
Jika Zio dan Zahra menuju kamar pengantin mereka, kemudian obrolan kecil yang baru pertama kali mereka ucapkan menjadi topik utama. Lalu Kenzo dan Calina yang pulang dengan di sambut oleh seorang tamu yang tak mereka sangka sebelumnya.
Maka ada juga sepasang kekasih yang baru saja merajut asa siang hari itu. Mereka adalah Gilang dan Kayla yang hari itu baru menobatkan diri mereka dengan status yang langsung di sebut sebagai calon suami dan calon istri.
Di lamar secara mendadak, dan bahkan tanpa hubungan pacaran terlebih dahulu, membuat Kayla seolah mendapat kejutan berlipat ganda. Belum lagi kedatangan calon mertua yang ia pikir tidak akan menerimanya, ternyata sangat baik padanya.
Dan semua itu berkat Calina yang ternyata sudah menjelaskan semua tentang dirinya termasuk masa lalunya bersama Gilang. Bahkan tentang dirinya yang tidak mengenyam pendidikan setinggi Kenzo, Gilang, maupun Calina sendiri.
Tinggal di apartemen yang sama, di saat mereka belum menikah memang terdengar aneh dan mengkhawatirkan para ibu - ibu dari anak pihak perempuan. Meskipun itu terdengar biasa saja bagi beberapa orang. Apalagi bagi mereka yang terbiasa hidup di luar negeri.
Seperti halnya Papa dan Mama Adhitama yang tampak biasa saja, mendengar anak bungsunya membawa seorang gadis ke apartemen. Mereka hanya bermodal percaya dan nasehat, tanpa bisa merubah pergaulan anak muda jaman sekarang. Karena hal itu juga sering merkea jumpai selama tinggal di luar negeri.
Meski terkadang Kayla merasa khawatir, karena pernah trauma dengan laki - laki di usia remaja, nyatanya selama ini Gilang tidak pernah merayu untuk kemudian membawanya naik ke atas ranjang seperti lelaki hidung belang pada umumnya.
Tapi kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi setelah status mereka berubah menjadi berpacaran. Bisa saja dari saling kecup, kemudian meminta untuk sebuah ciuman dan berakhir dengan sebuah waktu yang tak terlupakan di salah satu kamar yang ada di apartemen itu. Toh tidak ada mata lain yang tinggal di apartemen itu selain mereka berdua.
Kita serahkan keputusan itu pada dua anak muda yang sudah tidak lagi muda itu. Untuk seorang perempuan, usia 28 tahun adalah usia yang sudah matang untuk menikah. Begitu juga untuk laki - laki dengan usia 32 tahun.
Hanya saja untuk beberapa malam kedepan, semua itu tidak akan tercipta. Karena ada Felia yang ikut tinggal bersama Kayla, sampai masa cuti kerja Zio berakhir, empat hari lagi.
"Ayo, Felia mandi dulu!" ucap Kayla pada Felia yang baru saja melepas sepatu di ruang depan.
"Ya, Aunty!"
Segeralah Felia masuk ke dalam kamar sang Tante yang sudah dua malam ia ikut tidur di sana. Meninggalkan Gilang dan Kayla bedua, yang entah kenapa langsung merasa canggung. Namun dada masing - masing berdebar tidak karuan.
"Kamu juga langsung mandi sana." ucap Kayla yang bingung harus berkata apa untuk mengawali obrolan mereka. Setelah untuk pertama kali mereka memasuki apartemen dengan status yang berbeda.
"Kamu juga?"
"Iya lah..." jawab Kayla tanpa berani melihat Gilang yang ia tau tengah menatap lekat dirinya. Bahkan mungkin tanpa berkedip.
"Kamu lupa, tadi ada yang kita lupakan?" tanya Gilang.
"Apa?" Kayla menoleh dan menatap bingung pada Gilang yang yang menarik sedikit ujung bibirnya untuk tersenyum simpul namun kaya akan makna yang luar biasa dalam.
