Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 162 ( Dingin yang Sampai ke Hati )


__ADS_3

"Apa kamu menyukai Arsen?"


Pertanyaan singkat yang di lontarkan oleh Hanna membuat Clarice terdiam seribu bahasa. Terbengong-bengong bukan kepalang.


Bagaimana bisa Hanna mengira ia menyukai Arsen? Sementara selama ini ia dan Arsen lebih sering adu mulut. Meskipun Arsen suka menggodanya dengan memanggil Sayang. Tapi itu dulu, sebelum gelang di pergelangan tangan nya melingkar.


"Aku tidak tau..." jawab Clarice kemudian.


"Tidak tau berarti iya, Clarice!" sahut Hanna menegaskan.


Clarice mengerutkan keningnya. Menata ulang hatinya dan berfikir, benarkan apa yang di ucapkan oleh Hanna?


Clarice kembali menatap Arsen yang jauh di sana. Tak sedikitpun sang pemuda menatap ataupun menoleh pada dirinya. Padahal tidak mungkin jika Arsen tidak tau ada dirinya di meja itu.


Karena hampir setiap hari Clarice duduk di meja itu jika ia pergi ke kantin. Lagi-lagi sang gadis menghela nafas panjang.


# # # # # #


Di perusahaan Adhitama Group, konversi pers di selenggarakan di bangunan aula yang baru. Di mana bangunan itu berada di belakang gedung perusahaan sebelah kanan. Berdiri dengan kokoh dan cukup luas.


Di desain dengan tidak tertutup sempurna. Agar bisa di gunakan untuk berbagai kegiatan.


Wartawan dari majalah bisnis telah di undang oleh sekretaris Kenzo Adhitama. Guna menyebarkan berita yang mungkin akan menghebohkan jagad dunia bisnis.


Kenzo Adhitama duduk bersama Jonathan Wilson di tengah. Di sisi kanan Kenzo ada Zio, di sisi kiri Jonathan ada Venom. Maka pemegang saham terbesar mulai memperkenalkan dua orang yang akan menjadi orang-orang paling penting untuk Adhitama Group.


"Selamat siang, dan terima kasih saya sampaikan untuk seluruh awak media yang sudah datang... Saya Kenzo Adhitama, CEO dari Aditama Group. Dan di sebelah saya ini... semua orang pasti sudah mengenalnya, bukan?" tanya Kenzo sedikit bergurau dingin. "Jonathan Wilson." lanjut Kenzo menyebut nama suami dari sahabatnya yang kini menjadi rekan bisnisnya.


Yang di sebut namanya langsung mengangkat tangan kanannya, dan melambai satu kali dengan seulas senyum tipis.


"Hari ini, kami akan mendeklarasikan... Bahwasannya bisnis perbankan yang mulai di rintis oleh Adhitama Group akan mulai segera beroperasi, dengan dorongan dan dukungan kuat dari Tuan Wilson." ucap Kenzo mengisyaratkan jika bisnis perbankan kali ini bekerja sama dengan pengusaha batu bara yang namanya bukan lagi kaleng-kaleng.


"Dan dengan beroperasinya kantor pusat perbankan, maka saya ingin memperkenalkan seseorang yang akan memimpin anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang keuangan. Dia yang akan memegang tahta tertinggi di dalam bisnis keuangan ini."


"Dia adalah seseorang yang sangat gigih dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang saya bebankan padanya. Dia juga seseorang  yang sangat konsisten dengan apa yang ia ucapkan." ucap Kenzo dengan tegas dan yakin.


"Dia sudah bersama saya selama hampir 20 tahun lamanya sejak saya memimpin perusahaan ini."


"Bahkan sejak saya belum di nobatkan menjadi CEO Adhitama Group, dia sudah mengabdi pada perusahaan dengan posisi yang tidak main-main." Kenzo menjadi kalimatnya.


Semua orang yang hadir dapat menduga, jika yang di ceritakan oleh sang CEO adalah salah satu dari dua orang yang duduk paling tepi.


