
Tiga pasang orang tua dari murid yang sedang bermasalah, sama-sama tengah melakukan perjalanan menuju sekolah bertaraf International terbaik di Ibukota, yaitu Alexander International School, dari lokasi yang berbeda-beda.
Sehingga jarak yang di tempuh mungkin akan berbeda. Begitu juga dengan jalur yang mereka lewati mungkin memiliki tingkat kepadatan dan kemacetan yang berbeda-beda.
Dan kemungkinan yang terjadi pun bisa membuat mereka datang bersamaan atau bahkan berbeda waktu jauh. Yang pasti kita lihat saja setelah ini, apa yang akan terjadi. Dan siapa yang aan sampai lebih dulu.
***
Dan mobil yang pertama sampai di tempat parkir khusus tamu Alexander International School adalah mobil putih bertuliskan Alphard di bagian body belakang. Belum sampai sang pemilik mobil itu turun, datang lagi sebuah mobil putih dengan jenis dan tahun keluaran yang sama.
Sungguh, selain penghuninya, hanya nomor plat mobilnya saja yang berbeda!
WOW! Siapa kira-kira yang ada di dalam dua mobil itu?
"Sayang! Apa mobil sebelah salah satu mobil wali murid yang di panggil?" tanya Mommy Calina pada Daddy Kenzo.
"Entahlah, ayo kita turun!" ujar sang Daddy.
Dua pintu penumpang mobil Daddy Kenzo terbuka lebih dulu sebelum mobil di sampingnya terbuka, karena memang Daddy Kenzo datang lebih awal.
Mommy Calina turun lebih dulu, melalui sisi kiri. Dan saat Mommy Calina turun, pintu mobil di sebelahnya terbuka. Dan keluarlah dari dalam sana seorang pria dengan pakaian jas lengkap. Keduanya berpapasan di sela-sela mobil.
Calina yang ramah tentu reflek tersenyum tipis pada pria yang tak ia kenal itu. Dan pria itu rupanya membalas senyuman Calina dengan di sertai anggukan ramah.
Dan Calina yang harus menjaga jarak pun, segera keluar dari sela-sela mobil selebar satu meter itu. Dan begitu ia sampai di belakang mobil, bersamaan dengan sang suami yang muncul dari sisi kanan mobil.
"Siap?" tanya Daddy Kenzo pada Mommy Calina.
"Jangan pakai emosi, ya?" pinta Calina lagi. Ia benar-benar takut jika sang suami akan bertindak nekat atau lepas kendali. Mengingat suaminya adalah pria yang sangat dingin dan tegas saat berurusan dengan kesalahan yang sesungguhnya bisa di kendalikan.
"Aku hanya akan membela putri ku!" jawab Kenzo singkat.
Calina tak bisa lagi berbuat apa-apa, selain menghela nafas gusar. Sang suami berhak mengambil keputusan apapun juga. Toh jika terjadi sesuatu, tetap saja suaminya yang akan bertanggung jawab. Yang penting Calina sebagai seorang istri sudah mengingatkan. Meskipun di sini anak dan suaminya sedang memperjuangkan nama baiknya yang di katai sebagai wanita murahan.
Saat hendak melangkah, muncullah seorang wanita dari sisi kiri mobil yang tadi datang setelah mobil Kenzo. Wanita tersebut muncul bersamaan dengan sang suami yang muncul dari sela-sela yang menjadi jalan keluarnya Calina.
"Kenzo!"
Suara seorang wanita menghentikan langkah Kenzo yang baru menjangkau satu langkah saja.
Merasa namanya di sebut oleh seseorang, Kenzo pun menoleh ke belakang. Dan sebagai seorang wanita yang merupakan bagian dari tulang rusuk sang lelaki, tentu Calina reflek ikut menoleh ke belakang.
Di belakang sana, tepat di belakang mobil putih kedua, berdirilah sepasang suami istri yang berdiri berhadapan dengan Kenzo dan Calina.
"Kamu... Rania?" gumam Kenzo saat melihat wajah yang samar-samar ia ingat.
"Ya! kamu masih mengingatku?" seru wanita yang di panggil Kenzo Rania.
