Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 130 ( Clarice VS Zuria pt. 2 )


__ADS_3

Saling adu argumen dalam waktu singkat, membuat keduanya sadar atau tidak sadar jika tengah saling membuat kesal dengan cara yang berbeda.


Jika Zuria kesal karena di katai oleh Clarice bahwa ia sama dengan Clarice, yakni hanya mengenal nama Arsen, tapi tidak sejauh itu mengenal sosok Arsenio Wilson. Sang pembalap yang saat ini menjadi faktor utama bertengkarnya Zuria dan Clarice.


Maka Clarice kesal dan marah, ketika sang Kakak kelas yang menurutnya tidak tau diri itu mengatai Ibunya sebagai wanita murahan yang beruntung karena berhasil menggoda, hingga di nikahi oleh sang Daddy sambung yang kekayaannya di akui oleh negeri ini.


Clarice yang tidak terima sang Ibu di katai murahan, sangat marah dan sudah tidak sanggup lagi menahan emosi di dalam dadanya. Di matanya, sang Ibu adalah segalanya. Mommy dan Daddy nya menikah atas dasar saling cinta. Bukan karena Mommy mengemis, atau bahkan menjebak sang Daddy untuk menikahinya.


Jika di kulik lebih jauh, maka sang Daddy lah yang justru berjuang untuk mendapatkan sang Mommy. Tapi seluruh dunia tidak ada yang tahu. Cerita itu, hanya Kenzo dan Tuhan yang tau.


Gadis 16 tahun itu akhirnya kalap, hingga langsung berdiri tepat setelah Zuria mengatai sang Ibu murahan. Dan dengan sigap ia meraih gelas jus jambu milik Hanna, dan menyiramkannya tepat di mulut Zuria yang mengatai sang Ibu, tepat ketika gadis itu selesai mengucapkan kalimat lanjutan.


"Jaga bicaramu, Nona!" sembur Clarice dengan posisi yang masih berdiri sembari meletakkan gelas dengan setengah menghentak meja. Menatap tajam pada Zuria yang langsung melihat bajunya kotor oleh jus jambu.


"Sh***!" umpat Zuria tertahan. Karena bibirnya di penuhi dengan jus jambu sisa Hanna yang menurutnya sangat menjijikkan.


"Kamu! Kamu dan kamu!" seru Clarice menunjuk wajah Zuria dan temannya satu-persatu. "Dan siapapun yang ada di sini!" ucap Cla menatap tajam orang-orang di sekitarnya. "Boleh dan bebas mengatai aku, jika aku ini murid yang tidak berprestasi, dan hanya beruntung bisa sekolah di sekolah mahal ini karena memiliki Ayah sambung yang kaya raya!" ucap Clarice dengan lantang, hingga bisa di dengar oleh siapapun yang ada di sana.


"Tapi satu kata saja kalian menghina Ibuku! aku tidak akan segan untuk bertindak sesuka hatiku!" ujar Clarice menatap tajam Zuria, selaku pelaku pertama yang mengatai Ibunya murahan. "Aku tidak peduli kalian anak siapa! Aku tidak peduli kalian semua anak kandung konglomerat Ibukota sekalipun!" lanjutnya dengan nafas terengah.


Puas mengungkapkan apa yang membuat dadanya sesak, Clarice kembali menatap tajam pada Zuria yang mengibas-ngibaskan tangannya karena kotor oleh jus jambu. Berulang kali meraih tisu untuk membersihkan wajah cantiknya.


Jika semua menatap heran dan penuh tanya, maka Hanna adalah satu-satunya siswa yang tersenyum puas saat ini. Melihat si mulut berbisa kini basah kuyup dan kotor oleh jus jambu miliknya, ingin rasanya ia tertawa kencang di depan wajah sang kakak kelas.


Namun sebisa mungkin ia menahannya. Karena jelas ia bisa dengan mudah terseret dalam kasus ini. Sementara ia tidak memiliki perisai apapun untuk melindungi diri dari jeratan hukum di sekolah. Berbeda dengan Clarice, yang pasti akan mendapat perlindungan dari Daddy tiri yang di akui Hanna sangat menyayangi Clarice.