Hanya saja mereka tidak tau siapa yang akan di jadikan sebagai orang nomor satu di bidang perbankan yang namanya mulai di gembar gemborkan ke sana kemari. Mari kita simak penjelasan Kenzo selanjutnya.


"Dialah Zio Alvaro!" ucap Kenzo menepuk pundak mantan suami istrinya itu. "Dia adalah General Manager di perusahaan saya selama dua puluh tahun lebih. Dan kini... dengan kinerjanya yang sangat bagus, saya merasa dia sudah sangat pantas untuk menjadi orang nomor satu di bisnis terbaru saya. Dia yang akan mengibarkan bendera Tama Bank untuk maju bertempur di kancah dunia sekalipun!" ujar Kenzo kemudian bertepuk tangan.


Dan tepuk tangan Kenzo itu di ikuti oleh semua yang hadir di ruangan itu. Kilatan cahaya kamera langsung menggempur meja konferensi pers.


Dan Zio sendiri langsung berdiri begitu Kenzo bertepuk tangan. Dengan penuh wibawa Ayah kandung putri tiri sang CEO itu mengangguk hormat untuk menyapa awak media dengan senyum tipis.


Di balik senyum yang di terbitkan oleh Zio, ada beban di pundaknya yang tak terlihat. Seperti kata pepatah, dengan semakin tingginya jabatan yang di emban, tentulah semakin besar tanggung jawabnya dalam menyelesaikan segala urusan bisnis. termasuk mungkin ia akan semakin sibuk dan sebagainya. Demi tidak jatuh ketika angin dan hujan menerpa bersamaan.


Zio kembali duduk, ketika dirasa cukup untuk menyapa para wartawan peliput kabar berita yang menyangkut dunia bisnis.


"Selanjutnya, saya ingin menyampaikan, jika saya Kenzo Adhitama memutuskan untuk mengangkat seseorang yang Paling saya percaya selama saya menjabat sebagai CEO. Dia adalah Venom!" Kenzo menunjuk Venom yang duduk di samping kiri Jonathan. "Selanjutnya Tuan Venom ini akan menjadi CEO Adhitama Group menggantikan saya dalam waktu dekat ini." lanjut sang CEO.


Suara riuh tepuk tangan kembali terdengar di ruangan yang cukup luas itu. Dan Venom, Asisten pribadi yang sudah tau banyak tentang perusahaan itupun berdiri dan menyapa dengan penuh wibawa pada semua peserta konferensi pers.


"Saya sampaikan selamat kepada Zio dan Venom... Saya berharap kita akan menjadi tim kerja yang solid" ucap Jonathan.


Dengan apa yang di sampaikan oleh Kenzo Adhitama, dengan di angkatnya Zio Alvaro sebagai pimpinan tertinggi Tama Bank, dan di angkatnya Venom sebagai CEO, maka Kenzo Adhitama akan menjadi pengangguran kaya raya di istananya yang berada di Grand Blue Lagoon.


# # # # # #


Turnamen yang di selenggarakan oleh Ibukota telah di mulai. Dan pertandingan basket putra pun sudah di mulai. Salah satu dari sekian banyak sekolah yang mengikuti tentu saja ada nama Alexander International School yang akan tampil siang ini di Gedung Olah Raga Ibukota.


Semua siswa yang tidak terlibat dalam tim basket maupun tim pemandu sorak, kali ini di minta untuk hadir menjadi suporter tim basket Alexander International School.


Maka kini Hanna, Naufal dan Arsen sudah duduk di bangku terdepan penonton. Menjadi suporter terdepan untuk Vino dan tim nya.


Pertandingan di mulai dengan menampilkan tim Cheerleader dari masing-maisng sekolah. Dan di sinilah Clarice saat ini berada.


Bersama dengan 13 teman perempuan lainnya dan 6 teman laki-laki, Cla siap memimpin tim nya untuk menunjukkan penampilan terbaik mereka sebagai pemandu sorak. Sudah menjadi bagian tim Cheerleader sejak kelas VII Junior, tentu sang gadis sangat lincah beraksi di tengah lapangan basket.


