Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 143 ( Tamu Tak di Undang )


__ADS_3

Berusaha, siapapun boleh berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan apa yang mereka butuhkan. Tapi memang ada beberapa usaha yang terkadang harus sia-sia. Atau suatu misi yang harus gagal, karena memang Tuhan dan alam tidak merestui untuk hal itu dapat terjadi ataupun terwujud.


Yang jelas, apapun hasilnya dari usaha manusia, makhluk Tuhan yang paling sempurna itu harus berusaha dan terus berusaha selama merasa diri masih mampu. Urusan gagal dan berhasil, akan terlihat pada titik tertentu.


Seperti gadis cantik, berkulit putih dengan rambut hitam tebal dengan ujung yang bergelombang satu ini.


Brighta Clarice Agasta, begitu nama lengkapnya. Nama pemberian sang Ibu tercinta. Wanita hebat, yang melahirkan seorang anak tanpa di dampingi suami. Meski begitu, wanita beruntung itu di dampingi oleh lelaki yang tak kalah hebat dari sosok suami dalam berperan sebagai suami sekaligus Ayah, walaupun tidak ada ikatan darah sama sekali. Dan kala itu tidak ada ikatan apapun selain sebagai bos mantan suaminya.


Orang  baik akan selalu di kelilingi orang yang baik pula, begitu kata pepatah. Dan itu terjadi pada sosok Calina Agasta. Di mana lelaki yang menemaninya sejak ia hamil muda sampai melahirkan dan turut serta merawat buah hatinya itu kini benar menjadi suaminya. Menjadi Ayah bagi anak-anaknya.


Hingga bayi kecil yang ia lahirkan itu kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, anggun dan begitu manja pada Ayah sambung yang menyayanginya tanpa batas dan tanpa syarat.


Dan kini gadis 16 tahun itu tengah duduk di hadapan sang Ayah sambung yang sangat ia sayangi guna meminta supaya kakak kelas yang tadi siang bermasalah dengan nya di bebaskan dari hukuman tidak boleh ikut ujian.


Namun perlu di ingat, Ayah sambung Clarice, atau biasa di panggil Daddy Kenzo itu bukan sembarang orang ataupun bukan sembarang lelaki dewasa. Dia adalah seorang pemimpin yang tegas. Tidak mudah untuk mengubah keputusan yang sudah terlanjur di buat oleh nya.


Namun sang gadis sepertinya tidak akan semudah itu menyerah. Apalagi sang anak gadis adalah anak gadis satu-satunya yang ada di rumah mewah bak istana itu. Sejak kecil apa yang ia minta pasti di turuti dan pasti di wujudkan oleh Daddy Kenzo.


Beruntung, di tengah sikap berlebihan sang Daddy dalam mewujudkan keinginan sang anak gadis, ada Mommy Calina yang selalu menasehati untuk membeli atau memiliki apa yang mereka butuhkan. Dan menomor duakan keinginan.


Hingga kini, sang anak gadis tumbuh menjadi remaja penuh pertimbangan.


"Tapi Daddy... Cla kasian dengan Zuria." jawab Clarice kini menumpukan dagu pada kedua tangan yang ia lipat di atas meja kerja sang Daddy.


"Sesungguhnya... tadi Cla tidak kepikiran sama sekali untuk meminta Daddy memberi izin pada Zuria, tapi bidadari yang di kirim Tuhan untuk Daddy itu sangat berhati mulia. Sampai malaikat kecil yang beranjak remaja ini luluh akan nasehat dari bidadari tak bersayap itu."


Bahasa bicara Clarice yang terlihat dan terdengar sangat lucu itu pun membuat Daddy Ken terkekeh geli dan gemas. Sang putri sungguh pintar merebut hatinya sejak bayi.


Dan apa yang di lakukan sang putri saat ini sungguh mempengaruhi emosi yang sudah di bangun oleh sang Daddy sejak usia muda. Di mana tidak satu orang pun bisa mengubah keputusan Daddy Kenzo, apalagi hanya dari rangkaian kata demi kata saja.


Menghela nafas kasar, "Daddy tidak bisa menjamin akan memberi anak itu izin untuk ikut ujian tengah semester atau tidak. Yang jelas, Daddy juga tidak mau membuat kamu menunggu keputusan Daddy." ucap sang Daddy menatap lekat sang putri sulung. "Jika Daddy memberi anak nakal itu izin, maka kamu akan tau nanti di hari pengumuman ranking tingkat kelas. Tapi jika ternyata Daddy tidak memberi izin, Daddy harap kamu tidak kecewa dan bisa menghargai karakter seorang Kenzo Adhitama."