"Yaaa... sedikit banyak aku masih mengingatmu!" jawab Kenzo.
Akhirnya dua pasang suami istri itu saling mendekat. Dan berjabat tangan. Khusus Calina dan wanita bernama Rania, mereka bercipika cipiki ala para wanita jika bertemu.
"Jadi ini istri kamu?" tanya Rania yang tangannya masih memegang lengan Calina.
"Ya! kamu benar!" jawab Kenzo.
"Aa.. aku lupa siapa namanya!" gerutu Rania menghela nafas kasar.
"Memangnya kamu pernah berkenalan?" tanya Kenzo memicingkan matanya.
"Aku pernah janji temu dengan Janne di Amerika saat aku dan suami masih sering tour ke berbagai negara," jawabnya. "Dan dia bilang kamu sudah menikah dengan seorang wanita yang jauh lebih cantik darinya!" ujar Rania. "Katanya begitu..."
Rania tersenyum menatap wajah Calina yang memang terlihat sangat cantik. Dan terlebih, kecantikannya terlihat sangat natural.
"Dia bilang begitu?" tanya Kenzo seolah tak percaya.
"Iya!" jawab Rania yakin. "Dan dari penilaianku memang istri mu ini sangat cantik, Ken!" ujar Rania.
"Namanya Calina!" ucap Kenzo dengan sangat bangga. "Pantas 'kan dia bersanding denganku?" tanya Kenzo dengan seulas senyum miring.
"Ya... sebagai mantan siswa paling tampan di sekolah dulu... Dia sangat pantas untuk bersanding denganmu"! puji Rania.
__ADS_1
Kenzo pun tersenyum dengan jawaban teman lamanya itu.
"Oh, ya, Ken! kenalkan! ini suamiku!" ucap Rania menggandeng lengan sang suami. "Namanya Jonathan Wilson! kamu belum mengenalnya 'kan?"
"Ya. kamu benar! aku belum mengenalnya!"
"Itu karena kamu tidak hadir di acara pernikahan kami!" sembur Rania tanpa ragu.
"Yeah! I'm sorry about that!" ucap Kenzo. "Saat kamu menikah, aku sudah pergi ke Australia dan jarang pulang ke Indonesia." ucap Kenzo kemudian kembali mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Kenzo Adhitama!" ujar Kenzo. "Panggil saja Kenzo! Atau Ken saja juga tidak masalah! toh aku tampan seperti pangeran Ken dalam film Barbie!" gurau Kenzo membuat Calina mencubit pinggang sang suami dengan gemas.
Sementara Jonathan tergelak tanpa suara, "Panggil saja aku Nathan!" ujar Jonathan, suami Rania sembari menyambut uluran tangan Kenzo. "Kamu sungguh pandai bergurau!"
"Tidak juga..." bantah Kenzo datar.
Dan keduanya kembali bersalaman ala best friend. Seolah tanda, jika keduanya memantapkan diri untuk mulai saling berteman sejak hari itu.
"Anak Tuan Adhitama?" tanya Nathan.
"Hm! Kamu benar!"
"By the way... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rania pada Kenzo.
"Hemmm... 16 tahun usia putri ku, baru kali ini aku di panggil ke sekolah atas satu kasus yang melibatkan putriku!" jawab Kenzo datar.
"Lah! kami sendiri datang karena di panggil oleh pihak sekolah karena kasus yang baru saja terjadi di kantin!" jawab Rania setengah terbelalak.
Ke empat orang dewasa itu mulai berpikir, jika anak-anak yang sedang bermasalah adalah anak mereka.
"Kita sama!" sahut Kenzo terkesiap. "Yang mana anak mu?" tanya Kenzo antusias. Ia sangat perlu untuk bertemu dengan orang tua gadis yang mengatai Calina wanita murahan.
Jika memang teman lamanya ini adalah orang tua dari Kakak kelas Clarice yang mengatai sang istri wanita murahan, ia tetap tidak akan segan untuk bermasalah dengan sang teman lama yang sudah belasan atau bahkan puluhan tahun tidak bertemu itu. Tanpa peduli kata teman.
