
Semua yang ada di dalam ruang tamu menatap Calina dengan tatapan serius. Menanti jawaban sang wanita untuk memberi tahu apa yang mirip dari Clarice dengan Zio.
Karena dari segi wajah, Clarice justru memiliki kemiripan dengan Kenzo, selaku laki - laki yang menimang sejak hari pertama dilahirkan.
Bukankah... juga sudah biasa, jika wajah seorang anak angkat mirip dengan orang tua angkatnya? Mungkin seperti itulah garis wajah yang tergambar dari wajah Clarice dan Kenzo.
Calina berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah hingga menaiki tangga. Menuju lantai dua, dimana anak - anak sedang berada di ruang bermain dengan Mbak Irah.
Sementara di ruang tamu, Mama Shinta dan Kenzo saling tatap dalam diam. Seolah sama - sama mengharapkan kebaikan setelah pertemuan ini.
Sedangkan Zio kini tubuhnya terlihat cukup tegang dan berdebar. Ia akan bertemu dengan seorang gadis kecil, yang merupakan darah dagingnya sendiri. Gadis kecil yang terbentuk dari darahnya, benihnya sendiri. Sesuatu yang ia rasa sangat ajaib.
Ia sama sekali tak menyangka Tuhan akan sebaik itu. Menumbuhkan seorang bayi di rahim Calina, hanya dalam satu kali sentuhan darinya. Yang mana pada akhirnya itu akan menjadikan dirinya seorang Ayah.
Ia sungguh tak pernah mengira, ia sudah menjadi seorang Ayah sejak 5 tahun yang lalu. Sesuatu yang sangat indah dan mendebarkan.
Satu yang sangat ia sesali. Ia tak pernah merasakan menemani dan melihat perkembangan hasil benihnya itu sejak di dalam kandungan.
Andai waktu dapat di ulang dan semua itu terjadi. Ia pasti akan mencium perut buncit Calina yang mana di dalamnya ada janin mungil hasil karyanya dalam satu malam.
Zio menoleh Kenzo sekilas, berpikir apakah Kenzo yang melakukan semua itu? Kenzo mencium perut buncit Calina? Dan apakah itu yang membuat Clarice memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kenzo.
' Tidak! tidak mungkin Pak Kenzo dan Calina berbuat semacam itu. Apa mereka tidak punya malu? '
Zio membantah argumennya sendiri, kemudian kembali menunduk.
Dan saat menunduk itu, ia membayangkan momen kelahiran putrinya tepat lima tahun lalu, yang entah saat itu ia sedang apa.
Suara tangis bayi saat baru dilahirkan, tiba - tiba mengiang di telinganya. Kemudian gambaran seorang Ibu yang melahirkan dengan di dampingi sosok suami, melintas di dalam pikirannya.
' Apa saat itu dia juga mendampingin Calina melahirkan? Apakah dia juga yang menggenggam tangan Calina? '
Pikiran - pikiran Zio terus berkelana sejauh mungkin.
Dilanjut dengan seorang bayi yang tengah di adzan-i oleh sang Ayah setelah di pakaikan sebuah handuk bersih di tubuh sang bayi, ikut melintas di dalam bayangannya.
Lagi - lagi Zio menoleh Kenzo, dan berfikir. Apakah Kenzo yang melakukan itu semua? Menggantikan semua hal yang seharusnya menjadi hak tugasnya sebagai seorang Ayah kandung?
Zio kembali menunduk sembari menggelengkan kepalanya pelan.
' Apakah nama Clarice juga pemberian Pak Kenzo? '
Hingga bayangan tentang seorang bayi yang merangkak, kemudian berjalan di saat usia yang terus bertambah setiap harinya. Dimana momen ulang tahun selalu ada di setiap tahunnya.
