Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 84 ( Bertemu Dalam Satu Ruang )


__ADS_3

Calina mengikuti langkah Venom yang mengantarnya untuk menemui sang suami di lantai teratas perusahaan. Sepanjang langkahnya, jantung Calina bagai sedang di pompa kuat.


Saat ini ia sedang berada di dalam lift, bersama Galen di sisi kirinya. Dan Venom yang entah kenapa memilih untuk berdiri di belakangnya.


Memanglah ia tampak biasa saat bertemu dengan orang - orang yang ia yakini mengenal dirinya saat di bawah tadi. Tapi sesungguhnya jantungnya sedang berdebar hebat. Karena bagaimanapun juga, satu perusahaan akan tau rahasia besar yang di simpan oleh sang CEO.


Ini bukan kali pertama ia memasuki perusahaan itu, sedikit banyak ia hafal jumlah lantai, dan tata letak ruangan di lantai dasar. Terutama letak ruang keja mantan suaminya.


Angka semakin mendekati lantai teratas gedung yang di gunakan untuk bekerja. Untuk pertama kali ia akan memasuki lantai yang khusus di tempati oleh para bos besar. Mulai dari ruang pendiri perusahaan, CEO dan ruang para asisten pribadi bos. Juga ada seorang sekretaris di lantai itu.


"Silahkan, Bu..." ucap Venom saat pintu lift kembali terbuka. Meminta Calina untuk keluar lebih dulu di banding dirinya.


"Iya.." jawab Calina segera keluar dari dalam lift.


Sungguhlah ia merasa tidak enak hati karena tak biasa di perlakukan sehormat itu oleh Venom. Venom memang asisten sang suami. Tapi Calina sangat jarang berinteraksi dengan sang asisten.


Apalagi jika teringat akan kesan pertama saat mereka bertemu enam tahun silam. Yakni saat Zio mabuk pasca pesta perusahaan. Venom sangat kaku dan susah senyum. Dan dari wajah saja bisa di lihat jika ia golongan orang yang dingin.


Meski itu tidak menjamin jika Venom adalah orang yang sangat susah untuk di ajak bergaul ataupun berhubungan serius. Mengingat Kenzo sendiri juga orang yang sangat dingin di manapun ia berada.


Namun nyatanya saat menjadi suami, Calina merasakan Kenzo adalah orang sangat humble dan hangat. Sikap dingin yang di tunjukkan sang suami di luaran hanyalah untuk membangun karakter agar terkesan tegas dan tidak suka bermain - main. Apalagi untuk menjalankan dunia bisnis yang ia geluti.


Seorang sekretaris wanita yang bekerja di depan ruang kerja Kenzo di buat tertegun saat melihat Venom membawa seorang wanita yang menggandeng tangan mungil Galen. Dalam hati ia juga bertanya, apakah ini istri Pak Kenzo?


Karena jika baby siter, tentu mereka akan berseragam. Tapi dari apa yang di kenakan sang wanita tampak mahal dan berkelas. Meski jauh dari kesan glamour.


Sekretaris itu belum pernah mengenal Calina sebelum ini. Sehingga ia tak pernah tau pula jika Calina adalah mantan istri Zio, sang General Manager.


"Selamat siang, Bu..." sapa sang sekretaris pada Calina dengan menunduk hormat.


"Siang..." jawab Calina dengan sangat ramah.


Wanita itu juga menyempatkan diri untuk menyapa Galen yang menggemaskan. Dan Galen yang peramah pun tersenyum simpul khas anak usia 2 tahun.


Venom membuka pintu ruang kerja Kenzo setelah mengetuknya tiga kali.


"Selamat siang, Pak.." sapa Venom pada dua kakak beradik yang ada di dalam ruang kerja sang Bos. "Nyonya sudah datang.." lapornya membuka lebar pintu dan mempersilahkan Calina untuk masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


"Selamat datang, Nyonya Kenzo!" sapa Gilang berdiri dari duduknya, menyambut sang Kakak ipar dengan seulas senyum penuh arti dan terkesan menggoda.


Sontak Calina iku tersenyum lucu melihat tingkah lebay adik iparnya itu.