"Apa yang kita lupakan?" Kayla semakin mengerutkan keningnya saat melihat senyum samar Gilang.
"Apa?" kejar Kayla. "Cepat katakan, Gilang..." paksa Kayla yang khawatir itu adalah sesuatu yang memang penting, dan ia benar - benar lupa.
"Apa itu penting?" tanya Kayla dengan sepasang mata yang mulai menunjukkan kepanikan.
"Sangat penting, dan kamu melupakannya begitu saja..." jawab Gilang dengan mengulum senyum penuh seringai.
"Benarkah?" tanya Kayla mulai menghadap Gilang dengan penuh tanda tanya. "Cepat katakan, Gilang! jangan bertele - tele!" seru Kayla kesal dan gemas.
Tersenyum penuh arti, Gilang pun kini menghadap Kayla. Menatap lekat mata yang sedang terbelalak karena benar- benar tengah mengingat sesuatu apa yang sedang ia lupakan.
"Cepat atakan, Gilang!" seru Kayla sembari melipat tangan di depan dada.
"Kamu melupakan sesuatu yang sangat penting untuk kita. Untuk hari pertama di mana aku meminta mu menjadi istri ku..." ucap Gilang menatap lekat dan serius wajah Kayla yang berada beberapa senti meter di bawahnya.
Tinggi Kayla hanya sebatas dagu Gilang. Sehingga gadis itu harus mendongak untuk bisa melihat wajah Gilang yang tingginya menjulang di atas dirinya.
"Ayolah, katakan!" hardik Kayla.
"Janji dulu kamu tidak akan menolak!" syarat dari Gilang.
"Menolak apa?" tanya Kayla mengerutkan keningnya, juga memicingkan matanya.
Gilang maju satu langkah, dan kini posisi mereka saling berhadapan dengan jarak dada yang hanya 20 cm saja. Bahkan tangan Kayla yang melipat di depan dada, sudah menempel samar pada perut Gilang. Dan itu sudah menibulkan efek luar biasa untuk Kayla yang baru pertama kali berhadapan sedekat ini dengan lelaki yang... ia cintai.
Tangan kiri Gilang mulai terangkat dan langsung meraba pinggang Kayla hingga sampai di punggung bawah Kayla. Dan dalam hitungan detik, jarak 20 cm yang tersisa telah hilang. Berganti dengan tubuh yang menempel sempurna dengan di sertai suara lenguhan Kayla yang kaget dengan aksi Gilang.
Tangan kekar Gilang mendekap erat tubuh ramping yang sedari tadi sudah ia bayangkan akan hangatnya pelukan dari gadis di depannya itu.
"Gilang?" panggil Kayla yang tak paham juga maksud dari Gilang. Kayla mendongak menatap mata Gilang yang menatapnya dengan tatapan lembut dan tak berkedip hingga menghanyutkan diri yang belum pernah jatuh cinta sebelum ini.
Namun Kayla jelas merasakan jika jantungnya sedang berdebar tidak karuan. Semua terjadi begitu cepat, hingga ia tak bisa mengatur detak jantungnya untuk bisa berdetak normal.
"Gilang?" panggil Kayla dengan sangat gugup.
"Hem?" jawab Gilang masih tetap menatap mata Kayla tanpa berkedip. Justru menatap mata lentik itu dengan semakin dalam.
Ah! jantung Kayla semakin tidak karuan. Sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi seorang Kayla yang sekian lamanya tinggal di Rumah Sakit Jiwa, tanpa pernah memikirkan akan jatuh cinta pada siapa. Meski ia sering bingung jika Gilang tiba - tiba muncul di Rumah Sakit Jiwa untuk menjenguknya.
Hanya saja saat itu ia tak tau apa yang sebenarnya ia rasakan dahulu. Kenapa selalu merasakan sesutau yang berbeda setiap melihat Gilang. Yang bahkan tak ia kenal secara dekat. Laki - laki itu hanya menolongnya saat ia tengah kabur dari Rumah Sakit Jiwa.