Saat itulah ia menginat foto ulang tahun Clarice ke - 5 tahun yang ia lihat dari ponsel salah satu karyawan kemarin, ia yakin Kenzo yang selalu berperan sebagai Ayah atau pun superhero bagi sang gadis kecil di empat ulang tahun sebelumnya. Seperti di foto ulang tahun kemarin, Kenzo berperan sebagai seorang Raja.
__ADS_1
Angan itu membuat Zio semakin merasa iri dan menyesal karena melewatkan momem - momen emas sang anak. Yang paling membuat ia menyesal adalah, semua itu terjadi bukan karena keinginannya. Melainkan kesengajaan dari tiga orang di dalam apartemen mewah itu, yang tak memberi tahunya sama sekali.
Ia mengaku salah, karena dulu sudah sangat jahat pada Calina. Tapi ia sama sekali tidak berniat mengusir Calina di malam itu dengan keadaan Calina yang hamil. Karena memang tidak ada yang tau jika Calina hamill, bukan?
Jika waktu dapat di putar. ia sama sekali tidak ingin semua itu terjadi. Tentu ia ingin hidup damai bersama anak dan... kedua istrinya tentu saja. Dan tentu saja ia ingin seperti yang di lakoni Kenzo saat ini. Salah satunya, mengantar jemput Clarice di sekolah terbaik di Ibukota.
Sebagai GM tentu ia juga akan mampu jika menyekolahkan anaknya di sana. Meski cukup menguras kantong baginya. Berbeda dengan Kenzo, yang baginya biasa - biasa saja. Sebagai anak pemilik salah satu perusahaan terbesar di Ibukota, tentu uang sebesar itu tidak ada artinya bagi keluarga Adhitama.
Tak berapa lama kemudian, suara Clarice yang mengoceh mulai terdengar sampai ke ruang tamu. Mereka dapat menduga jik Clarice tengah menuruni tangga dengan sedikit melompat - lompat.
Calina kembali ke ruang dengan Clarice yang berjalan beriringan dengannya. Calina menggenggam tangan Clarice dengan sangat hangat. Ia tentu berharap tidak ada masalah berat setelah ini. Semua bisa berdamai dan hidup berdampingan. Sama - sama bisa menjaga dan membesarkan Clarice dengan kasih sayang.
Sampailah Ibu dan anak itu di ruang tamu, dimana tiga orang dewasa sudah menunggu keduanya.
Calina dan Clarice masih berdiri di samping sofa panjang tempat Kenzo duduk.
"Inilah yang sama dengan mu, Mas!" jawab Calina membuka sedikit lengan baju Clarice.
Di sana sebuah tanda berwarna merah yang membentuk garis ke bawah. Calina tentu tau itu tanda dari siapa.
Ya! Papa Raihan dan Zio! Dua lelaki itu memiliki tanda merah di lengan mereka.
Sontak Zio menatap nanar pada Clarice. Anak kandungnya. Di saat fisik utama menunjukkan kemiripan dengan sang Ayah tiri. Ada petunjuk lain yang tak bisa di ganggu gugat.
Sementara Clarice menatap satu persatu wajah yang ada di sana. Tentu ia bingung kenapa, harus di bawa ke dalam obrolan orang dewasa.
"Hi, Uncle!" sapa Clarice. Ia ingat pernah menyapa dengan sebutan itu saat di dalam lift.
Sedangkan Zio sendiri, sudah tersenyum haru, melihat gadis kecil yang ternyata adalah putrinya. Anak yang ia anggap sebagai anak bosnya itu, siapa sangka ternyata anaknya sendiri. Wajah cantik, kulit putih, dan rambut hitam yang sedikit bergelombang menambah kesempurnaan sang gadis. Meski sampai saat ini pun ia masih bisa melihat ada garis kemiripan antara Clarice dan Kenzo.
Satu yang sangat membuat hatinya terasa perih, sebutan Uncle yang sama sekali tidak ia harapkan.
"Clarice..." panggil Kenzo lemah pada putri tirinya.
"Ya, Daddy!" jawab Clarice segera berjalan mendekati Kenzo, dna seperti biasa dia akan langsung melompat ke atas pangkuan sang sang Daddy dengan merangkul leher sang Daddy.
