
Makan malam di apartemen kenzo, selalu menjadi momen berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Termasuk Mama Shinta yang memang belum di perbolehkan Kenzo untuk pulang ke kampung halamannya.
Dan di momen makan malam itulah, sering terjadi obrolan singkat maupun panjang, saat semua santapan di piring masing - masing sudah berpindah ke perut.
"Nak Kenzo...?" panggil Mama Shinta pada menantunya. Saat dua bocah lucu sudah pergi dari meja makan.
"Ya, Ma?" Kenzo menoleh Mama Shinta setelah mengusap mulutnya dengan tisu.
"Tadi siang ada seorang perempuan yang datang mencari kamu..." ucap Mama Shinta sedikit ragu. Namun ini penting untuk di sampaikan kepada sang menantu, di depan putrinya.
Sontak Kenzo dan Calina saling beradu pandang. Seolah sama - sama bertanya, siapa?
"Perempuan? Siapa, Ma?" tanya Kenzo yang memang tidak tau jika akan ada tamu yang datang.
"Mama juga tidak tau, Nak... Rambutnya pirang, bergelombang sampai melebihi bahu. Dari penampilannya, sepertinya dia terlihat sangat trendy... Menggunakan rok jeans mini, sweater lengan panjang. Dan dia... cantik.." lirih Mama Shinta sedikit resah.
Sebagai seorang Ibu yang anaknya pernah gagal dalam berumah tangga karena suaminya mencintai wanita lain, tentu takut jika posisi sang putri akan kembali tergeser oleh wanita lain. Mengingat Kenzo dan Calina berasal dari keluarga yang sangat jauh berbeda dari segi finansial.
"Mama tidak tanya namanya?"
"Mama lupa tidak tanya, Nak Kenzo... Dia cukup ramah, hanya saja bajunya terlalu terbuka menurut Mama."
"Apa mungkin...." Kenzo dan Calina saling lirik satu sama lain dan sama - sama menggumamkan pertanyaan yang sama.
"Coba nanti Nak Kenzo cek di CCTV, ya?" pinta Mama Shinta. "Dia datang sekitar jam satu siang..."
"Baik, Ma!" jawab Kenzo menatap lembut Ibu mertuanya.
Tentulah ia merasa tak enak hati, jika sampai ada wanita yang mencari dirinya ke apartemen.
Sedangkan Mama Shinta menatap lirih pada putrinya. Dalam hati sang Ibu berdo'a, semoga putrinya tetap seperti sekarang. Hidup berbahagia dengan suami dan anak - anaknya. Tanpa ada gangguan dari wanita lain.
Kehidupan yang melelahkan di dalam sebuah ikatan Rumah Tangga sudah pernah di jalani sang anak. Jangan sampai terulang kembali saat semua di rasa sudah damai.
Makan malam berakhir dengan Calina dan Kenzo yang masuk ke dalam ruang kerja sang suami. Di sana letak monitor CCTV berada. Berdua masuk ke dalam ruangan itu, mereka langsung mengulang rekaman CCTV yang ada di bagian pintu dan ruang tamu.
"Kita cek di bagian depan pintu saja dulu, Sayang!" ucap Kenzo memundurkan rekaman sesuai arahan Ibu mertuanya.
"Ya, Mas. Coba di jam setengah satu saja dulu."
"Hemm.." jawab Kenzo mengangguk sambil menekan garis waktu.
Berbagi kursi kerja yang hanya satu, Calina duduk di pangkuan suaminya. Ya, tubuh rampingnya tidak akan membuat sang suami yang berpawakan bule kelelahan. Justru dengan kedekatan itu, mereka lebih terlihat romantis dan harmonis, bukan?
Tangan Calina bergerak untuk mempercepat waktu. Dan benar saja, lift terbuka di jam 12.56 WIB. Dan seorang wanita membawa paper bag dan sebuah tas yang menggantung di pundak sebelah kiri berjalan ke arah pintu apartemennya.
Gestur tentang siapa wanita itu masih buram. Tapi berpakaian persis seperti yang di ceritakan Mama Shinta. Dan itu membuat Kenzo juga Calina saling melihat satu sama lain.
"Siapa dia, Mas?" tanya Calina yang merasa tidak mengenali gestur wanita itu.
"Entahlah, Sayang... tunggu sampai mendekati CCTV."
Dan sampailah wanita itu di pintu apartemen Kenzo. Dan di situlah, suami istri itu dapat melihat siapa wanita yang datang ke apartemen mereka.
"Janne?" gumam Kenzo menatap layar monitor dengan dahi berkerut.
"Itu benar Janne, Mas!" sahut Calina dengan detak jantung yang mulai meningkat.
"Iya, Sayang!"