Ketiga pemuda yang datang menghampiri, segera berpencar di sisi-sisi para gadis yang sedang bersitegang. Salin memberi kode untuk mencegah kericuhan lebih jauh lagi.


Vino, Arsen dan Naufal sama-sama tak menyangka jika Clarice ternyata bisa seberani itu. Selama ini ketiganya menganggap jika Clarice hanyalah gadis pendiam, yang akan diam saja walau di buli sekalipun.


Tapi ternyata mereka salah, Clarice berani menyiram wajah Kakak kelas menggunakan jus jambu. Dan itu membuat ketiganya seperti mendapat kejutan luar biasa, sekaligus ada rasa bangga yang tidak bisa di ucapkan.


"Ada apa ini, Cla?" tanya Arsen pada Clarice.


Tentu saja Arsen mengambil posisi di samping Clarice. Dan saat sang pemuda hendak menyentuh lengan Clarice, spontan Clarice menyemburnya dengan kalimat singkat yang membuat Arsen kaget bukan kepalang, hingga tubuhnya bagian atas terhentak ke belakang.


"Jangan sentuh aku!" teriak Clarice pada Arsen, pemuda yang mana saat ini sangat ia benci. "Ini semua karena kamu!" lanjut Clarice dengan dada yang terengah.


Karena sang pemuda itulah, ia jadi bermasalah dengan Kakak kelas. Dan karena pemuda itulah, mungkin saja sebentar lagi pihak sekolah akan memanggil dirinya dan Zuria untuk masuk ke ruang BK. Dan mungkin akan berlanjut pada pemanggilan orang tua wali murid.


"Aku?" pekik Arsen tidak paham dengan maksud Clarice.


"Ya! ini semua karena kamu yanng memposting foto kita!" jawab Clarice. "Dan dia!" Cla menunjuk Zuria, dengan tatapan bencinya. "Dia tidak terima akan foto itu! Dan karena itu dia sampai mengatai Mommy ku murahan!" seru Clarice dengan gigi yang mengerat.


Arsen yang memperhatikan betul amarah Clarice, kini menoleh pada Zuria yang masih sibuk membersihkan dirinya.


"Apa yang menjadi masalah mu, Zuria?" tanya Arsen pada Zuria.


Zuria yang sudah sedikit menghilangkan jus jambu di wajah dan bajunya, segera ikut berdiri seperti yang lain. Dengan nafas terengah, sang anak pengusaha menatap benci pada Clarice.

__ADS_1


"Dengar ya, anak tiri! aku akan membalas apa yang sudah kamu lakukan padaku siang ini!" ucap Zuria, tanpa menoleh pada Arsen. Zuria tau, tatapan Arsen padanya sedang tidak bersahabat.


"Aku tidak peduli!" jawab Clarice dengan sangat jelas tanpa rasa takut. "Satu kalimat mu itu akan aku ingat sampai kapanpun!" desis Clarice. "Dan kau perlu ingat! sekali lagi aku mendengar mu berucap hal serupa, bukan jus jambu yang aku lempar ke muka mu! tapi kotoran burung di penangkaran belakang sekolah yang akan aku lempar ke mukamu itu!" seru Clarice.


Dan seruan Clarice benar-benar membuat sang sahabat terkikik senang. Ia sangat puas melihat Clarice yang pendiam ternyata tidak mudah untuk di tindas. Jika di luar seolah, pasti Hanna akan bersatu bersama Clarice untuk membungkam mulut comberan di depan mata itu.


"Jawab pertanyaanku, Zuria!" desis Arsen pada Zuria. "Apa masalah mu dengan foto itu?"


Kali ini Zuria yang terengah, mau tak mau menoleh pada Arsen. Tatapan benci nya pada Clarice berubah menjadi tatapan sayu pada Arsen.


"Aku tidak suka kamu lebih dekat dengannya dari pada dengan aku!" jawab Zuria masih terengah.


"Memangnya kenapa? apa hubungannya denganmu akau mau memposting foto siapa di sosial mediaku!" tanya Arsen dengan tatapan tajamnya.


"Kamu masih tanya kenapa, Sen?" tanya Zuria dengan tatapan tak percaya pada Arsen.


