Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 122 ( Pasca Balap! )


__ADS_3

Terlalu shock mendapati sang juara adalah Arsenio Wilson, teman satu kelasnya, Clarice sampai tidak menyadari jika ada sosok Felia yang ternyata menonton di garis start. Begitu juga dengan Felia, ia baru tau jika ternyata Clarice ada di sana juga.


Sejak sebelum Arsen turun untuk pertama kali di babak penyisihan, Felia sudah duduk di jok belakang motor matic temannya. Mereka tidak hanya berdua, tapi ada dua motor lagi yang masing - masing berisi dua orang.


Mereka berjumlah enam orang, dengan formasi empat remaja perempuan dan dua remaja laki - laki. Dua remaja laki - laki itu mengendarai motor CBR150 yang sudah cukup membuat keduanya merasa percaya diri untuk bergabung dengan anak muda lainnya di aspal yang di huni oleh berbgai kalangan itu.


Setelah pemilik motor CBR250RR dinyatakan sebagai pemenangnya, Felia juga sama seperti remaja perempuan yang lain. Penasaran seperti apa wajah sang juara bertahan?


Bulan lalu ia juga melihat adu balap ketika sang juara memenangkan lomba pertama kali di lokasi itu. Tapi pemuda itu langsung pergi tanpa melepas helm, setelah dinyatakan sebagai pemenang dengan sebuah tropy dan uang tunai di tangannya.


Dan kali ini, ketika semua berteriak meminta sang juara untuk membuka helm, maka Felia tak kalah antusias dari Clarice. Sang gadis menerobos kerumunan untuk bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa wajah sang juara bertahan.


Jika Clarice mendekat karena merasa kenal dan  ia beruntung bisa maju sampai garis terdepan. Maka Felia yang mendekat karena ingin tau namun ia hanya bisa sampai di barisan kedua. Sehingga Clarice dan Naufal sama - sama tak menyadari jika Felia ada di sana.


Lalu ketika melihat sang juara ternyata seumuran dengannya dan juga sangat tampan, sangat tidak salah jika Felia tertarik pada pandangan pertama, seperti gadis yang lainnya.


Mata gadis belia mana yang tidak tertarik dengan paras tampan sang pemuda. Apalagi yang di lihat oleh belia cantik di usia 16 tahun hanyalah rupawan. Karena mereka belum tau jika hidup tidak hanya membutuhkan wajah tampan atau cantik, kemudian di tambah dengan bumbu - bumbu cinta.


Namun rasa ingin untuk berfoto bersama yang sempat muncul secara tiba - tiba, tiba - tiba pula harus pupus, ketika sang pemuda justru menarik tangan seorang gadis, yang ternyata adalah saudara tirinya sendiri. Tidak mungkin ia mengharapkan pemuda yang dengan jelas di depan mata dekat dengan saudara tirinya.


Ia menganggap Clarice adalah saudara. Tidak ada kata tiri menurutnya. Dan kini ia harus memendam semua kekagumannya pada sang juara bertahan.


Apalagi dengan melihat jika sang pemuda mengenal Clarice, maka sudah bisa di pastikan jika circle mereka jauh berbeda.


' Kamu beruntung, Clarice... '


Gumam sang gadis di dalam hati.


***


Sesi foto berakhir, Clarice dan dua remaja laki - laki di kelasnya kini berada di atas motor Naufal dan motor Arsen yang di parkir berdampingan di area stadion. Dua motor dengan harga jual di kisaran 70 juta lebih itu berdampingan bagai kuda yang siap menarik kereta kencana di negeri dongeng.


"Ternyata kamu tidak mau pergi dengan ku karena pergi dengan dia?" tanya Arsen pada Cla tapi matanya melirik Naufal.


"Yaa... Begitulah!" jawab Clarice tersenyum kikuk.


"Bagaimana Papa kalian bisa saling mengenal?" tanya Arsen lagi. "Kalian satu komplek?"


"Tidak! Papanya Naufal adalah Direktur di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Daddy!" jawab Clarice. "Jadi baik Daddy maupun Papa ku sama-sama mengenal Papa nya Naufal dengan baik!"


"Oh..." Arsen yang sudah paham jika Clarice adalah keluarga broken home pun mengangguk paham. "Pantas saja jika aku akan sulit mengajak kamu keluar, karena harus bersaing dengan dia!" ucap Arsen terkekeh menatap sang sahabat, Naufal Mahardhika. "Apalagi mengajakmu ke arena balap seperti ini!"