Kemudian selama tinggal bersama, Kayla hannya merasa Gilang baik. Tanpa tau sepeti apa Gilang yang sebenarnya. Karena mereka tidak pernah mengobrol intim, layaknya manusia normal pda umumnya.
__ADS_1
Dan kini tubuh mereka menempel sempurna. Gilang bahkan mengikis jarak wajah mereka. Mendekatkan bibirnya pad bibir Kayla yang berwarna pink muda.
Jantung Kayla semakin berdegup kencang, nafas pun terasa sanagt berat. Ketika wajah tampan itu semakin dekat dengan wajahnya.
Kayla benar - benar tidak menyangka, jika ia di takdirkan oleh Tuhan untuk di cintai pria setampan dan sekaya Gilang Adhitama. Sebagai perempuan normal, pasti tidak ingin jika ini semua hanyalah mimpi.
Semakin cepat jantung Kayla, itu berarti semakin dekat jarak bibir mereka. Dan saat jarak bibir tak lebih dari 5 cm, GIlang berucap lirih dan berat.
"Kamu melupakan ciuman pertama kita, Sayang!"
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Gilang, maka bibir keduanya sudah menempel sempurna.
Untuk pertama kali, kedua bibir anak manusia itu bertemu dan bersentuhan dengan sangat lembut, hingga mata langsung terpejam bersamaan dengan menempelnya bibir merah muda Kayla dan Gilang.
Meski tidak berada di ruang hampa udara, nyatanya keduanya kesulitan untuk mengambil udara yang ada di sekitar mereka.
Gilang menarik kembali kepalanya, saat ia tau jika Kayla mulai kesulitan untuk sekedar bernafas. Dua sorot mata bertemu di jarak yang sangat dekat. Hanya dengan sorot mata itu, keduanya sudah bisa membaca betapa ada cinta yang tulus di dalam sana.
Gilang kembali mengikis jarak, hingga bibir kembali bersnetuhan. Kali lebih lama dari sebelumnya. Bahkan bibir Gilang mulai bergerak untuk merasai bibir Kayla, baik yang atas dan yang bawah. Dan itu reflek membuat Kayla melingkarkan tangan di leher sang kekasih. Hingga akhirnya Kayla kembali kehabisan nafas.
Dan Gilang kembali menarik wajanya. Memberi jarak pada bibir mereka, agar Kayla bisa kembali menarik nafas yang lebih panjang.
Sorot mata kembali bertemu di antara rasa gugup yang mendera, dan wajah yang memerah karena menahan rasa malu. Namun keduanya menikmati hal baru yang pertama kali di rasakan oleh Kayla.
Gilang? entahlah.... dia pemuda yang terbiasa hidup di dua negara. Di mana di luar sana, terkadang sahabat saja saling kecu bibir.
Dan saat Gilang ingin hendak kembali mencium bibir Kayla, tiba - tiba suara handle pintu terdengar menyeruak di telinga mereka. Secepat kilat keduanya saling melepas pelukan dan melompat ke belakang secara bersamaan. Jantungbhampir saja copot. Karena kelakukan mereka hampir ketahuan anak di bawah umur.
"Aunty! Felia sudah selesai mandi. Dimana baju Felia?"
Suara lucu dan menggemaskan Felia membuat Kayla dan Gilang langsung menoleh ke arah pintu dengan dada yang masih berdetak kencang. Terutam Kayla. Gadis itu benar - benar gugup karena hampir ketahuan snag keponakan.
"Iya, Sayang! Aunty ambilkan!" jawab Kayla masih dengan dada yang yang berdegup kencang, karenapanik.
Dengan wajah merah merona, dan senyum salah tingkah, Kayla masuk ke dalam kamar mengikuti Felia yang juga masuk ke kamar sang Aunty.
