
Di antara suara burung yang berkicau merdu di atas atap-atap setiap rumah. Di antara sinar matahari yang mulai terlihat di langit. Terdengar suara ketukan pada pintu kamar yang terdengar semakin kencang untuk di dengarkan telinga seorang gadis jelita yang semalam baru pulang sekitar pukul 12.
Tok tok tok!
"Cla...?" suara seseorang mulai terdengar memanggil namanya.
Dan itu adalah suara Mommy Calina yang ingin memasuki kamarnya untuk memberikan sebuah box hadiah yang di titipkan oleh seorang pemuda untuk sang gadis.
Begitu mendengar nama Arsen di sebutkan, Clarice yang masih sangat mengantuk itu seketika langsung terkesiap, menyingkap selimut tebal dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Apa isinya, Mom?" tanya Clarice langsung merebut box itu dari tangan sang Ibu.
"Mana Mommy tau..." jawab Mommy Calina dengan seulas senyum kecil sembari mengedikkan bahunya.
"Siapa yang menitipkan?" tanya Cla.
"Arsen..."
"Arsen?" pekik Cla tidak percaya pemuda itu kembali mendatangi rumahnya setelah sekian lama tidak pernah agi datang.
"Iya.."
"Dia masih di sini?" tanya Cla berharap dengan mata yang terbelalak.
"Sudah pergi..." jawab Mommy Calina. "Dia hanya datang untuk menitip kan ini, kemudian langsung pergi. Sepertinya dia buru-buru..." jawab Mommy Calina.
"Ooh... Baiklah, Mom.. Thank you.."
Clarice langsung membawa kotak itu untuk duduk di tepi ranjangnya setelah sang Ibu meninggalkan kamar. Menatap dengan perasaan yang bercampur aduk antara penasaran, bingung dan gugup. Bahkan lebih gugup dari pada saat di tembak oleh Vino di hadapan ratusan mata semalam.
Lebih dag dig dug ketimbang saat menaiki roller coaster. Detak ini, getaran ini sangat ia rindukan.
"Kira-kira apa isinya?" gumamnya tak sanggup melihat jika isinya adalah sesuatu yang buruk. "Semoga ini adalah kejutan yang istimewa..."
Jantung Cla berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya. Aliran darahnya pun ikut bergerak tidak senormalnya. Selain itu ada nafas yang harus ia atur untuk menetralkan perasaan yang sudah lama ia pendam.
Clarice membuka tutup berwarna ungu muda itu dengan sangat pelan dan hati-hati. Semakin terbuka, maka jantungnya semakin berdetak lebih kencang dan rasa penasarannya juga semakin meningkat. Dan semakin berharap ini akan menjadi awal yang baik.
Meletakkan tutup di samping boxnya. Mata Cla langsung berpusat pada beberapa isi yang terdapat di dalam kotak. Sedikit heran, tapi semua ini seperti tidak asing. Sang gadis cukup tau berasal dari mana barang-barang ini.
"Jam tangan?" gumam Cla mengambil sebuah kotak yang mirip dengan kotak jam tangan, dan di tambah merk yang cukup terkenal, Swatch.
Cla membuka kotak itu, dan benar! Kotak kecil itu berisi sebuah jam tangan berwarna sweet pink dengan brand kenamaan yang ia ketahui berasal dari Swiss.
Cla membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat dan apa yang ia terima dari sang pemuda. Benarkah Arsen memberinya sebuah jam tangan yang bisa di pastikan jika barang satu ini di beli langsung di negara asalnya di buat?
Karena seperti itulah Arsen.
Seperti gelang dengan tali kecil berhiaskan huruf yang terbuat dari emas murni membentuk namanya. Yang mana sampai saat ini masih sering ia gunakan walau tidak setiap hari. Karena takut jika gelang itu rusak dan sebagainya.
Setelah memakai jam tangan yang terlihat sangat cocok dengan kulitnya itu, Cla beralih dengan benda yang ada di bawahnya.
Sebuah miniatur menara Eiffel yang di bentuk menjadi gantungan kunci dan sebuah parfum yang di yakini Cla berasal dari negara yang sama. Karena tulisan yang tertera pada parfum pun juga sama, Paris.
Meski Cla belum mandi, sang gadis dengan percaya diri menyemprotkan parfum dengan keharuman yang khas ke arah tubuh dan lehernya.
"Aku yakin semua ini oleh-oleh hasil dia berkeliling dunia selama liburan sekolah yang entah kapan... Yang jelas aku ingat dia datang ke Paris." gumam Clarice dengan seulas senyum senang. Karena berpikir jika Arsen ternyata masih selalu mengingat dirinya meski sikap sang pemuda sangat dingin dan acuh pada dirinya.