"Selamat siang, Galen sayang..." sapa Gilang sembari merentangkan tangan. Dan Galen pun langsung berlari menghampiri sang Uncle yang sangat ia sayangi.


"Hai, Uncle!" Galen mencium pipi Gilang dan langsung meminta sang Uncle untuk berdiri dan mengambilkan mainan miliknya yang ada di almari buku.


Merasa tugasnya sudah selesai, Venom meninggalkan ruangan. Meninggalkan keluarga pemilik perusahaan itu untuk mengobrol secara pribadi. Yang mana ia ketahui sebentar lagi Zio pun pasti akan segera datang dan berkumpul dengan tiga orang dewasa di dalam sana.


Calina berjalan masuk lebih dalam ke ruang kerja CEO. Ia dekati sang suami untuk bercipika cipiki dan satu kecupan singkat di bibir.


"Selamat datang di ruang kerja ku, Bu Bos!" ucap Kenzo menggoda sang istri.


"Terima kasih, Pak Bos!" jawab Calina sembari terkekeh.


Dan Kenzo pun ikut terkekeh. Melupakan sang adik yang justru kini menemani Galen bermain di sofa.


"Sudah makan siang, Mas?" tanya Calina.


"Sudah, Sayang!" jawab Kenzo.

__ADS_1


Calina membalas jawaban suaminya dengan usapan lembut di punggung.


Calina memutar tubuhnya secara perlahan, mengamati ruang kerja dang suami. Berjalan mendekati jendela, dan ia dapat melihat gedung sekolah Clarice, persis dengan yang di ceritakan sang anak sulung.


Tatanan sofa dan luas ruangan sangat kontras dengan karakter sang suami yang dingin.


Empat tahun menikah, ini kali pertama ia memasuki ruangan itu. Dan kesan pertama yang ia dapatkan adalah... Mewah.


Berbeda dengan ruang kerja mantan suaminya dulu yang lebih kecil.


Ya jelas saja! Beda kedudukan.


Dalam hati ada rasa bangga, ketika mendapati diri ternyata istri seorang CEO, anak pemilik perusahaan. Namun ia sungguh tak ingin menyombongkan dirinya.


"Are you ready?" tanya Gilang pada Calina yang baru saja memilih untuk duduk di sofa.


"Hemmm..." bukannya menjawab, Calina justru menghela nafas berat. "Siap tidak siap, lebih cepat lebih baik, bukan?" jawab Calina mengikuti cara suaminya memberi penjelasan.


Tersenyum simpul, "Kamu benar, girl!" jawab Gilang pada Kakak ipar yang seumuran dengannya itu.


***


"Ayo kita ke ruangan Daddy Kenzo sekarang." ucap Zio pada Clarice yang langsung bersiap.


"Ayo, Papa!" seru Clarice antusias.


Zio dan Clarice pun keluar dari ruang kerja GM, kemudian menghampiri Zahra yang langsung mengemasi laporan.


"Hai, Aunty! Sudah siap?" tanya Clarice dengan sok mengerti apapun.


Zahra tersenyum gemas melihat tingkah Clarice, "Tengu saja, Nona kecil! Aunty sudah siap!"


Di saat mereka berjalan, sebuah kamera mengarah ke tiga punggung mereka. Dan satu menit kemudian foto itupun tersebar di kanal grup whatsapp, dengan sebuah caption...


"Seperti ini adanya..."


"Semua sangat rumit sepertinya" sahut yang lain.


Obrolan yang sempat terhenti di grup, kembali berdengung. Dan Zahra pun ikut terseret dalam topik panas obrolan. Karena di anggap sudah tau ada rahasia, tapi memilih untuk bungkam.


Berulang kali perempuan 28 tahun itu di tag, tapi. Hanya saja ia sudah tak lagi aktif, karena sibuk dengan laporan yang harus ia setorkan saat ini.


***


"Semua mempertanyakan kenapa Nona Clarice memanggil Pak Zio dengan sebutan Papa...." ucap Zahra saat lift mulai merayap naik.


"Aku sudah menduga..." jawab Zio enteng. "Kamu jawab apa?"