Gilang tersenyum menatap punggung sang wanita yang mulai menghilang di telan pintu kamar Kayla. Dalam hati ia sungguh merasa lega dan tenang.
Selain sukses melamar Kayla, ia juga berhasil membuat Kayla memberikan ciuman pertamanya.
Sepertinya malam ini lelaki itu akan mimpi indah. Seindah pelangi setelah hujan rintik dengan hawa yang yang syahdu.
Mendatangi apartemen sahabat masa kecilnya, tujuan Janne adalah untuk berpamitan pada sang sahabat, lebih tepatnya mantan sahabat.
Karena mereka kini tak sedekat dahulu kala. Ada jarak yang membentang jauh dan luas. Ada hubungan yang tak bisa di ganggu gugat oleh apapaun juga. Ada titik yang sulit di jangkau sejak dahulu.
Dan jika ia tetap melewati batas, maka orang pasti akan menjuluki dirinya sebagai pelakor, bahkan pelac*r.
Ya, setidaknya julukan - julukan kasar semacam itu sering di sematkan pada mereka yang dengan bangga merebut suami orang. Atau bahkan sekedar menggoda suami orang. Tanpa ragu dan tanpa malu seolah menunjukkan jika diri mereka lebih unggul dari segalanya di banding sang istri sah.
Tapi Janne?
Dia adalah sahabat masa kecil Kenzo Adhitama, sampai lima tahun yang lalu. Dan semua keadaan berubah, ketika Janne baru menyadari dan baru tau jika ternyata Kenzo menyimpan seorang wanita yang tengah hamil di salah satu apartemen yang di sewa Kenzo. Di lantai bawah sana.
Rasa kehilangan Janne akan seorang sahabat yang.... Ya! sahabat yang ia cintai sejak kecil membuat Janne nyaris terpuruk dan depresi.
Dimana sejak hari itu, harapan Janne untuk bisa memiliki seorang Kenzo telah hancur lebur tak bersisa. Apalagi saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Kenzo dengan setia menemani Calina berbelanja di supermarket, atau bahkan melihat mereka memasuki Rumah Sakit untuk periksa kandungan.
Karena Janne sendiri sering datang ke Rumah Sakit untuk memeriksakan penyakit yang di timbulkan akibat cidera tertimpa pohon tumbang.
Sugguh, setau Janne, Kenzo bukanlah orang yang hobi menemani seseorang untuk belanja.
Sakit... sungguh sakit mata dan hati Janne melihat mereka bersama. Di mana jika melihat mereka di luar apartemen bersama semacam itu, sama artinya tergeruslah harapannya untuk bisa menyandang julukan Nyonya Kenzo.
Julukan yang ia impikan sejak usia belum genap tujuh tahun. Bahkan kala itu ia belum bisa mengartikan dengan jelas apa itu kata cinta. Sampai akhirnya ia menyadari jika apa yang di rasakan adalah cinta tulus.
Awalnya ia bingung, kenapa Kenzo menyembunyikan wanita hamil?
Ia sangat mengenal Kenzo yang tak mungkin menghamili anak orang dengan sengaja. Bahkan tidak sengaja pun Janne tak yakin Kenzo berani melakukan hal itu.
Hari demi hari di gunakan Janne untuk menyelidiki siapa wanita hamil yang di sembunyikan Kenzo? Dan apa hubungan keduanya? kenapa mereka terlihat begitu akrab?
Bahkan tak jarang Janne melihat perempuan itu ngambek di tempat umum, dan Kenzo dengan sabar meladeni mood wanita hamil yang tidak stabil. Bahkan nyaris sensitif.
Dan semua itu Janne lakukan sampai harus meninggalkan pekerjaan pentingnya sebagai seorang Designer.
Dan ketika ia menemukan identitas Calina secara lengkap, Janne cukup tercengang dengan kenyataan yang ia temukan. Dimana Calina adalah janda cerai yang sedang hamil. Jadi yang di kandung wanita itu bukanlah anak Kenzo.
