
Dengan perasaan yang hancur karena kehilangan kedua orang tuanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Dan kini justru semakin menjadi serpihan karena perginya sosok Calina Agasta, istri keduanya.
Sosok yang baru ia sadari jika kehadirannya cukup berharga dalam setahun terakhir. Sosok yang mencuri perhatiannya secara senyap bahkan tidak di sadari oleh hatinya. Terabaikan namun sangat berefek saat semua menghilang menghilang begitu saja.
Tidak ada air mata yang menetes, namun dengan masih membendung buliran bening di pelupuknya, Zio kembali ke kamarnya. Menyambar ponsel dan kunci mobilnya, lalu melesat keluar pagar rumah, untuk satu tujuan.
Mencari sosok Calina, istri keduanya yang kini entah berada dimana.
Melajukan mobilnya dengan perasaan yang sulit sekali untuk ia artikan dengan jelas. Yang ia tau hanya satu, menyesal membuat gadis itu tidak nyaman selama bersamanya. Bahkan saat ia menyadari ada hal lain yang menyelinap ke dalam relung hati. Ia justru menepis dan mengelak akan semua itu.
Menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan Calina di tepian jalan. Tapi manalah mungkin ia menemukannya. Calina bukanlah pemain sinetron, yang jika kabur dari rumah akan menyeret kopernya di tepi jalan untuk mencari kontrakan.
Suara deru mobil milik Zio terdengar cukup pelan. Karena Zio terlalu fokus untuk melihat - lihat di sekitar. Ingin memasuki setiap gang - gang yang berjejer di tepi jalan, tapi manalah sanggup. Mencari seseorang di Ibukota dengan ratusan atau bahkan ribuan nama jalan dan gang, tidaklah sama dengan mencari satu alamat melalui Google Maps.
Ponsel Zio berdering, tanda panggilan masuk ke nomor pribadinya. Mengambil benda pipih dari jok samping, Zio segera melihat siapa yang meneleponnya. Hati kecil berharap akan muncul nama Calina. Namun ia bahkan lupa, jika ia tak pernah menyimpan nomor ponsel istri keduanya secara khusus. Bahkan ia pun tak tau angka berapa saja yang tersusun dalam nomor ponsel Calina.
"Hah!" geram Zio memukul kemudi mobilnya, seolah ingin memukul kepalanya sendiri.
Kemudian ia membaca nama pemanggil, dimana nama yang muncul adalah nama yang ia sematkan untuk istri pertamanya, Naura Azalea.
š "Halo?" jawab Jio bernada lesu.
š "Sayang! Jangan lupa main ke rumah ku, ya! Ajak Calina juga! Aku sudah masak banyak untuk kalian!" ujar Naura berbanding terbalik nada dengan nada Zio.
Zio diam seribu bahasa, menghela nafas panjang. Bibirnya tak sanggup untuk bicara. Hanya sesak di dalam dada menguasai dirinya saat ini.
š "Halo, Sayang? Kamu kenapa diam saja? Calina tidak ada acara 'kan?"
š "Sayang?"
š "Ya?" jawab Naura memasang telinga dengan baik. Ia yakin ada yang tidak beres pada suaminya itu.
š "Calina pergi dari rumah..." lirih Jio pilu.
š "Apa!" seru Naura. "Ada apa dengan Calina? Tidak mungkin dia pergi begitu saja, Mas!"
š "Kamu benar, Naura! Semalam aku tidak sengaja membuatnya marah.."
š "Mas... Kamu selalu saja begitu! Berulang kali aku katakan. Perlakukan Calina dengan baik dan lembut!"
š "Aku hanya kesal! Saat aku sampai rumah dia tidak ada di rumah! Dan setengah satu malam, dia baru pulang..."
š "Tch!" Naura menghentakkan kakinya kesal. Tapi kesal pada suami juga bukan sesuatu yang benar. "Sekarang kamu dimana?"
š "Mencari Calina.."
š "Mencari di mana?"
š "Di jalan! Aku berharap dia belum terlalu jauh."
š "Mas! Kamu itu pakai otak tidak sih! Calina bukan anak kecil yang jika kabur dari rumah dia akan lontang lantung di jalan! Calina pasti sudah punya tujuan!" sembur Naura gemas pada suaminya. "Coba cari dia di tempat kost yang lama! Atau tanya pada sahabatnya!"
Zio mulai berfikir, bisa saja kan, Calina kembali ke kost'an dimana dulu ia tinggal sebelum menikah.
š "Kamu benar, Sayang! Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi!" gerutu Zio merasa semakin bodoh.
š "Sekarang kamu cari ke sana... Aku tunggu kabar dari kamu Mas! Aku juga akan meminta bantuan Team IT di kantor untuk melacak keberadaan ponsel Calina!"
š "Ya, Sayang! kamu benar!"
