
Jika di lift untuk umum ada Gilang yang sedang mencoba untuk mengenal sosok wajah dan postur tubuh yang tak asing untuknya, maka di lift khusus petinggi ada Kenzo yang sedang menggandeng tangan Clarice dengan posesif.
Venom adalah satu - satunya orang di perusahaan yang mengetahui semua ini. Tentu ia memilih untuk menjadi pembatas bagi Kenzo dan Zio. Venom sengaja menutupi tubuh Clarice dari pandangan mata Zio. Meski ia tak tega pada Zio, tetap saja dia hanyalah seorang asisten yang wajib mematuhi perintah bossnya. Bahkan sebelum diperintah sekalipun.
"Daddy, Mommy bilang besok Nenek akan kembali pulang ke kampung, boleh Clarice ikut mengantar?" celetuk Clarice begitu saja.
Sontak pertanyaan itu membabat habis nafas Kenzo. Tubuh sang CEO semakin menegang akibat pertanyaan Clarice yang spontan. Takut jika sampai sang anak menyebutkan nama Mommy atau Neneknya, bisa saja Zio akan mengenali nama - nama itu, bukan?
"Boleh..." jawab Kenzo memaksakan bibirnya yang kaku untuk tersenyum pada putrinya.
"Clarice ingin bermain - main di kebun Nenek yang luas.
"Ya, Clarice! kita akan bermain - main di kebun Nenek besok." jawab Kenzo dengan jantung berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, sekali saja Clarice menyebut nama Nenek Shinta, maka Zio pasti akan mengingat nama mantan mertuanya.
"Yeay!" seru bocah lima tahun dengan sepatu putih Unicorn itu.
Suara Clarice yang menggemaskan, membuat Zio kembali menoleh gadis mungil yang benar - benar mencuri perhatiannya itu. Meski terhalang oleh tubuh Venom, tetap saja Zio berusaha untuk bisa melihat bagian kecil sekalipun. Sehelai rambut Clarice misalnya.
"Putri Pak Kenzo sangat menggemaskan." ujar Zio meluncur begitu saja, disertai dengan kekehan gemasnya.
"Hmm.." tanggap Kenzo dengan datarnya.
Sementara Clarice kini tertarik untuk melihat siapa yang bilang dia menggemaskan. Gadis kecil itu mengintip melalui sela - sela tubuh Venom dan Kenzo.
"Hi, Uncle!" sapa Clarice dengan suaranya yang menggemaskan
"Hai, Little Boss!" sapa Zio memanggil Clarice dengan sebutan bos kecil, karena memang dia anak bos.
Meski Clarice dan Zio hanya berinteraksi melalui celah sempit, nyatanya berhasil membuat Kenzo hampir terkena serangan jantung.
' Sepertinya terlalu sering membawa Clarice ke kantor bukanlah sesuatu yang bagus! '
Gumam Kenzo dalam hati. Meski Clarice dan Zio tak lagi saling menyapa, jantung Kenzo masih berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Tubuhnya terasa tegang. Setengah mati ia menahan agar wajahnya tak terlihat tegang dan gugup.
***
Kembali pada Gilang, lelaki itu pun mengalami hal yang sama dengan sang Kakak. Tubuh terasa tegang dan membeku begitu mendengar sebuah nama yang di sebutkan oleh Zahra. Memang ia tak mengenal nama Zahra. Tapi nama Titania dengan wajah yang sangat mirip tentu membuat sang putra bungsu Adhitama merasakan getaran tersendiri.
Pintu lift terbuka di lantai empat. Lantai dimana ruang kerja Zahra dan Zio berada. Perempuan itupun segera berpamitan dengan bosnya yang berdiri satu langkah di depannya.
"Saya permisi, Pak." pamit Zahra dengan sangat sopan.
"Hm.." hanya itu yang keluar dari bibir Gilang.
__ADS_1
Zahra keluar dari dalm lift, dan ekor mata Gilang benar - benar tak lepas dari gestur sang karyawan wanita.
Bersamaan dengan Zahra yang keluar dari lift umum, lift khusus pun juga terbuka. Dari lift khusus keluarlah Zio seorang diri. Sementara orang - orang yang tertinggal di dalam lift masih mengikuti pergerakan lift untuk turun ke lantai dasar gedung.
Gilang yang hanya seorang diri, hanya bisa melamun. Satu tangan yang berada di dalam saku celananya terkepal. Namun tidak ada kilatan emosi di raut wajahnya.