"Dan setelah ini, Daddy minta jangan bahas masalah ini lagi, Okay?" ucap sang Daddy. "Daddy tidak suka membahas masalah semacam ini. Kalaupun Daddy ingin memberinya kesempatan, Daddy pastikan tidak akan semudah itu anak itu bisa mengikuti ujian. Kamu paham seperti apa Daddy mu ini, kan?"


Daddy berucap cukup panjang dengan tatapan yang tak lepas dari sang putri. Seolah memberi ketegasan jika dirinya berkata dan berbicara dengan sangat serius dan tidak untuk di bantah lagi dan lagi.


Mendengar kalimat formal yang di sampaikan oleh sang Ayah, Clarice menyadari jika Daddy Kenzo memang sulit untuk di taklukkan oleh rivalnya. Dan jika ia memaksa, ia takut akan menyakiti hati sang Ayah sambung yang sudah menyayanginya dengan sepenuh hati sejak ia bahkan belum mengenal dunia.


"Baiklah, Daddy!" jawab Clarice dengan senyum cerah sembari berdiri. "Apapun keputusan Daddy Clarice akan tetap menerimanya." lanjutnya berjalan mendekati kursi sang Ayah.


"Cla percaya, Daddy selalu memilihkan jalan yang terbaik untuk Cla dan adik-adik." ucap Clarice sembari memeluk sang Ayah sambung dari belakang. Kemudian dengan sayang, ia kecup pipi sang Ayah.


"Terima kasih, Daddy sudah menjadi Ayah yang sangat baik untuk Clarice selama hidup Cla!" ucap Clarice tulus dan kembali memeluk sang Ayah lebih erat. Ia rebahkan kepalanya pada pundak gagah sang Ayah. Ia pejamkan mata, mengulang momen dan mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan sang Ayah sambung bersamanya. Menikmati hidupnya menjadi anak sambung seorang Kenzo Adhitama yang sangat di sayangi dan di hargai.


"Melindungi kalian, menyayangi kalian, memenuhi segala kebutuhan hidup kalian adaah tanggung jawab Daddy..." ucap Daddy Kenzo mengusap lengan sang anak gadis yang mengunci dada bidangnya.


"I love you, Daddy..."


"Love you too, Baby girl..." balas Daddy Kenzo.


"Cla kembali ke kamar dulu! bye, Daddy!" pamit Clarice sembari melepas pelukannya di leher Daddy Kenzo.


"Bye..." balas Daddy Kenzo tersenyum manis untuk sang putri sulung.


Kemudian Cla berjalan meninggalkan ruang kerja sang Daddy. Sementara sang Daddy menatapnya sampai Cla kembali menghilang di balik pintu ruang kerjanya.


Melihat sang putri sudah meninggalkan ruang kerjanya, Kenzo kembali menatap layar laptop kerjanya. Namun yang ada di dalam benak pria itu bukan pekerjaan yang terpampang di layar laptopnya, melainkan kalimat sang putri yang secara tidak langsung berasal dari sang istri.


"Kalian memang keajaiban yang di kirim Tuhan untukku?"

__ADS_1


Gumam Daddy Kenzo tersenyum samar. Kemudian menoleh pada bingkai foto besar yang menempel pada dinding ruang kerjanya, tepat berada di atas sandaran sofa panjang. Sebuah bingkai besar yang berisi foto keluarga lengkap.


Mengenakan baju keluarga senada, keluarga ini memang selalu nampak harmonis dan damai. Mengusik keluarga ini, nantikan pembalasan yang sangat buruk.


Di dalam foto itu, Daddy Kenzo memakai baju batik berwarna dasar biru langit dan celana hitam. Kemudian Mommy Calina dan Clarice memakai kebaya berwarna biru tosca dengan desain yang sama persis. Kemudian Galen dan Dygta memakai baju batik yang sama seperti sang Daddy.


Bedanya, foto itu di ambil sekitar empat tahun yang lalu. Sehingga mereka tampak masih sangat lucu dan menggemaskan. Terutama Dygta yang baru berusia 6 tahun.


Bingkai itu, adalah sebuah penggambaran betapa sempurna hidupnya saat ini. Berdiri di barisan paling depan. Melindungi, mengayomi dan juga menjadi tulang punggung untuk keluarga. Mampu mencukupi dan memberikan kehidupan yang layak untuk anak istrinya, tanpa harus membuat sang istri turut serta membantu.


"Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku..." lirih Daddy Kenzo yang ketampanannya tak termakan oleh waktu.


***


Hari telah berlalu...


