Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 113 ( Dasar Buaya! )


__ADS_3

Arsen keluar dari galery Adid*s tanpa membawa barang apapun. Karena tujuannya memasuki toko itu hanya satu. Yaitu menemui Clarice. Dan mengajak gadis itu berkenalan untuk bisa mengenal lebih dekat. Ia sangat ingat jika Clarice adalah teman satu kelasnya. Teman yang tadi sempat bertemu saat hendak keluar kelas untuk pulang.


Sebelumnya, tanpa sengaja saat ia menemani sepupunya membeli sepatu di salah satu galery Mall Metropolitan, ia melihat Clarice dan rombongan keluarganya berjalan ke arah galery Adid*s.


Begitu melihat semua anggota keluarga Clarice masuk ke dalam galery, sorot matanya mengikuti pergerakan Clarice dari posisi yang sama, yaitu duduk di kursi tunggu galery yang sedang di masuki oleh sepupunya yang bernama Melody.


Begitu memasuki galery, Clarice terlihat langsung duduk di samping lelaki dewasa, yang ia yakini sebagai Ayah Clarice. Terlihat jelas jika Clarice termasuk gadis yang manja pada orang tuanya.


Karena selama berjalan tadi, Clarice menggandeng lengan sang Ayah, juga sang Ibu. Ya, Clarice berjalan di tengah - tengah orang tuanya. Dan ketiganya berjalan di belakang dua anak laki - laki, yang sudah pasti bisa di perkirakan oleh Arsen sebagai adik - adik Clarice.


Satu yang Arsen tidak akan tau jika hanya sekedar melihat lima orang itu. Yaitu, status hubungan Clarice dan Daddy nya. Yang merupakan anak sambung dan Ayah sambung.


Setelah sorot matanya bertemu dengan Clarice ketika ia kembali duduk di kursi tunggu yang semula ia duduki, Arsen segera membuka ponsel pintar miliknya. Dan membuka aplikasi chatting miliknya, di mana di dalam sana ada sebuah grup chat yang baru ia ikuti siang tadi. Setelah sang ketua kelas memasukkan dirinya menjadi anggota chat.


Cepat - cepat ia membuka daftar anggota yang ada di dalamnya. Ia segera ingin tau siapa nama Clarice. Ia benar - benar lupa siapa nama Clarice. Sedikit pun ia tak mengingat gadis yang kini terlihat memunggunginya itu bernama siapa.


Apa mungkin apa yang di bilang Clarice ada benarnya? karena terlalu sering berkenalan dengan anak perempuan, ia jadi pelupa ketika ada nama yang sedikit rumit untuk di baca maupun di ingat.


Satu persatu nomor anggota grup ia teliti. Tapi tak ada satu foto pun yang memperlihatkan gadis itu. Hanya nama - nama kecil yang sepertinya harus ia teliti untuk bisa menemukan nama yang hanya samar - samar ia ingat.


"Ris! atau apa yaaa..?" gumamnya lirih.


Arsen masih terus berjuang untuk menemukan nomor ponsel Clarice. Entah kenapa dari sekian banyak anak gadis di sekolah. Arsen justru penasaran dengan Clarice.


"Risa.." gumamnya membaca nama Risa di bawah barisan nomor yang belum ia simpan.


"Rasanya tidak mungkin jika gadis itu bernama Risa... Tadi namanya terdengar cukup modern dan aneh." gumamnya terus menerus dengan suara yang lirih. Sehingga tak ada yang bisa mendengar gumaman nya.


"Ah! sial!" umpatnya kesal karena tidak berhasil menemukan nomor ponsel Clarice. "Tidak mungkin kan, kalau dia tidak masuk grup?" tanyanya pada diri sendiri.


"Kenapa kamu ngedumel dari tadi!"


Suara seorang gadis membuat Arsen kembali pada suasana di mana ia tengah berada. Dan menutup layar ponselnya dengan cepat dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya.


Mendongak, Arsen melihat Melody sudah berdiri di sampingnya dengan sebuah paper bag putih bertuliskan N*ke di sisi depan.


"Sudah selesai?" tanya Arsen.


"Iya, sudah.." jawab Melody. "Kita langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Melody.


