
Hari dimana sidang pertama di lakukan telah tiba. Sidang yang merupakan upaya mediasi itu di lakukan di kampung halaman Zio dan Calina.
Sesuai dengan keinginan Calina, ia tak mau menghadiri persidangan sama sekali. Ia tak ingin bertemu lagi dengan Zio. Lelaki pertama yang menumbuhkan cinta di hatinya, namun juga menjadi lelaki pertama yang menggoreskan luka di tempat yang sama.
Namun rupanya Zio tak ingin kalah begitu saja. Ia membayar pengacara tak kalah kondang dari pengacara yang mewakili Calina di persidangan.
Sehingga proses yang seharusnya mudah, terhalang oleh keinginan pihak tergugat, yaitu meminta sidang mediasi harus di datangi Calina. Perdebatan cukup sengit terjadi oleh dua pengacara terkenal.
"Klien saya menolak hadir karena ia sedang sakit!" ucap pengacara Calina pada hakim pengadil dan penasihat.
"Sakit apa?" sahut Zio mengerutkan keningnya.
Khawatir? Entahlah.. Sebelumnya Zio tak pernah mengkhawatirkan sosok Calina sama sekali. Namun kali ini mendengar istri keduanya sakit, ia sedikit tersentak.
"Beliau melarang saya untuk mengatakan apapun sakit yang sedang beliau derita kepada anda!" jawab Pengacara Calina.
"Saya berhak tau!" ucap Zio. "Sampai detik ini saya masih suaminya! Cepat katakan sakit apa istri saya!"
"Klien saya benar! Sampai detik ini tidak ada kata talak dari Klien saya untuk istrinya, Nyonya Calina Agasta!" pengacara Zio membela. "Jadi dia masih berhak tau atas Nyonya Calina!"
"Seperti anda yang membela Klien anda, maka begitulah saya! Saya dengan tugas dan kewajiban saya adalah untuk membela Klien saya!" balas pengacara Calina tak kalah tegas. Ia tatap tajam pengacara Zio. Tak gentar sama sekali dengan suara tinggi lawyer lawan.
Dua pengacara yang sama - sama keras kepala enggan untuk mengalah. Membuat ruang mediasi terdengar seperti ajang keributan.
"Klien saya adalah suami sahnya! Baik secara hukum, maupun agama!" lanjut pengacara Zio tidak mau kalah, dengan berulang kali mengingatkan Zio dan Calina masih sah sebagai suami istri. Apalagi gugatan di layangkan oleh Calina, bukan dari pihak Zio.
"Suami yang sudah menipu mentah - mentah Klien saya!" sahut pengacara Calina menyindir dengan setengah mengejek.
"Anda tidak berhak menjadikan hal itu sebagai bahan ejekan!" sembur pengacara Zio.
"Itu bukan ejekan! Itu suatu kebenaran!" ujar pengacara Calina tersenyum culas.
"Stop! Stop!" sembur hakim pengadil yang di tunjuk untuk menjadi penengah sidang mediasi.
Dua pengacara kondang berhenti untuk berdebat. Dan kembali duduk tenang dengan dada sama - sama kembang kempis menahan emosi.
"Dengan tidak hadirnya Nyonya Calina dan berbagai pernyataan serta bukti - bukti kebohongan, maka dinyatakan sidang di lanjutkan ke tahap berikutnya!" pungkas sang hakim pengadil mediasi.
"Tidak bisa!" sahut Zio, "saya harus bertemu dengan Calina terlebih dahulu!"
"Untuk urusan itu silahkan di lanjutkan di luar ruang persidangan. Keputusan saat ini tidak bisa di ganggu gugat!" jawab hakim pengadil. "Jika memang menemukan titik terang, silahkan kalian datang berdua!"
__ADS_1
Zio menghela nafas berat. Dadanya bergemuruh saat meninggalkan ruang mediasi. Rasanya ingin sekali menemui Calina. Namun gadis itu bak hilang di telan Bumi. Pengacara Calina enggan untuk memberi tahu dimana Calina tinggal saat ini.
Satu hal yang membuat Zio bertanya - tanya. Uang dari mana Calina untuk membayar pengacara kondang sekelas pengacara tambun itu?
Selama ini ia hanya memberi uang belanja setara gaji Calina saja. Jika gaji Calina di tabung, selama setahun pun tak akan cukup untuk membayar sang lawyer yang harganya mencapai ratusan juta.
"Siapa yang berada di belakang Calina?" gumamnya lirih sembari melajukan mobilnya untuk kembali ke Ibukota.
Ia hanya mengambil cuti satu hari, lagi pula sudah tak ada orang tua di kampung. Jadi lebih baik ia segera kembali ke Ibukota, dan mencari ketenangan dengan suara lembut istri pertamanya.
"Siapapun yang sedang menjadi pelindung Calina pastilah bukan orang sembarangan!"
Tiba - tiba Zio memutar arah, ia harus bertemu dengan Ibu mertuanya. Siapa tau Ibu mertuanya punya petunjuk walau sedikit.
Namun saat sampai di sana, lagi - lagi ia harus kembali dengan tangan kosong.
"Bahkan Calina tak menghubungi Mama sama sekali, Zio.." ucap Mama Shinta. "Mama sama sekali tak bisa menjadi penengah untuk kalian... Mama serahkan semua kepada kamu dan Calina..."