Sementara Kenzo terlihat lebih rileks setelah keluarnya Zio dari bilik sempit itu. Dan tentu itu tak lepas dari pengamatan si Asisten dingin, Venom.
"Jangan terlalu khawatir, Pak."
"Aku tau!" jawab Kenzo sedikit ketus.
"Kenapa Daddy?" tanya Clarice dari tempatnya berdiri.
"Hm..? tidak ada, Sayang." jawab Kenzo mengusap lembut rambut hitam putri tirinya.
"Daddy?" panggilan Clarice mendongakkan kepalanya hingga tinggi. Karena postur tubuh Kenzo yang menjulang tinggi.
"Ya?"
"Sebenarnya siapa Uncle tadi?"
DEG!
"Tidak apa - apa! sepertinya sangat baik!" jawab Clarice dengan sedikit kekehan.
Jika saja Kenzo adalah wanita lemah, pastilah ia saat ini sudah menangis. Karena merasa kalah. Dimana Clarice yang sudah merasakan kebaikan Zio. Padahal baru dua kali bertemu, dan tanpa tegur sapa.
Kenzo yang tak sanggup menjawab celetukan anaknya, akhirnya merasa lega karena pintu lift terbuka. Dimana ia memiliki kesempatan untuk mengalihkan pembicaraan tentang Zio.
"Kita langsung pulang?" tanya Kenzo.
"Yes, Daddy!" jawab Clarice bersamaan pintu lift umum terbuka. Dimana Gilang keluar bersama seseorang yang tak di kenal Clarice.
"Hai, Uncle!" sapa Clarice, "kenapa murung?"
Tersenyum kaku, "tidak ada, girl." jawab Gilang sembari mengusap puncak kepala Clarice yang tertutup rambut hitam dan lebat.
"Uncle pulang bersama kami?"
"Tidak, Sayang! Uncle ada keperluan mendadak."
"Jadi Uncle tidak pulang ke apartemen bersama Clarice?"
__ADS_1
"Tidak, Clarice. Uncle Gilang harus kembali ke Australia malam ini." sahut Kenzo untuk menjawab pertanyaan putrinya.
"Oh, ya?" seru Clarice merasa tak percaya akan kembali berpisah dengan Paman kesayangannya.
"Sepertinya aku akan membatalkan penerbangan malam ini, Kak!" sahut Gilang sebelum Kenzo menjawab rencana sebelumnya.
"Hh!" pekik Kenzo, "why?"
"Aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan malam ini juga!" jawab Gilang sembari semua berjalan bersamaan meninggalkan lobby.
"Penting?"
"Sangat!"
"Apa itu?" selidik Kenzo merasa ada yang di sembunyikan sang adik.
Karena ia sudah curiga saat Gilang memilih untuk masuk ke dalam lift umum besama Zahra di banding lift khusus bersamanya. Tapi tidak mungkin kan, jika Gilang menyukai Zahra. Meskipun Gilang peramah, tetap saja dia bukan tipikal lelaki yang akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kenzo hafal akan hal itu.
"Aku akan bercerita jika semua sudah terjawab."
"Baiklah, terserah kamu saja!"
"Clarice, kita pulang, ya?" ajak Kenzo memasuki mobil yang sudah di siapkan Mang Heru di depan lobby.
"Okay, Daddy!" seru Clarice. "Bye, Uncle!" seru Clarice melambai pada Gilang yang masih berdiri di tangga depan lobby.
"Bye, Sayang!" balas Gilang melambaikan tangan dan menebar senyum cera untuk keponakan tiri yang sangat ia sayangi.
***
Setelah mobil Alphard yang membawa sang CEO dan putrinya menghilang dari pandangan, Gilang memilih untuk mendatangi mobilnya yang terparkir di parkiran khusus. Ia duduk di balik kemudi. Tapi sepasang matanya menatap lurus ke arah lobby. Menunggu Zahra keluar dari sana.
"Aku harus tau, siapa kalian sebenarnya!" gumamnya kemudian.
"Titania.." lirihnya mengingat nama depan yang sangat familiar.
***
Lima belas menit berlalu, akhirnya yang di tunggu muncul juga. Zahra keluar dengan berjalan seorang diri. Momen yang pas untuk Gilang menjalankan aksinya.
Ia segera menyalakan mesin mobilnya, saat melihat Zahra mulai menaiki motornya setelah memakai helm berwarna merah.
Zahra mulai melaju keluar parkiran roda dua. Mendekati pos pengamanan. Dan Gilang pun melakukan hal yang sama. Ia akan mengintai Zahra, kemanapun perempuan 28 tahun itu akan pergi.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...