Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 137 ( Sulit! )


__ADS_3

Ketika sang guru BK mengatakan jika ia bisa mengikuti ujian tengah semester ganjil di dalam ruang UKS, itu adalah kalimat yang bagaikan angin segar untuk Zuria yang saat ini sangat menginginkan kesempatan untuk bisa mengikuti ujian tengah semester.


Mengerjakan ujian sendirian di ruang UKS pun tak apa. Asal ia bisa mengikuti ujian tengah semester ganjil ini untuk menghindari kekosongan nilai. Meskipun ujian tengah semester tidak sepenting ujian semester, tetap saja tidak ada siswa yang ingin meninggalkannya dengan sengaja.


Karena jika sampai nilainya kosong, hal terberat yang harus ia lalui adalah... malu.


Selain tanpa nilai, juga karena ia pasti akan berada di peringkat terbawah dari total jumlah siswa di dalam kelasnya. Dan juga peringkat akhir dari satu tingkat yang setara dengannya, ketika di buat gabungan bersama kelas yang lainnya.


Dan itu akan membuat seluruh siswa di sekolah itu tau, jika dirinya adalah siswa terburuk di sekolah terbaik di Ibukota.


Sangat memalukan, bukan?


Dada yang semula bergemuruh, sempat lega ketika kalimat harapan itu berkumandang dari bibir sang guru BK. Namun nasib manusia memang sudah di gariskan oleh Tuhan.


Satu keluarga yang sempat merasa di bawa terbang ke atas awan, tiba-tiba saja harus jatuh bersamaan, ketika sang guru BK melanjutkan kalimatnya, yaitu ia bisa mengikuti ujian jika Clarice dan keluarganya memberi ijin dirinya untuk bisa mengikuti ujian tengah semester ganjil.


Bukan hanya serasa di jatuhkan, tapi jantung juga terasa bagai di remat sedemikian kencang oleh tangan makhluk hijau dalam sebuah film yang berasal dari Amerika Serikat yang di rilis pada tahun 2008, dengan judul The Incredible Hulk. Di mana Hulk memiliki kepalan tangan yang luar biasa besar dan kuat. Dan jika meremat jantung kecil Zuria serta keluarganya, mungkin hanya bagai meremat satu biji kacang tanah.


' Ini bukan lagi tantangan, tapi juga cobaan hidup yang teramat berat!  '


Ujar Gita dalam hati. Resah sudah hati dan pikirannya.


' Menaklukkan Adhitama Group di ruang meeting saja kala itu Afrizal sampai harus pusing melawan segala bentuk pertanyaan dan argumen yang di ajukan oleh Tuan Adhitama. Dan sekarang harus berurusan dengan anaknya, yang mana sudah pasti akan mengancam untuk mencabut sahamnya di perusahaan kami! '


' Tuhan.... tolong... '


Lirihnya menjerit di dalam hati. Jika bisa, tentu ia akan berteriak sekencang mungkin. Melepas semua rasa sesak di dalam dada akibat tidak keberuntungannya siang ini. Tapi apa daya, dirinya berada di ruangan yang membuat satu keluarganya terlihat sangat kerdil.


Sungguh ia merasa menyesal dengan memanjakan Zuria sedemikian parah. Ujung-ujungnya inilah yang ia dapat. Sang putri bertindak sesuka hati di manapun ia berada.


***


Seperti yang di ucapkan Kenzo, jika ini adalah kesempatan terbaik untuk membuat keluarga gadis sombong itu jatuh sejatuh-jatuhnya. Siapa tau dengan jatuh sedalam-dalamnya bisa membuat kepala gadis itu terbentur kenyataan hidup. Hingga membuat dirinya sadar, jika di atas langit masih ada langit.


' Sulit! aku akan membuat kalian kesulitan menyelesaikan ini! '


Desis sang CEO di dalam hati.


' Jika perlu anak kalian itu memang tidak perlu ujian kali ini! '


Lanjut sang CEO masih di dalam hati.


"Ujian di mulai hari Kamis, jika memang Tuan Kenzo memberikan izin pada Zuria untuk mengikuti ujian tengah semester kali ini, Tuan Kenzo bisa menghubungi pihak sekolah..." ucap Mr. Faiz d tengah keheningan ruang BK.


