Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 66 ( Kayla )


__ADS_3

Menarik nafas panjang, dan... "Ya!" jawab Gilang singkat dan yakin untuk mengungkap sesuatu yang cukup ia tutupi selama ini.


"Jadi Pak Gilang yang mengajari Kayla tentang menyayangi satu sama lain?"


Gilang memicingkan matanya. Tak paham maksud Zahra.


"Saat saya menjenguknya di Rumah Sakit, samar - samar saya mendengar dia menyebut nama Gilang, tapi saya tidak tau kalau yang di maksud Kayla adalah Pak Gilang." jawab Zahra. "Saat saya tanya siapa Gilang, dia hanya menjawab dengan satu kata, yaitu cinta..." lanjut Zahra sembari kembali berfikir dan mengenang momen itu.


Ada setitik senyum samar di bibir Gilang, yang menandakan meski dalam keadaan tidak sepenuhnya stabil, ternyata Kayla bisa merasakan apa yang ia isyaratkan.


Yaitu cinta yang tulus...


"Aku memang sering mengatakan bahwa hidup itu butuh cinta," jawab Gilang, "seperti cinta dua anak manusia yang hanya akan tumbuh dari hati yang terdalam..."


"Pak Gilang, boleh saya tanya?"


"Katakan!"


"Apa menurut Pak Gilang... Kayla itu benar - benar gila?"


"Maksud kamu?" Gilang memicingkan matanya.


"Terkadang saya merasa dia seperti orang normal pada umumnya. Dia bisa diam tanpa memberontak saat perawat kewalahan dengan pasien lain. Dan bahkan memahami keadaan saya." ucap Zahra.


"Ketika suami saya meninggal tiga tahun lalu, dia seolah mengerti jika saya sedang berduka. Dan dia sama sekali tidak pernah membuat masalah selama satu tahun lebih!"


"Dan ketika saya menjenguknya dalam keadaan saya sedang bersedih, dia selalu memeluk saya. Seolah memberi saya ketenangan, meski tanpa satu kata pun. Padahal tak sedikitpun saya bercerita tentang apa yang membuat saya sedih. Apalagi masalah hidup saya."


"Itu karena berawal dari dia yang depresi." jawab Gilang, "aku pun dari awal tak yakin kalau dia benar - benar gila seperti yang lainnya."


Gilang kembali mengingat momen tadi pagi saat menjenguknya di Rumah Sakit. Jika Kayla gila 100%, tak mungkin gadis itu akan menengoknya dari jendela saat ia hendak pergi meninggalkan Rumah Sakit.


Dan ingatan kembali berkelana, saat Gilang membawa Kayla pulang ke apartemennya, bisa di teliti oleh Gilang yang juga merupakan seorang psikiater. Jika Kayla sebenarnya mengalami depresi berat yang akhirnya mengganggu kejiwaannya. Namun mentalnya tetap ada di dalam lubuk hati terdalam dan di ingatkan terbaik gadis itu.


Sehingga harusnya depresi itu tak perlu sampai belasan tahun. Karena Kayla masih ingat nama dan keluarganya.


"Sebenarnya apa yang di alami Kayla cukup mudah di sembuhkan. Tapi aku heran, kenapa dia sampai selama ini."


"Apa mungkin sebenarnya sekarang dia sudah sembuh?" sahut Zahra.


"Maksud kamu... sekarang Kayla pura - pura gila?"

__ADS_1


"Bisa jadi, Pak!" jawab Zahra, "orang gila tidak akan tau kalau kita sedang bersedih, bukan?" tanya Zahra.


"Ya, kamu benar."


"Saya yakin sebenarnya Kayla sudah sembuh!" ucap Zahra sangat berharap saudara kembarnya itu benar - benar bisa sembuh.


"Aku juga berfikir seperti itu," jawab Gilang, "mungkin karena ada hal lain yang membuat Kayla memilih untuk tetap menjadi seperti orang gila..." gumam Gilang dengan perasaan bercampur aduk.


Jika benar Kayla sebenarnya sudah tidak gila, pastilah dia akan sangat bahagia. Tapi ia menahan rasa bahagia, agar tidak kecewa jika ternyata Kayla memang benar - benar masih gila.


Tapi mengingat respon Kayla tadi pagi, rasanya Gilang perlu untuk melakukan penelitian secara detail.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.." gumam Gilang kemudian.


"Apa, Pak?"


Gilang menatap lekat Zahra sebelum menyampaikan rencana yang akan ia buat untuk memastikan Kayla masih depresi atau tidak.


