
Meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan yang campur aduk. Hati Calina bagai di hantam jutaan batu meteor dari langit. Bukan keinginannya, melainkan kehendak Tuhan.
Duduk di kursi penumpang bagian depan. Calina menatap lurus ke depan, menembus kaca bening nan tebal, dengan hanya sesekali saja berkedip.
Bibirnya tak mampu berucap kata, apalagi melontarkan kalimat - kalimat cerewetnya yang biasa membuat Kenzo kesal sendiri.
Ya, baru beberapa bulan saling mengenal, Kenzo sudah dapat mengenali jika Calina sesungguhnya adalah gadis yang cerewet dan banyak bicara.
Selama ini ia diam bukan karena pendiam. Melainkan karena memiliki suami yang tak mau mengenali dirinya dengan baik. Suami yang dingin membuatnya ikut membeku oleh suasana. Sehingga ia tak bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya.
Calina mengingat kembali apa yang di sampaikan Dokter Kandungan saat di ruang pemeriksaan tadi. Saat sebuah alat sebuah alat bernama Transducer bergerak pelan di atas permukaan kulit perutnya yang masih terlihat datar.
"Selamat ya, Nyonya... Nyonya Calina memang benar sedang hamil!"
Calina memejamkan matanya dalam, saat mendengar kata demi kata yang di ucapkan sang Dokter. Ingin rasanya ia melompat turun dari ranjang pasien dan tidak melanjutkan pemeriksaan. Kemudian kabur sejauh mungkin, untuk berakhir dengan menjatuhkan dirinya dari atas tebing yang curam.
Tapi nalurinya berkata, semua itu tidak akan bisa ia lakukan dengan mudah. Membunuh bayi yang tak berdosa adalah dosa yang tak terampuni. Lagi pula mengakhiri hidup bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Bagaimana perasaan Mamanya di kampung?
Bagaimana saat sang Pencipta menolak kehadirannya di akhirat kelak?
Calina membeku dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Usia kandungan Nyonya sudah 16 minggu dan dalam keadaan sehat!" ucap Dokter lagi dengan senyuman ramah.
Kalimat Dokter membuat Calina kembali mengingat malam itu. Malam paling mengenaskan yang pernah ia alami. Semalam sebelum kedua mertuanya mengalami kecelakaan.
Ingin ia mengumpat, namun serasa percuma saja. Tidak akan membuatnya merasa tenang. Atau pun mengurangi masalahnya.
Selesai memeriksa, Dokter segera membersihkan sisa gel di perut Calina. Cepat - cepat Calina menurunkan bajunya karena tak ingin Kenzo lebih lama melihat bagian perutnya yang terbuka.
Sedari tadi Kenzo menatap dua wanita itu dengan tangan yang saling melilit di depan dada. Sorot matanya datar namun sangat mengintimidasi. Tentulah Calina merasa sangat malu dan gugup. Meskipun Kenzo sama sekali tak terlihat mesum atau sebagainya.
Entah apa yang ada di dalam benak lelaki itu. Yang jelas Kenzo sama sekali tak berucap, setelah membentak salah satu Dokter di Rumah Sakit miliknya.
Kembali pada suasana dingin di dalam mobil yang semakin lama semakin terasa sunyi. Tak ada percakapan, atau bahkan suara music berdendang dari sound di dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Kenzo menoleh sekilas. Mencoba mencairkan suasana dengan obrolan kecil, jika memungkinkan.
"Hem?" jawab Calina juga menoleh Kenzo sekilas. Namun sesungguhnya ia belum memiliki jawaban yang pas untuk pertanyaan Kenzo. Tatapannya bahkan kosong saat menoleh Kenzo.
"Kenapa diam saja?" Kenzo memperjelas pertanyaannya.
"Aku hanya bingung..."
"Kenapa?"
Menghela nafas berat, "Apa mungkin aku bisa membesarkan anak ini sendirian?" jawab Calina bergumam. "Aku sebatang kara di kota ini. Tidak ada suami yang memberiku nafkah! Sementara jika aku bekerja, siapa yang akan merawat anak ini?"
"Jika aku pulang ke kampung, apa yang bisa aku kerjakan di sana? Aku tidak bisa bergantung pada Mama yang hanya mengandalkan uang pensiunan Papa." gumamnya terus menerus. "Aku juga tidak bisa berkebun seperti Mama... Mencari pekerjaan pun susah. Dan yang paling aku takutkan...."
