Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 115 ( Si Bola Jingga yang Meresahkan! )


__ADS_3

Sesi pemanasan tubuh sudah berakhir. Dan kini 20 murid yang hadir di bagi menjadi dua kelompok ketika harus praktek dribel dan di lanjut dengan memasukkan bola basket ke dalam ring.


Kelompok perempuan di minta oleh Mr. Faiz untuk berbaris terlebih dahulu. Sedang kelompok laki - laki bisa bersantai dulu di sekitaran lapangan. Tanpa boleh ada yang meninggalkan area lapangan basket.


Ada yang duduk bersantai dengan berjajar di tepian. Tentu saja tujuan mereka untuk melihat aksi para murid perempuan yang cantik - cantik itu. Karena tidak bisa di pungkiri jika gerak - gerik anak perempuan di area olah raga sangat menarik mata para murid laki - laki.


Entah untuk mengagumi, atau untuk menertawai jika tidak sesuai dengan aturan yang sudah di buat secara mutlak. Karena tak semua anak perempuan menyukai jam olah raga di sekolah. Sehingga mereka sering di anggap hanya merusuh di mata pelajaran itu oleh murid laki - laki.


Ada pula yang memainkan bola basket lainnya di sekitaran ring yang satunya. Tentu saja di lakukan oleh mereka yang memang memiliki hobi bermain basket. Atau bahkan tim inti olah raga basket yang di bentuk oleh sekolah.


Salah satunya adalah Malvino Lubis, sang ketua kelas X-3, yang masuk Alexander International School melalui jalur prestasi non akademik.


Ia masuk dalam jajaran nama tim inti pemain basket, dan juga tim inti pemain futsal. Selain itu, namanya juga tercatat sebagai tim lomba renang antar sekolah. Namun belum pernah mengikuti lomba renang antar sekolah. Karena ia baru tiga bulan di sekolah itu. Dan saat ini hanya fokus latihan bersama tim inti. Karena lomba antar sekolah akan di adakan bulan depan.


Wajah tampan yang khas, dan juga di padu dengan kulit kuning langsat, serta rambut hitamnya yang selalu rapi, sudah cukup untuk menyempurnakan tubuhnya yang tinggi besar.


Postur tubuh yang jelas menggambarkan jika dia adalah seorang Atlit. Suka berpanas - panasan, mengangkat beban berat dan juga aktif bergerak di dalam kolam renang.


Namun ke ikut sertaannya untuk bergabung bersama teman lainnya saat bermain basket di ring sebelah harus gagal. Ketika Mr. Faiz memanggil namanya untuk menjaga tiang ring bola basket yang di gunakan untuk praktek.


Lebih tepatnya ia bertugas untuk mengambil bola - bola yang baru saja di lempar oleh anak - anak perempuan.


Tidak bisa menjawab dengan kata lain, selain... "Siap, Pak!" jawab Vino mendekati ring yang siap di jadikan sasaran lempar bola anak perempuan.


Terutama anak perempuan yang sama sekali tidak bisa bermain basket. Mereka hanya akan melempar semampunya, dengan disertai teriakan yang kadang tidak sesuai dengan hasilnya. Karena jelas mereka tidak bisa memasukkan bola ke dalam ring dengan sempurna, meski sudah berteriak sedemikian rupa.


Alhasil tugas ketua kelas akan semakin melelahkan gara - gara ulah murid perempuan yang semacam itu. Karena yang ada bola akan menggelinding ataupun memantul ke sembarang arah.


Nuansa jam olah raga di Alexander International School benar - benar terlihat di area lapangan basket yang cukup luas itu. Suara riuh anak perempuan yang mengeluh panas dan gerak pun tak kalah meramaikan lapangan. Sehingga mereka antri di bagian lapangan yang tertutup pohon besar.


Sekolah bertaraf Internasional itu memiliki beberapa jenis lapangan untuk siswanya. Salah satunya adalah lapangan futsal, dan dua lapangan voli yang berdampingan. Semua jenis lapangan itu berjajar. Dan jika jaring pembatas di lepas, maka akan menjadi lapangan yang berukuran cukup besar dan luas.


Berada di posisi urutan ketiga sebagai pelempar bola yang di urut berdasarkan nomor Absen, jantung Clarice berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan hanya karena akan melempar bola basket di depan anak laki - laki yang menonton.


Tapi yang membuat jantung Clarice serasa ingin melompat adalah keberadaan sang ketua kelas di dekat tiang ring yang tak ia duga sebelumnya.