Untuk pertama kali, Arsen menyaksikan Clarice beraksi sungguhan di lapangan basket, di hadapan ratusan penonton yang rata-rata usianya tidak jauh berbeda darinya. Karena semua peserta adalah tingkat Sekolah Menengah Atas.

__ADS_1


Maka ketika Arsen melihat Clarice di lempar ke atas oleh beberapa temannya membuat sang pembalap menahan nafas untuk sesaat. Takut sang gadis jatuh, juga takut jika sampai ada kesalahan pada penampilan kali ini. Namun ia hanya terdiam, karena sedang menjaga jarak.


Arsen terhenyak untuk sesaat, dan Naufal yang duduk di sampingnya tentu menyadari apa yang terjadi dengan Arsen. Hingga sang pemuda menoleh ke sisi kiri, di ikuti oleh Hanna yang ikut menoleh pada Arsen.


"Kenapa kamu?" tanya Naufal.


"Tidak ada..." jawab Arsen bersamaan dengan Clarice yang kembali berpijak pada lantai lapangan indoor itu dengan senyuman penuh.


Naufal menyebikkan bibirnya, seolah tak percaya dengan jawaban Arsen. "Clarice sudah biasa seperti  itu..." ucap Naufal setengah acuh ketika kembali menatap lapangan. Di mana Clarice kembali berpindah posisi dan kembali bersiap untuk di lempar ke udara.


"Kamu sering melihatnya?" tanya Arsen.


"Kamu lupa kami berteman sejak masih di Junior?" tanya Naufal balik pada Arsen.


Tak menjawab, Arsen hanya menarik nafas panjang sembari kembali menatap ke arah tengah lapang.


***


Pertandingan yang usai, membuat seluruh penonton juga ikut bubar. Naufal, Arsen dan Hanna sengaja menunggu Clarice keluar dari pintu belakang yang khusus untuk para pemain keluar masuk gedung.


"Congrat!" seru Hanna menyambut Clarice yang keluar dengan sebuah pelukan hangat.


Sang ketua Cheerleader sudah mengganti kostumnya dengan baju ganti yang ia bawa dari rumah. Meski rambut masih terikat satu ala pemain Cheerleader.


"Thanks, Han!" jawab Clarice.


Naufal berjalan mendekat, dan ia peluk singkat ala sahabat erat seperti biasa. "Selamat! kalian berhasil memberi semangat untuk tim basket kita menang di pertandingan kali ini."


"Ya..." jawab Clarice tersenyum manis.


Sedangkan sang pembalap?


Arsen tersenyum kaku bahkan setengah terpaksa, sambil mengucap satu kata yang sangat singkat. "Selamat..." ucap Arsen dan langsung membuang wajah ke arah lain.


Bayangan tentang Clarice yang begitu semangat memberi semangat pada tim sekolah juga tak lepas dari menatap Vino yang berjuang untuk mendapat kemenangan, terlintas di dalam ingatannya. Dan itu membuat senyum di bibirnya lenyap begitu saja.


"Thanks..." jawab Clarice tersenyum dan menatap lekat pada sang pemuda yang di harapkan setelah ini akan bersikap baik dan kembali menjadi Arsen yang dahulu.


Namun yang terjadi ...


"Ayo pulang!" ajak Naufal.


"Cla, kamu pulang ke rumah Uncle Kenzo, kan?" tanya Naufal.


"Iya..." jawab Clarice menatap sang sahabat dengan tanda tanya.


"Kamu di antar Arsen saja, ya?" ucap Naufal. "Aku akan mengantar Hanna pulang... Karena kalian searah, dan kami juga searah!"


"Tapi..." Clarice menggantung kalimatnya dengan menoleh pada Arsen yang terlihat datar. Sudah tidak ada lagi Arsen yang humble dan suka bercanda di mata Cla saat ini.


