tunggu minimal salah satu dari mereka kembali..." jawab sang guru.
"Tapi saya sudah tidak tahan, Sir!" ujar Arsen berbohong.
Padahal dia tidak sedang merasakan apapun juga, selain perasaan ingin segera tau apa yang sedang di lakukan oleh Clarice dan Vino di luar sana. Jika membolos jam pelajaran, sungguh sang pembalap ingin sekali ikut. Karena pelajaran satu ini sungguh memusingkan kepala sang pembalap.
"Tidak ada yang boleh meninggalkan kelas lebih dari dua orang!" tegas guru Kimia di kelas X-3.
"Please, Sir... Bagaimana kalau sampai saya mengompol di kelas?" tanya Arsen. "Pasti Mr. juga akan mencium bau pesing!" ujar Arsen semakin tidak karuan.
"Hahaha!" suara gelak tawa terlontar dari 17 anak yang mendengar celotehan Arsen yang susah di kontrol memang.
"Baiklah... kamu boleh ke toilet, asal suruh salah satu teman kamu di luar sana untuk segera kembali ke kelas!" perintah sang guru Kimia.
"Dengan senang hati, Sir!" ujar Arsen langsung beranjak dari kursinya, dan melangkah keluar kelas dengan suka cita dan tawa puas karena berhasil meninggalkan kelas.
Urusan meminta salah satu mereka untuk kembali bisa di pikirkan belakangan. Bukankah seperti itu pemikiran anak remaja seusia mereka?
Arsen tertawa sampai ia menutup pintu kelas kembali setelah membukanya, dan langsung berbalik menghadap ke arah toilet yang ada di ujung lorong.
Namun apa yang ia lihat pertama kali di depan matanya membuat tawanya lenyap begitu saja. Bahkan ekspresi wajah Arsen berubah hanya dalam waktu satu detik saja. Termasuk suasana hatinya seketika ikut berubah dengan sendirinya.
' Ada apa dengan Clarice? '
Bagaimana tidak, niat hati ingin ikut Clarice dan Vino yang sepertinya tengah menghindari mata pelajaran Kimia, justru yang ia lihat pertama kali adalah wajah Clarice yang mendung ketika berjalan dengan gontai menuju ke kelas.
Arsen melangkah lebih cepat untuk bisa menghampiri Clarice yang seperti tidak menyadari kedatangannya. Sebelum langkahnya sampai di sisi Clarice, sang pemuda melihat sekelebat laki-laki berseragam masuk ke dalam toilet lelaki.
Arsen menamatkan ke arah pintu toilet, sepertinya tidak asing dengan sosok tersebut. Seolah sangat mengenalinya. Dan yang aneh, kenapa sosok itu langsung buru-buru masuk ke dalam toilet, begitu ia menoleh ke arah toilet?
Seperti tidak nyaman dengan kedatangannya yang secara mendadak.
' Apa tadi Vino? '
Gumam Arsen dalam hati.
"Cla?" panggil Arsen ketika jarak mereka hanya tersisa sekitar 2 meter saja.
Namun rupanya jarak 2 meter belum bisa membuat sang gadis menyadari akan keberadaannya. Hingga Arsen terus berjala mendekati Clarice yang di anggap sangat tidak biasa.
"Cla?" panggil Arsen tepat didepan Clarice.
Brukk!
Clarice yang berjalan menunduk benar-benar tidak menyadari jika ada Arsen di depannya. Hingga tanpa di sengaja ia menubruk tubuh lelaki yang berukuran lebih tinggi darinya itu.
Dan Arsen sendiri sengaja membuat Clarice menabrak tubuhnya agar sang gadis berhenti berjalan, dan mungkin berhenti untuk melamun.
__ADS_1
"Aduh!" pekik Clarice ketika dahinya menabrak rahang kiri Arsen.
Arsen sengaja memiringkan kepalanya ke kanan saat tau Clarice akan menabraknya. Tentu supaya sang gadis cukup menabrak rahangnya. Bukan bibirnya.
Karena jika sampai Arsen tidak menoleh ke kanan, sudah pasti dahi Clarice akan menabrak bibir sang pembalap. Dan itu tentu membuat Clarice merasakan pertama kali di kecup oleh seorang pemuda.
Namun Arsen tidak mau itu terjadi. Setidaknya tidak dengan cara seperti ini, dan tidak dengan hubungan yang masih seperti ini. Ia pun juga harus menjaga kepercayaan Daddy sang gadis yang sudah menyampaikan banyak pesan padanya.
"Kamu kenapa, Cla? kenapa melamun?" tanya Arsen yang berdiri di depan sang gadis.
"Sssshh...." tidak menjawab, sang gadis justru sibuk menggosok dahinya yang terbentur rahang sang pembalap dengan cukup keras.
"Cla?" panggil Arsen tanpa bosan sedikitpun.
"Ha?" Cla mendongak, menatap Arsen dengan seolah bertanya ulang. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Clarice sedikit ketus. "Sakit tau..." lanjut Clarice.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Arsen mengulang. "Dari tadi di panggili tidak mendengar sama sekali..." lanjut sang pemuda.
"Siapa yang memanggil ku?" tanya Clarice bingung.
"Manusia purba!" jawab Arsen cepat. "Ya akulah, Cla..." gemas Arsen.
"Oh..." jawab Clarice masih bingung. "Kenapa memanggilku?" tanya Cla masih seperti manusia yang kesadarannya belum genap 100%.
"Ya, tentu saja!" jawab Arsen menatap lekat pada wajah yang masih terlihat tidak cerah itu. "Kenapa kamu seperti orang melamun di jalanan?"
"Aku melamun?" tanya Clarice bingung.
"Tidak! aku tidak melamun!" kilah Clarice.
"Brighta Clarice Agasta..... Aku bukan bocah TK yang bisa kamu bohongi begitu saja..." jawab Arsen.
"Tapi aku memang tidak melamun, anak manja!"
Baiklah, sampai sini Arsen bisa mulai menduga jika kesadaran Clarice sudah kembali 100%.
"Kalau tidak melamun kenapa di panggil tidak peduli dan tidak menyahut! Bahkan melirik saja tidak!"
"A?"
Clarice tergagu dengan pernyataan Arsen. Ia sampai melirik kiri dan kanan untuk mencari jawaban. Tidak mungkin kan, jika sang gadis menceritakan apa adanya?
Tapi... semua ini terasa begitu berat jika ia pikul sendiri. Jika ia rasakan sendiri.
"Aku hanya..." Clarice kembali menggantung kalimatnya.
"Hanya apa?" tanya Arsen semakin penasaran.
"Aku...." Clarice menatap dalam mata Arsen yang ia ketahui tidak lepas dari menatap wajahnya yang sempat mendung beberapa menit yang lalu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1