"Arsen... ini sangat harum..." ucapnya menghirup bau parfum dari Arsen. "Aku pikir selama ini kamu melupakan Aku.." senyumnya dengan dada yang bergemuruh riang.
Mengeluarkan dua benda itu, kini Cla menemukan miniatur dari menara Big Ben. Ya, sang pemuda juga memilih London sebagai negara yang di kunjungi untuk menghabiskan hari libur semester yang panjang.
Ia ingat dalam satu postingan semasa libur semester kelas XI, Arsen sedang di London bersama seorang laki-laki yang ia ketahui sebagai Kakaknya, Axelle Wilson.
Di lapisan terbawah, Cla menemukan kaos oblong berwarna putih dengan bertuliskan London dalam ukuran cukup besar.
"Thank you, Arsen..." gumam sang gadis jelita dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya sejak tadi.
Kemudian ia melepas piyama tidurnya bagian atas dan menggantinya dengan kaos oblong itu. Tubuh Clarice yang tinggi dan mungil terlihat tenggelam mengenakan kaos oblong yang sangat kebesaran di tubuhnya.
Cla turun dari tempat tidurnya untuk melihat dirinya dari pantulan cermin almari kamarnya. Ia terkekeh melihat tubuhnya yang nyaris tenggelam menggunakan kaos pilihan Arsen. Bahkan hot pant yang ia kenakan untuk tidur tenggelam olehnya.
Terakhir Cla menemukan sebuah foto yang sangat ia ingat, jika foto itu di ambil oleh salah satu Asisten rumah tangga, ketika Cla mengajari Arsen untuk berenang. Ketika meminta sang pemuda untuk mengenal dan berteman dengan kedalaman.
"Dulu terasa sangat biasa... Bahkan kamu nyaris selalu menyebalkan setiap hari!" gumam Cla mengenang masa itu. "Tapi kini semua itu terasa sangat ku rindukan, Sen..." lanjutnya bergumam mulai tersenyum lirih dan pilu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menunggu ku bangun? Atau meminta aku untuk bangun?" gumamnya. "Kenapa harus terburu-buru?" tanya Cla mulai memasang raut wajah yang sedih.
Dan di tumpukan paling bawah, Cla akhirnya menemukan secarik kertas yang di lipat menjadi dua. Cla mengambil kertas putih itu dengan dada yang bergemuruh menahan degupan jantung di dada.
"Apa ini surat?" gumamnya karena belum menemukan tulisan di kertas bagian luar.
Sebelum membuka kertas itu, Cla berharap semua akan baik-baik saja. Jantung bagai di pompa menggunakan mesin khusus. Padahal baru saja ia tersenyum senang dengan menerima barang-barang dari sang pemuda.
Aliran darah kembali membeku untuk kesekian kali. Jantung berusia 18 tahun ini sudah berulang kali si buat tidak karuan menahan gejolak yang tidak menentu akhir-akhir ini.
Perlahan sang gadis membuka surat itu, dan membaca tulisan tangan Arsen di dalam hati dengan penuh penghayatan.
**********
Dear, Brighta Clarice Agasta ...
Ini adalah sebagian kecil dari oleh-oleh yang aku berikan untukmu setiap aku berlibur ke luar negeri.
Di setiap negara yang aku kunjungi, yang selalu ku ingat hanya membelikan oleh-oleh untuk kamu.
Ada banyak sesungguhnya di kamar ku, tapi aku rasa hanya ini yang pantas untuk aku berikan kepadamu.
Sebagai manusia yang di berikan pikiran dan perasaan, aku berharap kamu mengerti mengapa aku sedemikian dalam mengingat dirimu...
Sedemikian percaya diri untuk membeli oleh-oleh, padahal aku tidak tau apakah aku memiliki kesempatan untuk memberikannya pada mu.
Cla...
Aku tau ini terlambat...
Aku tau ini tidak benar...
Tapi aku siap dengan apapun resiko yang akan aku terima setelah ini.
Cla...
Jika aku masih memiliki kesempatan...
Bolehkah aku bilang ini kepada mu?
Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu di Mall hampir tiga tahun yang lalu.
Saat aku masih menjadi anak baru di Alexander International School yang penuh dengan kenangan itu.
Dan aku selalu menyukai mu, meski kamu sering bersikap ketus dan terlihat sebal padaku.
Aku akan tetap menyukaimu...
Kamu perlu tau, Cla..
Apapun yang kamu lakukan padaku kala itu, tidak akan pernah membuatku menjauhi dirimu.
