
Setelah obrolan ringan antara Cla dan Arsen, akhirnya Arsen menyetujui untuk mencoba menghilangkan trauma yang menyiksa dirinya selama bertahun-tahun. Kalimat Cla yang memang tidak meyakinkan akan berhasil, tapi memang benar pula apa yang di imbuh kan oleh sang gadis. Jika tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?
Maka kini keduanya sepakat untuk pembelajaran pertama ala Clarice, pelatih dadakan untuk sang pembalap. Yaitu menahan nafas di dalam air selama sang pemuda bisa. Tanpa pemaksaan juga tanpa waktu yang di targetkan untuk di capai.
Belajar menahan nafas di dalam air memang sangat penting, bukan?
"Jika kamu bisa memasukkan kepala mu dengan membuka mata, maka lakukan. Tapi jika tidak bisa, kamu bisa memejamkan mata terdahulu agar kamu tidak melihat luasnya kolam ini." ucap Clarice menirukan gara seorang guru pelatih ketika memberi penjelasan pada murid-muridnya.
"Jangan menahan ku jika aku ingin mengeluarkan kepalaku!" ujar Arsen mengingatkan.
"Iya! aku janji!" jawab Clarice. "Tarik nafas sebanyak yang kamu bisa." titah Cla dan langsung di laksanakan oleh Arsen.
"Satu...dua...tiga..." Clarice menghitung angka maju, sebari ia mulai merayap turun.
Menekuk kaki masing-masing secara bersamaan dan secara perlahan hingga memasukkan kepala bersamaan, keduanya menghadapai situasi yang berbeda. Jika Cla mengikuti kecepatan yang bisa di lakukan Arsen dengan mata terbuka. Maka Arsen mengalami dunia yang ia anggap sangat kelam dan suram dengan mata tertutup.
Begitu mulutnya masuk ke dalam air, ia langsung merasa nafas mulai terhenti saat itu juga. Dan ketika ia menutup mata, ingatan tentang sesuatu yang terjadi lebih dari 10 tahun itu kembali muncul begitu saja di detik pertama matanya tenggelam dalam air.
Bayang-bayang itu benar-benar terjadi beberapa tahun yang lalu. Dan kini semua terasa nyata dan terlihat benar-benar terulang kembali. Dimana dirinya yang tidak bisa mengatur nafas tergulung oleh arus air di kedalaman yang berlipat-lipat melampaui tinggi badannya.
Jika menghadapi situasi seperti ini bersama guru pelatihnya, ia pasti langsung memberontak dengan sendirinya, dan langsung muncul di permukaan setelah detik ke tiga atau bahkan di detik kedua.
Tapi kali ini, ia bertekad melakukan semua ini demi Clarice. Ia ingin menghargai usaha dan niat Clarice yang ingin membantunya meninggalkan trauma itu. Ia tahu di balik sikap ketus dan cuek sang gadis pada dirinya selama ini, masih ada satu sisi hati yang bisa ia masuki.
Di dalam air, di kedalaman 1 meter itu, Clarice menghitung detik menggunakan jemarinya. Ia berharap Arsen bisa menambah detik di setiap percobaan.
' Satu...dua... '
Dalam hati Clarice menghitung detik demi detik yang bisa di lalui oleh Arsen sembari membuka satu persatu jarinya, di mulai dari ibu jari. Dua menit pertama, Cla menatap Arsen yang raut mukanya sudah berbeda. Tapi ia tidak akan meminta Arsen untuk keluar meski kasihan sekalipun.
' Tiga... '
Kali ini Clarice melihat wajah Arsen semakin pucat dan tegang.
' Empat... Bertahanlah, Arsen! '
ucap Clarice dalam hati.
Belum sempat jari kelingking Clarice terbuka, Arsen sudah menyembul kembali ke permukaan. Mengusap kasar wajahnya dengan nafas yang terengah. Ia kibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Seolah mengembalikan dunia yang yang baru saja hendak merenggut nyawanya.
Nafas terengah keluar masuk melalui hidung dan mulut sang pemuda. Ia selalu mengalami ini sejak dahulu. Dan selalu terjadi di detik ke tiga. Dan kali ini adalah waktu pertama kali ia bisa lebih dari biasanya.