***


Malam semakin larut, kini tugas Gilang adalah mengantarkan Zahra dan anaknya kembali pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan keduanya sama sama menimbang rencana Gilang, sang putra bungsu di keluarga Adhitama.


"Bagaimana kalau rencana Pak Gilang malah membuat Kayla memberontak?" tanya Zahra ragu.


Gilang menoleh Zahra sekilas, kemudian kembali fokus menatap ke depan.


"Aku pernah tinggal bersama dengannya. Aku juga seorang Psikiater. Aku tau cara menangani Kayla. Tugas mu hanya lakukan dua itu saja. Kita harus bekerja sama, Zahra! Kamu tentu tidak mau saudara mu berada di sana selamanya."


"Pak Gilang benar! Saya memang selalu merasa bersalah setiap menjenguknya di sana." jawab Zahra. "Bukankah jika waktu di putar, bisa jadi sayalah yang sekarang ada di tempat itu?" lanjut Zahra dengan wajah lesu nya.


"Jangan di pikirkan lagi. Kita harus bekerja sama untuk membuat Kayla bisa kembali kepada kita."


"Kita?"


Gilang melirik Zahra yang sepertinya tak paham maksud dirinya.


"Biarkan Kayla bersamaku. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku janji!" jawab Gilang yakin.


"Tapi, Pak! Apa itu tidak akan mempengaruhi hubungan Pak Gilang dengan keluarga Pak Gilang?" tanya  Zahra, "semua orang pasti tau masa lalu kami, masa lalu Kayla yang tidak mudah."

__ADS_1


"Apa peduliku?" tanya Gilang acuh, " selama aku mau berusaha, mereka pasti akan mengerti." jawab Gilang.


Sedangkan Zahra kini hanya bisa menghela nafas berat. Berharap apa yang di ucapkan Gilang akan menjadi benar adanya.


"Kamu tidak tau kan? serumit apa perjalanan cinta CEO mu itu?"


"Maksud Pak Gilang, kisah cinta Pak Kenzo?"


"Ya!" jawab Gilang singkat. "Kak Kenzo adalah orang yang tidak pernah jatuh cinta dalam hidupnya. Sekalinya jatuh cinta, ia jatuh cinta pada seorang janda. Keluarga ku menentangnya, terutama Mama. Tapi nyatanya kini Mama dan Kakak iparku baik - baik saja. Itu semua karena kegigihan Kak Kenzo untuk menaklukan hati Mama yang sepeti batu."


"Tunggu..." potong Zahra, "maksud Pak Gilang, istri Pak Kenzo itu janda?"


"Ya!" singkat Gilang.


"Lalu... Nona Clarice?" tanya Zahra ragu namun ia sangat ingin tau tentang sosok Ibu Clarice."


Gilang menoleh Zahra dan menatap lekat wajah penasaran sang karyawan Adhitama Group itu.


"Kamu tidak perlu tau hal lain lagi. Cukup simpan untukmu sendiri tentang status Kakak iparku yang kamu ketahui!" jawab Gilang dengan nada dingin. Berbeda dengan cara bicaranya sebelum itu. Tentu saja sekaligus untuk mengancam Zahra secara tidak langsung.


"Baik, Pak!" jawab Zahra mengangguk paham. Sekaligus takut bersitegang dengan anak bos besar.


"Bagus!" sahut Gilang sedikit ketus.


***


Hari berganti . . .


Gilang yang harusnya kembali ke Australia akhirnya menunda kembalinya ia ke negara asal sang Nenek. Di mana dirinya lah yang akan meneruskan perusahaan di sana. Namun untuk sementara Gilang menyerahkan perusahaan pada orang kepercayaannya di sana.


Hari ini ia dan Zahra bersiap untuk menjalankan aksi mereka. Yakni mengeluarkan Kayla dari Rumah Sakit Jiwa.


Untuk kemudian .... Ya, begitulah...


...🪴 Happy Reading 🪴...


✍️ Yang masih bingung tentang siapa Kayla, bisa buka kembali part 60 ( Misteri Cinta Gilang ).


Di sana Author sudah memberikan clue tentang siapa gadis yang di sukai Gilang. 🥰


Dan untuk yang mengira Gilang menyukai Zhika, mungkin bisa di baca dari episode saat Zio bertemu Zahra di Rumah Sakit Jiwa. Di sana Zahra mengatakan menjenguk seseorang. Sebenarnya dia menjenguk Titania Azkayla, alias Kayla.

__ADS_1


Salam manis,


Lovallena ❤️


__ADS_2