
Saat Matahari mulai merangkak naik, Kenzo mengakhiri pekerjaannya dengan cepat. Tadi pagi ia sudah berjanji pada Clarice untuk tidak terlambat saat menjemput sang buah hati pulang sekolah.
Sampai akhirnya di tutuplah laptop miliknya, dan ia pun berdiri kemudian meraih ponsel untuk di masukkan saku celananya.
Belum sempat tangan kirinya keluar dari saku celana, ponsel bergetar dengan di iringi suara notifikasi yang lirih.
Di bukalah ponsel itu kembali untuk di cek siapa yang mengirim pesan. Dan betapa gemas ia saat melihat nama Zio yang muncul di layar. Karena hati kecil berkata, Zio adalah rival terekstrem dalam mendapatkan hati kecil Clarice.
Dan semakin geram lagi, karena pria itu meminta izin untuk menjemput Clarice. Sebagai Ayah sambung yang sudah lama mendapatkan cinta Clarice di banding Zio, tentulah membuat sang CEO mengalah.
Akhirnya ia hempaskan kembali tubuh tinggi tegap nya pada kursi kerja miliknya yang paling nyaman dari kursi yang lainnya.
"Awas! kalau sampai malam ini kamu meminta Clarice untuk tidur di rumahmu!" geram Kenzo meremas jemarinya sendiri.
"Aku akan menculiknya!"
Kenzo bersungut - sungut saking kesalnya pada Ayah kandung putri sambungnya. Nafas terengah untuk beberapa saat.
Namun kemudian ia menghela nafasnya panjang. Saat kesadaran kembali memenuhi relung hatinya.
"Semua memang harus terjadi seperti ini... Bayangkan jika Zio muncul sejak awal, kau pasti tidak ada apa - apanya, Ken!"
Gumamnya menyadarkan diri sendiri. Mengingatkan diri sendiri jika Zio adalah Ayah kandung Clarice. Yang mana pria itu berhak pula atas hak asuh Clarice.
Bahkan jika sampai kelak Clarice menikah, tetaplah Ayah kandung yang berhak menjadi wali nikah.
Bukan dirinya...
Maka Kenzo pun hanya bisa menghela nafas panjang, sembari menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Ia dongakkan kepala, untuk menatap langit - langit ruangan.
Di sana, ia gambarkan keluarga kecil miliknya. Dirinya, Calina, Clarice dan juga Galen. Betapa ia mencintai mereka semua, tanpa terkecuali dan tanpa alasan apapun.
***
Zio menjemput Clarice di sekolah TK bertaraf Internasional terbaik di Ibukota. Dengan langkah yang bangga ia meraih tubuh mungil sang putri yang berlari ke arahnya dengan membawa sebuah tas rangsel kecil bergambar karakter Unicorn di punggungnya.
Rambut hitam bergelombang sang gadis kecil hari itu di ikat menjadi dua, dan di berikan dua jepit yang sama di kanan dan kiri.
"Hap!"
"Papa!"
Seru Clarice saat sang Papa sudah menangkap dan menggendongnya di lengan.
"I miss you, Baby girl!" Zio mencium gemas pipi Clarice yang gembul dan menggemaskan.
"Clarice juga!" seru Clarice yang kini mulai merasakan kasih sayang dari Zio.
"Kita ke kantor Papa sekarang?" tanya Zio.
"Yes, Papa!" jawab Clarice bersemangat.
Dan masuklah Bapak dan anak ke dalam mobil Zio. Dan Zio segera melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor. Dan lagi - lagi ia harus siap dengan tatapan aneh para karyawan.
"Sayang, hari Minggu kita pergi ke Dufan, mau?" tanya Zio pada Clarice yang duduk di sampingnya.
"Mau! Cla mau! Yeay kita pergi ke Dufan!" seru Clarice mengangkat kedua tangannya untuk meninju udara di atas kepalanya.
Zio menoleh sekilas pada putri kecilnya. Ia sangat senang melihat putrinya tampak sangat antusias.
"Kita akan bersenang - senang, Papa!" ujar Clarice menggerakkan kedua kakinya ke atas dan ke bawah secara bergantian. "Aku mau naik banyak wahana!" lanjutnya mulai berceloteh.
"Ya, Sayang!" jawab Zio dengan senyuman manis. "Jangan lupa bilang pada Mommy dan Daddy Kenzo, ya!"
"Okay, Papa!" seru Clarice.
Dan sampailah dua orang, dengan beda usia 30 tahun itu di area perusahaan, setelah makan siang di salah satu restoran. Dan lagi - lagi keduanya masuk secara bersamaan.