"Apa?"
"Kalau aku tinggal di kampung, bisa saja Mas Zio akan datang sewaktu - waktu! Lalu ia akan melihat ada anak di antara kami! Lalu apa yang akan ia lakukan! Bagaimana kalau dia mengambil anakku secara paksa? Atau bahkan menjadikan anak ini alat untuk ia bisa meminta rujuk? Aku tidak mau!"
Lanjutnya terus mengurai berbagai pertanyaan yang seolah tersumbat di dalam benaknya sejak tadi.
Sementara Kenzo masih setia memasang telinga untuk mendengar setiap keluh kesah Calina. Ia biarkan gadis itu mengurai benang ruwet di dalam hidupnya saat ini.
"Berhentilah memanggil ku 'Pak!' telinga ku sangat risih mendengar sebutan itu!"
Calina membuka matanya, dan melirik ke kanan. Menatap Kenzo melalui ekor matanya dengan lirikan yang di penuhi tanda tanya dan heran.
"Lalu aku panggil apa?"
"Yaa..." Kenzo tampak berfikir. Panggilan apa yang tepat untuknya dari Calina? "Apa saja asal bukan Pak, Bapak! Aku bukan atasan mu! Cukup mantan suamimu saja yang memanggilku 'Pak' paham?"
"Lalu panggilan apa yang tepat?" gumam Calina. "Kakak? tapi kan kita bukan saudara!" gumamnya. "Mas?" tanya Calina menatap Kenzo yang fokus menatap lurus ke depan. Ia amati wajah blasteran Indonesia - Australia itu dengan seksama.
Tanpa di sadari Calina, saat ia menyebutkan kata Mas, Kenzo tampak salah tingkah. Dan menyimpan rona merah di wajah tampannya.
"Hahahah!" gelak Calina kemudian. "Wajah mu ini sedikit bule, mana pantas di panggil Mas!" ujar Calina terkekeh.
"Hihihihihi!" Calina masih saja terus cekikikan membayangkan memanggil Kenzo dengan sebutan Mas.
__ADS_1
"Mas Kenzo? Hahahahahaha!" gelak Calina semakin kencang. "Lucu sekali! Hahaha!" tawa Calina tak tertahankan, hingga i harus memegangi perutnya yang sakit akibat tawa berlebihan.
Sungguhlah, baru kali ini Calina terlihat tertawa lepas. Setahun terakhir adalah kehidupan penuh luka yang melenyapkan senyumnya.
Kenzo kesal karena di tertawakan Calina sedemikian kencang. Untunglah di dalam mobil. Hanya ada mereka berdua yang mendengar. Kalau di tempat umum, pasti Kenzo akan membungkam mulut Calina serapat mungkin. Atau bahkan menempelkan lakban di mulutnya.
Namun saat melirik Calina melalui ekor matanya, desiran lain justru mengalir di dalam relung hatinya yang terdalam. Sadar atau tidak, ada sesuatu yang tak ingin ia artikan.
Saat melihat Calina tertawa lepas setelah kebingungannya tadi, membuat Kenzo merasa lega. Setidaknya gadis itu bisa melepas kegelisahannya walau mungkin hanya sesaat.
"Puas?" tanya Kenzo ketus saat suara gelak tawa Calina mulai mengecil dan nyaris menghilang.
"Hehe! Maaf! Karena itu sangat lucu!" jawab Calina berusaha sebisa mungkin untuk tidak kembali meledakkan tawanya.
"Jangan pikirkan soal pekerjaan!" ucap Kenzo. "Aku akan bertanggung jawab atas anak itu!"
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
Eng ing eng ....
Kira - kira seperti apa cara Kenzo bertanggung jawab pada anak yang ada di dalam rahim Calina?
Tuhan bisa dengan mudah membolak balikkan hati manusia. Apa yang kita anggap tak mungkin, ternyata menjadi mungkin.
Seperi cinta...
Kita tak tau kapan datangnya... Kita juga tak tau pada siapa perasaan itu akan bertaut.
Namun bagaimana dengan kalimat perumpamaan...
Bagai Pungguk merindukan Bulan?
Bisakah Pungguk meraih Bulan?
Bisakah mereka yang biasa meraih yang luar biasa?
Tunggu kisah Calina dan Kenzo di episode selanjutnya .... š„°
__ADS_1
Salam, Lovallena š