Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 152 ( Siang Hari di Hari Rabu )


__ADS_3

Diskusi yang bukan sembarang diskusi terjadi di salah satu sisi ruangan khusus temu tamu asing atau yang tidak ada hubungan bisnis dengan Adhitama Group.


Ruangan khusus tanpa pintu, yang ada hanya sekat berupa satu dinding kaca buram, membuat satu sisi bisa dengan mudah di lihat oleh mereka yang memiliki akses untuk masuk ke ruang kantor yang ada di lantai teratas itu. Salah satunya adalah Zio, bagian dari para petinggi perusahaan.


Perbincangan yang bisa di katakan obrolan panas itu semakin panas dengan hadir nya sosok Zio Alvaro, sang General Manager Adhitama Group. Yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah kandung Clarice.


Yang sudah bisa di tebak, jika tidak akan terima apabila ada yang menghina anaknya dengan berbagai kata maupun kalimat yang menyakitkan. Sebagai seorang Ayah, emosinya tentu tak kalah hebat dari yang di tunjukkan oleh Kenzo Adhitama, selaku Ayah sambung sang putri.


Bedanya ia tak memiliki kuasa sebesar Kenzo Adhitama dalam urusan saham dan bisnis. Namun ia tau banyak hal tentang perusahaan dan juga rekan bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan. Salah satu nya ia mengenal cukup baik sosok Mahardhika, salah satu pengusaha pemasok bahan kosmetik dan pangan terbesar di pulau Jawa.


Kenzo, Zio dan Mahardhika tentu jauh lebih akrab dengan bersahabatnya anak-anak mereka sejak duduk di bangku Junior High School. Sehingga hubungan mereka tidak hanya semata karena bisnis, tapi juga persahabatan yang baik.


Apalagi Zio dan Mahardhika berada di daerah yang sama, hanya beda perumahan saja. Sehingga keduanya sering bertemu dan berbincang banyak hal. Sehingga tidak heran jika Zio tau, kalau Mahardhika memiliki saham pula di ARL Express.


"Setahuku Mahardhika juga menanam modal di perusahaan itu, entah berapa persen." ucap Zio dengan nada mengintimidasi, dan itu benar-benar bisa membuat Afrizal dan istrinya mendelik tak percaya.


"Kamu yakin?" tanya Kenzo pada Zio yang duduk dengan menatap lekat Afrizal di sofa tempat sang pengusaha duduk.


"Ya, Pak! Saya sangat yakin!" jawab Zio menatap dengan keyakinan penuh pada Kenzo.


Kenzo tersenyum miring. Menatap sinis pada lelaki setengah abad yang siap jatuh miskin di hadapan. Ia bagai menemukan jarum di atas tumpukan jerami. Afrizal akan semakin mudah untuk jatuh.


"Kamu tau, hubungan ku dengan Mahardhika sangat baik..." ucap Kenzo menatap tajam pada Afrizal. "Kalau dia tau aku menarik saham ku, maka jangan harap dia akan bertahan dengan saham yang ia tanam di perusahaan mu itu."


"Tuan... Kami mohon... bantu kami, Tuan..." ucap Gita dengan lirih. "Jangan buat hidup kami hancur dan berantakan..."


Raut wajah wanita itu sungguh melas. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya, jika ia akan memohon seperti ini di hadapan seseorang yang bahkan usianya jauh lebih muda di banding mereka.


Di dalam benaknya selama ini kehidupannya akan baik-baik saja. Kemudian bisa mewariskan usaha yang sudah jaya itu pada anak-anaknya. Apalagi si sulung tak lama lagi akan kembali dari luar negeri karena selesai kuliah.


Tapi apa yang terjadi kemarin sampai hari ini benar-benar membuka mata mereka lebar. Bahwa tidak mudah menggenggam dunia. Bahwa tidak mudah mempertahankan posisi yang di anggap aman. Semua hancur hanya karena satu kesalahan kecil yang berdampak sangat besar.


"Dari cerita yang baru saja saya dengar, sepertinya bukan Pak Kenzo yang menghancurkan hidup kalian. Tapi ulah kalian sendiri..." sahut Zio merasa tidak terima dengan kalimat permohonan Gita yang tidak masuk akal. Khawatir Kenzo berubah pikiran, maka segera ia menyahuti demikian.


"Zio, benar!" sahut Venom. "Kalian yang berbuat ulah... kenapa kalian mengatakan Pak Kenzo yang menghancurkan hidup kalian?"


"Dan tanpa Zio mengingatkan aku pun, aku tidak akan pernah berubah pikiran! Aku akan tetap menarik sahamku."  ujar Kenzo dengan tegas dan tanpa ragu. Bahkan tanpa belas kasihan. "Kalau pun seandainya kemarin kamu berhasil merayu Papa ku, aku tidak akan pernah berubah pikiran!" tegas Kenzo.