"Serius ini?" tanya Rania tak percaya. "Anak ku yang laki-laki!" jawab Rania. "Namanya Arsenio!"
Gemuruh di dada yang hampir meledak kembali reda. Ternyata sang teman lama adalah orang tua siswa laki-laki yang konon katanya jadi rebutan antara Clarice dan Kakak kelasnya.
"Tengil bagaimana?" tanya Rania, wanita berusia 47 tahun yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda.
"Yang aku dengar anak ku dan gadis satunya memperebutkan anakmu! Yang benar saja! Mana mungkin anak ku seperti itu!" Kenzo sungguh tidak terima jika sang anak gadis berebut lelaki. Apalagi di usia yang masih sangat belia.
"Hahahaha!" sepasang suami istri di depan Kenzo dan Clarice terkekeh dengan pernyataan Kenzo. Mereka sendiri tidak menyangka jika sang anak bungsu bisa membuat para gadis geger di sekolah.
"Kenapa kalian tertawa?"
"Kami hanya tidak menyangka jika Arsen bisa membuat dua anak gadis berseteru." jawab Jonathan.
"Yaa... Itu karena menurun dari kamu, Pa!" sahut Rania. "Bukankah kamu dulu idola saat kita masih kuliah?" ujar Rania. "Dan kamu suka kalau ada yang memperebutkan kamu!" dengkus Rania.
Dan lelaki yang di kenal sebagi pengusaha batu bara itu tergelak mendengar kalimat istrinya. Terkekeh geli mengingat masa muda yang di penuhi dengan suka cita dara muda.
"Itu masa lalu, Honey..." ucap Nathan.
"Lalu anak kalian yang mana?" tanya Rania kembali menatap Kenzo dan Calina.
"Anak ku yang bernama Clarice! Dia masih kelas 10." jawab Kenzo.
"Oh, yang di tumpahi Kakak kelasnya spaghetti, dan sepertinya yang sedang di bela anak ku, ya?" tanya Rania.
"Ya, benar! dia di tumpahi spaghetti oleh gadis itu! soal anak mu yang membela, aku tidak peduli!" jawab Kenzo ketus.
"Dan mungkin karena anak kita sama-sama kelas 10, jadi mereka saling membela satu sama lain." sahut Calina yang sesungguhnya tidak setuju jika sang putri di bilang berebut lelaki.
"Ya... mungkin saja, Sayang!" jawab Kenzo. "Yang jelas, tidak mungkin anak ku berebut laki-laki!" tegas Kenzo.
"Ya...yaa... aku percaya! anak kamu memang sangat cantik!" puji Rania. "Rasanya dia akan seperti kamu. Tidak perlu berpacaran! Kelak langsung tunjuk saja laki-laki mana yang ingin di nikahi. Sudah pasti mereka tidak akan ada yang menolak!" canda Rania dengan di sertai kekehan geli.
"Hahaha!" tiga orang lain yang ada di sana ikut tergelak dengan candaan Rania, yang mungkin ada benarnya.
Tapi masalahnya Clarice bukan anak kandung Kenzo, tidak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Apa mungkin hal itu bisa di terapkan semirip garis wajah mereka? Garis wajah keberuntungan.
__ADS_1
Entahlah, hanya Tuhan yang tau. Seperti apa kisah cinta putrinya yang kelak. Dengan siapapun kelak sang anak gadis menikah, Kenzo selalu berharap jika posisinya tidak akan pernah tergeser.
Ia tetap memiliki tempat terbaik di hati sang anak gadis. Yang harus sepadan dengan lelaki yang akan menikahinya kelak. Meski hal semacam ini hanya akan kemungkinan kecil. Karena banyak gadis pada akhirnya di bawa oleh suami mereka untuk tinggal di luar ruah sang gadis.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita masuk sekarang saja?" tanya Calina.
"Ok! mungkin orang tua Zuria sudah menunggu di dalam sana." ujar Rania.
"Ya! benar!" sahut Jonathan.
"Orang tua Zuria?" tanya Kenzo.
"Ya! Kakak kelas yang berdebat dengan anak kamu namanya Zuria Agatha."
