Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 88 ( Mengunjungi Makam )


__ADS_3

Zio melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan dengan dada yang sedikit bergemuruh. Mendapati diri menjadi bahan gunjingan di depan mata, sepertinya bukan sesuatu yang mudah untuk di terima.


Namun sekuat hati Zio berusaha untuk tidak marah dengan keadaan. Apapun yang di katakan oleh mereka yang sempat ia dengar, memang begitulah kenyataannya.


Istri Bos nya adalah mantan istrinya.


Hanya saja ia menjadi sangat kecewa, ketika itu menjadi bahan pembicaraan orang lain. Terutama bawahannya di perusahaan.


Padahal ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk tetap bisa berdiri ketika semua terungkap.


Dan menguatkan hati, ketika bertekad untuk tidak mempermasalahkan semua jika naik kepermukaan. Seperti hari ini.


Namun ternyata gunjingan kecil sudah membuatnya hampir tumbang.


"It's okay, Zio! semua akan baik - bak saja. Yang terpenting sekarang hiduplah dengan baik dan kuat untuk putrimu."


"Dia yang paling membutuhkan membutuhkanmu dari siapapun juga!"


Gumam Zio saat mobil yang ia kendarai berhenti tepat di lampu merah. Ia melajukan mobilnya sangat pelan, sehingga ia belum juga sampai di rumahnya.


Dan ia kembali melajukan mobilnya ketika lampu hijau menyala. Kendaraan yang seharusnya belok ke kanan untuk bisa masuk ke dalam gang rumahnya, justru ia luruskan untuk mendatangi suatu tempat, dimana penguasa rindu miliknya tinggal.


Sebuah pemakaman khusus untuk para penghuni komplek tempat tinggal Zio....


Di sanalah Naura Azalea di makamkan. Satu - satu nya wanita yang di anggap Zio mencintainya dengan tulus.


Lika liku hidup yang tidak mudah, mereka jalani bersama. Susah sedih selalu bersama. Tidak semua wanita bersedia mengikutinya ke sebuah perkampungan karena di pindah tugaskan oleh sang Bos.


Zio turun dari mobilnya. Dengan langkah gontai ia melangkah di antara jalan setapak yang berada di tengah pemakaman saat Matahari mulai condong di barat. Di tangan kanannya ada seikat bunga mawar yang ia beli di tepi jalan tadi.


Langkah Zio semakin dekat dengan sebuah makam dimana nama sang istri terukir jelas di sana. Rindu, teramat rindu ia pada belaian sang wanita.


"Assalamualaikum, istriku ..." sapanya.


Duduk di samping batu nisan, Zio mulai mengulurkan tangan untuk meletakkan bunga mawar di atas makam sang istri, lalu mengusap batu nisan itu dengan lembut. Seperti belaian Naura padanya di semasa hidupnya. Setelah itu barulah ia berdo'a untuk istrinya yang meninggal karena sakit itu.


"Sayang... Kamu tau kan, aku memiliki seorang anak dari Calina. Itu juga berarti anak kamu..." ucap Zio lirih.


Menghela nafas panjang, "Sekarang dia menginginkan seorang wanita yang menggantikan posisi mu di kantor sebagai Ibu tirinya." ucapnya kemudian. "Dan aku..." Zio terdiam untuk sesaat.


"Bukannya aku sudah tidak mencintai mu, Sayang... tapi aku juga butuh teman untuk melanjutkan hidup dan merawat Clarice..." lanjutnya dengan tangan yang kembali mengusap nama terindah yang pernah ia kenal. "Sayang... Bisakah kamu izinkan aku untuk menikah lagi dengan wanita itu. Aku berjanji padamu, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup ini. Aku mohon ikhlaskan aku untuk bersamanya..."


Pinta Zio pada batu nisan yang tak akan bisa menjawab pertanyaannya.


"Meskipun sekarang wanita itu belum memberiku jawaban, setidaknya aku sudah lebih dulu untuk meminta izin padamu... Meski aku pun tidak akan pernah bisa melupakan kamu sepenuhnya. Wanita terhebat pertama yang sangat tulus mencintaiku."


"Aku masih mencintaimu, Sayang... Maafkan ketidak sempurnaan ku selama kita hidup bersama."