"Yaa.. Maklum lah! Daddy dan Papa tidak akan semudah itu melepas anak gadisnya pergi dengan lelaki yang tidak mereka kenal dengan baik." jawab Cla yang duduk di atas motor Naufal.


"Sepertinya aku harus menjadi anak salah satu rekan bisnis Daddy mu supaya bisa mengajak kamu pergi!" gurau Arsen yang duduk di atas motornya, tentu dengan senyum menawan.


"Semua sudah ada takdir masing - masing, bro!" sahut Naufal yang berdiri dengan menyandarkan pinggang di samping motornya. "Pengusaha batubara memang tidak ada hubungan bisnis dengan pengusaha makanan terbesar di negeri ini" gelaknya. "Kecuali kalau Papa mu ingin mendirikan perusahaan baru di bidang bahan makanan, hahah!" canda Naufal.


"Ya, kamu benar!"


"Aku pikir tadi kamu tidak jadi ikut!" ujar Naufal.


"Tentu saja jadi! kemarin aku juga mau mengajak Clarice, dan memperkenalkan dunia balap ku padannya!" jawab Arsen. "tapi dia bilang sudah di ajak oleh teman yang orang tuanya saling kenal."


"Kenapa aku harus mengenalnya?" sahut Clarice.


"Tidak apa, aku hanya ingin memperkenalkan kamu dengan dunia yang menjadi hobiku"


Clarice mengedikkan bahunya. Tak ingin tau lebih jauh lagi alasan Arsen yang seolah ingin membuat dirinya mengenal sang pemuda lebih jauh.


"Jadi yang kamu maksud kakaknya seorang pembalap nasional adalah dia?" tanya Clarice pada Naufal dengan menunjuk Arsen.


"Ya, kamu benar!" jawab Naufal mengangguk.


"Siapa namanya?"


"Dia tidak terlalu terkenal, kamu tidak akan pernah menemukan namanya jika ada pertandingan di TV!" sahut Arsen menatap Clarice.


"Jelas! aku tidak suka dengan dunia balap! takut kalau terjadi hal - hal yang tidak di inginkan."

__ADS_1


Arsen mencibir kekhawatiran Clarice dengan seulas senyuman miring.


"Dunia balap itu seru!" ujar Arsen membanggakan hobinya.


"Untuk kamu, bukan untuk aku!" sahut Clarice yang di sambut dengan gelak tawa Arsen tanpa suara.


"Kapan - kapan kamu harus ikut aku ke lokasi drift!"


"Drift?" tanya Clarice. "NO!" serunya sebelum Arsen memberi alasan.


"Kamu bisa berteriak sesuka hati kamu!"


"Tetap No!" tegas Clarice tak lagi ingin di bantah. "Aku tidak mau bertaruh nyawa!"


"Hahaha!" Arsen tergelak lemah.


"Aku tidak menyangka motor kita sama!"  ucap Naufal mengamati motornya dan motornya Arsen.


"Tapi aku sudah memodif bagian ini!"


Arsen turun dari motornya, dan berjongkok untuk menunjukkan Velg yang sudah ia ganti dengan model yang berbeda pada Naufal. Naufal pun akhirnya reflek berjongkok di samping Arsen.


Dua lelaki beda orang tua, dua anak muda yang usia nya tak jauh berbeda, dua anak laki-laki yang sama dekat dengan Cla. Namun memiliki hobi yang sama, yaitu dunia otomotif. Jika Arsen di sertai dengan dunia balap, maka Naufal tidak demikian. Pemuda itu hanya hobi menonton saja.


Clarice yang nol paham akan dunia semacam itu lebih memilih untuk mengamati sekitaran stadion yang masih ramai. Di mana banyak anak muda yang justru memilih bersantai di pedagang kaki lima dengan duduk di alas yang di gelar di atas aspal pasca balapan liar usai.


Sungguh sederhana dan seru. Selama ini Clarice yang memang hanya berteman dengan keluarga kaya raya sejak PAUD, hanya tau jika nongkrong itu di Cafe. Bukan tepian jalan yang makanannya belum tentu higienis.


Tapi Clarice tertarik dengan dunia yang baru ia kenal ini...