"Aku sedikit lupa wajahnya.."
"Aku rasa memang ada yang di rubah di bagian wajah."
"Oh! pantas saja!" cibir Calina dengan bibir sedikit mengerucut.
Kenzo melirik wajah Calina yang seketika berubah cemberut. Dan itu membuat Kenzo terkekeh tanpa suara. Ia mengulum senyuman melihat sang istri jelas kesal Janne kembali muncul di permukaan.
Kenzo melingkarkan penuh tangan kirinya untuk memeluk perut Calina. Ia tempelkan pipi kirinya pada lengan kanan Calina. Seolah berkata semua akan baik - baik saja. Dan sang istri akan selalu menjadi pemenang hatinya.
"Kenapa cemberut?" tanya Kenzo tanpa melihat ekspresi sang istri. Ia ikut menatap monitor, namun dengan posisi yang tidak berubah.
"Cemberut? siapa yang cemberut?" elak Calina.
__ADS_1
"Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk aku bisa mengenali dirimu, Sayang!" Kenzo melirik ke atas. melihat wajah cantik yang sedang salah tingkah.
"Apaan sih!" Calina menyenggol pipi Kenzo agar berhenti meliriknya dengan cara seperti itu.
"Hahaha," gelak Kenzo lirih. "Cemburu yaaa?" goda Kenzo mencubit gemas pipi sang istri.
Calina tak dapat menjawab godaan Kenzo. Dalam hati tentu saja ia cemburu, tapi mengakui ia sedang cemburu juga sangat malu.
Tapi seorang suami pasti senang kalau melihat istrinya cemburu. Yang artinya masih ada cinta yang tak ternilai harganya di dalam hati sang wanita.
"AKu cemburu kalau kamu menanggapi dia lebih dari orang normal!" ketus Calina tanpa melihat suaminya.
Jawaban terbaik untuk menutupi rasa cemburunya yang sudah naik ke ubun - ubun. Empat tahun menikah, hidup sudah terasa damai dan tenang tanpa kemunculan Janne lagi. Lalu sekarang tiba - tiba muncul begitu saja. Tentu saja seorang istri pasti cemburu.
Apalagi jika melihat hubungan keduanya di masa lalu. Meskipun bukan hubungan cinta, tapi persahabatan yang erat, dan saling mengenal satu sama lain melebihi orang lain lagi, sudah cukup membuat seorang istri cemburu.
Apalagi sebelum ini, ia melihat sendiri jika Kenzo sampai menunggui Janne di Rumah Sakit luar kota saat wanita itu sakit parah yang di akibatkan menolong Kenzo pada suatu masa.
"Hahaha!" gelak Kenzo semakin gemas dengan nada bicara sang istri. Dan di akhiri dengan mencium pipi sang istri dengan gemas hingga pipi terdorong dalam.
"By the way... sejak kapan dia kembali ke Indonesia?" gumam Kenzo kembali mengajak sang istri untuk fokus pada monitor.
"Dia tidak pernah kembali sejak ke Amerika waktu itu?" tanya Calina menatap tegang pada suaminya.
"Entahlah, Sayang... sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Terakhir Venom bilang, kalau Janne memutuskan untuk menetap di Amerika meskipun saat itu ia sudah dinyatakan sembuh."
"Coba dengar percakapannya dengan Mama, Mas!" pinta Calina.
"Hem..." Kenzo mengangguk dan langsung menambah volume.
Kenzo mengulang rekaman saat wanita itu menekan tombol bel apartemennya, dan ia sandingkan dengan CCTV yang ada di ruang tamu. Dan tidak lama kemudian Mama Shinta terlihat berjalan di ruang tamu untuk membuka pintu.
"Ya? ada yang bisa saya bantu?" tanya Mama Shinta, dengan tatapan yang penuh tanda tanya pada wanita yang di katakan Mama Shinta cantik itu.
"Selamat siang...." sapa Janne tersenyum ramah.
"Iya, siang..." jawab Mama Shinta tampak ringkuh dengan wanita di depannya itu. Tatapan Mama Shinta teralihkan oleh rok jeans mini nan ketat yang di pakai sang wanita. Yang mana seumur - umur ia selalu melarang putrinya memakai rok semacam itu.
"Kenzo nya ada?" tanyanya dengan sangat santai.
Tentu saja supaya wanita itu tau, jika Kenzo sudah menikah dan memiliki seorang istri juga anak - anak. Bukan perjaka lagi maupun Duda. Setidaknya agar wanita di depannya itu tau batasan yang tidak boleh di lewati saat berhadapan dengan suami orang.