Zio terdiam untuk beberapa saat. Menatap lekat nama Naura Azalea yang di tulis beserta tanggal lahir dan tanggal wafatnya.


"Hari sudah larut, Sayang... aku harus pulang..."


"Maaf harus kembali meninggalkan kamu sendirian disini... I love you..."


Terakhir ia usap batu nisan Naura, kemudian menciumnya dengan lembut. Bagai mencium saat wanita itu ketika masih hidup dulu. Setelah itu ia berdiri dan menatap untuk terakhir makam sang istri.


Zio kembali berjalan dengan lunglai saat meninggalkan area pemakaman. Menghela nafas kasar dan berat.


***


Zahra telah keluar dari perusahaan Adhitama Group dan langsung mendatangi motor kesayangan yang ada di parkiran, Motor kecintaan yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Bahkan motor itu ia beli saat masih ada sang suami dulu.


Bisa di katakan motor kenangan...


Setelah menaiki motornya, ia sengaja untuk mengambil jalan keluar yang harus memutari perusahaan terlebih dahulu. Guna melihat apakah mobil Zio masih berada di sana atau sudah pergi.


Namun sampai ia dekat dengan pos security di pintu keluar, ia tidak melihat mobil Zio ada di area perusahaan.


' Mungkin beliau sudah pulang... '


' Maafkan saya, Pak Zio... Saya tidak ada maksud untuk bergabung dan membicarakan kehidupan pribadi para atasan. Dan saya juga tidak ada maksud untuk membuat Bapak terluka. Tapi saya akan terlihat sangat mudah move on dan berpaling, jika saya dengan mudah mengiyakan permintaan Bapak. '


Zahra terus melajukan motornya hingga keluar dari pagar besi peusahaan. Dengan angan - angan dan pikiran yang kemana - mana.

__ADS_1


' Saya harus berfikir dengan matang untuk memberikan keputusan sebesar itu. Pernikahan bagi saya bukanlah sesuatu yang main - main. '


Kebiasaannya setiap pulang kerja adalah menuju satu lokasi yang selalu ia datangi setiap pulang dari bekerja. Ya, tempat sekolah sang anak.


Namun sore itu, bukan tempat sekolah Felia yang ia datangi pertama kali. Tapi lokasi pemakaman umum. Dimana di sanalah, makam sang suaminya dulu di makamkan.


Sama seperti Zio, Zahra pun membawa bunga. Hanya saja yang di bawa Zahra bukan seikat bunga mawar. Melainkan satu kantong bunga untuk di tabur di atas makam sang suami.


Turun dari motor, Zahra langsung mendatangi makam suami yang dekat dengan jalan raya. Tampak di depan makam, masih ada penjaga makam yang membersihkan area makam.


"Assalammualaikum, Mas..." sapa Zahra pada sang suami.


Zahra duduk di samping batu nisan sang suami. Kemudian menaburkan bunga sebagai tanda kehadirannya. Lalu berdo'a untuk sang suami. Dan di lanjut dengan mengusap lembut batu nisan sang suami.


"Andai kamu masih ada, Mas... aku tidak perlu di buat pusing dengan status dan kehidupan sebagai seorang janda..."


"Selain sering di remehkan tetangga, juga sering di tawari untuk sekedar di ajak menjalin hubungan layaknya  berpacaran. Sampai di tawari untuk di nikahi..."


"Bagiku semua itu sama sekali tidak menarik mintaku, mas... karena menikah bukan semata - mata status. Tapi menikah adalah waktu, dimana setiap hari kita akan menghabiskan waktu bersama mereka."


"Aku kadang berfikir, tidak ada lelaki yang sebaik dirimu di muka Bumi ini. Cuma kamu lelaki yang bisa menerima ku apa adanya dan mencintaiku dengan tulus."


"Selama ini aku selalu menolak lelaki yang mendekati ku, Mas..."


"Tapi hari ini... aku benar - benar di buat dilema."


"Aku tidak tau apakah aku mencintainya atau tidak. Karena aku mengira selama ini aku hanya mengaguminya yang tampan dan sukses dari jerih payah sendiri di usia yang sangat muda."


"Tapi ternyata dia menawarkan sebuah pernikahan kepadaku... Dan aku..."


Menarik nafas panjang dan menghelanya berat, "Aku tidak bisa mengiyakan, juga tidak bisa menolaknya." lanjut Zahra terdengar sangat pilu.