"Aku tau!" jawab Kenzo singkat tanpa niatan untuk membuat Zuria bisa mengikuti ujian.


Bahkan bagi sang CEO tidak ada belas kasihan pada penghina istri dan anaknya itu.


"Aku rasa pertemuan hari ini sudah selesai," ucap Daddy Kenzo merasa waktu yang ia gunakan untuk berada di ruangan itu sudah cukup.


"Saya menerima anak saya di skors 2 hari. Anak saya akan masuk tepat saat hari pertama ujian di mulai bukan?" tanya Kenzo yang langsung di angguki oleh sang guru BK.

__ADS_1


"Saya sadar anak saya memang salah, karena menyerang fisik lebih dulu. Meski kita semua tau, tidak akan seseorang menyerang orang lain jika tidak karena ada sesuatu yang benar-benar menyakiti perasaan." ucapnya. "Tapi tata tertib memang harus tetap di laksanakan."


Ujar Kenzo dengan menatap Afrizal yang menghindari bertatap mata dengannya saat ini. Jelas terlihat jika nyali lelaki itu sudah menciut.


"Dengan begitu boleh saya pulang sekarang?" tanya Kenzo pada sang guru.


"Boleh, Tuan..." jawab Mrs. Maria yang menatap Kenzo dan Afrizal bergantian.


Dalam hati ia bertanya, tidakkah Afrizal ingin merayu Tuan Kenzo dan Clarice untuk memaafkan dan mengizinkan sang putri untuk mengikuti ujian.


Namun saat melihat Afrizal diam saja, sang guru berfikir, mungkin Afrizal merasa lebih baik sang putri tidak ikut ujian dari pada harus berurusan dengan seorang Kenzo Adhitama yang terkenal dingin dan sangat tegas dalam mengatasi masalah. Dan satu lagi... sulit di taklukkan.


"Apakah anak saya boleh saya bawa pulang?" tanya Kenzo menoleh sang guru BK. "Saya khawatir jika anak perempuan ku satu-satunya masih di sini tanpa aku..." ucap Kenzo melirik Zuria yang masih duduk membeku di antara kedua orang tuanya. "Bisa-bisa anak ku jadi santapan binatang buas yang liar karena tidak pernah di didik dengan baik oleh pawangnya!" ujarnya berganti melirik Afrizal.


Mendengar apa yang di ucapkan Kenzo, membuat Afrizal, Gita dan juga anaknya sontak mendongak, menatap Kenzo yang sudah dalam posisi berdiri. Tentu ketiganya merasa jika mereka lah yang sedang di maksud oleh sang CEO.


"Maksud Tuan Kenzo apa ya?" tanya Gita yang merasa sangat tidak berharga siang itu. "Apa Tuan Kenzo menyindir kami?"


"Tidak ada maksud apa-apa!" jawab Kenzo menghela nafas panjang dan datar tanpa rasa bersalah apalagi takut. "Dan kalau kamu merasa aku sedang menyindir kalian, yaa... seperti yang aku katakan tadi! urusan tersindir atau tidak, itu urusan kalian!" jawab Kenzo menyeringai kejam.


Ada senyum tipis di bibirnya. Tapi sungguh bukan senyuman ramah, atau sekedar senyum datar. Melainkan satu senyuman yang setengah mengejek dan menunjukkan jika dirinya yang menang dalam kasus anak mereka ini.


"Mas..." lirih Calina y ang sesungguhnya merasa tidak enak hati dengan sikap dingin yang di tunjukkan oleh sang suami.


"Ayo, Sayang kita pulang!" ajak Kenzo pada istrinya. Dan ia juga menyentuh pundak sang putri agar segera berdiri dan beranjak dari ruangan itu.


"kami permisi, Mrs. Mr!" pamit Calina pada kedua guru putrinya.


"Baik, Nyonya...maafkan atas kekurangan kami!" ucap Mrs. Maria menunduk sedikit dan singkat.


Dan ketiganya pun meninggalkan ruangan BK dengan rasa lega. Meski berat karena menerima hukuman berupa skors. Setidaknya mereka terlepas dari ketegangan antara keluarganya dan keluarga Afrizal.


"Kalau begitu kami juga pamit, Mrs.!" ucap Jonathan. "Saya harus kembali menyelesaikan pekerjaan saya yang tadi saya tinggal secara paksa.