Sejak di mana Clarice beradu dengan Zuria di kantin sekolah. Lalu mendatangkan orang tua ke sekolah untuk menyelesaikan masalah. Pemberian hukuman yang cukup berat bagi beberapa orang tua, tentu saja. Sampai mengakibatkan pencabutan saham Adhitama Group pada perusahaan Afrizal yang membuat sang pendiri kocar-kacir.


Kemudian di lanjut dengan tertinggalnya seorang anak di sekolah. Dan berakhir di jemput dengan menimbulkan emosi yang meledak-ledak pada sang anak gadis yang tidak lain adalah Zuria Agatha.


Sampai akhirnya tiba pada momen dimana Clarice meminta sang Ayah untuk memberi keringanan hukuman pada Zuria. Semua itu membuat Clarice sedikit lelah menjalani hari yang tak biasa itu.


Namun sampai malam telah berganti pagi, tidak ada tanda jika sang Ayah akan mengizinkan Zuria mengikuti ujian tengah semester. Namun Cla tak punya nyali untuk bertanya di saat sarapan pagi bersama seperti ini. Hingga sang Ayah akhirnya berangkat bekerja meninggalkan rumah yang di penuhi dengan cinta luar biasa itu.


Apalagi semalam Daddy Ken sudah berpesan untuk tidak menanyakan lagi perihal masalah ini. Jika nanti Mommy Calina bertanya, yang penting ia sudah punya jawaban. Jika ia sudah berusaha semampunya untuk merayu sang Ayah sambung. Keputusan utama tetap pada sang Daddy.


Setelah sesi sarapan bersama berakhir, dan kedua adiknya pergi ke sekolah masing-masing dengan sopir, Cla memilih untuk kembali ke kamarnya.


Hari ini, hari selasa, hari pertama ia menjalani hukuman skorsing. Dan masih tersisa satu hari lagi, yaitu besok. Sedangkan lusa adalah hari pertama ujian tengah semester. Hari yang tidak ingin di lewatkan oleh semua anak yang berstatus sebagi murid.


Karena tidak dapat mengikuti pelajaran, Cla memilih menghabiskan waktunya untuk belajar sendiri di rumah. Sambil menunggu guru les private nya yang datang di jam 4 sore.


Membuka buku Sains, Cla memilih halaman yang ingin ia pelajari lebih lanjut. Sebagai mata pelajaran pertama yang akan di ujikan hari Rabu mendatang.


Kemudian ia tersenyum, begitu mengingat jika semua mata pelajaran memang terlihat  gampang. Tapi ketika di kerjakan bisa membuat kepala mumet dan pusing.


"Tapi semua itu akan terasa gampang dan mudah jika tidak di kerjakan..." lanjutnya bergumam dengan kekehan jahil.


Gadis satu ini memang tidak pernah mendapat juara 1 di sepanjang perjalanannya sebagai seorang pelajar. Namun ia selalu berhasil masuk ke dalam barisan nama 10 besar. Dan itu sudah membuat Daddy dan Mommy bangga.


Baru 15 menit Cla membuka buku Sains miliknya, seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.


"Iya, masuk!" teriak Clarice.


Pintu dengan cat putih itu pun terbuka, dan muncullah seseorang dari balik pintu. Sosok wanita cantik yang semalam di sebutnya sebagai Bidadari tak bersayap.


"Ada apa, Mommy?" tanya Cla yang masih duduk di kursi belajarnya.


"Ada yang cari kamu..." jawab sang Mommy yang masih berdiri di ambang pintu, dengan tangan yang masih memegang handle pintu.


Cla mengerenyitkan keningnya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi, dan ini  masih jam sekolah, siapa yang mencarinya ke rumah?


Bahkan teman yang sering mendatangi ke rumah ini hanya Naufal dan Hanna. Dan ia tau, tidak akan semudah itu mereka bisa membolos sekolah.


Selain itu, tidak banyak teman di sekolahnya yang tau rumahnya. Karena memang Cla malas di datangi oleh teman yang di anggap tidak terlalu akrab. Selain bertujuan untuk tugas kelompok dari sekolah.


"Siapa, Mom?" tanya Cla meruncingkan pandangan pada sang Ibu.


"Kamu lihat sendiri, kamu pasti jauh lebih mengenali siapa dia..." jawab sang Mommy dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Mommy kenal?" selidik Clarice tak ingin bertemu dengan tamu asing.


"Em... hanya pernah sekali melihatnya.."


"Teman sekolah?"


"Ya..."


"Cowok atau cewek?"


"Emm.... coba lihat sendiri..." jawab sang Mommy kembali dengan seulas senyum simpul.


"Mommy...." gemas Cla karena sang Ibu jelas terlihat sedang menggodanya.