Bukan dunia balap, tapi dunia mereka yang bebas jajan di manapun. Dan duduk di manapun. Dengan pakaian sederhana dan barang - barang yang sederhana pula.


Tidak seperti sepatu, tas dan jam tangan yang sedang ia kenakan saat ini. Di mana semua masih di atas angka satu juta lebih, meski menurutnya itu barang biasa. Bahkan sepatu yang ia beli sebelum lulus Junior High School yang sedang ia kenakan saat ini saja harganya masih 3 juta lebih.


Dan saat asyik mengamati mereka semua, ia menemukan sosok yang tadi sempat ia cari. Dialah Malvino Lubis.


"Siapa dia?" gumam Clarice reflek. Membuat dua lelaki yang berjongkok di bawah sontak mendongakkan kepalanya ke atas.


"Siapa?" sahut Arsen dan Naufal bersamaan.


"Ha?" Clarice justru melihat ke bawah dengan pertanyaan seolah ia tidak mendengar apa yang di tanyakan dua lelaki itu.


"Kamu tadi tanya siapa? siapa yang kamu tanyakan?" tanya Arsen sembari bangkit dari jongkoknya.


"Oh... tidak ada!" jawab Clarice menggelengkan kepalanya dengan kikuk.


Sementara Arsen dan Naufal kembali mengobrol, Clarice kembali mencuri pandang pada Vino yang masih ada di tempat semula. Vino dan seorang teman gadisnya tampak sangat akrab dan sangat dekat. Mereka terlihat sangat nyaman bersenda gurau. Bahkan tak segan untuk berbagi makanan yang ada di piring kecil, entah apa isinya.


' Ternyata dia seorang playboy juga! '


Geram Clarice di dalam hati.


' Aku pikir dia hanya mendekati Neha, tapi ternyata juga punya yang lain di luar sekolah! Anak ini benar - benar gila! bagaimana aku bisa berkhayal akan menjadi orang terdekat untuknya suatu saat nanti! Ternyata dia tak lebih dari Arsen! '


Gerutu Clarice dengan dada kembang kempis menahan emosi. Mendapati kenyataan yang menurutnya sangat memilukan dan menyesakkan, ingin rasanya ia mengumpati Vino.


' Justru Arsen yang aku anggap tengil saja, aku tidak pernah melihatnya mencium, di cium ataupun menggoda gadis lain, selain aku sendiri selama dua bulan ini! Ya... meskipun dia jarang menolak kakak kelas yang mencoba untuk mendekati dirinya. '


Clarice menatap tajam ke arah Vino. Kemudian melihat Arsen yang masih asyik membicarakan dunia otomotif yang menjadi hobi mereka. Kini Clarice merasa Arsen lebih baik di banding Vino.


Apalagi setelah menganggap dirinya sama seperti Neha, yang ternyata menolak ajakan Vino.


Jika Arsen akhirnya datang ke lokasi sendirian setelah ia tolak. Vino justru mengajak target yang lainnya.


' Dasar buaya! '


Umpat Clarice dalam hati.


"Cla, ini untukmu saja!" ucap Arsen tiba - tiba menyerahkan papan berbentuk persegi panjang, dengan ukuran 50X30 cm yang bertuliskan uang 2 juta dengan di sertai tulisan tingkat 250CC juga tanggal dan tahun.

__ADS_1


"Kamu simpan, ya!" ujar Arsen di sertai sebuah amplop yang dapat di duga jika isinya adalah uang hadiah kemenangannya sore itu.


"Untuk apa aku menyimpan benda ini?" tanya Clarice meraih papan itu, namun belum menerima amplop dari Arsen.


"Aku persembahkan kemenangan ku sore ini untuk kamu!" ujar Arsen membuat Clarice menoleh Arsen dan menatap lekat wajah tampan sang pemuda.


Siapa dirinya di beri hadiah kemenangan yang tidak mudah untuk memenangkannya, karena sang pemuda juga harus bertaruh nyawa di setiap adu balap yang ada. Meski uang sebesar itu sangat mudah di dapat oleh seorang Brighta Clarice Agasta, tapi ynag di lihat Cla bukan nominal tapi usaha Arsen untuk mendapatkannya.


"Tapi...bukankah ini bisa menjadi bukti, jika kamu adalah juara bertahan?" tanya Clarice.


