Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 128 ( Dinginnya Vino Karena ... )


__ADS_3

Menyerang Vino dengan pernyataan yang menduga jika Vino adalah buaya darat, Clarice justru mendapati kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya, jika Vino adalah anak dari salah satu manager di perusahaan sang Daddy.


Om Beni, Clarice cukup mengenal nama itu beserta orangnya meski tidak terlalu sering berbincang. Karena sejak kecil Clarice sudah wira wiri di perusahaan sang Daddy, yang rata-rata penghuninya tetap itu-itu saja. Karena Adhitama Group menerapkan sistem jenjang karir, dan juga mengutamakan mereka yang setia pada perusahaan.


"Kamu anaknya Om Beni?" tanya Clarice setengah berseru. Dengan mata yang terbelalak saking  tak percayanya.


"Ya, kamu benar!" jawab Vino. "Aku anaknya Papa Beni Lubis! salah satu manager di perusahaan Daddy kamu, Tuan Kenzo Adhitama!" lanjut Vino.


Clarice semakin mendelik tak percaya. Kepala menggeleng pelan, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi foto itu membuktikan segalanya. Apalagi ia bar tau jika nama panjang Om Beni adalah Beni Lubis. Sama seperti Malvino Lubis.


"Jadi selama ini kamu tau asal usul ku?" tanya Clarice dengan mata yang memicing. "Jadi kamu tau kalau Papa kamu mengenal aku?"


"Tentu saja, Nona Clarice yang cantik..." jawab Vino dengan seulas senyum tipis.


"Kenapa diam saja?" tanya Clarice setengah menghardik.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk bilang kepada kamu?" tanya Vino. "Memperkenalkan diri pada kamu sebagai anak manager di perusahaan Daddy kamu?"


"Apa untungnya?" tanya Vino. "Aku sadar diri, Nona Clarice. Anak seorang manager seperti ku rasanya tidak pantas jika berteman dengan anak bos Papanya." jawab Vino sembari kembali menyandarkan punggungnya pada dinding.


"Kenapa begitu?" tanya Clarice tak paham dengan maksud Vino.


"Lihat saja!" Vino berucap dengan menggerakkan sedikit dagunya ke sembarang arah. "Dari pertama kali aku masuk ke sekolah ini, aku tau jika kamu ternyata anak Pak Kenzo, Bos besar Papa. Saat itu aku melihat beliau mengantarmu di hari pertama masuk sekolah. Dan sejak saat itu aku juga mengenal Naufal, yang mana aku tau dia anak seorang pengusaha pemasok bahan makanan yang bisnisnya tersebar di seluruh pulau Jawa."


"Dan lagi, kamu berteman akrab dengan Aretha! anak kelas X-2 yang harus pindah keluar negeri karena sang Daddy kembali ke negara asalnya, Belanda."


"Dari situ aku tau, jika circle kamu memang berteman dengan orang kaya. Namun pada akhirnya aku heran kenapa teman perempuanmu justru Hanna, yang notabene nya sama dengan ku." ucap Vino bercerita. "Siswa yang masuk dengan bea siswa non akademik!"


"Dan ketika Arsen hadir sebagai anak baru di sekolah ini dua bulan lalu, tentu saja nyali ku semakin ciut untuk mengenal anak-anak pesohor sepertimu. Apalagi kamu anak bos Papa ku. Aku justru wajib menghormati kamu, bukan berteman ataupun bersahabat dengan kamu."


"Dari mana kamu punya pemikiran seperti itu?" tanya Clarice yang kini sedikit banyak mulai tau, inilah penyebab Vino sangat cuek padanya. Perbedaan status orang tuanya di gedung tinggi menjulang Adhitama Group.


"Karena kamu terlihat sangat akrab dengan Arsen. Dan Arsen sangat pantas untuk percaya diri berkenalan atau bahkan mengejar cintamu sekalipun."


"Yang aku dengar dia anak pengusaha batu bara, dan bahkan keluarganya memiliki private jet!" ucap Vino menunduk, menatap ujung sepatunya. "Jadi siapalah diri ini untuk berani berkenalan dengan mu, Nona."