"Saya tidak menjawab, Pak. Saya hanya membaca grup chat yang ramai saja."


"Ya, lebih baik begitu. Toh mungkin tak lama lagi Pak Kenzo akan mengumumkan secara terang - terangan." jawab Zio lesu.


"Pak Zio sudah siap? Jika ada yang beranggapan bahwa Pak Zio bukan suami yang baik?"


"Bukankah aku sudah mendapat anggapan seperti itu sejak enam tahun yang lalu?" tanya Zio.


"Iya, juga sih..." lirih Zahra.


"Papa dan Aunty ngomong apa sih?" tanya Clarice.

__ADS_1


"Hah?" pekik Zahra dan Zio bersamaan.


"Kenapa bisik - bisik begitu? Cla jadi tidak bisa dengar!" ujar Cla yang berdiri di antara dua orang dewasa itu.


Sontak Zahra dan Zio saling lirik, kemudian tersenyum simpul.


"Kamu mau tau saja, Sayang!" sahut Zio mencubit gemas pipi Clarice.


"Papa dan Aunty sedang membicarakan Cla, ya?"


"Tidak, Papa dan Aunty Zahra membicarakan urusan orang dewasa!" bantah Zio.


Clarice mengangguk, seolah paham dan percaya dengan jawaban sang Ayah.


Pintu lift terbuka di lantai teratas. Tiga orang di dalam lift keluar secara bergantian. Dan langsung menuju pintu sang CEO yang sudah sangat di hafal oleh ketiganya.


"Silahkan, Pak Zio!" jawab sekretaris setelah Zio memberi kode, seolah bertanya boleh masuk kah?


Zio pun mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Dan suara seseorang berkata 'masuk' pun terdengar di telinga ketiganya.


"Selamat siang, Pak Kenzo.." sapa Zio dengan hormat. Dan ia pun belum tau jika ada Calina dan Gilang yang duduk di sofa.


"Hem.." jawab Kenzo yang justru sedang menatap putrinya.


"Daddy!" seru Clarice berlari mendekati Ayah tirinya.


Dan Kenzo pun tentu langsung menggeser kursi kebesarannya untuk menyambut sang anak gadis.


"I miss you, baby..." bisik Kenzo mencium pipi Clarice yang gembul.


"I miss you too, Daddy!" jawab Clarice ikut mencium pipi Kenzo.


Zio dan Zahra pun masuk ke dalam ruang kerja Kenzo, dan saat itulah ekor mata Zio baru menangkap keberadaan Calina dan Gilang di sofa.


Jantung Zio hampir saja melompat, melihat mantan istrinya ada di kantor. Meski sudah tau semua ini akan terjadi, tetap saja ada perasaan yang berat untuk di ungkapkan.


"Selamat siang, Mas!" sapa Calina tersenyum simpul dan datar.


"Si..siang..." jawab Zio dengan dada bergemuruh. Cepat - cepat ia menghadap Kenzo. Lebih baik menghadap Kenzo saja, dari pada melihat sang mantan istri di kantor Setidaknya untuk saat ini.


Sedangkan Zahra mencoba untuk membaca situasi yang ada. Melihat sikap Zio, ia berpikir.


' Apa dia mantan istri Pak Zio, dan sekarang istrinya Pak Kenzo? '


Tanya Zahra dalam hati.


...🪓 Bersambung ... 🪓...


āœļø Hai pembaca setia Cinta yang Tak Ku Rindukan!


Sesuai dengan maksud Author di awal, bahwa novel ini tidak di buat berseason - season seperti SANG MAFIA! Jadi novel ini akan tamat sebelum mencapai 100 episode ya Kakak... šŸ™šŸ¤©


Tapi jangan khawatir, jangan bersedih! Karena Author akan menggantinya dengan judul baru, yang mengisahkan kehidupan seorang Brighta Clarice Agasta di usia remajanya...🄰🄰🄰


Jadi di novel baru nanti, kita akan flash back dengan kehidupan kita di usia remaja dulu...


Stay tune 🄳


Salam, Lovallena 😘

__ADS_1


__ADS_2