Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 28 ( Kecewa yang Sama )


__ADS_3

Rasa sedih dan kecewa yang bergelayut di dalam dada, membuat Calina tak peduli akan gelap malam. Ia duduk sendiri di belakang Rumah Sakit. Lupa sudah ia akan berbagai cerita horor di Rumah Sakit yang banyak beredar.


Yang ia inginkan saat ini hanyalah menemukan tempat sepi, dimana ia bisa puas untuk menangis. Meluapkan segala sesak di dalam dada.


Memasukkan wajah di antara lengan dan dadanya, Calina menangis dengan sedikit tertahan. Tentu saja karena tak ingin ada yang mendengar isakan nya.


Meski begitu jika bisa, sungguh ia ingin berteriak sekencang yang ia bisa. Meneriaki dunia yang menurutnya tak berpihak sedikitpun pada dirinya. Dunia yang tak pernah berbagi cinta untuknya.


"Pa... Calina ingin pulang..." ucapnya lirih dalam isakan. "Calina lelah...hiks!"


Suara isakan lirih itu tentulah samar - samar tetap bisa terdengar dari salah satu lorong terdekat. Meski lorong itu tampak sepi.


"Jemput Calina, Pa... Bawa Calina bersama Papa..." tangisannya semakin terdengar miris. "Dunia ini terlalu menyakitkan untuk Calina...hiks!"


Derai demi derai air mata terus membasahi pipi mulus si bunga desa. Meski air mata terus meluncur, namun sepertinya tak sedikitpun mengurangi rasa perih di dadanya.


Luka itu sudah terlalu dalam. Tidak akan semudah itu bisa di obati. Apalagi hanya dengan kata, puas menangis.


"Andai Papa tau...hiks.. Andai Papa tau apa yang di alami Calina di dalam keluarga Mas Zio... Pasti Papa akan meminta Calina untuk pulang.. Jemput saja Calina, Pa... Minta Tuhan mengambil Calina dari Bumi ini..."


Rasa kecewa yang dalam di tambah keputusasaan, serta merasa tidak di hargai, membuat siapa saja mungkin akan memilih untuk mati dari pada bertahan hidup dengan rasa sakit hati. Meninggalkan dunia yang penuh dengan tipu muslihat.


Air mata terus menetes. Menjadi saksi bisu betapa perih derita seorang Calina Agasta. Mungkin jika mereka bisa bicara, mereka akan bilang bosan menjadi saksi bisu, tanpa bisa memberikan keterangan pada hakim.


Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam, Calina masih melamun di balik dinding putih Rumah Sakit.


Dan akhirnya tanpa terasa, mata lelahnya terlelap di sana. Berlalu dengan sisa air mata yang mulai mengering.


***


"Mas, dimana ya Calina?" tanya Naura pada Zio setelah keluar dari Ruang ICU.


"Entahlah.. Aku juga tidak tau, Sayang..." jawab Zio celingak celinguk di lorong Rumah Sakit.


"Tidak mungkin jika dia keluar dari area Rumah Sakit, kan? Ini sudah malam." tanya Naura ikut melihat - lihat lorong Rumah Sakit.


Naura menghela nafas, kemudian duduk di kursi tunggu. Menatap lirih Zio yang masih berdiri melihat sekitar.


' Haruskah aku menjauh darimu, Mas? '


Batin Naura begitu dalam.


' Rasanya aku tidak tega melihat Calina seperti di siksa setiap hari oleh mu! '


' Tapi aku sangat mencintaimu, Mas... '


Naura menunduk, ia bingung dengan keadaan yang ia hadapi. Mencintai pria yang sama memang cukup sulit untuk di lalui. Tapi itu adalah salah satu resiko mencintai.


# # # # # #


Waktu menunjukkan jam satu dini hari. Calina terbangun dari tidurnya di belakang Rumah Sakit. Melihat sekitar sangat sepi, Calina beranjak. Saat hati sudah tak sesesak tadi, rasanya ia mulai takut saat menyadari ia hanya seorang diri di sana.


Calina berjalan memasuki lorong Rumah Sakit yang mengantarkannya untuk sampai di Ruang ICU. Ia melihat Naura yang tidur berbaring di kursi. Sedang Zio berbaring di kursi satunya.

__ADS_1


Hanya ada dua kursi, sehingga ia tak mendapat tempat jika ingin duduk atau berbaring di sana.


Calina menatap lirih sepasang suami istri yang membuat hidupnya tak karuan. Ingin marah, tapi merasa tak pantas. Ingin pergi, tapi kembali berfikir, siapa yang akan menjaga ibu mertuanya di sana.


Bagaimana jika sewaktu - waktu Ibu mertuanya sadar dan mencari anaknya?


Sedih bukan saat bangun dari koma yang panjang, dan mendapati tak ada satu orang pun yang menjaga kita?


Calina akhirnya memilih untuk masuk ke dalam Ruang ICU. Ia akan tidur seperti biasanya. Duduk di kursi, dan menjadikan lengannya sebagai bantal di brankar pasien yang di tempati Mama Reni.


# # # # # #


Fajar siap untuk menyapa Bumi. Zio bangun tepat pukul 4 pagi. Yang pertama kali ingin ia lihat adalah kursi sebrang. Guna melihat istri pertamanya, Naura Azalea. Perempuan itu masih dalam mode terlelap. Masih melanjutkan mimpi yang entah indah atau biasa saja. Dan bisa jadi juga mimpi buruk.


Zio bangkit, lalu masuk ke ruang ICU. Ia menemukan Calina yang masih tertidur dengan posisi yang pernah ia lihat sebelumnya.