Suami istri itu kembali saling tatap satu sama lain. tak menyangka Kenzo tau kehadiran mereka di kediaman Adhitama, pendiri Adhitama Group.


"Siapapun yang menghina istri dan anak-anak ku, aku pastikan mereka akan menyesal sudah mengucap kalimat semacam itu." lanjut Kenzo dengan nada datar, namun terdengar sangat menyeramkan di telinga siapa saja.


Terutama untuk sepasang suami istri yang sedang gelisah dan resah, karena sejak tadi sudah di pandang tak bersahabat oleh seorang Kenzo Adhitama.


"Sebaiknya kalian keluar dari gedung ini." ucap Kenzo datar dan tampak biasa saja. "Jangan membuang waktu kalian untuk sesuatu yang tidak akan membuahkan hasil..." lanjutnya dengan mengusir secara halus tapi menusuk tajam.


"Setidaknya kami mohon, berikan putri kami kesempatan untuk mengikuti ujian, Tuan..." ucap Gita sekali lagi.


"Kami berjanji akan memindah sekolahnya setelah ini..." sambung Afrizal meyakinkan.


"Kenapa tidak kalian pindah sekarang saja? dari pada kalian seperti pengemis begini!" sahut Zio.


"Peraturan sekolah tidak bisa mengeluarkan siswa di saat ujian akan, atau sedang berlangsung..." jawab Gita. "Sementara jika nilai ujian tengah semester di sekolah Alexander kosong, maka di sekolah selanjutnya juga akan sama kosongnya, Tuan..."


"Dan aku tidak peduli!" sahut Kenzo tegas yang sudah mulai bosan dengan obrolan tidak berguna seperti ini. "Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" lanjutnya beranjak dari sofa. "Sebaiknya kalian pulang! tapi kalau kalian masih mau di sini. Ya, terserah!" ujar Kenzo sembari berjalan meninggalkan sofa temu, dan keluar dari bilik.


"Tuan!" seru Afrizal ikut beranjak dan langsung mengejar Kenzo dan bersimpuh di kaki Kenzo dengan memeluk kaki jenjang khas bule itu. "Tolong, Tuan Kenzo bantu kami!" ucap Afrizal dengan sangat pilu. "Izinkan Zuria untuk mengikuti ujian tengah semester, Tuan... Tolong jangan hancurkan masa pendidikannya, Tuan.. Tuan Kenzo boleh menghancurkan perusahaan kami, tapi tolong bantu nilai raport Zuria supaya tidak kosong."


Seorang Ayah, rela memohon bahkan memeluk kaki laki-laki yang bahkan lebih muda darinya. Hanya demi menebus kesalahan anak yang memang sudah terlanjur salah asuhan olehnya. Dan dengan cara seperti itu pula ia memohon untuk masa depan sang putri yang sangat tamak.


Semua yang ada di ruangan itu menoleh pada Afrizal yang bersimpuh dengan memeluk kaki kiri CEO mereka. Zio, Venom, sekretaris dan juga seorang Cleaning service yang sedang membersihkan lantai teratas di gedung itu.


Kenzo yang kakinya terkunci tanpa bisa bergerak akibat ulah Afrizal itupun berdiri dengan menahan segala amarah di dalam dada. Ia menarik nafas panjang, menghelanya dengan secara perlahan. Berharap dengan demikian amarahnya bisa terkontrol dengan baik.


Ia menatap lurus ke depan. Tak sedikitpun ia melihat kakinya yang tengah di peluk oleh pria yang lebih tua darinya.


"Berdiri..." lirih Kenzo setelah merasa dirinya lebih rileks.

__ADS_1


"Tolong bantu kami terlebih dahulu, Tuan... Bantu Zuria..." ucap Afrizal memohon.


"Berdiri..." titah Kenzo untuk kedua kalinya. Masih dengan nada yang datar dan tetap tanpa melihat pada Afrizal.


"Tolong Tuan janji terlebih dahulu..." mohon Afrizal.


"AKU BILANG BERDIRI!" teriak Kenzo hingga membuat sekretaris Kenzo, Cleaning service, dan juga Gita melompat kaget.


Reflek, Afrizal pun langsung terjungkal ke belakang ketika mendengar suara Kenzo yang terdengar seperti teriakan pemimpin upacara. Menjadikan kedua telapak tangannya sebagi penyangga beban tubuhnya.


"Apa kau tuli, hah?" tanya Kenzo menunduk, melihat pada Afrizal yang masih terjengkang ke belakang. Menatap tajam pada lelaki yang sudah ia anggap telah kehilangan harga dirinya itu.


Kenzo Adhitama, CEO cerdas, tegas dan juga berpendirian teguh itu sangat benci pada siapapun yang dengan mudah bersujud di depannya.