"Ayo!" ajak Arsen begitu saja dengan langsung melangkah menuju tempat mereka memarkirkan mobil masing-masing.


Dan akhirnya Clarice masuk ke dalam mobil Arsen. Dan Hanna masuk ke dalam mobil Naufal.


Sepanjang perjalanan, di antara keduanya hanya ada aksi diam dan tidak ada percakapan apapun, selain...


"Thanks, Sen..." ucap Clarice ketika hendak turun dari mobil CRV Arsen yang berwarna putih itu.


"Sama-sama..." jawab Arsen tersenyum lirih menoleh pada Cla yang kini membuka pintu tanpa melihat dirinya.


Namun pandangan sang gadis terlihat kosong ke sembarang arah. Begitu juga dengan Arsen yang langsung kembali menatap ke arah depan dengan menghela nafas yang teramat berat.


Dan itu adalah percakapan terakhir sebelum akhirnya kini mereka kembali duduk di bangku yang sudah di acak. Alias duduk di bangku ujian semester akhir kelas X.


# # # # # #


Dinginnya seorang Arsenio Wilson berlanjut hingga mereka semua kembali masuk ke kelas XI. Dan di sinilah semua nama yang sudah di ceritakan mulai berpisah ruang kelas.


Clarice dan Hanna memilih untuk masuk di kelas IPA. Dan keduanya mendapat kelas XI-IPA 2. Naufal dan Arsen yang memilih kelas IPS, mendapat XI-IPS 2. Sedang Vino berada di kelas XI-IPS 3.


Meski berbeda kelas, tapi kelas Clarice dan Arsen tetap berhadapan. Pintu kelas mereka juga saling berhadap-hadapan.


Dan hari pertama untuk kembali ke sekolah telah usai. Karena awal semester baru dan kelas baru, tentu semua siswa pulang lebih awal kali ini.


Clarice yang terbiasa pulang paling akhir pun saat ini juga masih menunggu semua siswa di kelasnya keluar. Ia masih berdiri dengan menyandarkan bokongnya pada bangku.

__ADS_1


"Ngga nyangka, ya? kita sudak kelas XI!" gumam Hanna menatap ruang kelas baru mereka.


"Iya!" sahut Clarice. "Perasaan baru kemarin aku mengenalmu..." lanjutnya.


"Iya. Perasaan baru kemarin aku punya teman kaya raya seperti kamu..." ucap Hanna tersenyum lirih sekaligus bangga karena menjadi bagian sekolah International.


Clarice tersenyum datar sembari menunduk. Seolah tidak nyaman dengan apa yang di ucapkan Hanna. Karena seolah-olah ada perbedaan  yang sangat jauh di sekolah ini.


"Setelah ini kamu akan kuliah ke mana, Cla?" tanya Hanna.


"Daddy meminta aku untuk kuliah di Australia." jawab Clarice menerawang masa depan yang dua tahun lagi akan datang.


"Kalau Papa kamu?"


"Kalau Papa, terserah aku mau kuliah di mana..." jawab Clarice.


"Kalau kamu kuliah di mana?"


"Mungkin di UI saja."


Clarice mengangguk. "Bukan ide yang buruk! Ya sudah, ayo pulang!" ajak Cla.


"Hemm.."


Keduanya pun meninggalkan ruang kelas mereka dengan berjalan beriringan. Dan saat mereka sampai di depan pintu, kelas yang tempati oleh Arsen dan Naufal terbuka, dan satu persatu penghuninya keluar dari sana. Hingga sorot mata Clarice bertemu dengan sorot mata yang... ia rindukan.


"Hai!" sapa Naufal pada Hanna dan Clarice yang berdiri sejajar.


"Hai!" balas Hanna ceria.


"Kelas XI nih!" ujar Naufal menyenggol lengan Clarice.


Clarice hanya tersenyum sembari melanjutkan langkah untuk menuju lobby yang ada di lantai bawah.


"Setelah ini kamu kuliah di mana, Fal?" tanya Hanna menoleh ke belakang sekilas. Di mana Naufal berjalan tepat di belakang Clarice.