' Lantas kenapa Kenzo begitu perhatian pada Calina? '
__ADS_1
Pertanyaan itu muncul di benak Janne yang sedang patah hati dan kalut.
Kemudian sebuah jawaban ikut muncul di dalam benak sang Designer seksi itu.
' Ya, Kenzo mencintai wanita hamil itu! Dan Kenzo dengan sengaja menempatkan diri untuk menggantikan posisi sang ayah kandung dari anak di dalam kandungan Calina. '
Dan jawaban yang di simpulkan oleh Janne sendiri itu menggoreskan luka tersendiri di hati sang Designer.
Semua itu terlihat semakin jelas di mata Janne, ketika ia sedang periksa ke Rumah Sakit, dan tenyata tanpa sengaja ia melihat Kenzo yang keluar dari mobil dengan menggendong Calina yang di prediksi hendak melahirkan.
Dan sejak itu, ia dan Kenzo sudah semakin jarang bertemu. Bahkan satu bulan sekali pun belum tentu Kenzo akan bersedia menyempatkan diri untuk bertemu dengannya.
Mata Janne memang hanya dua, tapi mata - mata Janne ada di mana - mana. Hingga akhirnya ia tau, jika setiap pulang kerja, Kenzo akan datang ke apartemen Calina dan membantu merawat baby Clarice. Bahkan memanggilkan baby Clarice Daddy padanya.
Sampai akhinrya ia berada pada titik menyerah. Ketika tiba - tiba Kenzo muncul di depan pintu apartemennya, dan kemudian menawarkan sesuatu yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Yaitu memintanya untuk berobat ke Amerika, dengan semua biaya perawatan di sana di tanggung oleh Kenzo yang memang memiliki harta berlimpah.
Di situlah mimpinya benar - benar sudah hancur dan tak terselamatkan lagi oleh apapun juga. Karena ia merasa seolah di buang oleh sang sahabat, supaya tidak membuat hubungan Kenzo dan Calina berantakan.
Ia bukan tipekal gadis nekat yang akan merebut Kenzo dengan cara melabrak wanita yang sedang dekat dengan Kenzo.
Janne memilih untuk menyerah dari perjuangan, dan menerima tawaran Kenzo untuk berobat ke Amerika. Toh kala itu ia memiliki kontrak kerja sama dengan salah satu butik yang ada di sana beberapa bulan lagi.
Berangkat ke Amerika dengan membawa luka yang tersimpan di dalam dada. Dan ikhlas untuk melepas
kan Kenzo yang di paksakan, membuat Janne sesekali masih harus menangis di negeri orang. Mengingat betapa ia sangat kecewa dengan takdir yang ia dapatkan.
Meski sudah sempat menemui Calina untuk berkenalan dan menyampaikan salam perpisahan. Tetap saja tidak semudah itu melepas seseornag yang sudah di harapkn sejak lama.
Demi mencari ketenangan. ia memilih untuk tiidak pulang ke Indonesia dalam waktu yang panjang. Dan benar saja, ia tidak kembali selama hampir lima tahun. Sempat pulang dan tak bertemu dengan Kenzo dan Calina, Janne kembai ke Amerika. Dan beberapa hari lalu ia kembali datang. Dan berhasil bertemu dengan sepasang suami istri itu.
Dan kini ia akan kembali ke Amerika setelah baru beberapa hari Di Indonesia, dan tidak akan kembali sampai tiga tahun ke depan.
Sebelum ia benar - benar akan meninggalkan Indonesia dalam waktu yang lama seperti sebelumnya, Janne ingin memeluk sahabat yang ia cintai sejak kecil. Bahkan mungkin sampai sekarang... Entahlah, untuk saat ini hanya Tuhan dan Janne sendiri yang tau.
Apakah perasaan itu masih ada, atau sudah musnah di makan usia yang terus bertambah.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Janne pada Kenzo yang berdiri dengan kaku.
