Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 164 ( DUFAN 1 )


__ADS_3

Clarice akhirnya memilih untuk masuk ke dalam mobil Arsen, dan mengambil posisi untuk duduk di jok belakang. Menolak permintaan adik kelasnya yang meminta dirinya untuk duduk di jok depan, dan berdampingan dengan Arsen.


Karena Clarice masih sangat ragu untuk berdekatan dengan pemuda yang tiba-tiba bersikap dingin padanya sejak satu setengah tahun yang lalu.


"Hai, Kak Clarice!" sapa gadis manis dan cantik yang kini menoleh ke belakang.


"Hai!" balas Cla dengan sedikit kaku.


Clarice sangat canggung berada di mobil Arsen. Selain karena seperti obat nyamuk juga karena Arsen yang sudah lama tidak menyapa hangat pada dirinya. Dan kini di ajak bicara oleh gadis yang di anggapnya sebagai kekasih Arsen rasanya sangat tidak nyaman.


Bahkan untuk duduk saja sang gadis terlihat sangat kaku dan salah tingkah. Padahal mobil sudah melaju meninggalkan perumahan Grand Blue Lagoon sejak 10 menit yang lalu.


"Kak Clarice masih ingat nama ku?" tanya gadis itu dengan sangat ramah dan penuh senyuman.


"Emm...." Clarice tersenyum kikuk, menunjukkan hampir semua barisan gigi-giginya yang putih dan rapi. Sembari mengingat-ingat karena ia pun pernah ikut dalam kegiatan OSIS semasa MOS kelas X ini. "Aku lupa..." jawab Clarice tersenyum salah tingkah.


"Shandy!" ucap gadis cantik, siswi kelas X itu sembari mengulurkan tangannya pada Clarice.


"Oh... Hai, Shandy!" sapa Clarice menerima jabatan tangan Shandy.


"Aku tidak menyangka Kak Clarice ternyata anaknya Tuan Kenzo Adhitama!"  ujar Shandy masih berusaha untuk menghadap ke belakang.


"Kamu mengenal Daddy ku?" tanya Clarice.


"Mengenal sih tidak. Tapi Papa sering bercerita kalau saat masih sekolah dulu Papa punya teman yang hebat pada masanya, namanya Kenzo Adhitama!" jawab Shandy. "Meskipun mereka tidak berteman akrab karena tidak satu kelas, katanya."


"Kamu yakin, yang di maksud itu Kenzo Adhitama Daddy ku?" tanya Clarice berbasa-basi. Kalaupun iya, rasanya Cla juga tidak akan peduli.


"Ya! kebetulan Papa punya teman di perumahan Grand Blue Lagoon. Dan saat melintas di depan rumah Kakak, Papa bilang rumah Kak Clarice itulah rumah Tuan Kenzo."


"Oh..." Clarice mengangguk dengan seulas senyuman setengah terpaksa. Karen Cla lebih tidak peduli dengan apapun itu.


"Dan... Aku tidak menyangka tenyata Kak Arsen mengenal Kak Clarice, bahkan mengenal beberapa pekerja di rumah Kak Clarice!" ujar Shandy dengan polosnya.


Clarice menoleh pada Arsen yang duduk di baik kemudi. Sejak tadi sang pemuda seolah enggan untuk menyahuti obrolannya dengan Shandy. Bahkan saat Shandy kini menyeret namanya sekalipun, Arsen tetap diam dan hanya fokus pada kemudi bundar di tangannya.


"Kebetulan orang tua kami bersahabat sejak SMA." jawab Clarice tanpa menyinggung masa lalu. Demi menjaga perasaan Shandy, batinnya.


"Oh..." Shandy mengangguk paham dengan senyum yang tak pernah pudar, dan kembali menghadap ke arah depan.


Dan gadis remaja yang belum genap 16 tahun itu membuka snack yang entah di bawa dari rumah atau bagaimana. Kemudian menawarkan pada Cla yang reflek menolaknya.