"Papa ku hanya seorang pengabdi di perusahaan Daddy mu. Meskipun aku tau kamu tidak pernah terlihat sombong." ucap Vino menatap wajah Clarice. "Dan sepetinya aku juga yakin, kamu tidak akan menolak bersahabat dengan ku. Hanya saja aku sadar diri, Nona. Aku tidak pantas untuk berada di sekitar gadis-gadis kaya seperti kalian."


Tersenyum miring, "Lalu Neha?" tanya Clarice mencemooh jawaban Vino. "Kamu justru terang-terangan mengejar nya!"


Vino tersenyum culas, "Neha.... aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku SMP. Dia kakak kelas satu tingkatku." ucap Vino. "Aku berani mendekati dirinya karena sesungguhnya kami setara. Hanya saja Neha beruntung sekitar dua tahun lalu."


"Beruntung kenapa?" tanya Clarice.


"Ibunya Neha adalah seorang Banker di salah satu Bank swasta. Beliau seorang janda, dan dua tahun lalu, beliau di nikahi oleh seorang bule yang memiliki usaha besar di negeri ini. Dan jadilah Neha anak tiri bule tersebut. Sehingga Neha di masukkan ke sekolah ini oleh Daddy tirinya."


"Dan aku tidak menyangka jika kami kembali bertemu di sekolah ini setelah satu tahun berpisah." lanjut Vino.


"Jadi karena itu kamu tidak ragu untuk kembali mengejarnya?" tanya Clarice. "Karena sebenarnya kamu sudah menyukai Neha sejak kalian masih SMP?"


"Ya, itu karena dia tetap menganggap kami setara." jawab Vino. "Dan lagi, aku bukan kembali mengejarnya, tapi saat dulu aku tidak memiliki kesempatan untuk mengejarnya. Jadi baru sekarang aku berusaha mendapatkannya."


"Kenapa?"


"Ya, karena dia sudah punya kekasih. Dan aku dengar mereka akhirnya putus saat Neha naik ke kelas XI."

__ADS_1


"Kalau kamu menganggap Neha setara, lantas kenapa tidak dengan aku?" tanya Clarice heran. "Aku dan Neha sama-sama anak tiri seorang pengusaha. Aku sekolah di sini juga karena memiliki seorang Daddy sambung yang kaya. Dan kamu juga pasti tau siapa Papa kandung ku, bukan?"


"Ya, aku tau. Aku sering bertemu dengan Om Zio, Papa kamu," jawabnya. "Aku menganggap mu berbeda karena dari cerita Papa, Tuan Kenzo sangat menyayangimu, dan bahkan kamu di bawa ke perusahaan saat kamu masih kecil."


"Dan satu lagi, kamu anak Tuan Kenzo Adhitama. CEO sekaligus penerus di tempat Papa ku bekerja." jawab Vino. "Karena itulah, aku merasa tidak pantas untuk mengenal mu seperti Arsen yang bisa dengan percaya diri mendekati kamu di awal-awal ia masuk, sampai sekarang."


"Jadi karena itu kamu dingin kepadaku?" tanya Clarice.


"Dingin?" tanya Vino. "Memangnya kamu merasa aku dingin terhadap kamu?"


"Ya, tentu saja. Bahkan aku berfikir kamu sangat sombong! Kamu tidak pernah mengajak aku bicara, bukan?" tanya Clarice. "Baru akhir-akhir ini saja kamu menyapaku saat tidak ada orang lain!" ucap Clarice melihat sekitar, seolah menunjukkan pada Vino, jika saat ini pun juga tidak ada orang lain yang sedang bersama mereka.


"Aku bukan orang yang dingin. Hanya saja tadi sudah aku katakan, aku merasa tidak pantas untuk berteman dan berkenalan dengan mu, Clarice..."


"Tapi tidak seharusnya bersikap dingin dengan teman satu kelas, kan?"


"Aku tau... tapi itu tidak berlaku untuk sikapku pada kamu..." jawab Vino. "Bahkan aku merasa tidak seharusnya saat ini aku berbicara dengan mu hanya berdua begini."