Jika kemarin Zio masih sedikit berdebar, maka hari ini ia memilih untuk cuek dan tidak peduli dengan apa yang akan mereka katakan lagi dan lagi.
Yang penting baginya adalah Clarice bahagia. Dan sedikit banyak ia merasa beruntung, karena putrinya menjadi salah satu anak kecil yang bebas berkeliaran di perusahaan sebesar itu.
Tentu tidak ada karyawan yang di perbolehkan membawa anak kecil ke kantor setiap hari saat jam kerja. Tapi semua aturan rumit di perusahaan tentu tidak berlaku untuk sang CEO.
Memasuki lift khusus para petinggi, Clarice menggenggam erat jemari sang Papa. Melewati karyawan yang sudah tak berni lagi menggunjing, selain menyapa Clarice dan dirinya.
"Kita ke ruang kerja Papa atau Daddy?" tanya Clarice.
"Ke ruang kerja Papa saja bagaimana?" tawar Zio.
"Oh... Ada Aunty Zahra?" tanya Clarice.
"Yap!" sahut Zio cepat.
"Okay!" jawab Clarice.
***
āļø "Antar Clarice ke ruanganku!"
Pesan yang di kirim Kenzo untuk Zio.
Namun pesan itu masuk ke ponsel Zio, saat Clarice bahkan tengah bertegur sapa dengan Zahra.
Dengan sangat gamblang Clarice menceritakan rencana liburannya dengan Zio pada Zahra.
Ya, Clarice memang cukup mudah untuk akrab dengan orang baru jika orang tersebut juga humble.
Sehingga Zio justru membalas pesan Kenzo dengan sebuah foto Clarice yang sedang duduk di meja kerja Zahra. Sembari mengajak bicara Zahra yang terpaksa harus meninggalkan komputernya untuk meladeni anak atasannya, sekaligus anak tiri CEO nya.
š© "Maaf Bos, dia terlanjur nyaman di lantai ini!"
Caption di bawah foto yang di kirim Zio, membuat Kenzo menyebikkan bibirnya malas.
__ADS_1
Ia lempar ponselnya kembali ke atas meja. Ia hela nafas panjang dan kasar.
"Baiklah, sadar Kenzo kamu! sedang bersaing dengan orang yang.... Yang tepat!" gumamnya sembari menghempaskan punggung pada sandaran kursi.
Mengatakan Zio saingan yang tepat dengan dada yang terasa begitu sesak, resah dan susah untuk di tangani.
***
"Aunty, hari Minggu nanti Cla dan Papa akan pergi Dufan! Aunty dan Felia ikut, ya?" ucap Clarice dengan suaranya yang menggemaskan.
"Emm...." Zahra pura - pura berfikir ulang.
Dan itu benar - benar membuat Zio was - was dengan jawaban Zahra.
"Ayolah, Aunty!" rengek Clarice menggoyang lengan Zahra.
"Emm... Baiklah!" jawab Zahra tersenyum simpul.
"Yeeaaayy!" seru Clarice.
Mendengar jawaban Zahra yang memuaskan telinga, Zio pun memilih untuk langsung masuk ke dalam ruangannya.
Meninggalkan Clarice dengan Zahra. Begitu juga meninggalkan tatapan aneh dari para karyawan yang lain yang berada di ruangan itu.
Tentu semua berfikir, bagaimana Clarice bisa seakrab itu dengan Zahra? Sementara setau mereka, selama ini Clarice hanya hobi berkeliling, atau bertanya tentang apapun pada karyawan yang ia lihat.
Tapi dengan Zahra, kenapa sampai di ajak berlibur ke Dufan?
Seolah gosip yang beredar adalah benar adanya. Jika Zahra dan Zio memiliki hubungan yang tidak biasa.
Clarice lanjut berceloteh ini dan itu bersama Zahra. Sampai Zahra harus sesekali berpaling dari Clarice karena harus menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
"Aunty, aku mau ke ruang kerja Papa!" ujar Clarice berusaha turun dari meja Zahra. Dan Zahra pun sigap menurunkan tubuh mungil Clarice dari meja kerjanya.
"Sendiri atau di antar?" tanya Zahra.
"Sendiri saja!" jawab Clarice. "Bye, Aunty!"
"Bye, Clarice!" balas Zahra menatap Clarice yang langsung melesat meninggalkan Zahra untuk mendekati ruang kerja Papa nya.
Saat kembali fokus pada meja kerjanya, Zahra melihat paket yang di berikan oleh rekan kerjanya. Ia raih paket berbentuk box itu.