Mobil berhenti di lampu merah, dan Clarice yang duduk bagai obat nyamuk itu hanya bisa menatap pilu. Ketika jemari lentik membawa selembar irisan keripik untuk di sodorkan ke mulut Arsen.


Dan di depan mata Clarice, Arsen tanpa keberatan membuka mulutnya untuk menerima suapan sang gadis. Adegan sederhana yang seolah menjadi kejelasan dari satu pertanyaan yang belum terjawab sejak beberapa hari yang lalu.


Sontak Clarice membuang muka ke arah jendela. Menghindari pemandangan yang menyakitkan mata, dan menyesakkan dadanya.


' Kenapa rasanya jauh lebih sakit melihat mu dengan Shandy, dari pada saat aku melihat Vino dengan Neha dulu? '


Gumam sang gadis di dalam hati. Menatap pilu dan lirih pada keramaian jalan di sisi kiri mobil yang ia naiki.


Wajah cantiknya benar-benar terlihat kusut dan tidak bahagia. Sang mantan ketua Cheerleader sampai harus menarik nafas panjang melalui mulutnya untuk menekan sesak yang menggerogoti hatinya.


Luka di dalam hatinya benar-benar tak terlihat. Tapi rasa sakitnya bagai jantung lecet yang di remas dengan kuat. Hingga sakitnya bukan kepalang.


Dan inilah yang di namakan dengan luka tak berdarah.


' Jika tau begini... lebih baik aku tadi bawa mobil ku sendiri... '


Lirih Clarice di dalam hati. Menyesali gagalnya niat sang gadis untuk tadi membawa mobil sendiri.


Toh hadiah ulang tahunnya yang ke-17 sekitar dua bulan lalu tak kalah mewah dari hadiah yang di dapat oleh Arsen dan Naufal.


Yaitu sebuah Mini Cooper berwarna lemon, yang sudah beberapa kali ia gunakan untuk hang out bersama Hanna atau juga dengan adik-adiknya di akhir pekan.


***


Mobil berhenti di tempat parkir yang tersedia. Mobil Arsen dan Naufal berjajar dengan gagah dan menunjukkan kemewahannya. Dan semua keluar dari mobil dengan tetap terlihat cantik dan tampan. Merekalah rombongan anak muda yang memikat mata lawan jenisnya.

__ADS_1


Setelah membeli tiket, ke-7 anak muda itu mulai masuk ke area wisata Dunia Fantasi dengan wajah cerah yang berbinar. Termasuk Clarice yang memaksa untuk menghilangkan raut wajah sedihnya.


Yang berpasangan, jelas berjalan dengan pasangannya. Contohnya Naufal dan Gwen.


Sedangkan Arsen berjalan berdampingan dengan Shandy. Sedangkan 3 remaja yang masih jomblo, jalan bertiga dengan posisi Vino yang berada di tengah.


Sepertinya posisi Vino jauh lebih menyenangkan, karena di apit oleh dua bidadari yang cantik dan anggun. Hanya saja tidak ada hubungan yang pasti di antara keduanya.


Lantas, kenapa Vino bisa berjalan di tengah?


Karena Vino yang ingin berdekatan dengan Clarice, memilih untuk berjalan di samping sang gadis. Sedangkan Hanna yang ingin berdekatan dengan Vino, tentu memilih untuk berjalan ataupun duduk di dekat sang Atlit.


Mencobai berbagai wahana permainan, formasi mereka tak kunjung berubah. Dan saat ini yang terlihat adalah... Arsen yang tampak mencuri pandang untuk memperhatikan Clarice. Dan Vino yang tampak sangat perhatian pada Clarice.


Mulai dari Bianglala, Halilintar, Kora Kora dan Rumah Riana sudah mereka cobai. Dan masih banyak lagi yang ingin mereka coba untuk menguji adrenalinnya. Toh waktu masih sangat panjang.


Hingga akhirnya tujuh remaja itu turun dari wahana Ontang Anting, dan Clarice mendadak merasa pusing dan mual akibat terus berputar. Ini kali pertama sang gadis mencoba wahana yang memberikan sensasi terbang di udara, namun dengan cara berputar itu.