Dada Zio bergemuruh melihat keakraban putrinya dan Ayah tirinya. Bukankah harusnya dia yang mendapat sikap manja Clarice?
Kenzo tau jika Zio tengah cemburu padanya. Terlihat dari sorot mata lelaki itu saat melihatnya. Dan posisi Zio yang masih berdiri, tentu lelaki itu berharap untuk segera di perkenalkan sebagai Ayah kandung dan segera bisa memeluk gadis kecil di pangkuannya itu.
"Clarice sayang Daddy?" tanya Kenzo sendu. Menatap lekat wajah putri tirinya.
"Ya! Tentu saja!" jawab Clarice cepat seperti biasanya.
Kenzo tak sanggup lagi untuk menanyakan ataupun mengucapkan kalimat selanjutnya. Tubuhnya serasa bergetar, lidah terasa kilu begitu saja. Di dalam hati begitu parau saat mendengar jawaban Clarice di pertanyaan pertama. Ia tau jika putri tirinya itu sangat menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Clarice, maafkan Mommy..." ucap Calina yang sudah duduk di samping Kenzo.
"Maaf kenapa?" tanya Clarice bingung.
"Maafkan Mommy yang tidak memberi tahu Clarice, jika..." Calina menggantung kalimatnya. Ia melihat mata Kenzo, kemudian beralih ke mata Mama Shinta, dna terakhir mata Kenzo yang masih menatap putri mereka.
"Kenapa, Mommy?" tanya Clarice tak sabar.
"Clarice .. Sebenarnya... Clarice punya dua Daddy..." lanjut Mama Shinta mengambil alih. Beliau tentu tau putrinya tak sanggup berucap lagi. Tak tau cara menyusun kalimat yang tepat.
"Dua Daddy?" tanya Clarice. "Maksud Eyang?"
"Selain Daddy Kenzo, Clarice juga punya Papa!" sahut Zio begitu saja. Ia sungguh tak sabar dengan tiga orang di depannya yang terkesan bertele - tele hanya untuk memperkenalkan dirinya.
Sontak semua menoleh pada Zio yang menyahuti obrolan keluarga inti di apartemen itu.
"Papa?" tanya Clarice menoleh Zio.
"Ya, Clarice!" jawab Zio mendekati posisi Clarice. "Ini adalah Papa!" ucapnya menunjuk dirinya.
"Papaa?" bingung Clarice melihat mata Kenzo. Seolah bertanya pada Kenzo apa yang di maksud orang yang ia panggil Uncle itu.
Namun Kenzo hanya sanggup mengangguk lemah.
Zio berjongkok tepat di depan Kenzo, menyentuh lembut lengan Clarice. Matanya berkaca - kaca melihat wujud kecil dari dirinya .
"Clarice, Uncle ini adalah Papa kandung Clarice?" ucap Mama Shinta.
"Lalu Daddy?" Clarice menatap lekat mata Kenzo yang kini sudah menganak sungai.
"Daddy adalah Daddy Clarice!" jawab Kenzo dengan suara yang bergetar bersamaan setetes air mata.
Melihat Kenzo menangis, Calina pun reflek meneteskan air matanya.
"Clarice... Ini Papa Clarice! Peluk Papa juga..." pinta Zio dengan suara yang sangat lembut dan penuh harap.
Tapi Clarice, setelah melihat Zio yang memohon hanya bisa kembali melihat sang Daddy.
Dan Kenzo pun mengangguk lemah. Meminta sang putri juga memeluk Ayah kandungnya.
Clarice pun turun dari pangkuan Kenzo. Kemudian memeluk lelaki yang berjongkok di depannya.
Tentu saja bocah lima tahun itu masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia perlu penjelasan yang jauh lebih mudah di mengerti.
Untuk saat ini, ia hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan oleh orang tuanya.
__ADS_1
...🪴 Bersambung... 🪴...