Tak segera menjawab, Arsen lebih dulu melihat pada galery di sebrang. Rupanya Clarice dan Daddy nya sudah tidak ada di kursi tunggu.


' Apa mereka sudah pulang? ' gumamnya dalam hati.


"Terserah kamu sajalah! pulang ok, mau main kemana lagi juga aku ok!" jawab Arsen yang merasa sudah kehilangan jejak Clarice.


"Kalau makan malam dulu saja, bagaimana?" tawar Melody.


"Di mana?"


"Di sana!" Melody menunjuk salah satu restauran yang ada di lantai bawahnya.


"Resto Jepang?" tanya Arsen.


"Ya! mau?"


"Boleh!"


***


Menyantap hidangan Jepang yang sesuai dengan lidah mereka, membuat keduanya lupa untuk saling mengobrol. Melody asyik makan sembari memainkan gawai nya. Yang mana ia baru saja memposting satu picture ativitasnya bersama Arsen malam itu.


Sedangan Arsen mengamati sekitar. Dimana jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sudah banyak orang - orang yang meninggalkan area Mall. Entah untuk pulang, atau pun untuk pindah lokasi untuk mencari hiburan.


Dan saat melihat ke arah eskalator, saat itulah ia melihat kembali Clarice dan keluarganya berdiri di sana. Di eskalator yang bergerak turun. Sudah pasti mereka ingin meninggalkan area Mall.

__ADS_1


Mata Arsen tak lepas dari pandangannya melihat Clarice yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri. Tapi juga sulit untuk di dekati. Terlihat dari betapa cuek gadis itu dengan beberapa kalimat pujiannya.


Kalimat - kalimat menohok yang di ucapkan Clarice tadi sudah cukup membuat Arsen tau sedikit tentang sikap dingin Clarice pada lawan jenis yang ingin mengambil hatinya.


Arsen merasa, baru kali ini ia di tolak sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan terang - terangan di katai playboy.


Penampilan Clarice sederhana, tapi entah apa yang membuat Clarice terlihat menarik. Dan entah kenapa ia baru menyadari keberadaan Clarice saat jam pulang sekolah. Sebelumnya yang ia lihat justru teman satu kelasnya, yang ketika ia tanya pada sang ketua kelas, dia menjawab jika nama gadis itu Carrenina Louis.


' Baiklah, hari - hari ku untuk mengambil hatimu masih tersisa tiga tahun. Tidak mungkin, kan? sampai tiga tahun yang akan datang kamu menolak kehadiranku? '


Gemuruh dada Arsen mewakili bibirnya yang tidak bisa berucap pada Clarice secara langsung.


Pandangan mata Arsen tak lepas sampai Clarice benar - benar menghilang dari pandangan dan tak ada lagi jalan baginya untuk bisa melihat Clarice. Akhirnya ia kembali fokus pada makan malam nya.


# # # # # #


Lepas dari menghabiskan malam di Mall Metropolitan, hari sudah kembali pagi. Mentari mulai merayap menampakkan dirinya di langit Ibukota. Samar - samar dengan di iringi hawa yang masih dingin dan bersih. Kemudian cahaya mulai menerobos setiap jendela yang terbuka.


Termasuk jendela kamar Clarice yang sudah terbuka lebar. Sehingga pantulan sinar Matahari sudah memasuki kamar dengan nuansa rose pink itu.


Dan saat semua itu terjadi... Clarice, gadis remaja 16 tahun itu sudah siap dengan baju seragam sekolahnya di hari Jum'at. Pagi hari di Ibukota adalah waktu yang sibuk untuk semua orang, dan yang pasti di sertai dengan bermacet - macetan bagi mereka yang beraktivitas di luar rumah.


Untuk itu, anak - anak lebih memilih mengawali waktu mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Begitu juga dengan sang Daddy, yang selalu mengantar ketiganya untuk berangkat sekolah.


Kemacetan di Ibukota bukanlah sesuatu yang baru. Semua seolah sudah menjadi makanan sehari - hari untuk mereka. Sehingga banyak yang memilih untuk berangkat lebih awal dari pada harus terlambat. Terutama untuk para pekerja kantoran yang tidak boleh datang terlambat.