"Memangnya kenapa?" tanay Arsen. "Aku bebas memposting apapun dan dengan siapapun!" ujar Arsen.


Tersenyum miris setengah malu, Zuria menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukankah Daddy kita berteman baik?" tanya Zuria.


"Lantas?" tanya Arsen singkat.


Arsen sendiri merasa sangat kesal. Ketika Clarice menepis tangannya yang ingin menyentuh, di situlah emosi Arsen tersulut. Dan tertuju pada siapapun yang membuat Clarice menepis dan marah padannya.


Melihat sikap Arsen yang terkesan tak menghargai Zuria, Clarice tersenyum culas.


"Benar kan apa yang aku katakan?" tanya Clarice sinis. "Kamu sama sepertiku! Hanya mengenal nama dan wajah Arsen! Tapi tidak mengenal sosok Arsenio Wilson!" ucap Clarice menekan pengucapannya ketika menyebut nama lengkap Arsen.


"DIAM KAMU!" sembur Zuria sembari menumpahkan spaghetti Clarice yang tadi sepat ia siram jus alpukat, hingga membuat baju dan rok Clarice menjadi kotor, sangat kotor. Ia tak terima di buat semakin malu dengan ucapan Clarice.


Apalagi kini mereka semua menjadi tontonan bagi siswa yang lainnya. Semua tampak diam memperhatikan Clarice, Zuria dan  Arsen yang sedang adu mulut. Dengan Zuria sebagai tokoh Antagonis nya.


"Sialan!" umpat Clarice melihat bajunya yang kotor. Sementara ia tak membawa baju ganti lagi.


"KAMU YANG DIAM!" balas Arsen menghentak Zuria.


Entahlah, naluri Arsen rasanya tidak terima jika ada yang membentak Clarice. Apalagi kini tumpahan spaghetti mengenai baju bagian bawah dan rok Clarice. Ia langsung tersulut emosi begitu melihat Clarice di bentak oleh seseorang di depan matanya. Terlebih semua berawal dari dirinya.


Tersentak kaget, ketika Arsen membentak dirinya, mata Zuria mulai berkaca-kaca. Bukan hanya air mata karena sakit hati, tapi juga air mata karena malu dan kecewa.


"Kamu jangan bentak-bentak Zuria, ya!" sahut salah satu teman Zuria. "Semua ini karena dia!" menunjuk Clarice.


"DIAM KAMU! JANGAN IKUT CAMPUR!" bentak Arsen pada gadis itu, hingga membuat sang gadis diam seribu bahasa. Tak menyangka bentakan Arsen sedemikian kencang hingga membuat gendang telinganya terasa sakit. Apalagi mata Arsen yang biasa terlihat penuh gurau kini terlihat sangat tajam bahkan berapi-api.


"Sen, sudah Sen!" Vino mendekati Arsen, menepuk pelan pundak Arsen. Sebagai ketua kelas, ia merasa memiliki wewenang untuk menengahi anggota kelasnya yang sedang emosi atau bertengkar. "CCTV merekam semuanya! Dari sana kita semua akan tau, siapa yang salah duluan. Dan aku yakin, bentakan kamu juga terekam CCTV. Kalian bertiga bisa mendapat masalah besar."


"Aku tidak peduli!" jawab Arsen beralih menatap tajam pada Zuria.

__ADS_1


Vino menarik nafas panjang dan menghelanya pelan, "Ingat, Sen... Zuria seorang gadis. Dia bukan tandingan kita..." bisik Vino berharap Arsen segera sadar.


"Aku rasa melawan gadis bermulut serigala seperti dia adalah pengecualian untuk kita!" desis Arsen yang masih tidak terima mengingat bentakan Zuria pada Clarice. Terlebih kini sang gadis harus membersihkan bajunya yang kotor oleh saus spaghetti.


Sementara di kejauhan, jalan setapak yang mengarah menuju gedung sekolah, seorang guru wanita mulai berjalan cepat menuju kerumunan yang ada di dalam kantin.


