Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 52 ( Berteman Sepi dan Rindu )


__ADS_3

Langkah tegap Gilang beriringan dengan langkah Clarice memasuki apartemen Kenzo. Hingga mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar di lantai 1.


Ya, ruang bermain yang di desain layaknya playground di dalam sebuah mall. Di ruangan itu ada satu ruang berbentuk kolam berukuran 2x2 yang berisi bola - bola kecil yang kemudian di beri dinding berupa jaring.


Ada juga trampolin berukuran kecil. Dan berbagai jenis mainan lainnya. Jungkat jungkit mini. Mobil mini dan juga rumah bermain berserta perosotannya.


Semua lantai berlapis matras puzzle dengan berbagai motif dan gambar. Ada motif huruf, ada gambar binatang juga gambar yang lainnya.


"Pasang di sini, Uncle!" ujar Clarice menunjuk ruang kosong di salah satu sisi ruangan.


"Okay!" jawab Gilang sembari meletakkan kardus besar. Dan bersiap merakit istana Barbie berukuran cukup besar itu.


Gilang memang suka sekali membelikan mainan untuk dua keponakannya. Bahkan sebagian besar mainan di dalam sana adalah pemberiannya.


***


Jika di apartemen mewah itu ada beberapa orang berbeda usia yang sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing di saat hari menjelang malam. Maka di depan sebuah rumah dua lantai juga ada seorang laki - laki yang kesepian.


Ia baru pulang bekerja. Ia turun dari mobil untuk membuka pintu pagar besi setinggi 2 meter dengan cat hitam, dengan papan - papan kayu persegi panjang bercat coklat keemasan yang berjajar di antar besi hitam.


"Baru pulang kerja, Pak Zio?" sapa seseorang dari arah belakangnya.


"Eh, iya, Pak! Baru saja sampai."


"Saya dengar Pak Zio sudah tidak si cabang perusahaannya, ya?"


"Iya, Pak. Saya kembali ke kantor pusat mulai hari ini." jawab Zio ramah.


"Semoga di beri kemudahan dalam bekerja ya, Pak!"


"Terima kasih, Pak!" Zio tersenyum ramah.


"Jangan lupa ya, Pak Zio. Nanti habis isya' ada kegiatan di mushola. Semoga Pak Zio bisa datang."


"Iya, Pak. Saya ingat kok!"


"Baiklah, Permisi Pak Zio." pamit lelaki paruh baya itu.


"Iya, Pak!" jawab Zio.


Zio memasuki rumah yang baru ia beli satu tahun lalu itu. Namun baru ia tempati beberapa bulan lalu, setelah kembali ke kota untuk bertugas di kantor cabang selama beberapa bulan. Sebelum akhirnya bisa kembali masuk ke kantor pusat.

__ADS_1


Rumah dua lantai itu di pilih oleh Naura sendiri. Karena ia ingin tinggal di dekat perumahan lama mereka. Bahkan cat rumah pun Naura yang memilih, dengan warna tak jauh berbeda dari rumahnya yang lama.


Zio memarkir mobilnya tepat di parkiran mobil. Kemudian menyalakan lampu teras di susul masuk ke dalam rumah untuk menyalakan seluruh lampu rumahnya.


Menghempaskan tubuh lelah di sofa nan empuk, Zio menatap langit - langit ruang tamu yang menyatu dengan langit - langit lantai dua.


Pikiran bersama angan - angannya terbang ke sana kemari. Berulang kali ia berusaha mencari keramaian, namun selalu sepi yang ia dapatkan.


Zio menoleh rak di pojok ruang tamu. Di rak kayu berwarna putih itu tertata rapi beberapa foto. Salah satunya adalah foto pernikahannya dengan Naura.


Ya, setelah satu tahun tinggal di daerah perkebunan teh, Zio mengajak Naura untuk melangsungkan pernikahan yang sah secara hukum. Dengan izin dari orang tua Naura, maka keduanya resmi menjadi suami istri yang sah secara hukum dan agama.


Tidak mudah memang bagi Zio untuk membuat orang tua Naura merestui pernikahannya. Tapi setelah tau jika orang tua Zio meninggal, maka perselisihan di anggap selesai.


Tangan Zio meraih foto berukuran 4R itu. Foto sisa - sisa kenangan yang di tinggalkan Naura. Mengusap lembut wajah cantik berbalut kebaya putih. Dengan senyum bahagia yang selalu di pancarkan sang istri.


"I miss you, Sayang..." lirih Zio menatap lekat wajah Naura.