"Sudahlah, ayo keluar. Temui dia..." jawab sang Ibu dengan satu kekehan yang membuat Cla semakin penasaran dengan tamu yang ingin bertemu dengannya.


"Di mana dia?" tanya Cla sembari berjalan mendekati sang Ibu di pintu.


"Di ruang tamu khusus..."


"Khusus? Hmm... baiklah!"


Clarice dan Mommy Calina kembali turun menggunakan lift menuju lantai paling bawah di rumah itu. Dan dengan langkah sedikit lebih cepat dari sang Ibu, Cla memilih untuk lebih dulu sampai di ruang tamu yang di maksud oleh sang Ibu. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa yang mencarinya ke rumah.


Hingga akhirnya kaki yang di balut dengan hotpant 15 cm di atas lutut, sampai di ruang tamu yang di maksud oleh sang Ibu. Ruang tamu private yang di tunjukkan untuk tamu yang baru pertama kali mendatangi rumah mewah itu Dan juga untuk tamu yang di anggap tidak terlalu akrab. Dan inilah yang membuat Cla penasaran.


Karena jika Naufal atau Hanna, sudah pasti mereka akan di ajak masuk ke ruang tamu keluarga. Karena mereka sudah berulang kali mendatangi rumahnya. Dan sudah di anggap dari bagian keluarga besarnya. Terutama Naufal Mahardhika. Selain anak rekan bisnis yang sama-sama menguntungkan, juga karena Cla dan Naufal satu kelas sejak duduk di bangku kelas VII Junior.


Sampai di ambang ruang tamu private, Cla melihat sosok wanita yang sepertinya tidak asing untuk dirinya. Namun sampai beberapa detik, ia tak kunjung mengingat siapa gerangan wanita itu.


"Hai, Cla..." sapa wanita itu berdiri dan berjalan mendekati Clarice yang masih terbengong sampai sang Ibu tiba di sisi kirinya.


Kemudian dua perempuan beda usia itupun berpelukan singkat, kemudian saling menatap. Jika sang tamu menatap Cla dengan seulas senyum manis dengan bibir merah delima nya. Maka berbeda dengan Cla yang justru menatap balik dengan tatapan bingung, bahkan dahi yang mengerut.


"Aunty... siapa, ya?" tanya Clarice.


"Kamu lupa?" tanya wanita berusia 47 tahun itu. "Baru juga kemarin kita ketemu."


Clarice menatap lekat wajah wanita yang terlihat lebih tua dari sang Ibu itu, namun tampak masih sangat cantik di usianya yang terlihat menginjak 50 tahun. Mengingat kembali, di mana ia bertemu dengan seorang wanita.


"Kalau dia kamu pasti kenal..." ujar sang wanita menoleh arah pintu.


Di mana sosok pemuda muncul dari sana dengan menggunakan celana pendek dan kaos lengan panjang, serta sepatu sneaker putih yang sangat kontras dengan kulit kakinya yang terlihat sangat putih dengan bulu kaki yang khas.


"Arsen!" pekik Clarice. "Oh my God! Aunty maafkan Clarice. Cla benar-benar tidak mengenali Aunty dengan baik kemarin. Makanya sekarang Cla lupa!" ucap Cla menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu.


"Sekali lagi maafkan Cla, Aunty!" ujar Cla meraih kedua tangan Rania dan menciumnya dengan penuh rasa hormat pada orang tua.


"Masuklah, Arsen! duduk saja!" ujar Mommy Calina meminta Arsen yang masih berdiri di dekat pintu untuk masuk.


"Terima kasih, Aunty." jawab Arsen yang langsung menyapa Cla dengan sebuah senyuman tampan khas Arsenio Wilson.


Akhirnya ke empat orang itu kini duduk di sofa yang membentuk huruf U besar. Menghadap sebuah meja besar dengan empat gelas minuman yang sama. Dan mereka pun sama-sama duduk di samping ibu masing-masing.


"Rasanya tidak nyaman kalau kita ngobrol dengan cara seperti ini..." ucap Aunty Rania tiba-tiba.


"Iya, benar! sebaiknya kalian ngobrol atau pergi berdua... karena topik pembicaraan kita jelas akan berbeda, bukan?" usul sang Mommy pada Cla dan Arsen yang duduk dengan tubuh membeku.


Saling lirik tanpa berucap kata, keduanya tampak bingung. Padahal jika di sekolah, bertengkar, adu muluk dan saling sinis pun OK! Terutama Cla yang selalu bersikap acuh pada sang pembalap. Karena di anggap sebagai buaya darat.

__ADS_1


Tapi entah kenapa, saat di rumah seperti ini keduanya seperti anak manusia yang baru saling mengenal.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2