
Waktu terus berjalan... detik demi detik di lalui dengan keluarga inti Adhitama yang mengobrol santai di sisi Ballroom untuk mengakrabkan diri dan saling mengenal satu sama lain. terutama untuk Kayla yang merupakan anggota baru keluarga Adhitama, meskipun belum resmi.
Begitu juga Zio dan Zahra dan kini sudah di anggap sebagai anggota keluarga oleh Kenzo dan Gilang. Asal selama di kantor tetap bersikap sopan.
Duduk di sofa melingkar yang di siapkan di belakang podium, membuat mereka terlihat jauh lebih cepat akrab. Canda tawa juga obrolan serius tercipta di antara mereka.
"Baiklah, sebaiknya kita kembali pulang..." ucap Papa Adhitama mengakhiri sesi obrolan mereka.
"Ya, kami juga harus pulang. Anak - anak juga pasti sudah lelah..." sahut Kenzo melirik anak - anak yang asyik bermain di area playground yang di sediakan oleh EO.
"Baiklah, kami juga sudah lelah..." sahut Zio melirik Zahra yang duduk di sampingnya.
"Kalau kalian sih bukannya lelah, tapi karena ingin cepat - cepat masuk ke kamar kalian!" seloroh Gilang yang duduk di samping Kayla.
"Hahahaha!" sontak semua tergelak dengan celetukan Gilang yang 99% sudah di pastikan benar. Namanya juga pengantin baru.
Jika wajah Zahra memerah karena malu di goda sedemikian terang - terangan oleh Gilang. Maka beda dengan Zio yang justru terlihat sangat antusias dengan celetukan Gilang.
Ya, meskipun bukan pernikahan pertama, tapi berhubungan dengan orang yang baru pasti akan terasa berbeda pula, bukan?
"Ah! sepertinya kalian juga harus cepat - cepat menyusul!" sahut Zio mengangkat kedua alisnya beberapa kali pada Gilang dan Kayla. "Biar tau rasanya ada yang menemani di ats ranjang ketika malam - malam yang panjang itu datang..." celetuk Zio.
Gilang menyebikkan bibirnya, "Kalian tau apa? setiap hari kami berada di bawah atap yang sama!" celetuk Gilang begitu saja. "Kalian tidka tau juga, kan? apa yang mungkin kami lakukan?"
"Gilang!!!" seru Kayla.
Jika Gilang terdengar sangat enteng mengucapkan kalimat itu, tentu berbeda dengan Kayla yang langsung reflek memukul kencang lengan Gilang.
Bagaimana tidak kesal, sedikit banyak Kayla paham apa yang di bicarakan Zio dan Gilang meski ia belum pernah menikah. Tapi merasa tidak pernah melakukan hal itu dengan Gilang, kemudian Gilang berucap sedemikian enteng di hadapan banyak orang, tentu membuat Kayla risih dan malu.
Apalagi juga ada Kakak laki laki dan Kakak iparnya yang ikut bergabung di sana.
Budaya Indonesia, sebagai seorang perempuan baik - baik, tentu malu jika melakukan hal semacam itu sebelum menikah. Dan secara tidak langsung apa yang di ucapkan Gilang benar - benar membuat malu Kayla, karena merasa diri menjadi begitu rendah, jika bisa dengan mudah di tiduri oleh laki - laki.
Terlepas dari peristiwa naas yang di alami Kayla di usia remaja, Kayla sebenarnya adalah gadis yang baik dan penurut. Harga diri adalah yang utama. Karena itulah, Kayla memilih untuk pura - pura gila dari pada harus berhadapan dengan laki - laki brengsek lagi.
"Bercanda, Sayang..." Gilang tergelak dengan mentoel dagu Kayla dan disertai cekikikan.
"Bercanda tidak seperti itu!" dengkus Kayla memukul paha Gilang dengan kesal dan gemas.
"Jangan - jangan saat di Aussie kamu senakal itu, Gilang!" celetuk Mama Nuritha.
Meski sudah terbiasa tinggal di luar negeri, tak membuat Mama Nuritha membebaskan anak - anaknya untuk mengikuti gaya hidup di sana. Meskipun tidak akan ada polisi yang menggerebek mereka yang bercinta di hotel atas dasar suka sama suka. tetap saja Mama Nuritha tidak suka hal itu di lakukan oleh anak - anaknya.
"Eiittzzz! Mama jangan salah ya! dan jangan buat Kayla berfikir ulang tentang Gilang." protes Gilang tidak terima dengan tuduhan sang Mama. Tentu ia takut jika Kayla kemudian menanyakan hal semacam itu, lalu hubungan mereka berakhir dengan kisah sedih.