Memori dua bulan lalu kembali menyeruak di dalam pikirannya. Dimana teriakan kesakitan Naura dari dalam ruang operasi, membuatnya terus menangis pilu di pojok ruangan. Hanya bisa menangis, tanpa bisa menggantikan posisi sang istri.


Sebagai seorang suami, tentu dia pasti berfikir, jika bisa biarlah dirinya saja yang terluka. Biarlah dirinya saja yang tersiksa oleh kesakitan yang menggerogoti tubuh ringkih sang istri.


Naura yang di vonis kanker otak itu terus berteriak kesakitan saat operasinya di nyatakan gagal.


Dimana di saat itu, dunia benar - benar runtuh di atas kepala Zio. Tak ada lagi yang menjadi tempatnya pulang selain rumah kosong miliknya. Tak ada lagi rumah yang di penuhi senyuman tulus nan lembut sang istri. Tak ada lagi yang bermanja di pelukannya. Dan tak ada lagi yang menyiapkan makanan untuknya.


Semua hanya menyisakan, rindu...


Mengingat perjuangan mereka yang tak mudah dan harus berakhir dengan sebuah perpisahan, membuat Zio menitikkan air mata kesedihan.


Kini, hanya satu yang membuatnya harus tetap bertahan hidup. Keberadaan Zhika yang masih terus membutuhkan biaya. Hanya Zhika yang membuatnya harus tetap gigih mendapatkan uang.


"Semoga kelak kita bisa kembali berkumpul, Zhika..." lirih Zio.


Drrttt drrttt...


Suara getar ponsel, membuat pria 34 tahun itu segera mengambil benda pipih itu dari saku celananya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Nama yang di angankan muncul di layar ponsel. Segera ia geser tombol hijau.


šŸ“ž "Halo?"


šŸ“ž "Selamat petang, Pak Zio..."

__ADS_1


šŸ“ž "Ya?"


šŸ“ž "Pak Zio, bisakah Bapak meluangkan waktu untuk datang ke Rumah Sakit akhir pekan ini?" tanya suara seorang laki - laki dari sebrang. "Ada beberapa hal yang tidak bisa kami sampaikan melalui telepon."


šŸ“ž "Ya, Dok! Hari Sabtu nanti saya akan datang!"


šŸ“ž "Baiklah, terima kasih, Pak Zio.."


šŸ“ž "Sama - sama"


Panggilan berakhir, ia hela nafas berat. Semoga bukan kabar buruk yang akan ia dapatkan.


***


Kembali ke apartemen Kenzo. Malam telah larut, Galen yang masih berusia dua tahun itu ternyata tidur sampai... Entahlah. Ia belum bangun sampai jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.


Dimana sang Kakak Clarice sudah kembali bermimpi bersama Gilang yang memilih untuk menginap dan tidur di kamar Clarice.


Sementara Kenzo dan Calina, mereka belum tidur tentu saja. Mereka baru saja menyelesaikan aktivitas malam mereka. Seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Kini sepasang suami istri itu duduk berdampingan di ranjang mereka. Bermesraan layaknya pengantin baru. Galen sendiri masih terlelap di tempat tidur khusus miliknya.


Kenzo menatap lekat wajah putranya, Galen Ray Adhitama. Anak pertama yang tumbuh dari benihnya sendiri.


"Zio sudah kembali ke kantor." ucap Kenzo tiba - tiba.


Sontak Calina menoleh suaminya. Membuka mata sedikit lebar. Tak menyangka jika suaminya akan membahas mantan suaminya. Dimana ia sendiri bahkan tak peduli lagi. Meski ia tak pernah memungkiri jika sosok Zio sedikit banyak ada di dalam diri Clarice.


"Kamu memintanya kembali?" tanya Calina menatap lekat wajah suaminya.


"Hemm..." Kenzo mengangguk pelan, menarik pundak Calina untuk ia peluk dan ia dekap di dadanya.


"Aku tidak menyangka kamu akan memanggilnya kembali."


"Dulu aku tidak menyangka jika kita akan menikah. Jadi kontrak di perkebunan hanya berlaku selama 5 tahun saja." jawab Kenzo.


"Lalu sekarang kamu menyesal?"


"Tidak juga... Lagi pula kinerja Zio sebenarnya sangat bagus! Perusahaan membutuhkan orang - orang seperti dia." jawab Kenzo. "Kalau pun seandainya dia tau kita menikah, aku tidak peduli. Yang aku takutkan hanya satu..."


"Apa?" tanya Calina.

__ADS_1


"Clarice!"


...🪓 Happy Reading 🪓...


__ADS_2