Semua itu karena di tengah bayangan tentang masa suram itu, muncul lah wajah Clarice yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh harap. Seolah mengiba pada dirinya untuk bertahan apapun yang terjadi.
Meskipun ia tidak melihat apa yang sedang di lakukan dan di pikirkan Cla karena ia selalu menutup mata, tapi batinnya berucap demikian. Dan semua terjadi seolah sama-sama nyata.
Melihat Arsen yang siap keluar dari dalam air, Cla pun melakukan hal yang sama. Ia langsung keluar dari air dan mengusap wajahnya. Membersihkan air yang menghalangi nafasnya di udara bebas.
Cla melihat efek dari Arsen belajar menahan nafas di air. Dada sang pemuda kembang kempis tak beraturan. Tangannya masih berpegangan pada pipa besi yang sejak tadi tak di jauhi sama sekali. Untuk saat ini, hanya benda itu yang di anggap anggap Arsen sebagai pelindungnya.
"Hampir saja lima detik!" ucap Clarice menatap lekat wajah Arsen yang pucat pasi sembari mengatur nafasnya yang tersengal.
Arsen yang menatap ke arah lain, segera menatap Clarice yang ada di depannya. Sorot mata keduanya kembali bertemu. Arsen teringat jika ia sempat melihat wajah ini di tengah bayangan suaranya tadi.
"Itu adalah rekor terbaru ku, Cla!" ujar Clarice dengan nafas yang masih tersengal.
"Dan aku bangga padamu karena berhasil memecahkan rekor baru!" ujar Clarice menepuk pelan lengan Arsen. "Kita coba lagi"
Sentuhan itu, sentuhan akrab yang baru pertama kali di dapatkan Arsen dari Clarice. Dan sudah sejak beberapa waktu lalu ia menginginkan sentuhan ini. Selama ini yang di dapat Arsen ketika mereka di sekolah hanyalah tatapan tak bersahabat sang gadis.
Maka jika dulu dia akan menolak ajakan sang pelatih untuk mengulang, maka kali ini ia justru mengangguk walau hanya dengan satu anggukan.
"Paksa dirimu untuk tidak mengingat semua itu. Lawan mereka dengan sesuatu yang berarti. Gantikan dengan sesuatu yang baru. Dan jangan kamu anggap jika kamu tengah menahan nafas karena sedang masuk ke dalam air. Tapi anggap saja kamu menahan nafas karena bau kentut."
"Hahahahaha!!!" Wajah Arsen yang sebelumnya pucat pasi mendengarkan dan membayangkan penjelasan Clarice, kini justru memerah karena tawa yang meledak tanpa bisa di hentikan dengan mudah. Tawa itu meluncur begitu saja dengan sangat keras.
__ADS_1
Clarice melihat tawa Arsen yang kali ini benar-benar terlihat rileks. Sama sekali tidak terlihat terbebani oleh pelatihan ala kadarnya yang sedang ia usahakan.
Byurr!
Clarice menyiratkan air ke arah wajah Arsen yang terus saja menertawakan perkataannya. Meski sesungguhnya ia senang karena berhasil membuat Arsen berubah mood. Tapi jika berlangsung terlalu lama rasanya pelatih baru satu ini tidak akan sanggup. Ia terlalu tidak sabar untuk menjadi guru di taman kanak-kanak.
"Buaah!" Arsen mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air kolam yang di cipratkan Clarice. Dan juga membuang air yang secara tidak sengaja masuk ke dalam mulutnya.
"Makanya jangan banyak tertawa!" seru Clarice.
"Penjelasanmu terlalu lucu, Cla!" jawab Arsen masih menahan ledakan tawanya.
"Kita ulangi sekarang!" ujar Clarice menutup mulut Arsen dengan satu tangannya, supaya sang pemuda berhenti tertawa.
Namun Arsen justru ingin menggigit gemas tangan dengan jemari-jemari lentik itu.
"Baik Ibu pelatih!" jawab Arsen melepas tangan Clarice yang menutup mulutnya.