"Meski pun setiap hari banyak yang menggoda Gilang, Gilang tetap menjaga diri Gilang untuk tidak merendahkan mereka dengan hanya menjadikan mereka sebagai pelampiasan." jawab Gilang apa adanya. "Karena yang Gilang cintai sejak dulu adalah Kayla.
Tanpa ada yang menyadari, senyum kecil dan samar terbit dari bibir sang calon istri. Ia tau, meski Gilang lelaki normal dan keluar masuk negeri, Gilang termasuk lelaki yang jujur dan apa adanya.
"Yakin lo?" sahut Kenzo Melirik nakal pada Gilang yang langsung Memicingkan mata pada sang Kakak. "Kemarin Venom bilang kamu mengangkat panggilan telepon dari luar negeri sampai harus meninggalkan ruangan," lanjut Kenzo semakin membuat ricuh suasana hati sang adik. "Kalau bukan panggilan pribadi yang begitu private, untuk apa menjauh?"
Kayla langsung menoleh pada Gilang di sampingnya, meski ia tidak semudah itu percaya dengan ucapan Kenzo. Tetap saja Kayla harus tau ekspresi Gilang.
"Jangan mancing - mancing deh!" ujar Gilang balas memicingkan matanya pada Kenzo. Meskipun Gilang tidak melihat pada Kayla, ia tetap tau jika Kayla tengah menoleh dan melihat padanya seolah mencari kejelasan dari kalimat Kenzo yang menyebalkan itu.
"Aku juga seorang CEO sama seperti kamu, Kak! jadi aku juga sibuk dan banyak urusan di luar sana! apalagi aku sedang ada di sini! pastilah aku harus memastikan di sana tetap berjalan sesuai seharusnya."
"Yakin urusan pekerjaan?"
"Kak! please, ya!" sahut Gilang menatap tajam dan gemas pada sang Kakak yang terus saja merecoki
"Kenapa?" tanya Kenzo tanpa rasa bersalah. "Aku hanya berucap apa adanya..." jawab Kenzo dengan entengnya.
Sementara semua yang ada di ruangan sana tergelak dengan perdebatan Kenzo dan Gilang yang memang sudah sering terjadi sejak kecil. Hanya saja baru sekarang terlihat oleh orang - orang baru.
"Aku juga melihat kamu bertemu Janne di lobby apartemen!" ucap Gilang tersenyum culas. "Tanpa ada Calina sama kamu...." ujar Gilang seolah menemukan ide untuk membalas ejekan sang Kakak. Ia pun tersenyum penuh kemenangan. "Tuh, Cal! dia ketemu sama sahabat rasa... entahlah! wekkk!" ejek Gilang menjulurkan lidahnya.
Gilang merasa sudah di atas angin karena berhasil membuat Kenzo mati kutu. Tapi...
Kenzo meraih tangan Calina yang ada di atas pangkuannya, kemudian mengusap lembut dan mengecup buku - buku jemari lentik yang tersemat sebuah cincin pernikahan bertahtakan berlian itu. Wajah Calina terlihat biasa saja dengan apa yang baru saja di tuturkan oleh Gilang. Dan itu membuat semua orang mengerenyitkan kening mereka.
Tersenyum miring,"Katakan, Sayang... kenapa aku menemui Janne di lobby apartemen..." ucap Kenzo tanpa melihat satu orang pun yang ada di sana, justru ia bersandar pada pundak sang istri dengan manja.
"Ya! Mas Kenzo aku suruh untuk menemui Janne karena kaca mata Janne tertinggal di apartemen!" jawab Calina datar.
"Hah!" pekik Gilang dan Papa Adhitama juga Mama Nuritha.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kaca mata Janne tertinggal di apartemen kalian? memangnya dia menemui kalian?" tanya Gilang tak percaya.
"Iya! dia datang untuk memberikan hadiah pada Clarice dan Galen!" jawab Calina datar dan biasa saja. "Dan hadiah yang dia berikan itu adalah baju yang cantik dan di rancang khusus oleh Janne. Ya... meskipun masih sedikit kebesaran karena memang di buat tanpa di ukur terlebih dahulu. Tapi itu lebih baik dari pada kekecilan, bukan?"
"Kamu tidak cemburu?" tanya Gilang pada iparnya.
"Kenapa cemburu?" tanya Calina. "Kami sudah berdamai sejak lama. Jadi untuk apa cemburu?" tanya Calina santai.