Hati terenyuh. Betapa tulus Calina menjaga sang Ibunda. Betapa Calina rela lelah di rumah sakit. Karena menjaga seseorang di rumah sakit tentu sangat melelahkan, bukan?


Apalagi tidak ada tempat tidur yang benar - benar nyaman seperti di rumah.


Zio melangkah pelan, hatinya bergetar setiap melihat wajah cantik natural Calina yang tertidur. Ingin ia mengartikan, tapi takut jika artinya adalah cinta.


Dalam hati, ia tak boleh mencintai siapapun selain Naura. Itu adalah tekad di dalam dada saat ia berniat menikahi Naura dahulu. Bahkan tekadnya saat duduk di depan penghulu, dan sang pengantin wanitanya adalah Calina Agasta.


Namun semua itu kini terasa telah menjadi dusta. Hatinya yang dulu menatap Calina dengan bara api, kin selalu menatap Calina dengan lirih.


Berhenti tepat di samping Calina, tangan reflek terangkat. Ingin menyentuk rambut hitam lebat yang mulai berantakan. Tinggal dua senti meter saja, namun tangannya tiba - tiba berhenti. Ragu untuk mengusap lembut rambut kepala Calina.


Akhirnya tangan harusnya mengusap rambut, justru menggenggam dan terangkat. Ia memejamkan matanya dalam. Tak ingin sesuatu lain terjadi. Ia berusaha keras menepis desiran aneh yang semakin kuat.


' Dia menangis? '


Tanya Zio dalam hati.


' Kenapa? '


' Apa karena kejadian di kantin? Bukankah itu sudah biasa? '


Zio mulai di hinggapi rasa bersalah. Akhirnya tangan yang sudah menjauh, kini justru berbalik arah. Dan benar - benar menyentuh lembut kepala belakang Calina.


' Maafkan aku, Calina... Mungkin aku seperti malaikat maut bagimu.. '


' Tapi aku juga tidak mau kamu pergi begitu saja... '


' Maaf... '


Kepala Calina bergerak, cepat - cepat Zio menarik tangannya dan mundur dua langkah. Calina menggeliat, meregangkan otot - otot tubuhnya yang terasa sangat kaku karena posisi tidur yang tidak nyaman.


Ia tekuk kepala ke kanan dan ke kiri masih dengan mata terpejam. Ia buka sedikit matanya dan sedikit terkejut saat melihat Zio berdiri mematung di ujung ranjang sembari menatap Ibunya.


Calina yang kecewa enggan untuk menyapa. Ia memilih untuk mengambil ponselnya dan mengecek apa yang ada di dalamnya.


"Cal?"

__ADS_1


Suara Zio mulai terdengar di dalam ruang ICU.


"Hem?" jawab Calina tanpa menoleh suaminya.


"Kamu tidak ingin pulang?" tanya Zio lirih.


"Memangnya kamu libur?" tanya Calina balik


"Kalau kamu libur dan bersedia menjaga Mama Reni di sini, aku akan pulang!"


"Besok hari Sabtu, besok aku libur. Kamu bisa tidur di rumah dua hari." jawab Zio.


"Lalu Naura? Kamu akan membiarkan wanita secantik Naura tidur di Rumah Sakit? Tidur di Rumah Sakit itu melelahkan!" lanjut Calina dengan nada sedikit menyindir.


"Aku tau!" jawab Zio. "Naura nanti tidak akan ikut. Dia akan aku antar pulang! Supaya bisa tidur dengan nyaman."


DUARR!


Hati yang sudah remuk, seolah di lempar bom. Bagaimana tidak sakit? Jika ia di biarkan hampir satu minggu penuh tidur di rumah sakit, tapi Naura tidak di ijinkan tidur di Rumah Sakit selama masa liburnya.


' Ini tidak adil! ' seru Calina dalam hati.


Ingin menangis, tapi di rasa akan percuma. Zio tidak akan peka dengan air mata yang berlinang di pipinya.


"Baiklah, aku akan pulang nanti malam, setelah kamu tiba!" jawab Calina enggan untuk berdebat. Apalagi di ruang ICU.


Calina keluar, membiarkan Zio yang sepertinya ingin berinteraksi pada ibunya.


Di luar, Calina menemukan Naura yang sudah terbangun. Duduk sendiri dengan mata yang seolah masih mengantuk.


"Calina?" sapa Naura lirih.


"Hai, Ra!" jawab Calina mendekat. "Aku ke musholla dulu, ya!" pamit Calina. Rasanya masih enggan untuk bicara.


"Oh... iya, Cal!" jawab Naura pasrah. Sesungguhnya ia ingin bicara empat mata. Tapi sepertinya Calina sengaja menghindar.


***


Calina keluar dari Musholla setelah sholat subuh. Ia memilih untuk duduk di depan Musholla dari pada harus kembali dan melihat sepasang suami istri bermesraan.


' Tidak bisakah kamu mencoba untuk mencintai ku sedikit saja, Mas? '


' Aku memang benci dan kecewa padamu.. Tapi aku pikir, masih ada sisa hati untukku! '


' Ternyata aku salah, kamu memang tidak akan pernah melihat ketulusanku! '


Calina kembali melamun, mengharapkan sesuatu yang menurutnya sangat sulit ia gapai.


"Untuk apa melamun di sini?"


Suara barinton membuat Calina terkesiap dna menoleh sumber suara.


"Pak Kenzo!" pekik Calina berdiri dari duduknya.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2