"Ingat! coba pikirkan hal lain yang menurutmu berharga dan sangat berat jika sampai kamu kehilangan semua itu." ucap Clarice.
"Contohnya?" tanya Arsen memicingkan matanya. Senyum di bibirnya kembali lenyap. Berganti dengan wajah serius yang mungkin akan kembali pucat jika kembali masuk ke dalam air.
"Bayangkan jika seandainya Mama dan Papa kamu bangga pada kamu yang sudah bisa lepas dari trauma berlebih!" jawab Clarice. "Atau mungkin... bayangkan betapa kagumnya para gadis yang mengidolakan kamu ketika mereka tau jika kamu adalah pemuda yang nyaris sempurna. Sudah tampan, kaya raya, pembalap dan juga bisa di andalkan jika kekasih mu kelak sampai tenggelam!" jawab Clarice lagi.
Arsen kembali tersenyum. Bukan pada apa yang di terangkan Clarice, melainkan... "Jadi menurut kamu aku benar tampan?" tanya Arsen dengan mengulum senyum menggoda.
Clarice memicingkan matanya, kemudian memiringkan bibirnya karena menyadari sudah salah bicara. Si bocah tengil selalu saja fokus pada pujian yang ia sangkal meskipun itu sebenarnya memang iya.
' Bicara dengan anak ini memang harus hati-hati! '
Gerutu Cla menyesal dalam hati. Meskipun sesungguhnya ia mengakui jika Arsen memang tampan dan nyaris sempurna.
"Memangnya kamu merasa tampan?" tanya Clarice.
"Tentu saja! sudah banyak yang mengakui itu! Dan salah satunya adalah... kamu!"
Dan benar, ketika wajah Arsen mendekat, di saat itulah Cla merasa sesuatu menghentak hatinya.. Menyerempet salah satu sisi hati yang entah bagian mana. Namun sebisa mungkin ia menepis segala sesuatu yang membuat nya merasa aneh dengan dirinya sendiri. Meski saat wajah mereka hanya berjarak 10 cm saja tadi, Cla mengakui jika Arsen memang tampan dan patut untuk di idolakan di sekolah.
Clarice tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun demi menjaga harga diri yang selama ini ia jaga di depan Arsen, Cla menyebikkan bibirnya malas. Menepis kalimat Arsen secara nyata.
"Jangan banyak bicara dan jangan terlalu percaya diri!" ucap Cla. "Sekarang persiapkan nafas terbaikmu... dan kita masuk kembali ke dalam air. Aku yakin kamu bisa menambah durasi!"
Seketika sang pemuda menarik nafas sepanjang yang ia bisa. Memejamkan matanya untuk bisa menghirup nafas lebih dalam.
"Rileks..." ucap Clarice lembut.
"Satu..." Clarice mulai menekuk lututnya, dan menyisakan kepala saja di udara.
Sementara Arsen mengikuti dengan pelan dan tangan yang tak lepas dari pegangan pipa besi dengan mata yang terbuka. Ia menatap wajah Clarice sebagai titik acuan.
"Dua..."
Arsen mulai menekuk lebih dalam kakinya dengan fokus yang belum beralih dari wajah cantik Clarice.
"Ingat, masukkan wajah yang kamu sayangi ke dalam pikiran kamu... Lawan bayangan masa lalu dengan memunculkan wajah-wajah itu!" Cla berucap dan Arsen mengangguk singkat.
' Aku tau harus melawan ingatan itu dengan memasukkan siapa ke dalam pikiranku! '
Ucap Arsen dalam hati.
"Tiga..." Dan keduanya kembali masuk ke dalam air.
Seperti sebelumnya, Clarice mulai menghitung detik demi detik menggunakan jemarinya.
' Satu... dua... tiga...empat... Bagus Arsen! '
__ADS_1
' Lima... enam... tujuh... Good job boy! '
' Delapan...Sem... '
Belum selesai menyebut angka 9, Arsen sudah mengeluarkan ke permukaan dan mengambil nafas sebanyak yang ia bisa. Dan Cla pun langsung mengikuti gerakan Arsen.