"Apa yang harus aku lakukan, Mas?" lirihnya lagi.


"Apakah kamu ikhlas jika aku menikah lagi?"


Zahra terdiam untuk beberapa detik.


"Tapi apa itu tidak di sebut sebagai pengkhianatan cinta?" lirihnya pilu dan bimbang.


Zahra memejamkan matanya dalam. Mengenang kembali kehidupan yang ia jalani saat masih bersama sang suami. Hari - hari yang indah dan masa - masa yang indah. Semua terkenang dengan rindu yang bergelayut di dalam sanubari.


Dan saat ia memejamkan mata itulah, kalimat sang suami yang memintanya untuk menikah lagi terlintas di dalam benaknya. Saat itu, sang suami menyampaikan kalimat itu, mereka masih dalam keadaan sehat dan baik - baik saja. Seolah tidak terlihat akan adanya perpisahan.


Tapi ternyata ... Tuhan sudah berkehendak.


Seketika Zahra membuka matanya kembali. Ia berfikir, apakah itu semacam jawaban dari sang suami.


"Mas?"


Zahra memanggil suaminya sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Namun ia hanya melihat penjaga makam yang masih bersih - bersih.


"Aku hanya berhalusinasi.." gumamnya. "Tapi tadi terasa benar - benar sangat nyata."


Tidak mungkin juga orang yang sudah mati akan muncul kembali di hadapan.


Zahra melamun untuk sesaat. Ia diam sembari menatap lekat batu nisan sang suami.


"Neng... sudah hampir malam, saya mau pulang... atau Neng tidak masalah di sini sendirian?"


Suara yang ia ketahui sebagai suara penjaga makam itu terdengar sangat dekat dengan dirinya. Zahra pun menoleh ke sisi kiri, sebagi sumber datangnya suara lelaki tua itu.


"Oh... iya, Pak... ini saya juga mau pulang..." jawab Zahra tersenyum ramah.


"Oh... ya, Neng... saya permisi ya..."


"Iya, Pak!" jawab Zahra dan kembali tersenyum, menatap punggung lelaki berusia sekitar 60 tahun itu.


Kemudian ia kembali menatap batu nisan sang suami untuk berpamitan. Ia usap lembut sebuah nama yang akan selalu teringat di dalam benak wanita cantik itu.


"Zahra pulang ya, Mas..." pamitnya. "Wassalamualaikum ..."


Zahra pun pergi meninggalkan area makam bersamaan dengan penjaga makam yang mengeluarkan motornya dari area parkir.

__ADS_1


Dan barulah Zahra menjemput sang anak gadis.


***


Cerita lain, hadir dari Gilang Adhitama...


Setelah ia meninggalkan perusahaan sang Ayah saat jam dinding sudah menunjukan pukul dua siang, ia langsung pulang dan menghadap laptop kerjanya. Tentu saja untuk melakukan work from home.


Perusahaan di Australia tidak bisa semudah itu ia tinggalkan begitu saja. Setiap hari ia harus melakukan zoom dengan asisten pribadinya, dan juga para petinggi perusahaan di sana.


"Bos ada beberapa file yang seharusnya Bos tanda tangani... Dan itu lebih cepat lebih baik."


Ucap sang asisten kepercayaan di sebrang sana, melalu Zoom.


"Kirimkan saja ke sini. Aku belum bisa kembali ke Australia. Ada hal penting yang harus aku selesaikan di Indonesia!" jawab Gilang yang duduk di kursi balkon sambil menghadap luar sana.


"Siap, Tuan." jawab lelaki di sebrang.


"Kirimkan file data penjualan yang aku minta sekarang melalui email, ya? mumpung aku punya waktu untuk mengeceknya!"


"Baik, Tuan!"


"Ya, sudah aku akhiri dulu! Bye!" pamit Gilang pada sang asisten andalan di Australia.


"Siap, Tuan!"


Maka laptop kembali menunjukkan layar yang di penuhi dengan tabel dna grafik yang sulit di baca oleh orang awam. Namun bagi Gilang hal itu sangat mudah untuk di pahami, karena sudah menjadi makanan sehari - hari seorang CEO.