Clarice masih merasa tidak terma dengan alasan Vino. Sangat aneh dan tidak masuk akal.


"Apa setelah ini kamu juga tidak akan menyapaku saat kita di kelas?" tanya Clarice. "Atau saat sedang ada teman-teman? Entah di kantin atau di manapun juga!"


"Aku tidak tau, Clarice..." jawab Vino ragu. "Beberapa teman di kelas lain bahkan tau, jika Papa ku adalah jajaran dari perusahaan milik Daddy mu..."


"Lantas?"


Vino menarik nafas panjang, dan menghela nya dengan sangat pelan. Ia sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Sepertinya kita harus segera kembali ke kelas!" ucap Vino tiba-tiba.


"Jawab dulu pertanyaanku!" hardik Clarice.


"Ini bukan tempat kerja, Vino!" ucap Clarice. "Dan tidak ada perbedaan jabatan di kelas kita. Justru kamu adalah ketua kelas, dan aku hanya warga kelas!"


Vino tersenyum simpul, "Lupakan saja! anggap... kamu belum tau jika aku anaknya Beni Lubis!"


"Tidak bisa begitu, Vino!" bantah Clarice.


"Maaf, Nona Clarice! Tapi memang sudah seharusnya seperti itu." ucap Vino dengan langsung membalikkan badannya untuk kembali ke kelas tanpa berpamitan lagi.


Vino melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Dan kini ia tidak lagi menoleh ke belakang. Ia berfikir mungkin saat ini Clarice tengah komat kamit menyumpahi dirinya yang di anggap sombong dan dingin ini.


***


Sementara Clarice menatap punggung pemuda itu dengan sepasang mata yang memicing. Entah, apa yang di pikirkan sang gadis. Yang jelas ia masih tak percaya jika Vino ternyata anaknya manager Beni.


Itu artinya Vino memang sudah sering mendengar Papa nya menyebut namanya. Entah untuk di ceritakan jika mereka satu sekolah, atau untuk mengatakan pada Vino jika mereka sempat bertemu di lift dan menceritakan pada Vino .


' Tapi harusnya hari itu Om Beni bisa bilang jika anaknya satu kelas denganku! jika Vino sudah menceritakan tentang aku yang satu kelas dengannya! '


' Tapi Om Beni tidak mengatakan jika aku dan anaknya satu kelas! '


Clarice berangan sembari melangkah perlahan meninggalkan lantai yang sudah sejak tadi ia pijak untuk mengobrol dengan Vino.


' Apa itu artinya Vino tidak pernah menceritakan tentang aku pada Om Beni? '

__ADS_1


' Ternyata ini yang membuat Vino benar-benar menjaga jarak denganku? '


' Tapi... kalaupun dia tidak menjaga jarak, apa yang akan terjadi? bersahabat seperti aku dan Naufal? atau bersitegang terus menerus seperti aku dengan Arsen! '


' Tapi Vino berbeda dengan Arsen. Vino tidak jahil dan usil! Dia juga tidak suka menggombal pada guru! '


***


Memasuki kelas, langkah Clarice sesekali melirik ke kiri yang tertuju pada bangku yang di tempati oleh Vino. Pemuda itu tampak duduk seperti biasa. Dan saat ia memasuki kelas, Vino rupanya sempat melihat padanya, hingga tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik.


Dan Vino selalu memutus tatapan itu lebih dulu, karena tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan Clarice. Apalagi sesuatu yang ia rahasiakan dari Clarice baru saja terbongkar.


Sebelum sampai di bangkunya, Clarice sempat melihat bangku Arsen yang berdampingan dengan bangku sang ketua kelas. Dan pemuda itu nampaknya juga tengah menatapnya, entah sejak kapan. Mungkin sejak ia memasuki kelas.


Tapi Clarice malas berlama-lama melihat ke arah Arsen, karena di depan Arsen kini ada seorang gadis cantik yang menjadi bunga kelas. Dialah Carrenina Louis, atau biasa di sapa Carren.