"Dengan kamu yang menyimpannya, aku menganggap benda itu akan jadi lebih berharga untukku!" jawab Arsen.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Clarice.


"Sudahlah! simpan saja! dan ini, pakai sesuka mu! meski nilainya tak seberapa!" Arsen menyerahkan amplop coklat di atas telapak tangan Clarice dengan sedikit memaksa. Bagi Arsen sendiri 2 juta adalah uang yang kecil. Karena uang jajannya setiap bulan nyaris sama dengan Clarice.


"Bawa saja uangnya! ini akan aku simpan!" ucap Clarice menolak uang 2 juta Arsen.


"Tidak! bawa semua!" paksa Arsen hingga Clarice tak bisa berkutik. Akhirnya ia memasukkan amplop itu ke dalam tas kecil yang ia bawa. Setelah menoleh Naufal, dan pemuda itu hanya memberikan senyuman kecil tanpa bantuan jawaban.


"Nongkrong di Cafe, yuk!" ajak Naufal, dan langsung di angguki oleh Clarice dan Arsen.


"Bonceng aku, ya!" ajak Arsen pada Cla.


"Ya! kamu bonceng dia saja, Cla!" sahut Naufal yang paham jika Arsen benar - benar tengah mendekati sang sahabat.


"tapi nanti pulangnya sama kamu, ya!"


"Iyaaa!" jawab Naufal.


Dan kini dua motor dengan tipe dan merek yang sama melaju meninggalkan area stadion yang masih ramai, di saat jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Karena jika malam minggu begini biasanya anak muda serta penjual kaki lima akan menghabiskan waktu di sana sampai tengah malam.


Di atas motor Arsen, Clarice duduk dengan kaku. Sangat berbeda dengan saat di bonceng oleh Naufal. Dan saat motor berjalan, Clarice sempat melihat Vino yang tampak masih asyik dengan gadis yang sama sekali tidak ia kenal.


Mencibir dengan gerakan bibirnya, Clarice membuang muka, dan sebisa mungkin melupakan kekagumannya pada Vino.


Memang tidak seharusnya dia sekuper itu. Memang sudah seharusnya dia sering keluar seperti ini. Supaya tau aneka rupa wujud asli teman - temannya di kelas. Dia tidak boleh hanya dengan mengagumi di sekolah saja. Karena sebagian dari siswa jika di sekolah pasti bersikap baik. Demi menghindari masalah dengan pihak BK.


Sementara Arsen, tampak sangat bahagia bisa membonceng Clarice untuk pertama kali. Sehingga tujuannya saat ini adalah mencari lokasi Cafe yang sekiranya cukup jauh untuk di tempuh dari lokasi stadion.


"Ngafe di mana sih, Sen?" tanya Naufal mensejajari motor Arsen.


Naufal sungguh heran pada Arsen, sedari tadi pemuda itu melajukan motor tidak selayaknya seorang pembalap. Dan juga sudah banyak Cafe yang mereka lewati. Tapi Arsen tak kunjung berhenti.


Hingga kini ketiga anak muda itu tiba di salah satu Cafe yang ada di tengah kota. Cafe yang sangat terkenal di Ibukota. Terbukti dengan tempatnya yang kini sudah hampir penuh oleh anak muda yang ingin menghabiskan malam di sana.


Dan satu grup musik sudah menyanyikan lagu pertamanya di atas panggung mini dengan tinggi satu jengkal tangan orang dewasa saja.


"Kamu bisa bernyanyi, Cla?" tanya Arsen.


Ketiganya duduk di kursi yang berjumlah empat dengan memutari sebuah meja bundar berdiameter kurang lebih 60 cm. Menyisakan satu kursi kosong.


"Tidak bisa... bernyanyi bukan hobiku!" jawab Clarice.


"Harusnya kalian coba untuk bernyanyi duet!" ujar Naufal memberi ide.


"Yang ada akan pada kabur kalau aku bernyanyi!" ujar Clarice.


"Mau coba!" tanya Arsen.


"Tidak!"


"Kamu saja, Sen!" sahut Naufal. "Kamu kan anak band! pasti jauh lebih mengenal nada!" ujar Naufal.


"Anak band?"


Dan waktu terus berlalu, dan jam tangan masing sudah menunjukkan jam delapan malam... Ketika Arsen mulai maju untuk mengajukan request lagu pada grup yang sedang di undang.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2