"Maa.. Sesungguhnya Zio tak mau berpisah dengan Calina. Tapi Calina di bela oleh pengacara mahal!" ucapnya, "terakhir Zio mencari terakhir Calina mengambil uang, dan itu di dekat komplek kami, dan hanya sebesar 10 juta! Kemudian tidak pernah lagi terdeteksi mengambil uang."
"Maksud kamu, ada seseorang yang membantu Calina?"
"Ya, Ma!" jawab Zio, "dan Zio yakin, dia bukan sembarang orang!"
"Zio juga bingung, Ma.. dari mana Calina memiliki uang sebanyak itu untuk membayar pengacara yang hanya untuk satu kasus minimal harus merogoh kocek 300 juta!"
"300 juta!" seru Mama Shinta tak percaya. Ia bulatkan kedua mata ke arah menantunya.
"Ya, Ma," jawab Zio lesu, "bahkan Zio sendiri harus memikirkan ulang untuk membayar pengacara Zio sekarang..." lanjutnya semakin terlihat lemah.
"Yaa Tuhan... Siapa yang sudah membantu Calina?" gumam Mama Shinta.
"Yang jelas dia pasti orang yang kekayaannya melampaui Papa dana Mama."
Menarik nafas panjang, kemudian membuangnya pelan. Melihat menantunya yang tampak rapuh, membuat Mama Shinta terenyuh. Tak bisa lagi untuk terus menahan geram pada lelaki yang sudah membuat putrinya bersedih.
"Zio... Meskipun Mama kecewa sama kamu, tapi Mama selalu mendo'akan yang tebaik untuk kalian." ucap Mama Shinta lembut. "Melihat betapa gigihnya Calina ingin berpisah dengan kamu, Mama tak bisa berbuat banyak, tak bisa membela kamu ataupun membela Calina. Karena sesungguhnya Mama juga menyesal sudah memberikan putri Mama satu - satunya untuk menikah dalam suatu perjodohan. Dimana ternyata pernikahan yang kami kira sebagai pernikahan pertama mu, ternyata adalah pernikahan keduamu." lanjut Mama Shinta menatap sendu Zio.
"Zio tau, Ma..." jawab Zio menatap kosong ke arah depan.
"Pesan Mama... jika nanti kalian benar - benar berpisah, jangan ada permusuhan! Mama tetap menganggap kamu sebagai anak Mama! Sama seperti Mama menganggap Calina.
__ADS_1
Zio menoleh pada Ibu mertuanya di sisi kiri. Ia tatap dalam sepasang mata renta yang memancarkan kelembutan tulus untuknya. Tak bisa lagi menahan, air mata Zio meluncur begitu saja.
Zio bangkit dari kursi dan berjongkok tepat di depan Mama Shinta. Lagi - lagi ia menangis dengan menggenggam tangan Ibu mertuanya.
"Maafkan Zio, Ma..." ucapnya dalam isakan. Ia kecup berulang kali punggung tangan Mama Shinta. Satu - satunya orang yang kini menganggapnya anak. Di tengah kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Sudahlah, Nak..." ucap Mama Shinta mengusap rambut kepala Zio dengan lembut. "Jangan di sesali.. Semua sudah terjadi.. Penyesalan hanya akan membuat mu terpuruk, dan terperangkap pada masa lalu. Jadikan apa yang kamu lakukan pada Calina adalah pelajaran. Untuk kamu bisa menjadi pria yang baik bagi istrimu."
"Meskipun berat, biarkan Calina menjalani kehidupan yang ia inginkan. Mama pun akan melakukan hal yang sama. Melepas Calina dengan apa yang ia anggap benar. Sudah cukup besar kesalahan Mama dan almarhum Papa nya dengan membuat hidupnya tak karuan selama setahun terakhir. Dan tanpa sepengetahuan kami."
Zio mengangguk dalam isakan. Tak bisa lagi berucap apapun. Dalam pikirannya, sudah tak ada lagi jalan dami dengan Calina.
"Sekarang... Jika kamu bersedia, nikahilah Naura secara sah di mata hukum. Bahagiakan dia sebagai menebus rasa bersalah mu selama ini."
Lagi - lagi Zio hanya bisa mengangguk. Meski dalam hati masih belum siap jika harus benar - benar kehilangan Calina.
"Kembali lah Ibukota, datang pada Mama jika kamu membutuhkan Mama. Anggap Mama Shinta sebagai pengganti Mama Reni."
"Iya, Ma!" jawab Zio sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Zio pulang, Maa..." ucap Zio kembali mencium punggung tangan Mama Shinta sebagai tanda pamit.
"Ya, Nak..." jawab Mama Shinta membalas dengan mengusap puncak kepala Zio.
***
Di tempat lain, Calina baru saja mendapat kabar jika sidang naik ke level selanjutnya. Lega rasanya tak perlu lagi bertemu Zio di dalam ruang sidang mediasi.
"Terima kasih, Pak!" ucap Calina mengakhiri panggilan selulernya.
"Sudah beres?" sahut seseorang yang duduk di depannya.
"Hem.." mengangguk dengan seutas senyuman lirih. "Terima kasih, ya.. Aku berhutang banyak pada kamu.."
"Aku memberimu, bukan menghutangkan pada mu.. Jangan terlalu di pikirkan!" jawabnya.
"Terima kasih, ya..." lirih Calina.
Lelaki itu hanya mengangguk pelan. Wajah tampan itu selalu terlihat dingin, seolah sulit untuk sekedar mengangkat kedua sudut bibir membentuk senyuman.
"Ayo, makanlah!"
"Iya.." jawab Calina.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...