"Wah! hebat juga!" seru Gilang.
"Jadi kalian sudah benar - benar berdamai?" tanya Mama Nuritha.
"Iya, Ma..." jawab Calina mengangguk pelan.
Jika Mama Nuritha yang bertanya, Calina selalu teringat bagaimana mertuanya itu sangat menginginkan Janne untuk menjadi menantunya, dan bukan dirinya. Namun semua itu adalah masa lalu. Karena hubungannya dengan Mama Nuritha kini sudah membaik dan semakin baik.
Terbukti dengan Mama Nuritha yang bersedia menerima Kayla yang di perkenalkan Calina secara diam - diam.
"Baguslah, Papa senang mendengarnya..." sahut Papa Adhitama.
Sementara itu Kenzo menatap Gilang dengan tatapan penuh kemenangan. Merasa dirinya tidak perlu untuk di curigai. Karena semua yang ia lakukan dengan lawan jenis memang sudah atas ijin sang istri.
Toh Kenzo Adhitama tidak memiliki catatan buruk dengan seorang gadis manapun. Termasuk Janne sekalipun. Karena gadis itu murni ia anggap sebagai sahabat.
***
Setelah saling berpamitan untuk pulang maupun ke hotel bagi yang menginap, maka kini semua sudah dalam perjalanan pada tujuan masing - masing.
Zio dan Zahra memasuki kamar pengantin yang sudah di siapkan di hotel itu. Sebuah kamar dengan kelas Diamond class room, dengan ranjang berukuran king size, di sulap oleh pihak hotel menjadi kamar pengantin yang di penuhi bunga - bunga di bagian atas tempat tidur. Juga di bagian bathub yang ada di kamar mandi.
Semua sudah di persiapkan secara khusus untuk menyambut sang pengantin baru, meski bukan pertama kalinya bagi mereka untuk menjadi pengantin.
Seperti pada umunya, maka tugas Zio sebagai mempelai laki - laki setelah memasuki kamar pengantin untuk pertama kali adalah melepas baju dan segala aksesoris yang melekat di tubuh sang mempelai wanita.
Seperti yang di jelaskan di awal tadi, bukan kali pertama ia melihat kulit putih mulus seorang wanita tanpa sehelai kain pun di depan mata, tapi dengan orang yang berbeda jelas rasanya juga akan berbeda, bukan?
Sedikit banyak itulah yang di pikirkan dan di rasakan oleh Zio saat ini. Hingga pria 34 tahun itu setengah mati menahan rasa gugup yang menyeruak di dalam dada.
Pertama - tama Zio melepas aksesoris yang menempel di rambut sang wanita yang duduk di depan meja rias, menghadap cermin berukuran besar yang membuat wanita itu bisa melihat betapa gugup sang suami.
"Sayang... apa kamu sudah ikhlas jika aku melihat tubuhmu?" tanya Zio yang tak ingin sepihak melihat tubuh yang sudah pasti masih molek meski sudah pernah melahirkan seorang anak itu.
"Zahra ikhlas, Mas... Zahra ikhlas membiarkan kamu melihat ataupun melakukan apapun pada tubuh Zahra. Asal itu bukan bentuk kekerasan, maupun pelecehan." jawab Zahra menatap wajah Zio yang menunduk karena kini melepas anting yang melekat di telinga Zahra. Sedikit sulit memang, karena memang bukan sembarang anting yang melekat di telinga pengantin wanita.
"Terima kasih, Sayang..." jawab Zio kini menatap wajah Zahra yang masih di penuhi make up dari pantulan cermin yang ada di atas meja. "Aku berjanji tidak akan pernah melakukan kekerasan. Aku bukan laki - laki yang suka melakukan KDRT. Tanyakan saja pada Calina kalau tidak percaya."
"Meski di awal - awal pernikahan aku tidak menyukainya, bahkan nyaris membencinya, aku tidak pernah dengan sengaja melukainya. Aku hanya pernah sekali menamparnya karena saking kesalnya hingga hilang kendali. Tapi setelah itu aku langsung merasa bersalah, dan berjanji tidak akan melakukan hal yang sama." ucap Zio memperkenalkan diri lebih jauh dengan wajah yang memang terlihat menyesal.
"Aku percaya sama kamu, Mas... aku yakin kamu bisa berubah."
"Terima kasih, Sayang..." lirih Zio sembari mengecup puncak kepala sang wanita.
***
Sedangkan di sisi lain, ada Kenzo dan Calina yang baru sampai di gedung apartemen mereka. Mereka datang beramai - ramai, sehingga kembali juga beramai - ramai.