Bukan hanya pada dirinya, tapi dia sangat benci pada orang yang dengan mudah menjatuhkan harga dirinya dengan menyembah orang yang di anggap lebih berpengaruh. Memohon dengan cara yang tidak pantas untuk di lakukan pada sesama manusia.


"Aku meminta mu berdiri! Dan aku tidak suka mengulang perintah!" ujar Kenzo dengan nada yang terdengar sangat dingin dan sangat tajam.


"Kamu pikir dengan caramu menahan kakiku, aku akan berubah pikiran dan menarik semua apa yang sudah aku ucapkan?" tanya Kenzo dengan mata yang memicing tajam. "Tidak akan! Afrizal!" lanjut Kenzo yakin.


Afrizal menunduk dalam, menahan malu juga menahan beban dunia yang hendak runtuh di atas kepalannya saat ini juga.


Kenzo membalikkan badan dan kembali melangkah. "Pergilah! Aku tidak mau melihat wajahmu ada di lantai ini lagi!" ujarnya tanpa menoleh pada Afrizal untuk kedua kali.


Semua orang yang berada di bawah naungan Adhitama Group menatap Afrizal dan istrinya dengan berbagai macam sorot mata.


Ada yang menatap dengan tatapan miris. Seperti tatapan Cleaning Service yang sedang bertugas. Sebagai Cleaning service, tentu orang tersebut sangat tidak biasa melihat hal semacam ini terjadi. Di mana seorang pengusaha memohon pada pengusaha lainnya.


Ada juga yang menatap Afrizal dengan tatapan puas, seperti Zio. Ia sangat puas penghina anaknya mendapat balasan yang jauh lebih pedih dari yang ia duga. Ia bahkan tersenyum miring melihat perlakuan Kenzo pada Afrizal.


Ada pula yang menatap dengan datar dan sedikit iba, itulah tatapan dari sekretaris Kenzo yang masih duduk di kursinya.


Dan tatapan yang paling tidak peduli di ruangan itu adalah Venom. Belasan tahun menjadi Asisten pribadi Kenzo, sudah biasa melihat hal semacam ini terjadi di depan matanya. Sudah sering melihat seorang penjilat memohon pada Tuannya itu.


Di tambah dengan sikap dingin sang Asisten, membuat siapapun tak bisa membaca apa yang sedang di pikirkan sang Asisten.


"Panggil security dan suruh membawa mereka keluar!" ucap Venom pada sekretaris Kenzo.


***


Meninggalkan lantai teratas gedung Adhitama Group yang sedang terjadi drama luar biasa antara sang CEO dan mantan rekan kerjanya di sore itu, maka hari telah berganti.


Lelah di hari kemarin, telah terlepas semalam. Ketika menutup mata di antara langit yang gelap dengan taburan bintang yang jumlahnya tak terhingga. Hingga akhirnya Matahari kembali menyapa Bumi, dan aktivitas di siang hari kembali harus di jalani, untuk kembali merasakan lelah di kala sore nanti.


Hari ini hari Rabu, H-1 sebelum ujian tengah semester di mulai. Yang artinya hari ini Clarice masih di masa skors.


Saat orang tengah sibuk dengan aktivitas di luar rumah bersamaan dengan Matahari yang semakin merangkak naik, sang gadis justru sibuk di dalam kamarnya. Memilih untuk menjalani hari terakhir masa hukumannya dengan belajar dan belajar.


"Harusnya hari ini materi ini di bahas!" gumam Clarice ketika membuka buku-buku mata pelajaran matematika.


"Nanti sore akan aku tanyakan pada guru les!" gumamnya lagi.


Sudah sejak satu jam yang lalu ia berkutat dengan buku Matematika di meja belajarnya. Sebelum itu, ia juga sudah selesai mengerjakan soal Sains yang di berikan oleh guru les private nya. Sebagai pedoman untuk mempersiapkan ujian tengah semester esok hari.


Bosan dengan mata pelajaran yang sedang ia dalami, Cla memilih untuk keluar dari kamar, ia berjalan mendekati tangga yang mengarah pada rooftop. Hari tengah terik, rooftop akan terasa sangat panas untuk saat ini.


Namun Cla tetap menaiki tangga itu, hanya saja ia berakhir di sofa  yang masih berada di dalam ruangan.


Rooftop kediaman Kenzo Adhitama di buat seperti Cafe dengan lampu-lampu yang melimpah dan akan sangat sempurna jika malam hari. Rooftop menyambung hingga dalam ruangan, dengan batasan dinding kaca tebal.


Di pojok ruangan ada mini bar yang biasa di gunakan untuk membuat minuman atau menyiapkan segala sesuatu guna melengkapi momen santai mereka di rooftop.