Mereka terbiasa saling memeluk dan bercipika cipiki sebelum Kenzo menikah dengan Calina. Tapi semua itu terjadi jauh sebelum Kenzo dan Calina bersatu. Dan kini perlakuan semacam itu terasa asing bagi Kenzo yang sudah lama menjaga jarak dengan wanita manapun.
Menatap mata sang istri, Kenzo seolah mencari jawaban. Bolehkah? atau tidak?
Apapun jawaban sang istri akan ia turuti. Bagi Kenzo menyenangkan dan menenangkan hati istrinya jauh lebih penting dari pada harus merajut kembali benang yang sudah lama kusut.
Bahasa kasarnya ia sudah tidak lagi membutuhkan masa itu. semua adalah kisah masa lalu yang sudah lama ia pendam.
Dengan berat hati, Calina mengangguk pelan. Namun tangannya langsung memeluk pinggang belakang sang suami. Seolah mengingatkan jika ada hati yang juga harus di jaga. Jadi jangan terlalu larut dalam pelukan wanita lain. Meskipun itu adalah pelukan antara sahabat.
Kenzo mengangguk, dan Janne langsung memeluk Kenzo dengan penuh perasaan. Menghirup harum parfum yang masih tercium oleh Janne. Meskipun sudah seharian Kenzo beraktivitas.
"Thanks, Ken! aku kaan pergi! jaga keluarga kamu dengan baik!" ucap Janne setengah berbisik. "Kalau kamu menyakiti Calina seperti mantan suaminya, maka aku pastikan akan menjemput Calina dan membawanya ke Amerika."
gurau Janne dengan sedikit senyum simpul. Senyum yang menutupi segala luka yang tersimpan di dalam dada.
Kenzo tergelak sembari mengusap punggung Janne dengan satu tangan irinya. Karena tangan kanan ia gunakan untuk merengkuh pinggang istrinya.
Sebagai sahabat tentu Kenzo sudah hafal seperti apa seorang Janne. Ia tau jika Janne hanya mencoba untuk tersenyum ceria.
"Bagiku, selain ampuh mengobati penyakitku, Amerika juga ampuh untuk menjadi tempat untuk melupakan seseorang..." lanjut Janne hampir saja menangis.
Calina paham apa yang di maksud Janne. Ia tau yang di maksud Janne adalah Kenzo. Ia remas kemeja sang suami. Dan bersamaan itu, Kenzo langsung melepas pelukan Janne secraa paksa. Hingga momen itu berakhir dengan sama - sama tersenyum hambar.
"Hati - hati, Janne!" ucap Kenzo seformal mungkin. Ia sengaja tidka ingin membahas Amerika. Karena bagi Kenzo sendiri sepertinya Amerika adalah negara yang pas untuk mengirim seseorang agar melupakan dirinya. Yaitu Janne sendiri.
Janne mengangguk, kemudian menoleh Calina, "Bye, Cal!"
"Bye, Kak Janne!" balas Calina tersenyum ramah. "Hati - hati ya, Kak!"
"Iya, Calina..."
Maka pergilah Janne dari apartemen yang dulu sering ia datangi sebelum Kenzo menikah dengan Calina. Apartemen yang menjadi saksi persahabatan antara Kenzo, Janne, Gilang dan adik Janne.
Kenzo dan Calina kompak mengantarkan Janne meninggalkan apartemen sampai perempuan itu memasuki lift.
Setelah Janne menghilang di balik pintu lift, Kenzo dan Calina saling tatap satu sama lain. Kenzo tau arti dari tatapan Calina yang sedikit tajam dan menukik.
"Maafkan aku, Sayang.... sekarang sini aku peluk!" Kenzo menarik tubuh Calina dan memeluknya erat. "Hapus bau parfum wanita lain di bajuku!" ujar Kenzo.
"Terima kasih, kamu tidak kelewat batas!" ucap Calina yang masih memeluk era suaminya. Mengunci tangannya di punggung sang lelaki.
__ADS_1
Bersambung ..