Nona Clarice adalah julukan yang di sematkan oleh seluruh karyawan Adhitama Group. Nona itu akan menggiring bola mendekati ring, kemudian melompat untuk memasukkan bola dengan presisi.


Belum juga menyentuh bola, tapi gadis itu yakin akan gagal. Kemudian siswa pujaannya itu akan tertawa kecil akan aksi bodohnya. Clarice sangat tau, Vino adalah lelaki yang mudah untuk tersenyum ramah dan tertawa. Meski tak pernah tertawa bersamanya. Lelaki tak pernah memperlihatkan sisi amarahnya. Melainkan selalu senyum dan senyum yang ia tampilkan pada semua orang.


Sedikit banyak itulah yang ada di dalam benak sang Nona Clarice.


Namun Clarice tidak sendiri. Karena hanya beberapa saja murid perempuan di kelas Clarice yang bisa bermain basket. Selebihnya sama seperti dirinya. Dribel saja bola sering bergerak tidak beraturan.


Siswi yang berada di barisan pertama mulai maju ke depan. Mengambil salah satu bola dari tiga bola yang siapkan untuk satu anak. Artinya satu anak mendapat tiga kali kesempatan memasukkan bola ke dalam ring. Semakin banyak bola yang masuk maka nilai akan semakin baik.


Gadis itu mulai melakukan dribbling, dan berhasil mencetak 2 skor masuk. Gadis itu gagal pada kesempatan ke dua. Dan seperti dugaan Clarice sebelumnya, jika Vino akan reflek tersenyum setengah menertawakan, ketika melihat ada yang gagal dalam memasukkan bola.


Bukan menertawakan kegagalan si pelempar. Tapi laki - laki itu menertawakan cara anak - anak perempuan yang asing dengan bola basket, kemudian bergerak dengan cara yang menurutnya aneh dan menggelitik perutnya. Itu karena ia bisa melihat dengan sangat jelas, mana yang kebetulan berhasil mencetak skor, dan mana benar - benar berhasil mencetak skor.


Meski tidak ada kalimat ejekan, tetap saja pasti akan terlihat memalukan bagi Clarice. Karena beraksi di bidang olah raga dengan sangat buruk, di saat yang ia kagumi adalah seorang Atlit.


Lalu apa jadinya dia nanti?

__ADS_1


Apakah dia akan mendapat tiga kali tawa seorang Malvino Lubis?


Oh no! jangan sampai! Itu akan membuatnya mati kutu dan malu yang mendarah daging!


Tapi apa yang harus dia perbuat? dia sama sekali tidak bisa bermain basket. Dia bukan sang adik, Galen. Yang cukup pintar memainkan bola basket meski baru duduk di bangku kelas 7 Junior High School di gedung sebelah.


Terlepas dari lamunan Clarice yang berantakan, siswi berikutnya adalah Lia, atau Amalia Jasmine yang berada di absensi kedua putri. Gadis itu gagal di kesempatan pertama, dan berhasil di kesempatan kedua.


"Kesempatan terakhir!" seru Mr. Faiz yang berdiri dengan membawa lembar absensi untuk menuliskan nilai siswa.


Lia tampak menghela nafasnya panjang. Ia terlihat lebih gugup dari pertama kali mencoba. Mungkin khawatir Vino akan kembali tergelak tanpa suara karena menertawakan aksinya di kesempatan pertama tadi.


Lia kembali melakukan dribel untuk ketiga kalinya. Lalu mulai melangkah maju secara perlahan. Terlihat memang gadis itu sangat kaku.


Clarice seolah tengah melihat dirinya yang tak jauh berbeda dengan Lia. Atau bahkan mungkin ia jauh lebih parah di banding Lia?


' Tak masalah, Cla! Tidak ada manusia yang sempurna di muka Bumi ini. Dia bisa dengan lincah memainkan bola basket, tapi kamu harus yakin dia akan sangat memalukan jika menari ala Cheerleader seperti mu dan teman - teman! Paling jauh dia hanya akan menjadi pengaman tanpa bisa melakukan split atau melompat dan berputar di udara seperti dirimu! '


Clarice berusaha menyemangati diri sendiri, dengan cara mencoba menggali ketidakmungkinan yang bisa di lakukan oleh Vino.


Mata Clarice mengamati sekitar, melihat siapa saja kira - kira yang memperhatikan kelompok perempuan yang tengah memburu skor.