Ada Kenzo, Calina, Mama Shinta, dua anak Calina dan seorang baby sitter untuk Baby Galen yang super aktif.
Saat keluar dari lift secara bersamaan, mereka semua di kagetkan dengan seorang wanita yang berdiri di depan pintu apartemen Kenzo. Tubuh sintal di balut baju yang khas anak muda di luaran sana melekat di tubuh seksi itu.
"Janne?" pekik Kenzo dan di ikuti oleh Calina.
"Hai..." sapa Janne yang entah suah berapa lama berdiri di depan pintu itu. "Hai Clarice, hai Galen..." sapa Janne pada dua anak Kenzo yang ia anggap seperti keponakannya sendiri.
"Hai, Aunty Janne!" balas Clarice yang sudah mengenal Janne sejak beberapa hari yang lalu, saat Janne mengantarkan baju untuk dirinya dan sang adik.
"Ini Aunty bawakan kue untuk kalian..." Janne menyerahkan kue yang ia buat sendiri di apartemennya. "Ini buatan Aunty sendiri loh.."
"Wow! thank you, Aunty!" seru Clarice dan Galen.
"Ada apa, Kak Janne?" tanya Calina ramah mendekati Janne yang tersenyum manis dan ramah pula.
Kenzo langsung membuka pintu, agar tamu yang tadi sempat di bicarakan di Ballroom bisa masuk ke apartemen mereka.
"Kita masuk dulu.." ajak Kenzo setelah membuka pintu apartemen.
"Terima kasih..." ucap Janne.
__ADS_1
"Kamu bisa ganti baju dulu, Calina. Barangkali kamu gerah dengan baju seperti ini.." ucap Janne setelah duduk di sofa.
Kenzo juga duduk di sofa dan sudah melepas jas nya. Sedangkan Calina duduk di samping Kenzo masih dengan dandanan yang sejak pagi melekat di tubuhnya. Lalu anak - anak masuk ke ruang tengah besama Mama Shinta dan susternya.
"Tidak apa, Kak Janne... Nanti saja sekalian mandi..." jawab Calina karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sementara melihat Janne yang seperti ingin berbicara serius, jadi Calina tidak ingin menunda lagi. Tentu ia ingin tau, apa yang ingin di bicarakan oleh Janne sampai harus datang lagi.
"Em... baiklah..." jawab Janne sembari menatap Calina dan Kenzo secara bergantian.
Menarik nafas dalam, Janne siap untuk mengutarakan tujuannya datang menemui Kenzo dan Calina.
"Besok pagi aku akan kembali ke Amerika," ucap Janne dengan ekspresi datar, saat membuka obrolan perihal tujuannya mendatangi sepasang suami istri itu.
"Bukankah kapan hari Kak Janne bilang akan di sini sampai satu bulan ke depan?" tanya Calina.
Mengangguk, "Itu rencana awal, Calina... tapi ternyata seseorang di sana membutuhkan aku.."
"Siapa?" tanya Kenzo yang juga ingin tau tentang Janne yang sudah lama tak pernah berkabar dengannya.
Janne menoleh pada Kenzo, menatap lekat wajah tampan yang dulu selalu ia rindukan. Wajah tampan yang dulu selalu ia perjuangkan. Bahkan keselamatan pria itu lebih utama bagi Janne, di banding dirinya sendiri.
"Sebenarnya, aku sedang dekat dengan seseorang di sana..." jawab Janne kemudian. "Dan dia memintaku untuk datang di acara anniversary pernikahan orang tuanya. Dan tentu aku tidak bisa menolak."
Kenzo menarik nafas panjang dan menghelanya pelan. Ia merasa lega jika Janne sudah menemukan sosok yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sebagai lelaki ia tau dan sadar jika sejak kecil Janne mengharapkan dirinya yang kelak akan menjadi kekasih ataupun suami gadis itu.
Tapi hati dan perasaannya tidak bisa ia paksakan untuk Janne yang memang sejak kecil ia anggap sebagai sahabat atau bahkan seperti keluarga sendiri.
"Maksud Kak Janne, dia kekasih Kak Janne?" tanya Calina ingin tau kejelasannya, apakah benar Janne sudah punya kekasih dan segera akan menikah.
Meski mereka sudah berdamai dan akrab, sebagai seorang istri, Calina belum bisa tenang sebelum sahabat wanita yang paling dekat dengan suaminya menikah dan memiliki keluarga sendiri. Apalagi Janne pernah mengatakan jika ia mencintai Kenzo. Meski pada akhirnya perempuan itu menyadari dan mengatakan jika cinta tidak dapat di paksakan.