Dengan menenteng paper bag berisi baju olah raga, Clarice menuruni tangga dengan santai untuk menuju meja makan yang mana ternyata Mommy, Daddy dan Dygta sudah ada di sana. Semua hanya sedang menunggu dirinya dan Galen yang entah masih berada di kamar. Mungkin masih menyisir rambut hitamnya.


"Morning, Mommy!" sapa Clarice mencium pipi Mommy Calina dengan sayang.


"Morning too, girl..." balas Mommy Calina.


"Morning, Daddy!" Clarice berpindah mencium pipi Daddy Kenzo yang berada di kursi pemimpin keluarga.


Clarice melewati Dygta dengan mengusap rambut hitam Dygta yang sudah di sisir rapi.


"Kakak!" seru Dygta kesal karena rambut yang sudah di sisir rapi oleh sang Ibu kembali berantakan.


Namun Clarice hanya menjulurkan lidahnya karena baginya Dygta lebih menggemaskan daripada Galen yang sudah mulai sering resek.


"Pagi, Eyang..." sapa Clarice pada Mama Shinta yang duduk di samping Dygta.


"Pagi, Clarice.."


"Mana Galen, Mom?" taya Clarice. "Dia selalu saja terlambat!" gerutu Clarice sembari duduk di kursinya.


"Aku di sini! Kakak ku yang cantik!" sahut Galen berlari cepat menuruni anak tangga yang meliuk indah nan mewah. Dengan seragam Junior High School nya.


Clarice menoleh pada Galen dan menatap Galen dengan tatapan yang jahil.


"Selamat pagi untuk Kakakku yang cantik!" ucap Galen mencium singkat pipi Clarice, dan berlanjut dengan mencium semua pipi anggota keluarga, kecuali Dygta.


"Kenapa tidak ada satu Kakak pun yang mau mencium pipi ku?" tanya bocah 10 tahun itu.


"Oh my God! Kakak tidak tau kalau kamu juga menginginkannya, adikku sayang!" ujar Clarice segera berdiri dan menghampiri kursi Dygta kemudian mencium gemas pipi Dygta yang gembul.


Sementara Galen hanya tersenyum mendengar protes adiknya, "Ayo, Daddy! kita mulai sarapannya!" ucap Galen melihat piringnya yang sudah berisi sandwich buatan sang Mommy.


"Kamu yang memimpin do'a, Galen!" perintah Daddy Kenzo.


"Okay!"


Dan sesi sarapan di lakukan dengan anggota keluarga yang lengkap. Dengan Clarice yang ada di rumah itu.


***

__ADS_1


Mengemudikan sendiri mobil berjenis Pajero Sport keluaran terbaru, Daddy Kenzo membawa ketiga anak nya untuk berangkat ke sekolah. Dan dia sendiri dengan jas kerja lengkap dengan brand terbaik yang biasa di gunakan oleh orang - orang kaya.


"Bye, Daddy!" pamit Cla mencium pipi Daddy nya sebelum keluar dari pintu penumpang bagian depan.


Ia selalu duduk di bagian depan. Sedang kedua adiknya duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Bye, Sayaang..." jawab Daddy Kenzo setelah mencium puncak kepala anak tirinya yang tertutup rambut hitam yang di ikat ala ekor kuda.


Masuklah Clarice ke dalam gedung sekolah. Sementara sang Daddy langsung berangkat menuju kantor setelah menurunkan Clarice yang terakhir.


***


Clarice berjalan memasuki gedung sekolah. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia mendengar suara mobil berhenti di depan gedung. Setelah terdengar mobil sang Daddy pergi.


Reflek Clarice menoleh ke belakang, tanpa niatan melihat siapa yang datang setelahnya di jam setengah tujuh seperti ini. Tapi siapa sangka saat ia menoleh ke belakang, bertepatan dengan murid yang di antarkan keluar dari pintu penumpang bagian belakang mobil berjenis Alphard itu.


' Arsen! '


Reflek Clarice menyebut nama pemuda yang sedang menjadi trending topik di sekolah itu. Pemuda itu muncul dari pintu mobil yang terbuka secara otomatis. Cepat - cepat Cla kembali menghadap depan, dan melangkah cepat dengan menenteng paper bag berisi baju olah raga miliknya.