"Amerika!" jawab Naufal yakin. Karena itu memang cita-citanya seja dulu Melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam.


Ya ampun! Jadi setelah lulus nanti kita semua akan berpisah?" gumam Hanna. "Cla ke Australia, kamu ke Amerika. Kalau kamu, Sen?" Hanna kini menoleh pada pemuda yang berjalan tepat di belakangnya.


"Kalau di negeri sendiri sudah ada kampus yang baik, untuk apa sampai harus keluar negeri?" jawab Arsen dengan sebuah pertanyaan yang juga mewakili sebuah jawaban.


"Jadi kamu akan kuliah di Indo?"


"Ya!" jawab Arsen. "Mungkin di Binus! Di sana memiliki jurusan Teknologi dan Informasi yang sangat bagus! Dan aku sangat tertarik dengan ilmu itu." jawab sang pembalap yang kini semakin aktif di dunia balapan itu.


"Wah, berarti kita berdua akan tetap di Indonesia?"


"Ya, mungkin saja begitu."


"Kamu memang benar! Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita berkuliah di luar negeri yang mungkin memiliki fasilitas lebih lengkap tentang ilmu yang ingin kita dalami?" sahut Naufal.


"Iya juga sih!" celetuk Hanna menjawab.


Saat Hanna bertanya pada Arsen, saat itulah Clarice memasang telinga dengan baik. Entah, ia sangat tidak ingin melewatkan informasi satupun tetang sosok pemuda yang kini nyata menjauhi dirinya. Bahkan menjawab pilihan tempat kuliah saja seolah menyindir dirinya yang harus berkuliah di luar negeri.


# # # # # #


Dinginnya sikap Arsen terus berlanjut dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Hingga tahun ajaran baru kembali datang. Kehangatan seorang Arsen belum juga kembali untuk sang gadis jelita. Bahkan di saat usia tujuh belas tahunnya telah lewat.


Ketika pesta tujuh belas tahunnya pun, Clarice berharap Arsen akan datang bersama kedua orang tuanya yang juga di undang oleh sang Daddy. Tapi nyatanya kala itu sang pemuda memilih untuk mendampingi sang Kakak yang pergi keluar negeri untuk mewakili Indonesia berlaga di kancah International dalam dunia balap.


Dan dinginnya sosok Arsen semakin menusuk bahkan menghujam hati sang Nona Muda Adhitama. Bet di lengan telah berubah dari kuning menjadi hijau. Itu artinya waktu mereka untuk bisa menikmati masa putih abu-abu hanya tersisa satu tahun saja.


Namun semakin hari, mulut sang pemuda semakin tertutup rapat untuk sang ketua Cheerleader yang sebentar lagi akan lengser. Karena harus di gantikan oleh ketua yang baru dari tim baru yang akan di bentuk. Karena kelas XII sudah tidak di perkenankan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler apapun juga.


Clarice memesan makan siangnya di bilik penjual batagor. Dan saat sedang melakukan pembayaran, tiba-tiba tangan seseorang maju ke depan dengan di sertai menyodorkan uang sebesar seratus ribu, dan di ikuti suara yang sangat tida asing bagi Clarice.


"Aku yang bayar!" ucapnya pada sang penjual batagor.


Clarice menoleh pada sosok yang berdiri tepat di sisi kirinya. Ia sangat tau siapa pemilik suara ini meski sekarang suara itu terdengar lebih dewasa dari pada saat mereka masih kelas X dulu.


Cla sedikit mendongakkan kepalanya. Untuk bisa melihat wajah sosok yang siang ini membayar makan siangnya. Meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan ada yang membayar makan siangnya.


"Kenapa tiba-tiba kamu membayar makan siangku?" tanya Clarice pada pemuda yang memang terlihat cukup tampan untuk remaja seusia mereka.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak saling bicara...." jawabnya tanpa menoleh pada Clarice yang masih mendongak menatap wajahnya yang kini terlihat semakin dewasa.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2