Dan Cla pun memilih untuk membuang pandangannya, dan langsung masuk ke dalam sela-sela bangku, untuk duduk kembali dengan melihat ke arah depan. Terlihat di papan tulis, sudah bukan lagi soal yang di kerjakan oleh Vino. Melainkan soal lain yang entah di kerjakan oleh siapa. Clarice tidak bisa mengenali tulisan tersebut tentu saja.


***


Jam istirahat telah tiba untuk seluruh siswa Alexander International School di gedung Senior High School. Maka Clarice dan Hanna kini berjalan menuju kantin, tempat di mana biasa mereka makan siang bersama.


Beberapa langkah di depan Clarice ada Arsen beserta para kawannya, seperti Naufal dan anak-anak yang lain. Nampaknya mereka juga tengah menuju kantin, namun ke arah penjual yang biasa hanya di huni oleh para siswa laki-laki. Lapak itu berada di dalam area yang sama, hanya beda penjual saja.


Clarice dan Hanna duduk di salah satu kursi panjang dengan berdampingan. Menghadap meja persegi panjang dengan hidangan berupa spaghetti dan satu cup jus Alpukat untuk Clarice. Sedangkan Hanna dengan menu yang sama namun minumnya satu cup jus Jambu.


Maka keduanya makan dengan santai dan pelan. Selayaknya anak gadis saat makan. Makan siang itu juga di sertai obrolan-obrolan ringan yang membahas tentang urusan anak sekolah di usia remaja. Sesekali keduanya juga membahas tentang mata pelajaran yang baru saja selesai. Mengingat Cla tadi sempat meninggalkan kelas cukup lama.


"Memangnya tadi kamu kemana?"


"Ke toilet" jawab Clarice.


"Kenapa lama sekali?" tanya Hanna seolah tak percaya dengan jawaban Clarice.


"Karena aku tadi memang berlama-lama di wastafel. Rasanya tadi aku sangat mengantuk!" jawab Clarice beralasan.


"Oh..." Hanna mengangguk. "Aku pikir kamu tadi memang berniat ketemuan dengan Vino! Karena dia juga pergi ke toilet lama sekali. Sampai Miss menanyakan keman kalian berdua." jelas Hanna.


"Oh, ya?" Clarice mendelik tak percaya jika ternyata dirinya sampai di cari oleh guru Fisika. Itu artinya teman yang lain juga curiga hal yang sama.


' Ini semua karena Vino yang tiba-tiba muncul di depan toilet! Vino memang sialan! Kenapa aku bisa mengagumi anak itu? '


Gumam Clarice di dalam hati. Dari tempat ia duduk, ia juga bisa melihat Vino yang juga bergabung dengan gerombolan Arsen dan Naufal.


Dan di tengah asyiknya bersantap siang sembari mengobrol, setelah merasa lapar karena otak di kuras untuk memikirkan pelajaran sekolah, datanglah sosok gadis yang cukup di kenali oleh Clarice dan Hanna.


Satu orang yang cukup famous di sekolah, dan dua lainnya terkenal karena sering  bersama gadis pertama. Tiga orang itu tiba-tiba duduk di depan Clarice dan Hanna dengan wajah yang terkesan ketus.


"Eghm!" dehem Zuria dengan cukup kencang. Sengaja, supaya Clarice yang tengah menikmati spaghetti menoleh padanya.


Dan tujuan Zuria benar-benar tercapai, Clarice mendongak menatap Zuria dengan tatapan aneh dan penuh tanda tanya. Bangku di sekitaran sana masih banyak yang kosong, kenapa harus duduk di depannya?


Bergabung bersama adik kelas sepertinya tidak biasa di lakukan oleh sang gadis. Apalagi gadis itu menatap Clarice dengan tatapannya yang aneh, dan lagi tidak ada makanan yang mereka bawa.


Lantas untuk apa segerombolan kakak kelas menghampiri Clarice yang kebingungan. Cla menoleh pada Hanna yang juga sama bingungnya.

__ADS_1


' Apa ini yang di maksud Vino tadi di toilet? '


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2