Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 76 ( Apa Clarice Juga Punya Mama? )


__ADS_3

Malam yang sangat syahdu di rasakan oleh keluarga kecil Kenzo. Malam itu, keduanya sengaja untuk mengantar Clarice tidur di kamarnya.


Clarice yang terbiasa dengan dongeng sebelum tidur, malam itu akan di berikan sebuah dongen nyata yang di harapkan membuat Clarice dapat memahami siapa orang yang baru di kenalkan tadi siang, yaitu tentang sosok Papa Zio.


Rupanya Kenzo dan Calina cukup pintar untuk merangkai kata yang dapat di pahami oleh Clarice. Gadis kecil yang baru berusia 5 tahun itu mungkin akan masih kesulitan untuk memahami permasalahan orang dewasa.


Tapi rupanya Clarice memiliki jiwa yang besar untuk menerima kenyataan apapun yang di jelaskan orang tuanya.


"Jadi Mommy menikah dua kali?" tanya Clarice yang tidur tepat di tengah - tengah Calina dan Kenzo.


"Iya, Sayang...." jawab Calina lirih. "Dan Papa adalah suami pertama Mommy, sedangkan Daddy Kenzo adalah suami kedua Mommy."


Clarice menoleh ke sebelah kanan, dimana Kenzo ada di sisi kanannya.


Pria itu memiringkan tubuhnya ke arah Clarice. Untuk bisa dengan mudah memeluk dan menatap lekat wajah gadis kecil itu.


Kenzo tak pernah membedakan posisi Galen dan Clarice. Dimana Galen adalah anak kandungnya, sementara Clarice adalah anak tirinya.


"Tapi meski Daddy bukan Papa kandung Clarice, Clarice harus tau, kalau Daddy sangat mencintai dan menyayangi Clarice," ucap Calina membelai rambut panjang Clarice. "Clarice tentu tau bukan, kalau Daddy sangat menyayangi Clarice?"


"Iya, Mommy! Clarice tau!" jawab Clarice sembari memiringkan tubuhnya. Kemudian memeluk erat leher Kenzo yang sedari tadi sudah menanti untuk di peluk sang putri.


"Daddy sangat menyayangi Clarice..." ucap Kenzo menciumi pipi gembul Clarice yang putih dan halus.


"I love you, Daddy..." ucap Clarice membalas mencium pipi Kenzo.


"I love you more, my baby girl..." balas Kenzo dengan pelukan hangat. "Daddy harap kamu tidak akan pernah mengurangi rasa sayang kamu untuk Daddy, saat kamu merasakan kasih sayang dari Papa Zio..." pinta Kenzo terdengar cukup memilukan.


"Never!" jawab Clarice tersenyum dengan menunjukkan semua barisan gigi putih, kecil dan rapi miliknya. "Selamanya Clarice akan menyayangi Daddy!" lanjutnya mencium pipi sang Ayah tiri.


"Kalau Cla sedang bersama Papa jangan lupakan Daddy, ya?" pinta Kenzo lagi.


"Hm!" Clarice mengangguk yakin.


"Mulai besok, jika Papa mengajak Clarice jalan - jalan, Clarice mau, ya?" ucap Calina pada putri sulungnya. "Supaya Papa tidak terlalu kesepian..."


"Ya, Mommy!" jawab Clarice menoleh Ibunya. "Oh ya, kalau Clarice punya Papa, apa Cla juga punya Mama?"


Sontak Calina menatap suaminya sebelum menjawab pertanyaan Clarice yang sangat sensitif dengan masa lalu.


"Sebenarnya Cla memang juga punya Mama," jawab Kenzo memilih untuk bercerita apa adanya. "Namanya Mama Naura."


"Wow!" seru Clarice merasa di kelilingi keluarga yang sangat banyak. "Lalu dimana Mama Naura? kenapa tadi tidak ada?"


"Karena..." Kenzo menggantung kalimatnya sebelum melanjutkan penjelasan.

__ADS_1


"Karena Mama Naura sudah meninggal beberapa bulan yang lalu..." sahut Calina melanjutkan kalimat suaminya.


Ia berucap dengan suara yang bergetar. Ia ingat betul bagaimana dulu Naura memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Jauh berbeda dengan Zio yang sangat tidak peduli padanya.


Meski begitu, ia pernah muak dengan sepasang suami istri itu. Karena posisinya yang seperti orang tidak berguna di dalam circle rumah tangga di bawah kepimpinan seorang Zio Alvaro.


"Sudah meninggal?" tanya Clarice.


"Ya, Sayang... Mama Naura sudah meninggal." jawab Kenzo.


"Kalau Clarice di ajak Papa Zio ke rumahnya, kamu pasti tau secantik apa Mama Naura."


"Apa Mama Naura secantik Mommy?"


"Tentu tidak! karena Mommy paling cantik!" sahut Kenzo dengan seutas senyum menggoda pada istrinya.


"Hahaha!" gelak Clarice dan Calina bersamaan.


"Yang jelas Mama Naura sangat cantik seperti Cla. Dan Mama Naura juga orang yang sangat lembut dan baik hati."


"Oh, ya?"


"Ya! Mama Naura sangat baik dan anggun. Seperti Clarice!" jawab Calina. "Berbeda dengan Mommy yang apa adanya."


Gadis kecil itu hanya manggut - manggut mendengar penjelasan sang Mommy tentang seorang Mama, yang merupakan pasangan dari Papanya.


"Wah! ide bagus!" jawab Clarice dengan polosnya.


Tentu karena memang ia belum tau tentang apa itu cinta yang tumbuh di dalam hati. Bukankah tidak semudah itu menemukan pasangan?


