
Hari itu telah berlalu. Di lalui Calina dengan 70% duduk di kursi tunggu ruang ICU sembari bermain ponsel. Sisanya ia gunakan untuk makan di kantin atau duduk - duduk di luar Ruang ICU.
Belum ada perkembangan baru yang bisa ia lihat dari ibu mertuanya. Semua masih tetap sama. Pun kata dua perawat yang berjaga di ruang ICU.
Calina duduk menatap wajah Mama Reni, yang tampak masih cantik di usianya yang sudah lewat setengah abad.
Dengan gen Ayah yang tampan dan pintar, juga dari Ibu yang cantik itulah, Zio lahir dengan sangat tampan dan juga pintar. Bagi Calina, begitu sempurna fisik Zio tercipta. Meski hatinya bagai batu karang yang kokoh dan dingin untuknya.
Saat menatap mata Mama Reni yang terpejam, sesekali Calina berfikir, apa yang akan ia katakan tentang Papa Raihan jika sepasang mata Mama Reni terbuka nanti?
Bagaimana jika akan salah ucap? Atau bahkan salah penjelasan.
Setiap manusia pasti akan sedih jika pasangan hidupnya tiada. Apalagi tanpa kita tau kapan pemakaman mereka berlangsung.
' Kalian adalah cinta sejati yang nyata.. Seperti Mama dan Papa... '
Lirih Calina dalam hati.
Senja telah menunjukkan dirinya. Langit sore nyaris tak lagi terlihat. Berganti dengan remang yang sebentar lagi akan menjadi gelap.
Lampu - lampu di seluruh area Rumah sakit telah menyala. Dari lampu ruang kamar, hingga lampu lorong, juga lampu - lampu di tempat parkir dan taman.
Calina masih tenang duduk sendiri. Bosan mungkin iya, tapi ini adalah pilihannya sendiri. Menjaga sang ibu mertua hingga masa cutinya berakhir.
Perut ramping Calina mulai berbunyi. Meminta untuk segera di isi agar energi tetap terjaga.
Malas rasanya harus ke kantin. Tapi siapa lagi yang akan memberinya makan, jika tidak beli sendiri di kantin.
Calina berdiri, mendekati ranjang pasien sang Mama mertua.
"Ma, Calina beli makan dulu, ya?" pamitnya. "Calina harap, saat Calina kembali Mama ada perkembangan baru." ucapnya lagi, mengusap lembut lengan Mama mertuanya. "Sekarang Mama di jaga perawat dulu."
Calina membalikkan badan ke arah pintu. Hendak keluar untuk makan malam di kantin. Namun saat ia menoleh ke arah pintu, jantungnya hampir saja melompat.
Bagaimana tidak, Zio yang ia perkirakan tidak akan datang dan mencari ketenangan bersama Naura, justru berdiri membeku di ambang pintu. Menatap lurus ke arah dirinya, dengan satu tangan yang masuk ke dalam kantong celana.
Calina ikut membeku untuk beberapa saat. Menatap Zio yang masih memakai pakaian kerja, bahkan masih memakai sepatu kerja dan dasi yang berantakan. Hanya meninggalkan jasnya saja yang entah ada di mana. Jelas terlihat, jika suaminya itu baru pulang kerja dan langsung meluncur ke Rumah Sakit di luar Ibukota.
"Kenapa kamu kesini, Mas?" tanya Calina membuyarkan lamunan Zio.
Zio mengedipkan matanya beberapa kali, sembari menoleh kanan kiri, menghilangkan gugup yang entah dari mana datangnya.
Calina mendekat saat Zio tak menjawab. Ia keluar melewati tubuh Zio yang masih berdiri di ambang pintu. Sadar, jika di ruang ICU tak boleh banyak bicara dengan orang lain.
Zio reflek mengikuti langkah Calina untuk keluar dari ruang ICU. Tanpa sadar ia mengekor di belakang Calina yang berjalan di lorong menuju kantin.
Melirik ke belakang, "Aku kira kamu akan pulang ke rumah Naura!" ucap Calina kembali menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Menarik nafas panjang, menghelanya dengan berat, "Sekarang aku hanya punya Mama. Papa sudah meninggalkan kami. Mana mungkin aku bisa meninggalkan Mama sendirian." jawab Zio terdengar cukup lemah di telinga Calina.
Sungguh nada itu terdengar tak biasa bagi Calina. Selama ini yang ia dapat dari Zio tak lebih dari kalimat datar, ketus bahkan bentakan.
"Aku tau, kamu tidak pernah menganggap aku ada, Mas! Karena itulah kamu menganggap Mama sendirian di sini." jawab Calina kecewa.
"Bukan begitu, Cal..." lirih Zio menyeimbangi langkah Calina. Menatap sendu istri keduanya itu. "Aku hanya tidak ingin melewatkan perkembangan Mama. Zhika sudah tak bersamaku, mana mungkin aku bisa tanpa Mama pula?"
Calina hanya tersenyum smirk. Dalam hati ia berharap jawaban Zio adalah ingin menemani dirinya untuk menjaga Mama Reni. Namun yang ia dapat jawaban wajar seorang anak. Yang tidak ada satu kalimat spesial pun untuk dirinya.
"Mbak, nasi rawon satu, teh hangat satu!" ucap Calina pada penjaga kantin.