Panggilan telepon itu berakhir. Dan Zio segera melesat menuju tempat kost sederhana yang di tempati Calina sejak pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota.
***
"Mbak Calina tidak pernah lagi kesini, Mas. Sejak dia keluar dari kost an lebih dari setahun yang lalu!" ucap pemilik rumah kost.
__ADS_1
"Oh... Begitu, ya..."
"Iya, Mas!"
"Kalau begitu saya permisi, Bu!" pamit Zio setelah yakin tak ada Calina di salah satu barisan kamar itu kost itu.
"Ya, Mas!" jawab Ibu kost.
Zio menghela nafas berat, ia berjalan lesu saat kembali ke mobilnya. Menghempaskan tubuhnya di balik kemudi.
"Kemana kamu, Cal...." lirih Zio penuh penyesalan.
Menundukkan kepala ke bawah. Ia tempelkan dahi pada benda bundar bagian bawah. Pening sudah kepalanya saat ini. Sampai bisikan hati mengatakan, ia harus ke kampung dan mencari ke rumah Ibu mertuanya.
Zio kembali duduk tegak setelah mendapat satu lokasi pencarian. Ia rasa rumah orang tua akan menjadi tujuan utama saat seorang istri kabur dari rumah suaminya.
"Tapi bagaimana kalau Mama Shinta bertanya kenapa Calina sampai kabur dari rumah? Apa yang harus aku jawab!"
Bingung Zio bergumam sendiri di dalam mobilnya.
"Aaakkhhh Ziooo!" teriaknya menyisir kasar rambutnya. Mengacak - acak rambutnya sendiri sebagai bentuk kekesalan pada dirinya sendiri.
"Tidak ada pilihan lain! Aku harus menemui Mama Shinta!" gumamnya kemudian. "Lagi pula... Bisa saja sebenarnya Mama Shinta sudah mengetahui semuanya!" lanjutnya lirih.
Lagi - lagi hatinya menyesal sudah sedemikian gila membuat hidup Calina tak berarti selama setahun terakhir.
"Baiklah, kalau memang harus aku harus bersujud untuk meminta maaf pada Mama Shinta! Aku akan melakukannya! Yang penting Calina harus kembali bersamaku!" yakin Zio dalam hati.
"Kamu harus ditemukan, Calina! Maafkan aku yang bodoh ini!" gumam Zio sembari menyalakan mesin mobilnya.
Dan ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal yang ia bisa. Arah Luar kota pasti ramai di hari sabtu. Entah karena banyak pulang kampung atau untuk berlibur.
***
Di sisi lain, Naura mengendarai motor matic miliknya. Melajukan motor itu ke arah dimana seseorang yang bekerja dalam Team IT di kantornya memberikan alamat dimana ponsel Calina berada.
Hingga sampailah ia di depan sebuah rumah dua lantai. Kecil, tak seluas rumahnya, namun terlihat cukup terawat dan rapi.
Ia ketuk pintu dua sisi berwarna coklat muda itu. Dan terbukalah oleh seorang gadis seusia Calina.
"Kamu..." ucap gadis itu menatap Naura heran.
"Naura!" jawab Naura sopan.
"Ya, aku tau! Istri pertama suaminya Calina 'kan?" tanya Mereen dengan nada sedikit ketus.
"Emm... Iya.." Naura menunduk. Ia menyadari nada bicara Mereen menunjukkan bahwa gadis itu tak menyukainya.
"Ada apa?" tanya Mereen datar. Bahkan tidak mempersilahkan Naura untuk masuk ke dalam rumah, ataupun sekedar duduk di kursi teras rumahnya.
"Apa Calina disini?" tanya Naura langsung pada intinya.
"Calina?" tanya Mereen heran. "Untuk apa mencari Calina kesini? Calina setiap hari pulang ke rumah suami kalian!" ketus Mereen.
"Iya, aku tau... Hanya saja setelah pulang semalam, ternyata Calina kabur dari rumah! Ia hanya meninggalkan surat untuk Mas Zio!"
"Apa!" pekik Mereen tak percaya. Sepasang matanya terbelalak mendengar kabar Calina kabur. Sesungguhnya ia sudah merasa aneh pada Calina sejak kemarin, bukan? "Kamu yakin Calina kabur?"
"Iya!" jawab Naura.
"Lalu kamu pikir Calina akan kabur ke rumahku? Calina bukan anak SMA yang akan kabur ke rumah sahabatnya!" hentak Mereen. "Dan lagi, dari mana kamu tau rumahku di sini?" Mereen memberondong Naura dengan berbagai pertanyaan yang membuat dirinya kesal.
Menarik nafas dalam, Naura harus bersabar menghadapi sahabat dekat madunya. Yang sudah bisa ia tebak akan menjadi singa saat berhadapan dengan dirinya.