Dan sial, sungguh sial! Ia pikir, Arsen ada bersama teman - teman yang tengah bermain basket di ring sebelah, seperti sahabatnya, Naufal. Ternyata pemuda itu duduk bersila di atas kursi besi.


Dan saat ia mengamati sekitar dan menemukan sang pemuda, laki - laki yang menurut Cla terlalu percaya diri itu ternyata tau jika ia tengah mengamati sekitar.


Lengkap sudah lelaki yang pasti akan menertawakan kegagalannya pagi itu.


' Apa dia juga tidak bisa bermain basket? '


Gerutu Clarice di dalam hati. Ia memiringkan sebelah ujung bibirnya, dengan menatap kesal pada Arsen. Namun pemuda itu justru tersenyum padanya dengan sangat manis, sembari mengangkat satu lengannya untuk meninju udara di depan wajahnya. Seolah tengah memberinya semangat.


Yakin laki - laki buaya darat itu tengah memberinya semangat?


' Bulshit! '


Di antara lamunan Clarice, kini Lia sudah melompat kecil dan melempar bola basket ke udara. Dan yang terjadi adalah... Gagal!


Bola dengan warna khas orange atau jingga itu hanya mengenai lingkaran ring, tanpa berhasil mencetak skor untuk menambah nilai nya. Jelas terlihat jika Lia sangat kecewa dengan apa yang ia hasilkan pagi itu, yaitu 1 skor. Tapi setidaknya pecah sudah telur di kolom nilai milik Lia.


"Brighta Clarice Agasta!" seru Mr, Faiz yang membuat jantung Clarice seperti sedang di pompa dengan sedemikian hebat, dan di hantam benda berat yang menubruk dadanya. Hingga membuat gadis itu semakin gugup.


Clarice melangkah mendekati bola - bola yang baru saja di tata ulang oleh Vino, ia mengambil satu bola dan menatapnya dengan resah. Kemudian mulai menatap ring yang tinggi di sana.


Di tengah kegugupan Clarice saat hendak melakukan dribel, ada sosok pemuda yang tersenyum miring mendengar Mr. Faiz menyebutkan nama lengkap Clarice. Ia tak perlu susah payah menemukan buku absensi yang entah dimana ia harus menemukan buku tersebut.


Dialah Arsen, pemuda itu hanya perlu mengingat siapa nama lengkap Clarice. Dan dia mengartikan nama Clarice sebagai Cahaya. Kemudian ia mendongak ke atas, menatap langit yang memantulkan cahaya Matahari. Untuk memudahkan ia nanti mengingat siapa nama lengkap Clarice.


Dengan begitu ia akan dengan mudah menemukan nomor ponsel sang gadis di grup chat khusus kelas X-3. Sesuai dengan perkataan yang di ucapkan Lia, jika Cla tidak menggunakan nama Clarice di akunnya.


Sungguhlah Arsen tak sabar untuk bisa mengambil ponsel yang di simpan di dalam loker. Dunia benar - benar baik padanya.


Sementara Clarice kini sudah mengambil ancang - ancang. Ia dengarkan dengan seksama arahan sang guru olah raga yang mengajari dirinya cara memegang bola dengan baik dan benar. Supaya mempermudah saat melakukan dribel dan mengarahkan bola pada ring.

__ADS_1


Satu yang ia hindari untuk saat ini. Yaitu melihat Vino yang berdiri di posisinya yang bertugas untuk mengambil bola.


Dug... dug... dug...


Suara si orange bundar yang membentur lantai lapangan basket, untuk kemudian memantul kembali menyentuh telapak tangan Clarice. Hendak membawa bola itu maju, namun sangat sial karena konsentrasi Clarice teralihkan karena melihat pada sang ketua kelas yang semula berjongkok tiba - tiba berdiri.


Sehingga saat hendak melempar bola, tangannya justru tak sinkron dengan matanya, hingga bola terlempar ke sembarang arah. Dan bahkan tidak menyentuh ring sama sekali.


Hingga Clarice sontak merasa ingin jatuh dan tenggelam ke dalam lantai lapangan saja, saat telinganya dengan jelas mendengar suara sang ketua kelas tergelak kecil. Belum lagi suara teman - teman Clarice yang menyayangkan aksi Clarice.


Selain ada Vino yang tergelak tanpa suara, ada pula Arsen yang ikut tersenyum lucu dari tempat ia duduk. Pemuda itu tampak sangat antusias mengikuti segala gerak gerik Clarice.