"Baik, Tuan Jonathan," jawab Mrs. Maria. "Maafkan kami sudah membuat Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya meninggalkan aktivitas penting sekalian..."


"Tidak masalah! urusan anak-anak bagi saya juga penting," jawab Nathan apa adanya.


"Karena bajumu tidak kotor, sebaiknya kamu kembali ke kelas, Arsen!" ucap Mr. Faiz. "Toh skors baru berlaku selasa besok."


"I know, Sir!" jawab Arsen berdiri dengan gontai.


Clarice sudah menghilang di balik pintu, latas untuk apa dia masih berada di ruangan itu. Padahal Clarice sudah pulang, tidakkah sebaiknya ia juga pulang?


Tapi sang guru justru memintanya untuk kembali ke kelas.


' Akan lebih baik jika aku cepat sampai di kelas dan bertemu singkat dengan Cla yang hendak pulang! '


Ujar sang pembalap di dalam hati.


Maka ia pun segera bangkit dari sofa, bahkan tiga detik lebih cepat dari kedua orang tuanya. Yang ada di dalam benaknya hanya satu, yaitu menghampiri Clarice yang pasti akan langsung dikerubungi oleh teman-teman di kelas.

__ADS_1


"Saya permisi, Mrs!" pamit Arsen pada sang guru BK.


"Ya!"


"Arsen ke kelas dulu, Pa! Ma!" pamit Arsen pada kedua orang tuanya.


"Iya, Boy!" jawab sang Ibu.


"Rizal, aku pulang dulu!" pamit Jonathan pada temannya.


"Ya, Nathan!" jawab Afrizal dengan lesu.


Jonathan mendekati temannya itu untuk memberi support. Menepuk pelan pundak sang teman, dan berucap...


"Sebaiknya segera bernegosiasi dengan Kenzo," ucapnya. "Kasian jika nilai raport tengah semester Zuria kosong..." lanjutnya memberi ide.


"Aku tau... tapi kamu pasti tau seperti apa watak Kenzo Adhitama."


"Ya, aku juga sering mendengar tentang itu. Tapi tidak ada yang salah dengan mencoba terlebih dahulu..." lanjut san pengusaha batu bara.


Menghela nafas berat, "Akan aku pikirkan caranya, Than" jawab Afrizal kebingungan.


"Ingat! kamu sebaiknya jangan terlalu memanjakan anak, dan juga jangan terlalu mengekang anak!" pesan sang pengusaha. "Mereka butuh perhatian dan juga butuh kebebasan. Usia anak mu sudah 17 tahun. Dekati dengan cara yang tepat!"


"Kamu benar, Than." jawab Afrizal berdiri dari duduknya. "Selama ini aku terlalu memanjakan dia..." lanjutnya menghadap Jonathan.


"Hemm... perbaiki itu.." ucap Jonathan.


"Hemm..." Afrizal mengangguk.


"Baiklah, aku pulang dulu!"


"Ya!" jawab Afrizal pasrah.


"Gita! aku pulang dulu, ya!" pamit Jonathan pada istri temannya itu.


"Iya, Jonathan!" jawab Gita.


"Duluan ya, Gita!" pamit Rania.


"Ya, Ran!"


Ya, keduanya adalah teman lama, dan Zuria baru tau jika ternyata sepasang suami istri yang sudah cukup lama ia kenal itu ternyata memiliki seorang anak laki-laki yang berusia satu tahun di bawahnya, ketika bertemu Arsen yang ia ketahui sebagai murid baru di sekolahnya berada di rumah Jonathan.


Setelah obrolan, akhirnya ia tau jika Arsen anak bungsu dari pasangan Jonathan dan Rania.


Dan sejak saat itu, ia bertekad untuk mengejar Arsen. Selain tampan, Arsen juga murni anak orang kaya. Sempurnalah ciptaan Tuhan yang satu itu di mata Zuria.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ Jeng..jeng.. kira-kira apa nih, yang akan di lakukan oleh Afrizal untuk mendapatkan ijin dari Kenzo agar putrinya bisa mengikuti ujian?

__ADS_1


See you tomorrow... 🥳


Salam, Lovallena ❤️


__ADS_2