' Siapa yang sebenarnya mengirim paket ini? '
Gumam Zahra di dalam hati, karena nama pengirim sama sekali tak ia kenali.
' Bear? Beruang? Aneh - aneh saja bikin nama! '
Gerutunya bingung. Ingin membukanya, tapi takut jika isinya jauh di luar ekspektasi.
Namun akhirnya ia raih gunting untuk membuka plastik pelindungnya. Sedikit demi sedikit, box itu semakin terlihat. Box berwarna coklat itu di putarnya beberapa kali untuk mengamati.
Akhirnya ia angkat bagian tutup, untuk melihat apa isinya.
Guntingan kertas berwarna pink yang membentuk panjang bagai mie, menyeruak dari dalam sana dengan jumlah yang tak terkira. Menutupi inti dari isi box nya.
Sebuah boneka beruang, seukuran tangan orang dewasa terbaring di bagian tengah guntingan kertas. Zahra tertegun melihat boneka itu.
Dengan ragu, tangannya bergerak meraih boneka itu. Ingatannya mulai bekerja. Mengingat - ingat kapan ia pernah melihat boneka seperti ini.
Yang jelas putrinya tidak memiliki boneka semacam itu.
Lambat laun, ia mulai samar - samar mengingatnya. Hingga ia benar - benar ingat itu boneka apa. Dan seketika itu pula matanya terbelalak dengan di sertai mulut yang terbuka lebar, hingga reflek ia tutup menggunakan telapak tangan.
Ibu jari bergerak ke bagian perut boneka. Dan menekan bagian tengah perut.
"Aku menyayangimu..."
DEG!
Suara itu, kalimat itu...
Nafas Zahra terengah mengingat memori yang berhubungan dengan boneka itu.
***
Clarice melangkah meninggalkan meja kerja Zahra untuk mendekati pintu ruang kerja sang Papa.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Clarice langsung mendorong pintu ruang kerja Papanya.
Tau jika hanya sang putri lah yang berani mendorong pintu itu tanpa ketukan. Maka Zio langsung menoleh ke arah pintu.
"Hai, Sayang!" sapa Zio.
"Papa! Antar Cla ke ruangan Daddy! Aku mau ambil boneka barbie Cla yang ada di sana!" ucap Clarice.
Berat, tapi tidak bisa menolak. Itulah yang di rasakan Zio saat ini. Kembali berpisah dengan gadis kecil yang menjadi mood booster tersendiri untuk Zio adalah sesuatu yang berat.
"Okay, Sayang!" jawab Zio segera beranjak dari kursi kerjanya.
Dan membawa Clarice untuk mendatangi Ayah tirinya. Kemudian kembali melihat betapa kompak anaknya dengan Ayah tirinya. Yang selalu berhasil menyuntikkan rasa cemburu di dalam dada.
***
Clekk!
"Daddy!" seru Clarice bersamaan dengan dirinya yang membuka pintu ruang kerja Kenzo tanpa mengetuknya.
Ya! Lagi - lagi hanya bocah 5 tahun itu yang berani melakukannya.
"Hai, girl!" sapa Kenzo seketika menyungging senyuman manis.
Beberapa detik kemudian Zio muncul di belakang Clarice.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak Kenzo!" sapa Zio dengan hormat.
Bagaimanapun juga, selama di kantor semua harus tetap berjalan seperti sebelumnya.
"Hmm!" jawab Kenzo dingin. Tentu ia harus kembali menjadi CEO yang dingin jika berhadapan dengan bawahan bukan?
Sementara Clarice langsung menghampiri rak buku untuk mengambil barang incarannya.
"Daddy! Aku mau ambil barbie ini!" ujar Clarice mengambil 2 boneka barbie sekaligus. Yang mana boneka itu memakai baju kembar.
"Yes, Cla!" jawab Kenzo.
"Daddy! Aku mau bawa boneka ini saat nanti hari Minggu pergi ke Dufan sama Papa dan Felia. Aku akan berikan ini satu untuk Felia."
Jelas Clarice setelah menghampiri Kenzo, dan berdiri di samping Kenzo.
"Ke Dufan? Hari Minggu?" tanya Kenzo.
"Ya, Pak! Hari Minggu nanti saya akan mengajak Clarice jalan - jalan ke Dufan!" sahut Zio yang masih berdiri.
Detak jantung Kenzo bergemuruh. Tapi ia tetap harus pintar menunjukkan ekspresi santainya di depan Zio.
"Sudah bilang Mommy?" tanya Kenzo.