"Kesempatan kedua!" ujar Mr. Faiz meminta Cla untuk mengambil bola kedua miliknya.


Dengan perasaan yang campur aduk antara kesal, dan benci dengan olah raga ini, ia juga merasa malu pada Vino, dan yang pasti pemuda di kursi itu juga tengah menertawai dirinya. Hanya saja ia tak mau melihat pemuda pecicilan itu.


Dengan menghela nafas berat, Cla mengambil kembali satu bola jingga dengan garis hitam yang membentuk pola khusus itu. Dan kembali pada posisi awal. Menghadap tiang ring, dari jarak sekian meter. Kembali bersiap untuk melakukan dribel yang kedua kalinya.


"Kamu pasti bisa, Cla!" seru Hanna dari barisan yang ada di belakang sana.  Barisan yang tengah berteduh.


Hanna, gadis dengan tinggi badan 159 cm di usia yang baru menginjak 16 tahun itu berada di urutan nomor tujuh. Meski begitu gadis itu tidak khawatir, jauh berbeda dengan Clarice. Karena gadis berambut hitam lurus itu adalah salah satu tim basket putri di sekolahnya. Ia juga salah satu siswi yang masuk melalui jalur prestasi non akademik.


Yaitu sebagai pemain bola basket putri, dan pemain bola voli putri. Nama Hanna juga tercatat sebagai salah satu pemain yang di kontrak oleh salah satu perusahaan besar di Ibukota untuk bermain dalam pertandingan bola voli yang di kenal dengan sebutan Proliga.


Konon katanya ia menjadi anggota termuda di tim nya itu. Dan itu membuat pihak sekolah semakin tertarik untuk menggali bakat Hanna demi mengharumkan nama baik sekolah di pertandingan antar sekolah yang selalu di adakan setiap tahunnya.


Di usianya yang baru 16 tahun, Hanna termasuk anak yang hebat. Karena ia bisa mendapatan uang jajan sendiri dari hasil kontrak Voli nya. Jelas berbeda dengan teman - teman lainnya di sekolah itu. Yang mana 80% mereka hanya mengandalkan pemberian orang tua mereka yang kaya raya.


Tidak terkecuali gadis 16 tahun yang kini mulai melakukan dribel kedua mendekati ring. Meski ia sangat pesimis jika Miss Orange itu akan masuk ke dalam ring, ia tetap harus menggiringnya, demi harapan sebuah nilai. meskipun telur di kolom namanya tidak akan mudah untuk di pecahkan.


"Satu...Dua..Ti...Ga!" seru Mr. Faiz memberi kode pada Clarice supaya melempar bola di tangannya dan mengarahkan bola pada ring.


Namun lagi - lagi bola itu meleset, dan jatuh begitu saja di bawah ring, setelah menabrak tiang ring. Dan sialnya setelah memantul pada lantai, bola itu justru terlempar mengarah ke wajah Vino yang berdiri tidak jauh dari tiang ring.


Semua tampak melongo ketika bola mengarah pada wajah Vino. Namun Vino yang sudah akrab dengan bola, sigap menangkis bola dengan mendorong bola orange itu menjauh dari wajahnya. Hingga jatuh menggelinding di lantai.


Taulah seperti apa wajah cantik Clarice saat semua itu terjadi. Selain malu, ia juga panik setengah mati. Ia pasti akan merasa sangat bersalah jika sampai bola itu benar - benar mengenai wajah tampan Vino yang semakin cerah oleh terpaan sinar Matahari pagi, meski keringat mulai terlihat di wajah tampannya.


Clarice terdiam dan terpaku untuk sesat. Menatap si bola jingga yang kini menggelinding ke arah tepi lapangan basket. Dan beberapa langkah di belakang bola, ada Vino yang mengejar bola dengan berjalan cepat.


"Kesempatan terakhir!" seru Mr. Faiz. "Jangan sampai gagal Clarice!" ujar Mr. Faiz yang berdiri di sampingnya.


"Ini sangat sulit, Sir!"


"You can do!" yakin Mr. Faiz.


Dan Clarice pun menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan dan santai.


"I can do!" yakin Clarice mengikuti kalimat Mr. Faiz.


Sorot matanya mulai yakin menatap ring yang menggantung denagn jaring -  jaring yang merumbai.


"One...two..." ucap Mr. Faiz memberi kode.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2