Tanpa di sadari Gilang, sosok perempuan yang tinggal bersamanya di apartemen sejak tadi berada di balik jendela. Memperhatikan apa saja yang sedang di lakukan Gilang saat bekerja.


Perempuan 28 tahun itu tersenyum saat melihat betapa tampan lelaki itu saat terlihat sangat serius di depan laptop kerja. Kadang melihat layar laptop yang berubah - ubah tampilan. Kadang juga melihat ponsel seolah menunggu pesan atau pun hal yang lain.


Kayla yang sudah mengakui jika dirinya tidak gila itupun segera mendekati area pantry. Dengan mengingat takaran saat ia membuatkan kopi untuk sang Ayah di usia remajanya, Kayla berinisiatif untuk membuatkan kopi untuk Gilang.


Meminum kopi di balkon apartemen saat langit yang sudah beranjak sore sangat cocok bukan?


Maka Kayla memasak air panas. Dan ia sediakan dua cangkir serta dua alas cangkir untuk dirinya dan Gilang. Satu cangkir ia tuangkan kopi hitam. Satu lagi kopi cappucino. Karena ia tidak tau Gilang suka kopi yang mana, maka ia putuskan keduanya akan ia sodorkan pada Gilang. Dan ia akan meminum yang tidak di pilih sang lelaki.


Nampan berisi dua cangkir dengan motif sama ia bawa menuju balkon. Ini kali pertama ia membuatkan Gilang kopi. Dan itu membuat jantungnya sedikit berdebar, karena ia tak tau seperti apa ekspresi Gilang ketika tau ia buatkan kopi.


"Hai..." sapa Kayla saat ia sudah sampai di ambang pintu keluar.


Sontak Gilang menoleh ke sisi kanan. Dan tatapan mata terang sang pemuda di buat membeku dangan apa yang ia lihat. Ia sampai tertegun ketik melihat wanita yang ia cintai membawa nampan berisi cangkir kopi.


"Hai..." ucap Gilang sampai lupa tidak menjawab sapaan. Ia tersenyum saat melihat Kayla juga mulai tersenyum.


"Aku tidak tau, kamu suka kopi hitam, atau yang lain. Jadi aku buat dua! Kopi hitam dan Cappucino. Terserah kamu mau pilih yang mana..." ucap Kayla membawa nampan itu mendekati Gilang dan meletakkannya di atas meja.


Rupanya Gilang masih betah untuk tersenyum sambil mengikuti gerak gerik Kayla di sampingnya. Rasa haru dan tersentuh bergelayut di dalam dada. Ia sama sekali tak menyangka Kayla akan secepat ini berubah setelah mengakui jika ia hanya pura - pura gila saja.


"Apapun yang kamu buatkan untukku, aku akan menyukainya..." jawab Gilang kemudian, saat Kayla kembali berdiri tegak menghadap dirinya.


"Mana yang ingin kamu minum sekarang?" tanya Kayla terus mengumbar senyuman.


Gilang masih terpaku dengan cantiknya Kayla saat sedang beramah tamah dengan dirinya seperti ini.


"Ayo... pilih..." pinta Kayla, sadar jika Gilang masih terus saja memandangi dirinya. "Pilihan pertama kamu, akan aku anggap sebagai kopi favorit kamu!" lanjut Kayla.


"Hmmmm... baiklah..." Gilang mulai menatap nampan yang berisi dua warna kopi. "Aku suka kopi hitam!" jawab Gilang mengambil cangkir yang berisi kopi warna hitam dan langsung dan langsung membawanya dekat bibir.


"Eitzz!" Kayla mencegah Gilang untuk meminum kopi buatannya. "Masih panas, biarkan dingin dulu.." ucap Kayla.


Dan Gilang reflek mengikuti arahan sang wanita.


"Terima kasih, yaa.." ucap Gilang menatap lekat pada Kayla yang kini duduk di kursi sebrang Gilang.


"Sama - sama.." jawab Kayla. "Dan mulai hari ini, kopi Cappucino ini akan jadi favoritku!" ujarnya menatap kopi Cappucino buatannya.


Gilang pun hanya mengangguk dengan seulas senyum. Konsentrasinya untuk bekerja seketika lenyap begitu saja.


Tatapan Kayla benar - benar menghanyutkan pandangannya. Dan menghilangkan fokus di dalam kepala.


...🪴 Bersambung... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2