"Ya, Mbak." jawab wanita paruh baya yang berjaga di kantin.
"Saya juga sama, Mbak!" sahut Zio yang ternyata masih mengekor di belakang Calina.
"Ya, Mas!" jawab penjual lagi.
Calina duduk di kursi salah satu meja yang kosong. Tak di sangka lagi Zio terus mengikuti Calina. Duduk tepat di depan Calina. Menghadap Calina yang semakin bingung dengan suaminya itu.
"Kamu belum makan?" tanya Calina datar.
Zio menggelengkan kepalanya pelan.
"Naura tidak membawakan kamu bekal?"
"Kenapa?"
"Rasanya aku tidak tenang jika aku makan, sementara Mama terbaring di sana tanpa ada anak di dekatnya."
Lagi - lagi jawaban Zio membuat Calina merasa garing.
"Kalau begitu makanlah!" ucap Calina sedikit ketus. Bersamaan dengan pesanan mereka yang datang.
"Hemm.." jawab Zio datar. Seolah tak peka dengan nada ketus Calina.
Selama makan, tak ada lagi yang di obrolkan Calina. Ia kini justru merasa bosan. Makan satu meja, berdua dengan Zio tanpa paksaan adalah mimpinya selama ini.
Namun saat itu menjadi nyata, ia justru merasa bosan. Tidak terlihat sumringah atau bahagia. Ia bahkan terkesan cuek akan keberadaan suaminya.
"Kalau kamu lelah, di dekat Rumah Sakit ada penginapan. Kamu bisa tidur di sana, biar aku yang menjaga Mama." ucap Zio pada Calina.
"Tidak perlu, aku bisa tidur di sini seperti biasa."
"Tapi ini sudah hari ketiga kamu tidur di sini." ucap Zio. "Pergilah! Jangan buat dirimu lelah karena merawat Mama."
"Aku tidak keberatan," jawab Calina. "Aku justru senang bisa menjaga Mama Reni saat beliau sakit."
__ADS_1
"Kamu tidak takut sakit, karena terlalu lelah di disini?"
"Memangnya aku pernah sakit?" tanya balik Calina.
Zio mengalihkan pandang, ia sama sekali tak tau tentang Calina selama ini. Gadis itu sakit atau sehat, yang ia tau gadis itu selalu baik - baik saja. Setiap hari masih menawarkan hasil masakannya.
Dengan sungkan, Zio mengangkat kedua pundaknya. Menjawab tidak tau pada pertanyaan Calina yang sulit untuk di jawab.
Calina tersenyum smirk. Bukan tidak pernah sakit. Manusia mana yang tidak pernah sakit? Hanya saja Calina tidak pernah mengeluh. Apalagi pada Zio. Mana mungkin.
"Aku harus kembali melihat Mama," ucap Calina. "Besok kamu harus bekerja kan, Mas? Lebih baik kamu istirahat."
"Aku ingin di sini!"
"Kamu bisa pulang ke rumah Naura. Biar aku yang menjaga Mama!" sahut Calina beranjak dari duduknya.
Zio tak menjawab, namun ia justru terus mengikuti langkah Calina setelah membayar makanan mereka.
***
Duduk berdua di kursi tunggu di luar ruang ICU, membuat keduanya terlihat sangat canggung bahkan terlihat seperti bukan suami istri. Bagaimana tidak, itu adalah momen pertama keduanya duduk berdua tanpa siapa pun di antara mereka. Di tambah langit yang semakin gelap, dingin yang semakin menusuk tulang.
Calina berpura sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melihat jendela kaca, dimana ada sang mertua berbaring tak berdaya di dalam sana.
Sementara Zio pun reflek mengikuti cara Calina menghilangkan kegugupan. Bermain ponsel, dan berulang kali menengok ibunya. Sesekali ia masuk untuk melihat ibunya lebih dekat. Lalu kembali keluar dna duduk di samping Calina.
Malam semakin larut, di lalui oleh keduanya tanpa obrolan. Hanya diam, atau terkadang saling lirik kemudian saling membuang pandang saat tanpa sengaja sorot mata bertemu.
"Kamu tidak ngantuk?" tanya Zio pada Calina.
"Aku akan tidur di sana!" Calina beranjak dan mendekati kursi panjang di sebrang. Lalu berbaring dengan menjadikan jaketnya sebagai bantal.
Tanpa berkata apapun lagi, Calina memejamkan matanya. Menghilangkan kecanggungan karena naluri berkata, Zio sering menatap dirinya.
Zio sendiri memang sesekali menatap Calina. Melihat wajah lelah Calina yang tertidur pulas.
' Kenapa dia rela mengambil cuti panjang untuk menjaga Mama? Bukankah ini Mama ku? '
Batin Zio mulai beradu dengan pertanyaan - pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
' Padahal jika itu Mama Shinta, belum tentu aku mau menjaganya! '
Lanjut Zio melamun. Pikirannya mulai acak adul.
' Sebelumnya aku menganggap dirimu adalah musibah. Yang datang tanpa ku inginkan.. Tapi kenapa kamu begitu tulus pada Papa dan Mamaku? Bahkan pada Zhika! '
Zio terus menatap mata Calina yang terlelap dengan tatapan pilu. Tidur di kursi saat malam, hanya dengan kaos oblong lengan panjang. Tanpa jaket, karena jaketnya ia gunakan untuk bantal.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...