"Belum!" jawab Clarice. "Nanti kalau sudah pulang Cla akan bilang Mommy!"
"Ya..." jawab Kenzo lirih.
Kembali, untuk kedua kali bukan Kenzo yang menemani Clarice jalan - jalan. Tapi semua sudah menjadi takdir.
***
Kembali sampai di apartemen setelah aktivitas seharian, rasanya sangat lega. Kenzo masuk ke dalam kamar, dan apa yang di temukannya membuatnya keheranan.
Sang istri tampak tidur dengan nyenyak. Sementara tadi ia sudah melihat Galen dengan baju rapi tengah bermain dengan Neneknya.
Berjalan pelan sambil melonggarkan dasinya, Kenzo terus menatap ke arah tempat tidur. Seperti tidak yakin jika Calina tidur di jam seperti ini.
Biasanya wanita itu tidak akan mau tidur kalau jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Kenzo duduk di sisi ranjang, sembari menatap lekat wajah istrinya. Ragu untuk membangunkan sang istri, Kenzo memilih untuk mandi terlebih dahulu. Membersihkan diri dari keringat dan bau badan.
Dan saat suara shower menyala itulah, Calina terbangun dari tidurnya yang lelap.
"Mas Kenzo sudah pulang?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Segera ia turun dari tempat tidur, menyisir rambut yang bahkan belum sempat ia sisir setelah mandi tadi.
"Mas?" panggil Calina dari depan pintu kamar mandi.
"Yaaa?" jawab Kenzo.
"Baru pulang?"
"Iya, Sayang!"
"Maaf aku ketiduran. Aku siapkan baju kamu dulu, yaa...?"
"Okay!"
Calina segera mengambil baju untuk sang suami dari almari kamar.
"Tumben kamu tidur sore - sore begini?" tanya Kenzo setelah keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
"Entahlah, Mas... Seharian rasanya cuma mau tidur saja. Tidak mau yang lain!" jawab Calina menyerahkan baju untuk sang suami.
"Kamu sakit?" tanya Kenzo sembari memakai bajunya satu persatu. Mulai dari baju paling dalam, hingga baju paling luar.
"Tidak, hanya malas bangun saja..." jawab Calina dengan santainya.
"Yakin?" tanya Kenzo untuk memastikan sang istri tidak sedang berpura - pura sehat.
"Yakin, Mas... kalau aku sakit pasti sekarang tidak kuat bangun, bukan?"
"Hemmm.." Kenzo mengangguk, kemudian menghadap cermin rias untuk menyisir rambutnya agar lebih rapi.
"Clarice pulang bersama kamu kan, Mas?"
"Iya, tadi tida ketiduran di mobil. Saking capeknya mungkin. Dia berulang kali naik turun lift. Menghampiri ku, kemudian menghampiri Zio. Tak lama kemudian sudah muncul di depan ku lagi..." cerita Kenzo dengan seulas senyum gemas pada Clarice.
Calina tersenyum, "Kamu sudah tidak keberatan kan, Mas? dengan keberadaan Mas Zio?"
Kenzo menyelesaikan sisirannya sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Setelah itu ia hela nafas panjang dan kasar.
"Sebenarnya sudah tidak, hanya saja tadi Clarice bilang... Hari Minggu nanti Zio dan Clarice akan pergi ke Dufan," terang Kenzo dengan nada yang cukup sedih.
"Lalu?"
"Untuk kedua kalinya bukan aku yang menemani Clarice brlibur..." jawab Kenzo duduk di tepi ranjang. Menatap lantai dengan gelisah.
"Kalau begitu.... bagaimana kalau hari Minggu nanti juga pergi ke Dufan tapi tidak perlu bilang sama Clarice dan Mas Zio?' usul Calina.
"Sepertinya bukan ide yang buruk..." gumam Kenzo setekah menimbang usul sang istri. "Kita berangkat setelah Zio menjemput Clarice!" seru Kenzo.
"Ya, Mas!"
"Dan kamu tau? Clarice bilang mereka akan pergi dengan..." Kenzo mengingat nama yang di sebutkan Clarice tadi siang. "Fe...Felia kalau tidak salah."
"Siapa Felia?" tanya Calina yang merasa belum mengenal nama itu.
"Aku juga tidak tau.." jawab Kenzo menggelengkan kepalanya. "Bahkan Cla berencana memberikan satu bonekanya untuk anak itu.
"Nanti sebelum tidur, akan aku tanyakan. Siapa Felia?"
__ADS_1
"Ya, Sayang.." jawab Kenzo.
...šŖ“ Bersambung ... šŖ“...