Aku tau... Kamu tidak seburuk dan seketus itu sesungguhnya.
Haha! Tapi... biarlah lupakan itu. Itu hanyalah serpihan masa remaja kita. Hingga tanpa terasa, kita sudah dewasa sekarang.
Oh ya, Cla...
Lama kita tidak bicara, bukan?
Aku merindukan setiap saat ketika kamu memarahi ku.
Mengomeli ku seperti Mrs. Maria, guru BK.
Dan juga mengatai aku yang tidak tidak.
Salah satunya... buaya darat, bocah tengil dan lain sebagainya.
Hahaha!
Aku masih sangat ingat.
But... I'm not a land Crocodile, Sayang...
Ah! Apa aku masih boleh memanggil mu Sayang?
__ADS_1
Di saat kamu sudah menjadi milik orang lain?
Padahal dulu aku sangat senang ketika memiliki alasan konyol untuk bisa memanggilmu dengan sebutan itu.
Tapi sayang, aku hanya memiliki kesempatan untuk memanggilmu dengan sebutan itu hanya sesaat saja.
Selebihnya aku tidak lagi berani.
Ketika aku tau ternyata kamu menyukai Vino, aku merasa hati ku sudah runtuh saat itu.
Dan hatiku hancur ketika semalam aku mendengar Vino sudah mengungkapkan perasaannya kepadamu, di momen yang paling berkesan di sepanjang perjalanan kita di Senior High School.
Aku yakin kamu sudah menerimanya, bukan?
Mimpimu untuk menjadi kekasih Vino telah terwujud.
Dan aku senang melihat kamu terlihat bahagia, Cla...
Selamat atas kamu yang sudah memiliki izin untuk berpacaran.
Dan juga selamat atas hubungan kalian berdua.
Aku bahagia atas itu.
Dan pesanku... Katakan padaku jika kelak ada air mata yang jatuh di pipimu karena Vino.
Katakan pada ku jika ia melakukan hal yang membuat kamu tidak suka dan tidak nyaman.
Tangan ku sendiri yang akan membalasnya untukmu.
Kamu terluka, aku juga akan terluka.
Terakhir... Kamu hanya perlu tau...
Jika rasa cinta untukmu pernah menyelinap di dalam dadaku, di dalam hatiku yang terdalam.
Izinkan aku memanggilmu sayang untuk yang terakhir.
*I love you...*Sayang...
Send warm regards,
Arsenio Wilson.
**********
"No, no, no, no, no, no!" ucap Clarice menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak.... Bukan seperti ini..." gumamnya.
Senyum, suka ceria yang sempat terlihat tiada tertahan di bibir dan wajahnya kini telah lenyap. Berubah menjadi ekspresi bingung dengan kedua alis yang bertemu ketika sang pemuda menuliskan...
Di saat kamu sudah menjadi milik orang lain?
Dan semakin lenyap ketika bacaannya semakin sampai ke bawah. Di mana ia bisa mengira jika sang pemuda benar menganggap dirinya telah menjalin hubungan dengan Vino.
"Kamu salah, Arsen! Kamu salah!" ucap Clarice dengan dada yang bergemuruh karena takut Arsen benar-benar salah paham.
"Aku dan Vino tidak menjalin hubungan apapun, Sen!"
Sepasang mata Clarice mulai berkaca-kaca ketika di akhir kalimat Arsen menuliskan kata I love you, namun sang pemuda merasa terlambat mengucapkan kalimat itu.
"Arsen.... Apa yang sebenarnya kamu pikirkan!" geram Clarice tertahan. Tangan sang gadis sampai bergetar memegang surat manual itu.
Merasa ada yang harus segera di luruskan, Cla langsung melompat dari atas tempat tidur, mencari ponsel yang bahkan ia lupa di letakkan dimana.
"Di mana ponsel ku!" gerutu Clarice kesal menyambar clutch yang semalam ia gunakan namun ternyata sudah tidak ada ponsel miliknya.
"Akhirnya!" seru Cla ketika menemukan ponsel miliknya ternyata di bawah bantalnya yang empuk.
Segera ia mendial nomor chatting Arsen. Namun sampai beberapa detik hanya ada status memanggil tanpa tersambung sama sekali. Dan itu membuat Cla semakin frustasi.
Tiga kali tidak ada hasil, Cla mengetikkan sesuatu. Namun hanya centang satu dan tidak ada hasil sampai ia mengirim pesan acak yang mencapai puluhan kali.
"Kemana Arsen sebenarnya?" gumamnya dengan air mata yang mulai menetes walau tanpa isakan dan suara.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1