"Cla akan meminta Mama baru untuk Cla!" serunya ceria.


Calina dan Kenzo saling lirik dengan seulas senyuman simpul.


***


Waktu yang terus berjalan di apartemen Kenzo, berjalan pula di apartemen sang adik. Dimana jika Kenzo tengah memberi pengertian pada sang peri kecil. Maka sang adik tengah menggugah selera makan seorang gadis yang di anggap gila oleh kebanyakan orang.


Tak lantas ubahnya dengan adiknya sendiri, sebelum hari itu.


Kayla terus saja menolak makan sejak datang di apartemen siang tadi. Namun juga tak memperlihatkan jika gadis itu akan memberontak atau mengamuk seperti orang gila pada umumnya.


"Kalau ini? apa kamu juga akan menolaknya?"


Gilang menunjukkan sebuah mangkuk kecil berisi salad buah buatannya sendiri. Dengan toping parutan keju dan irisan buah jeruk dan kiwi.

__ADS_1


"Ini buatanku sendiri," jelasnya lagi. "Kamu pasti akan suka! ayo, coba! sekali saja!" Gilang menyodorkan sendok kecil tepat di depan bibir merah muda alami milik sang gadis.


Namun Kayla tetap menolak. Gadis itu konsisten untuk menggelengkan kepalanya. Tidak peduli jika seandainya setelah itu Gilang akan marah ataupun melukai dirinya. Ia sudah lelah berada di dalam kehidupan yang seolah mengunci dirinya pada satu waktu yang menyakitkan.


"Baiklah!" pungkas Gilang meletakkan mangkuk di atas meja dengan menghela nafas kecewa. "Kalau kamu menolak semua makanan yang bahkan aku buat sendiri khusus untuk kamu, apakah kamu juga akan menolak pertanyaanku?" tanya Gilang berubah menjadi obrolan bernada serius.


Kayla tetap diam. Ia masih betah untuk hanya menatap jendela. Melihat kerlap - kerlip lampu Ibukota yang terlihat begitu indah saat di lihat dari atas ketinggian sekian puluh meter.


"Apa yang membuat kamu seperti ini?" tanya Gilang lagi meski belum mendapatkan jawaban pertama dari Kayla.


"Apa ada orang yang melukai kamu? menyakiti kamu? atau ada yang membuat kamu kecewa di masa lalu?" tanya Gilang dengan mode serius.


Kayla tetap diam seribu bahasa, namun angannya seperti terbawa kembali pada suatu masa. Tatapan yang semula mengarah pada lampu - lampu di jalanan, kini terlihat kosong meski tetap ke arah luar jendela.


"Jika ada yang pernah menyakiti kamu, katakan padaku, Kay..." bisik Gilang serius. "Kalau kamu mau, aku akan membalas luka yang ia berikan padamu."


Kayla menunduk mendengar apa yang di ucapkan Gilang. Kemudian tiba - tiba nafas gadis itu terasa lebih cepat dan bahkan terengah. Ada emosi yang membuat Kayla seperti orang sesak nafas.


"Kay...?" panggil Gilang lirih sembari menyentuh punggung tangan Kayla yang ada di pangkuan sang gadis.


Sebagai seorang psikiater, ia tahu apa yang terjadi pada Kayla. Respon yang sangat wajar saat mengingat sesuatu yang ia pendam rapat - rapat.


"Jujurlah padaku, Kay... kenapa kamu harus berpura - pura gila?" tanya Gilang langsung pada tujuannya mengajak Kayla mengobrol sejak siang tadi. Padahal gadis itu tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kayla?" panggil Gilang lagi. "Bicaralah padaku, please..." pinta Gilang dengan suara penuh iba. "Kamu pasti masih ingat, tentang satu kata yang pernah aku ucapkan padamu dulu."


"Kita tidak tau kepada siapa kita akan jatuh cinta. Kita juga tidak tau pasangan seperti apa yang di siapkan Tuhan untuk kita," ucap Gilang dengan suara yang parau. "Yang perlu kamu tau, aku mencintai dirimu apa adanya kamu. Bahkan saat aku belum tau kamu hanya berpura - pura gila setelah depresi yang cukup panjang.


"Ingat kataku, Kay... aku mencintai mu..." ucap Gilang sembari meremas lembut jemari lentik sang gadis.


Namun di luar dugaan, Kayla justru menepis tangan Gilang yang menyentuhnya dengan gerakan yang sangat kasar.


"PERGI KAMU!" seru Kayla berdiri dari duduknya, menatap tajam pada Gilang yang masih duduk di sofa dengan keheranan.


Sejak siang tadi tak berucap sedikitpun. Sekalinya berucap, meminta nya untuk pergi dari rumahnya sendiri. Bagaimana ini? Batin Gilang.


Jika Gilang tak memiliki hati untuk gadis itu, mungkin Gilang akan menyeret Kayla keluar dari apartemennya. Tapi ini Kayla. Gadis yang susah payah untuk bisa ia bawa pulang ke apartemen.


Kayla yang baru saja menyembur Gilang dengan satu kalimat pengusiran, tiiba - tiba berlari memasuki sebuah pintu kamar. Menutup pintu itu dengan sangat kencang, hingga terdengar memekik di telinga siapa saja yang mendengar.


Untung yang mendengar saat itu hanyalah Gilang. Orang yang membawanya ke tempat itu.


Dan tanpa sadar, apa yang di lakukan Kayla membuat Gilang justru tersenyum lebar.


' Benar kan kataku? kamu masih ingat betul di mana kamarmu.. '

__ADS_1


Ucap Gilang dalam hati.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2