Tapi isi hati manusia yang sesungguhnya, hanya Tuhan dan orang itu sendiri yang tau. Yang bisa di lakukan Calina hanyalah memastikan hubungan suami dan sahabat perempuannya itu memiliki batas aman untuk rumah tangganya.
"Ya... mungkin seperti itu... Tapi belum ada kejelasan yang pasti, mau lanjut sampai menikah atau tidak..." jawab Janne tersenyum samar.
"Oh..." Calina tampak prihatin. "Semoga setelah ini Kak Janne dan dia segera mendapatkan kepastian..." ucap Calina dengan tulus.
"Iya, Calina..." jawab Janne menatap lekat wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik natural. Tidak seperti wanita cantik pada umumnya yang mungkin ada beberapa titik dari wajah maupun tubuh yang di rubah melalui jalan instan.
Apalagi jika melihat Kenzo yang merupakan anak oang kaya raya, tentu sangat mudah bagi istrinya melakukan operasi plastik, tanpa perlu memikirkan biaya. Nyatanya Calina tidak melakukan hal semacam itu.
"Dan mungkin aku tidak akan pulang ke Indonesia untuk waktu yang lama..." lanjut Janne membuat Calina sedikit tersentak.
Bukan hanya Calina, tapi Kenzo juga. Hanya saja Kenzo mencoba untuk bersikap profesional. Bagai manapun juga, merkea sudah akrab seja kecil.
"Karena aku mempunyai kontrak besar selama tiga tahun, yang tidak bisa aku tinggal lebih dari dua hari di sana. Dan itu di mulai bulan depan. Tidak mungkin kan aku bisa sampai ke Indonesia dan balik ke sana dalam waktu dua hari?" kekeh Janne tergelak.
"Wow! sepertinya karir Kak Janne di sana sangat bagus, ya??"
"Ya...begitulah. Itu juga berkat kehadiran kamu di dalam hidup Kenzo," ucapnya membuat Calina mengerutkan keningnya. "Kalau bukan karena ingin menikahi kamu dan dia meminta ku untuk berobat ke sana, pasti aku tidak akan mengenal Amerika lebih jauh." jawab Janne tergelak seolah ia tendang jauh oleh Kenzo.
Sedikit banyak ucapan Janne membuat Calina sedikit merasa bersalah. tapi memang mau apa di kata. Toh jodoh sudah ada yang mengatur.
"Berkat kehadiran kamu, aku jadi lebih betah di sana, dan mengenal jauh tentang kehidupan di Amerika. Sampai akhirnya desain baju buatanku melejit di kalangan orang - orang menengah ke atas."
"Kak Janne bisa saja," kini Calina bingung harus menjawab apa. Selain menjadi sebab perginya seorang gadis dari negerinya sendiri, ia juga di bilang sebagai sosok yang mendorong kesuksesan seseorang di luar negeri yang tidak mudah untuk di capai.
"Orang tua Kak Janne pasti bangga dengan prestasi yang di dapatkan Kak Janne." puji Calina.
"Iya, aku harap juga begitu, Cal..." sahut Janne.
"Ya, sudah... aku hanya ingin berpamitan pada kalian... Dan apartemen ku di sini, akan di kontrak oleh seseorang. Jadi jangan mencari ku ke sana, ya..." gurau Janne membuat Calina dan Kenzo tersenyum.
"Oh, begitu.." gumam Calina.
"Iya... aku pulang dulu, yaa...." pamit Janne berdiri dari duduknya, mendekati Calina dan mereka berpelukan ala sahabat yang akan berpisah lama.
"Hati - hati ya, Kak Janne... semoga perjalanan Kak Janne selamat sampai di Amerika..."
"Iya, Calina. Terima kasih..." jawab Janne melepas pelukan mereka.
Kemudian Janne mendekati Kenzo yang juga ikut berdiri saat dirinya dan Calina berdiri.
"Emm... boleh aku memelukmu?" ucap Janne dengan menatap lekat mata Kenzo, berharap sahabatnya sejak kecil itu bersedia di peluk seperti dahulu.
Namun Kenzo yang sudah risih untuk berpelukan dengan lawan jenis hanya bisa melihat Calina. Seolah meminta ijin, boleh atau tidak.
Seperti istri pada umumnya, tentu Calina juga merasa tidak suka jika melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Bagaimana ini? apa yang harus ia lakukan?
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...