"Sen, ada Mrs. Maria, Sen!" ucap Naufal yang melihat kedatangan sang guru BK. Sedari tadi Naufal mengawasi gedung sekolah. Karena ia yakin, cepat atau lambat guru BK akan muncul di sana.


Mendengar ucapan Naufal, semua siswa yang berkerumun menoleh ke arah jalan setapak. Di sana Mrs. Maria yang merupakan guru BK berjalan tergopoh-gopoh. Dan tak jauh di belakang Mrs. Maria ada Mr. Faiz, guru olah raga yang ikut berjalan menuju kantin.


Tujuan kedua guru sama, yaitu menghampiri siapa pun di dalam kantin yang tengah membuat keributan.


Melihat jarak guru semakin dekat, maka perdebatan ikut berakhir pula. Dan semua yang terlibat hanya saling lirik satu sama lain. Terlihat dari mereka semua yang terlibat masih menahan segala emosi dan kesal di dalam dada.


"Siapa yang terlibat?" tanya Mrs. Maria dengan intonasi yang tegas tak terbantahkan. "Kalau tidak ada yang mengaku, Mrs. akan memutar ulang rekaman CCTV!"


Clarice dan Zuria mengangkat tangan kanan masing-masing. Mengakui jika merekalah inti dari permasalahan yang ada.


"Ikut ke ruang BK!" perintah Mrs. Maria yang langsung membalikkan badanya hendak kembali ke kantor.


Clarice menoleh pada Hanna yang sejak tadi memegang lengannya, ketika sang gadis mengakui kesalahannya. Cal mengangguk, seolah berkata jika ia siap menghadapi sanksi apapun yang akan dia terima.


begitu pula yang di lakukan oleh Zuria kepada teman-temannya. Dan teman-teman Zuria pun mengangguk memberi semangat pada sang gadis.


Dua anak gadis keluar dari bangku yang mereka duduki. Dan bersiap mengikuti langkah Mrs. Maria.


"Saya juga. Mrs!" sahut Arsen ikut mengangkat tangan kanannya.


Membuat Mrs. Maria dan dua gadis yang siap melangkah menuju gedung sekolah, menoleh ke belakang kembali.


Mrs. Maria menatap Arsen dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia belum melihat CCTV secara lengkap, tentu beliau tidak tau hubungan Arsen di antar pertengkaran dua siswi itu.


"Ikut ke ruang BK!" perintah Mrs. Maria sedikit menghentak anak pengusaha batu bara itu.


Sesungguhnya Mrs. Maria bingung. Tidak biasanya anak-anak ini membuat keributan di sekolah. Tapi kenapa mereka terlibat dalam pertengkaran yang sampai membuat dua gadis itu saling lempar makanan.


Meski Mrs. Maria sedikit banyak tau jika Arsen termasuk bocah tengil, jahil dan suka bercanda. tapi Mrs. Maria tau, jika Arsen bukan tipe anak remaja yang suka berulah dan melakukan kekerasan.


Kini... dua murid putri berbaris, mengikuti langkah Mrs. Maria. Sedang Arsen di barisan paling belakang, tepat di belakang Clarice.


Semua yang tertinggal di kantin tampak mulai kembali ke meja masing-masing. Namun bibir mereka tak lepas dari menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan murid yang tertinggal adegan seru tampak menggali informasi pada mereka yang makan di sekitar meja Clarice.


Dan bagi yang mengenal Hanna maupun teman-teman Zuria, tentu memilih untuk bertanya langsung pada rekan pelaku kericuhan. Namun bagi Hanna, ia merasa lebih baik untuk bungkam. Sampai Clarice keluar dari ruang BK. Meski tidak akan ada yang tau, kapan mereka bisa keluar dari ruang BK.


Sedangkan Naufal dan Vino saling melirik satu sama lain, kemudian mengajak Hanna untuk kembali ke kelas, dan menceritakan duduk masalah dari pertengkaran Clarice dan Zuria.


Meski sedikit banyak Vino sudah tau jika Zuria menghampiri Cla karena urusan gadis itu bersama Arsen. Tapi Vino tidak tau apa yang menjadi awal mula Zuria sampai membawa-bawa Mommy Clarice dan menyebutnya wanita murahan.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2