"Oh.." Janne tampak mengangguk paham. Meski wajahnya memperlihatkan kekecewaan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Emm... kalau boleh tau Bibi ini siapa?" tanya Janne dengan ekspresi yang sebenarnya mengira Mama Shinta adalah pembantu di apartemen Kenzo.
Menarik nafas panjang. Sedikit banyak tentu lah Mama Shinta paham arti dari tatapan wanita yang sama sekali tak ia kenal itu.
"Saya Mama nya Calina. Ibu mertua Nak Kenzo!" jawab Mama Shinta dengan nada sedikit ketus. Tentu saja ia kesal di tatap dengan tatapan yang seolah merendahkan dirinya.
"Ups!" pekik Janne menutup mulutnya menggunakan satu tangannya. "Maaf, Aunty! saya benar - benar tidak mengenali Ibu mertua Kenzo. Dan sepertinya kita tidak pernah bertemu?" tanya Janne dengan sedikit kikuk.
"Ya, anda benar! kita memang tidak pernah bertemu." ketus Mama Shinta.
"Maafkan saya ya, Aunty. Karena waktu Kenzo menikah, saya sudah tidak di Indonesia." ucap Janne dengan lembut.
"Hemm." Mama Shinta menjawab dengan datar.
Suasana di rasa membeku untuk sesat. Apalagi Mama Shinta tidak menawarkan tamu untuk masuk ke dalam apartemen. Tentu saja, mana mungkin Mama Shinta memberikan ruang pada wanita lain yang sedang mencari suami putrinya.
Dan karena itulah, Janne memilih untuk pamit.
"Saya pulang dulu ya, Aunty. Kapan - kapan saya akan berkunjung lagi, kalau Kenzo dan istrinya ada di rumah." pamit Janne tersenyum ramah.
"Ya, baiklah." jawab Mama Shinta sembari mengangguk datar.
Janne pun mundur satu langkah, kemudian mengangguk hormat, dan langsung menghadap kanan kemudian menjauh dari pintu apartemen Kenzo. Melangkahkan kaki menuju lift yang ada di sisi kanannya dengan perasaan yang campur aduk, tentu saja.
Sementara Mama Shinta masih terlihat memandangi Janne dengan tatapan yang tak biasa. Sampai wanita 34 tahun itu menekan tombol lift. Dan barulah Mama Shinta kembali masuk ke dalam apartemen.
Kenzo dan Calina kembali saling tatap. Jika di lihat, sebenarnya Janne juga bukanlah orang yang jahat. Mungkin hanya pakaiannya saja yang terbuka. Dan di mata sebagian para orang tua, itu terlihat tidak sopan. Apalagi mendatangi apartemen laki - laki yang sudah beristri.
__ADS_1
"Menurut kamu, untuk apa Janne mencari kamu, Mas?" tanya Calina sedikit menyelidik.
"Mana aku tau, Sayang!" jawab Kenzo seadanya. "Kalau dia di sini, mungkin aku bisa tanya, mau apa mencari ku? Rindu kah? bawakan aku oleh - oleh dari Amerika, kah? atau bagaimana?" goda Kenzo sengaja mematik rasa cemburu sang istri.
Seketika Calina menoleh dan melirik ke sisi kanan. Menatap tajam wajah suaminya yang seperti tiada dosa sudah berucap seperti itu. Maka ia pun memiringkan badannya, dan menerjang wajah suaminya menggunakan kedua tangannya. Ia dorong kedua rahang Kenzo hingga menempel sempurna pada sandaran kursi kerja.
Kenzo reflek mengunci tubuh istrinya agar tidak sampai jatuh dari pangkuannya sambil menahan gelak tawa di bibirnya yang tertutup rapat akibat tekanan dua ibu jari Calina di bawah dagu.
Jarak wajah keduanya sangat dekat. Kenzo dapat melihat wajah Calina yang merah padam, dengan bibir yang mengerucut total.
"Kamu berharap di rindukan oleh wanita lain, ha?" sarkas Calina dengan sedikit tertahan, karena taut di dengar oleh Ibunya.
Ia tatap kedua mata Kenzo dengan sorot mata yang tajam. Meski begitu dapat di lihat jika tatapan itu adalah bentuk cemburu karena kalimat sang suami yang sengaja menggodanya.
Sudah menyimpan cemburu, di tambah kalimat suaminya yang menyebalkan. Tentulah Calina benar - benar seperti di guyur air kocahan.
"Bercanda, Sayaang..." jawab Kenzo sedikit tidak jelas, karena mulutnya yang masih terkunci rapat oleh tangan Calina.