Ia masih malas untuk kembali berinteraksi dengan pemuda itu. Apalagi di sekolah, banyak sekali murid perempuan yang mengagumi dan menginginkan pemuda itu sebagai kekasih mereka. Cla malas untuk semua itu.


Bukan 100% malas, tapi demi menjaga kepercayaan sang Ibu, bahwa dia tidak akan berpacaran di masa sekolah.


Sorot mata Arsen melihat Clarice yang sudah ada di dalam gedung. Segera ia berjalan cepat untuk menghampiri sang gadis. Namun saat hendak sampai, tiba - tiba seorang murid perempuan mendekat dan menyapa Arsen.


"Hai, Arsen!" sapanya dengan gaya yang centil, bahkan dengan percaya diri gadis itu merangkul lengan kiri Arsen. Mengikuti langkah Arsen yang cepat dengan gaya yang manja.


"Eh, maaf. Aku lupa siapa namamu?" tanya Arsen menoleh sang gadis. Ia ingat kemarin gadis itu menghampirinya dan memperkenalkan dirinya saat ia berada di kantin. Tapi ia sungguh lupa dengan namanya.


Memutar bola matanya malas, gadis itu menghela nafasnya panjang. Namun sama sekali memaklumi jika Arsen lupa akan namanya. Karena memang kemarin adalah pertemuan pertama mereka.


"Ingat baik - baik ya, Arsen yang tampan. Namaku Zuria Agatha. Panggil aku Zuria!" ucapnya untuk kedua kali memperkenalkan diri.


"Kelas berapa?" tanya Arsen lagi. Ia ingat gadis inilah yang semalam di maksud Clarice menghampirinya di kantin untuk memperkenalkan diri. Bedanya gadis itu datang sendiri. Sementara kemarin ia datang bersama beberapa anak murid yang lain.


"XI-IPS 1!" jawabnya.


"Ohh..." Arsen mengangguk dan tersenyum. Ia sam sekali tidak menepis tangan Zuria yang melingkar di lengan kirinya.


Suara obrolan Arsen dan gadis itu sampai di telinga Clarice yang sudah di anak tangga teratas. Dia menoleh ke bawah, di mana dapat ia lihat betapa akrab Arsen dan gadis yang ia tau sebagai Kakak kelasnya itu.


' Dasar buaya! '


Cibir Clarice pada Arsen. Pemuda yang tak ia pungkiri jika pemuda itu memang tampan dan mempesona untuk seusia mereka. Jika saj ia tak mengagumi si ketua kelas secara diam - diam, sudah pasti ia pun akan tertarik pada Arsen, sama seperti yang lainnya.


Dan saat itulah, sorot mata Arsen kembali mengarah pada dirinya. Dan keduanya kembali saling tatap. Namun dengan cepat Clarice memutus tali semu yang menghubungkan pandangan keduanya.


Cla langsung menuju pintu kelasnya. Yang mana suasana di dalam masih sedikit sepi. Biasanya para siswa akan sampai di jam tujuh kurang seperempat.


Cla langsung menuju mejanya yang berada di deret ke empat, dan baris nomor dua dari depan. Dan ia langsung mengeluarkan sebuah novel yang iai pinjam dari perpustakaan sekolah. Melanjutkan episode yang belum terselesaikan.


***


Sepuluh menit berlalu, masuklah sang anak baru ke dalam kelas. Dan sorot mata Arsen langsung tertuju pada Clarice yang menunduk dengan membaca sebuah buku tebal yang bisa di lihat jika itu adalah sebuah novel.


Ia berjalan mendekati meja Clarice, dan duduk di bangku depan Clarice. Alias bangku Lia yang masih kosong, karena gadis itu belum datang.


Tidak ada obrolan, Arsen hanya diam. Ia menatap lekat pada Clarice yang sepertinya belum sadar jika dirinya ada di depan sang gadis.


Dan apa yang di lakukan Arsen menarik perhatian teman sekelas mereka yang sudah datang. tidak biasanya ada anak laki - laki yang mendekati Clarice. Tapi Arsen?


"Ketika Cinta Bertasbih!" gumam Arsen membaca judul novel yang sedang di baca Clarice.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2