Membawa ponsel di genggaman dan sebuah laptop, Cla duduk di sofa panjang yang menghadap ke dinding kaca yang mengarah pada rooftop. Meletakkan laptop di atas meja, Cla langsung menyalakan dan menemukan drama korea terbaru.


Baiklah, anak muda sedang menikmati hobi lain selain ber chatting dengan lawan jenis.


Dan saat baru jalan setengah episode, ponselnya berdering. Nama Hanna muncul di sana. Cla mengerutkan keningnya. Kemudian melirik jam di pojok kiri atas layar ponselnya.

__ADS_1


"Sudah waktunya istirahat rupanya..." gumamnya sembari menggeser tombol biru dengan gambar kamera ke atas.


Dalam saluran Video Call ...


"Hai!" sapa Cla begitu melihat wajah Hanna di layar ponselnya.


"Hai!" balas Hanna. "Bagaimana hari liburmu, Cla?" tanya Hanna yang terlihat tengah berada di kantin sekolah.


"Hari libur apanya! hari penuh catatan buruk ini!" protes Clarice tidak setuju.


"Hahah!" gelak Hanna dan juga di sertai gelak dua laki-laki yang suaranya sangat ia kenali.


"Sedang makan siang bersama?" tanya Cla yang saat ini memilih untuk berbaring di sofa. Meletakkan kepalanya di atas bantal sofa yang empuk, setelah mematikan drama yang sedang ia putar.


"Ya! kamu benar, Sayang!"


Jawaban itu terdengar bersamaan dengan layar yang bergerak-gerak hingga muncullah wajah Arsenio Wilson yang sepertinya duduk berhadapan dengan Hanna.


Panggilan Sayang yang di sematkan Arsen seketika mengundang gelak tawa Naufal dan Hanna yang mendengarnya.


"Dasar anak manja!" balas Clarice mencibir wajah tampan di layar ponselnya. Kemudian ia kerucutkan bibirnya karena tidak setuju dengan panggilan itu.


"Hahaha!" gelak Arsen mendengar dan melihat suara Clarice yang terdengar menggemaskan, khusus di telinganya.


"Mau apa video call?" tanya Clarice ketus pada Arsen. "Mau pamer, kalian bisa makan bersama, dan aku hanya seorang diri di sini?" tanya Clarice.


"Tentu saja tidak untuk pamer..." jawab Arsen yang menghadap ponsel Hanna.


"Justru ini tidak terasa seru karena tidak ada kamu..." sahut Hanna.


"Hari ini sekolah akan pulang lebih awal karena besok ujian, jadi nanti pulang sekolah, boleh tidak kami bertiga main ke rumah mu?" tanya Arsen langsung pada tujuan mereka melakukan video call pada Clarice.


"Untuk apa?" tanya Cla mengerutkan keningnya.


"Sepertinya kita harus belajar bersama, Cla!" sahut Naufal yang wajahnya muncul sebagian di layar ponsel Cla. Jelas sang pemuda tengah duduk di samping Arsen.


"Ya, sudah... datanglah!" jawab Clarice memberi keputusan.


"Eh, ajak Vino sekalian, gih!" sahut Hanna yang tak akan melupakan teman seperjuangan sebagai siswa atlit.


Deg!


Nama Vino terdengar begitu berbeda di telinga Clarice. Ada sesuatu yang merayap di dalam relung hatinya yang terdalam. Benarkah sang pemuda akan datang ke rumahnya untuk pertama kali?


"Boleh kan, Cla?" tanya Hanna.


"A..." Cla menggantung kalimatnya. Tampak bingung untuk memberi keputusan. Jika bisa tentu ia akan menjawab iya. Tapi...


"Tidak boleh, ya?" tanya Hanna mengulang.


"Emmm... boleh kok! boleh!" jawab Cla cepat. "Mommy dan Daddy tidak pernah melarang teman-teman ku untuk datang dan berkunjung ke rumah ku! selagi aku  yang mengijinkan!"


"Baiklah! akan aku infokan pada Vino!" sahut Naufal.


"Okay! nanti kami akan datang berempat, okay!" sahut Arsen yang menguasai layar kamera.


"Iya.. iya..." jawab Clarice gugup.


"Ya, sudah... kita harus balik ke kelas. Jam 1 sekolah akan pulang, dan kami akan langsung meluncur ke rumah kamu..." ucap Arsen.


"Iya..." jawab Cla datar dengan di sertai cibiran bibirnya yang miring.


"Bye, Sayang..." goda Arsen.


"Jangan kurang ajar ya, anak manja!" sembur Cla.


"Hahahaha!" gelak tawa Arsen mengakhiri obrolan singkat mereka.

__ADS_1


Jantung sang gadis berdetak lebih cepat. Padahal belum jelas Vino akan benar ikut datang apa tidak. Kalaupun iya datang, bagaimana dengan dirinya yang sedang berpakaian apa adanya ini?


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2