"Aku meminta bantuan Team IT untuk melacak ponsel Calina. Dan ponsel Calina terdeteksi aktif di rumah kamu.." jawab Calina.
__ADS_1
Tersenyum tipis, "kamu benar! Ponsel Calina memang di rumahku! Tapi tidak dengan pemiliknya!"
"Maksud kamu?"
"Pikir saja sendiri! Kamu kan lebih pintar dari aku! Kamu bagian penting dalam divisi suamimu, bukan?" jawab Mereen ketus.
"Tolong, Mereen! Beri tahu aku, dimana Calina berada?" Naura memohon dengan sangat. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu pikir aku Cenayang? Yang bisa mencari orang hilang hanya dengan memejamkan mata?"
Menghela nafas, "aku mohon, Mereen! Sekali ini saja! Aku yakin Calina di sini, kan?"
"Maksud kamu, kamu menuduh aku berbohong?" tanya Mereen mulai terpancing emosi. Setiap melihat wajah Naura ia seolah tersiram bensin. Dan dengan sedikit percikan api saja, sudah bisa membakar dirinya.
"Bukan begitu.."
"Masuk saja! Cari sendiri!" Mereen menarik tangan Naura dan membawanya berkeliling rumahnya yang sedang kosong itu.
Naura mengikuti langkah Mereen yang membawanya menyusuri rumah dua lantai itu. Dan tempat terakhir yang di tuju adalah kamar Mereen.
"Lihat!" Mereen meraih sau ponsel yang tergelatak di atas meja kamarnya. "Ini ponsel Calina, kan?"
Naura reflek mengangguk.
"Semalam dia menitipkan ponsel ini ke dalam tas ku! Dan saat kami pulang, ia lupa mengambil ponselnya lagi! Dan akhirnya sampai lah ponsel ini di rumahku!" jelas Mereen dengan nada tinggi.
Dalam benaknya, ini kesempatan untuk melabrak madu sahabatnya itu. Hal yang sudah lama ia nantikan.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ku!" usir Mereen. "Aku kamu mau aku berubah jadi harimau buas untuk memangsamu?"
"Aku akan pulang..." ucap Naura. Ia paham akan emosi Mereen yang meledak - ledak.
"Hemm!" jawab Mereen ketus. Melihat Naura keluar dari kamarnya di lantai dua.
Mereen mengikuti langkah Naura dari jauh. Menatap benci punggung berbalut jas jeans crop itu.
"Dengarkan aku, Naura!" ucap Mereen saat Naura sampo di ambang pintu utama rumahnya. Sementara ia masih berdiri di anak tangga terakhir.
Naura menoleh ke belakang. Menatap gamang pada Mereen yang menatapnya dengan tajam.
"Cukuplah Calina menderita bersama kalian! Pinta suami mu itu untuk melepas Calina! Sudah cukup dia menangis! Kalau benar Calina pergi, aku yakin itu karena dia sudah lelah!" ucap Mereen memperingatkan dengan nada datar namun penuh penekanan.
"Tapi kami tidak ingin Calina pergi, Mereen. Mas Zio juga sedang berusaha mencarinya."
"Untuk apa di cari?" tanya Mereen kembali emosi. "Bukankah kalau Calina pergi itu akan menguntungkan kalian berdua? Kalian bisa tinggal dalam satu rumah setiap hari! Tanpa takut akan mertua mu datang tiba - tiba!"
"Tapi aku yakin Mas Zio sesungguhnya menyimpan perasaan untuk Calina. Hanya saja dia sulit mengungkapkan!"
"Sekali lagi aku katakan! Hentikan sandiwara kalian!" ujar Mereen. "Calina berhak bahagia dengan pilihannya sendiri! Dan kamu juga harus tau! Menyadari pentingnya akan kehadiran seseorang saat dia sudah pergi adalah penyesalan semata! Bukan ketulusan yang nyata!"
"Mereen, please! Jangan bicara begitu!"
"Itu fakta, Naura!" sembur Mereen dengan tatapan semakin tajam.
Naura menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya ia tak sanggup lagi menerima semburan demi semburan yang di lontarkan Mereen.
"Aku permisi, Mereen!" pamit Naura tak ingin memperpanjang masalah lagi dengan Mereen yang keras kepala.
Tak menjawab sepatah katapun, Mereen mendengkus kesal. Kemudian ia gelengkan kepala pelan.
"Kemana kamu, Cal! Dengan begini apa kuta pantas di sebut sahabat?"
Gerutu Mereen. Perginya Calina benar - benar tak terdeteksi olehnya sama sekali sebelum ini.
Antara senang dan sedih itulah perasaan Mereen. Senang karena Calina terlepas dari jeratan siksa batin. Sedih karena ia pun kehilangan jejak sahabatnya itu.
__ADS_1
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...