"Kalian kenal?"
"Yaa... sebatas saling mengenal," jawab Rania.
"Papa Zuria adalah teman kuliah ku di Amerika!" sahut Nathan.
"Dan juga Zuria itu sering sekali mencari Arsen ke rumah, tapi Arsen selalu saja tiba-tiba menghilang saat gadis itu datang!" ungkap Rania dengan kekehan lucu. "Ya... meskipun aku tau, sebenarnya Arsen tengah bersembunyi di kamar pembantu, hahaha! dasar anak nakal!"
"Siapa nama orang tuanya?" tanya Kenzo. "Aku sungguh kesal dia mengatai istriku wanita murahan! Aku ingin membuat perhitungan pada mereka."
"Dia anaknya Afrizal!" jawab Nathan.
"Afrizal?" gumam Arsen merasa tidak asing dengan nama itu.
"Coba kamu tanya Tuan Adhitama, atau kamu cek sendiri. Di perusahaan mana saja Tuan Adhitama menanam saham puluhan tahun lalu." ucap Rania.
"Afrizal pernah menyebutkan nama-nama perusahaan yang menanamkan modal di perusahaan ekspedisi yang ia dirikan saat mencoba mengajak aku untuk bergabung menanam modal. Dan aku pernah membaca Adhitama Group ada di dalam barisan penanam modal terbesar!" sahut Nathan.
"Apa nama perusahaannya?" tanya Kenzo.
Meskipun ia sudah sering membuka dokumen penanaman modal, tetap saja ada banyak perusahaan yang membuatnya tidak bisa mengingat dengan mudah.
"ARL ekspress!" jawab Nathan
"Hah!" tergelak sudah Daddy Kenzo. "ARL!" gumam Kenzo mengangguk. "Aku ingat!" jawab Kenzo.
"Dan kamu tidak bergabung dengan perusahaan itu?" tanya Kenzo pada Nathan.
"Aku tidak tertarik. Karena aku sudah menanamkan modal di perusahaan ekspedisi lain yang didirikan oleh sepupuku."
"Oh..." Kenzo mengangguk. Bibirnya tersenyum samar. Ada seringai kecil ayng tersembunyi di dalam senyumannya. Ia sudah mengantongi sesuatu yang teramat penting.
"Sayang?" panggil Calina yang sedikit banyak paham maksud dari senyuman sang suami.
"Ayo kita masuk!" ajak Kenzo tak ingin sang istri memperingatkan untuk yang kesekian kalinya.
Kedua pasang orang tua, dengan kedudukan yang tak jauh berbeda, sama-sama pengusaha kelas atas Ibukota, berjalan beriringan dengan pasangan masing-masing memasuki gedung sekolah yang bertingkat-tingkat. Di mana anak mereka sedang menjadi terdakwa.
***
Ketika masuknya dua pasang orang tua itu, datanglah satu mobil lagi dengan jenis yang sama, bedanya kali ini berwarna hitam. Namun sama-sama keluaran terbaru.
"Ayo, Mom!" ajak sang suami.
"Ya, Dad!" jawab sang istri.
Keduanya tergopoh-gopoh memasuki gedung. Posisi rumah mereka paling jauh di banding rumah Arsen. Dan jika Kenzo datang lebih cepat dari pasutri ini, tentu itu karena mereka sedang berada di luar rumah yang tak jauh dari sekolah sang anak sulung.
Pasutri ini paling bingung di antara dua pasutri yang lain. Karena mereka paham, sang anaklah yang pantas mendapat hukuman paling berat. Dan sebagai orang tua, mereka pusing cara untuk meminta maaf pada orang tua Clarice, yang mereka kenal sebagai keluarga Adhitama.
Sementara Adhitama Group adalah salah satu penanam modal terbesar di perusahaan ekspedisi yang mereka dirikan puluhan tahun silam.
Jika modal dari Adhitama di tarik, maka seluruh komoditi yang berada di bawah naungannya akan berantakan.
***
"Di mana ruang BK?" tanya Daddy Kenzo pada seorang petugas kebersihan.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...