Selama di dalam air, Arsen mencoba untuk mengikuti saran Clarice. Yaitu memasukkan wajah seseorang yang bisa membuatnya melawan rasa trauma di masa lau. Dan ia memasukan wajah Clarice ketika sang gadis mengatakan jika dirinya tampan, dan ketika ia pertama kali bertemu dengan sang gadis di mall Metropolitan.
Satu yang ia tunggu, wajah Clarice yang tersenyum. Kenapa tak kunjung muncul, dan itu membuat bayangan masa lalu kembali membuatnya kehabisan nafas, dan tidak sanggup lagi untuk bertahan.
"Good job!" Clarice tertawa senang ketika mengucap kalimat pujian itu untuk Arsen yang masih menyingkirkan sisa-sisa air di wajahnya, kemudian mengisi paru-paru dengan udara sebanyak yang ia bisa.
"Berapa detik?" tanya Arsen.
"Hampir 9 detik!" jawab Cla.
"HAH!" pekik Arsen dengan mata yang terbuka lebar. "Serius?" tanya Arsen ta percaya dengan pencapaiannya kali ini.
"Ya! rekor mu bertambah!" ucap Clarice ikut senang dengan pencapaian yang di dapat Arsen.
Arsen tertawa senang dengan pencapaian terbarunya. "Kita coba lagi!" ujar Arsen. "Kamu tidak perlu ikut masuk ke dalam air. Yang penting hitung saja!"
"Baiklah! aku setuju!" jawab Cla merasa ide Arsen bagus juga untuk di coba. "Masuklah dan aku akan menghitung!" titahnya.
Tanpa di hitung lagi untuk di memulai, Arsen langsung masuk kedalam air. Ia sudah tau harus mengingat siapa, gadis yang ada di depannya adalah orang yang tepat untuk berbahagia jika ia berhasil menghilangkan traumanya. Karena berkat sang gadis ia berhasil melalui itu semua. Meski tidak akan semudah itu untuk di capai.
Byuur!!
Arsen kembali muncul di permukaan dengan mengusap kasar wajahnya. Membuka matanya lebar dan juga menarik nafas sebanyak mungkin. Setiap ali bayangan itu muncul dan ia tak sanggup lagi untuk menahan, ia akan langsung keluar dari dalam air.
"Berapa lama?"
"15 detik!" jawa Cla tersenyum senang karena pencapaian Arsen terus meningkat. Meskipun itu sangat aneh bagi Clarice yang sudah terbiasa menahan nafas di dalam air sampai 5 menit bahkan lebih.
Dan Arsen pun semakin bersemangat dengan pencapaian-pencapaian yang ia dapat di hari pertama berlatih bersama gadis yang terlihat sangat bersemangat untuk mengajari dirinya. Membantunya dengan tulus untuk menghilangkan trauma yang mengganggu hari-harinya.
' Setiap aku memikirkan dirimu di dalam air, bayangan buruk itu selalu hilang, Cla! '
' Tapi ketika aku mengharapkan bayangan yang lebih indah darimu muncul, selalu saja justru bayangan itu yang muncul dan membuat ku kehilangan arah! '
Ucap sang pemuda di dalam hati.
"Kamu harus terus mencoba!" ujar Cla.
"Ya! aku akan mencoba terus sampai aku berhasil, asal amu yang mengajari!" ucap Arse
"Maksud kamu, kamu mau aku jadi pelatih mu?"
"Ya! itu benar!"
"Berani bayar berapa?" goda Cla.
"Berapapun yang kamu mau!" jawab Arsen.
"Emmm..." Cla memiringkan wajah, melirik langit seolah mencari ide. "Dufan saat kamu sudah benar-benar bisa!" jawab Cla.
"Hari sabtu atau minggu besok juga boleh! tidak perlu menunggu aku bisa!"
"Setelah ujian" saran Cla.
"Ok!" jawab Arsen bersemangat.
"Baiklah! aku setuju!" jawab Clarice. "Anggap saja DP!"
Dan keduanya pun tergelak bersama.
__ADS_1
"Kita istirahat dulu!"
...🪴 Bersambung ... 🪴...