"Kalau sampai kamu berani macam - macam dengan wanita itu atau wanita manapun! ingat! aku pernah pergi diam - diam dari laki - laki yang statusnya juga suamiku, sampai dia pusing dan hampir gila! kamu mau gila, Mas?" tanya Calina dengan gigi yang mengerat dan kilatan api emosi yang tertahan. "Aku bisa dengan mudah membuat kamu ikut bergabung dengan adiknya Mas Zio di Rumah Sakit Jiwa!" ancam Calina dengan geram.
Meskipun entah itu benar bisa ia lakukan atau tidak. Yang jelas kalimat yang terucap secara spontan adalah kalimat yang keluar dari bibir seseorang tanpa melalui proses filter ataupun timbangan.
"Hkshkskhks!" Kenzo cekikikan tanpa bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Baru kali ini Calina terlihat cemburu dan menganiaya dirinya di kursi kerjanya. Dan itu membuat Sang CEO semakin gemas dengan istrinya.
"Ampun, Sayaang..." ucap Kenzo dengan nada yang memelas, namun ada kekehan pula di dalamnya. "Jangan tinggalkan aku..." ucap Kenzo dengan pengucapan yang tidak sempurna, namun kalimat itu begitu tulus di ucapkan oleh Kenzo.
Calina melepas kasar tangannya yang mengunci kepala Kenzo pada sandaran. Ia buang nafasnya sekasar mungkin. Masih dengan posisi yang sama, Calina kembali menghembuskan nafas kasar dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.
"Hahahahaha!" kali ini Kenzo mengeluarkan semua rasa ingin tertawanya dengan lantang. Dimana istrinya yang biasanya lembut, kini terlihat semakin cantik dan menggemaskan. Membuat dirinya ingin....
Yaaa.. begiitulah!
"Sayang, kenapa kmu jadi menggemaskan! bagaimana kalau kita...." Kenzo menatap nakal pada sang istri yang nafasnya masih naik turun. Ia kerlingkan sebelah mata, sembari tangan yang merayap di punggung sang wanita.
"Tidak akan!" jawab Calina cepat. "Aku mau tau dulu, kenapa Janne kembali tiba - tiba muncul mencari kamu dengan rok sedemikian pendek!" dengkusnya.
"Mana aku tau, Sayaang... bukankah Janne sejak dulu seperti itu?" tanya Kenzo. "Dia memang suka berpakaian seperti itu. Sudah fashion nya dia."
Calina melilitkan kedua tangan di bawah dada. Mengingat kembali saat dulu Janne menemuinya di taman apartemen saat ia tengah mengajak Clarice jalan - jalan di area taman.
Flashback On . . .
Calina duduk di kursi taman apartemen, bersama Clarice yang ada di dalam stroller. Calina menimang dengan gemas pada anaknya yang saat itu masih berusia 8 bulan.
Tiba - tiba di sampingnya duduk seorang perempuan yang berusia sedikit di atasnya, Menggunakan rok mini line A yang berbaris. Kemudian atasan berupa kaos putih lengan pendek dengan model crop, dan bagian leher terbuka lebih lebar dari normalnya sebuah kaos.
Di pundaknya menyilang sebuah tas kecil berwarna pink muda bertuliskan huruf H. Meski Calina tidak pernah mempunyai barang - barang macam itu, tapi bukan berarti ia tak bisa membedakan mana asli dan palsu.
Awalnya Calina pikir orang - orang yang juga sedang menikmati udara pagi di taman. Karena tidak kebagian tempat duduk, jadi duduk di sampingnya. Yang mana kursi itu hanya muat untuk dua orang saja.
"Anak kamu lucu, ya?" ucap perempuan itu tiba - tiba.
Calina melihat kanan kiri, tak ada bayi lagi selain Clarice di sekitarnya. Dan saat ia melihat kanan kiri, ia baru sadar jika banyak kursi kosong di mana - mana. Lalu kenapa gadis itu memilih untuk duduk bersamanya yang notabenenya nya tidak saling mengenal.
"Maksud mbak, anak saya?" tanya Calina.
"Iya!" jawabnya tersenyum tipis.
"Oh, terima kasih, Mbak" ucap Calina juga tersenyum menatap sekilas wajah cantik tanpa celah itu.
"Jangan panggil Mbak. Aku jadi terkesan tua!" kikiknya. "Kamu Calina, kan?"
Sontak Calina yang masih tersenyum menoleh dan menamatkan pandangannya pada perempuan di sampingnya.
"Kamu mengenal saya?" tanya Calina menatap lekat wajah cantik yang tak ia kenali.
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Calina untuk berjabat tangan. Dan Calina pun dengan senang hati menyambutnya.
"Aku Janne.." ucap gadis itu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
✍️ Kira - kira obrolan apa yang di bahas antara Janne dan Calina di masa itu?
__ADS_1
Tunggu next episode, yaaa...
Salam, Lovallena ❤️