"Kamu kenapa, Cla?" tanya Vino menyentuh pundak Clarice yang memegangi pelipisnya.


Pertanyaan singkat Vino pada Clarice itu seketika menyedot perhatian kelima anak yang tergabung di sekitarnya. terutama Arsen, Naufal dan Hanna.


"Ada apa, Cla?" tanya Naufal sedikit panik.


"Tidak apa-apa..." jawab Clarice menggelengkan kepalanya pelan, tanpa melihat satu orang pun yang ada di sekitarnya. "Aku mau duduk saja di sana. Kalian lanjut lah!" ujar Clarice menunjuk tangga yang mengarah pada wahana selanjutnya.


"Aku antar!" ujar Hanna merangkul pundak Clarice dan mengarahkan sang gadis untuk menuju tangga.


Sedangkan Vino dan yang lain mengikuti langkah keduanya, hingga Clarice duduk di anak tangga nomor dua dari bawah.


"Sebenarnya kamu kenapa, Cla?" tanya Naufal yang sudah berjongkok di depan sang gadis.


"Aku hanya mual dan pusing! Permainan itu terlalu lama berputar..." jawab Clarice menunduk, menghadap lutut dengan memijit kedua pelipisnya.


"Ini, Kak Clarice! Aku bawa minyak angin gosok!" Shandy melepas minyak angin gosok 2 in 1 yang menggantung di tas ransel yang ia kenakan dan menyerahkan pada Hanna.


Clarice menerima batang minyak angin kemudian menghadap Naufal yang ada di depannya, lalu menoleh Vino yang duduk di samping kanannya.


"Kalian berdua tutup mata! Jangan mengintip, aku malu!" ujar Clarice.


"Masukkan saja ini tanpa membuka bajumu, kan!" protes Vino.


"Tetap saja aku malu!"


"Iya! iya!" sahut Naufal enggan berdebat. "Tutup mata mu, Vin!" titah Naufal.


Bersamaan dengan perintahnya pada Vino, jemari lentik dari gadis yang tak asing baginya merambat dari pelipis hingga mengunci matanya.


"Jangan mengintip!" bisik gadis seusianya yang berdiri di belakangnya. Dengan posisi kaki jenjang sang gadis yang tak tertutup kain itu menempel di punggungnya.


"Yes, my Angel!" jawab Naufal pada Gwen.


Clarice menggosok perutnya menggunakan minyak angin itu. Dan dengan masih sedikit pusing, matanya mengamati sekitar. Ia sama sekali tidak menemukan Arsen berada di sekitar mereka. Kemana perginya sang pemuda?


"Sudah!" ucap Clarice menutup kembali minyak angin milik Shandy. "Thanks ya Shandy!" ucap Clarice menyodorkan minyak angin itu pada pemiliknya.


"Sama-sama, Kak!"


"Aku sudah lebih baik. Kalian lanjut main saja dulu! Aku akan menunggu di sini!" ucap Clarice.


"Aku akan menemani kamu..." ucap Vino.


"Aku juga!" sahut Hanna.


"Iya... kasihan Clarice..." Gwen ikut menyahut.


"Jadi.. . Apa kita hanya akan duduk di sini saja sampai Dufan tutup?" sahut Naufal jengah.


"Hahaha!" Shandy terkekeh dengan celetukan kakak kelasnya itu. "Maksudnya sampai Kak Clarice lebih baik, Kak Naufal!" jawab Shandy.

__ADS_1


"Kalian naik saja, aku akan tunggu di sini." ucap Vino. "Ikutlah dengan mereka, Han..."


"Tidak usah, Vin. Aku ingin menemani Clarice."


"Kamu juga mau menemani Clarice, Yang?" tanya Naufal pada sang kekasih dengan nada sedikit lelah.


"Hehehe!" Gwen terkekeh geli melihat ekspresi jengah sang kekasih. "Aku terserah kamu sajalah, my Boy!" jawab Gwen menahan gelak tawa.


"Bagaimana kalau para gadis di sini dulu menjaga Cla, biar kami bertiga para lelaki bertarung dulu di bom bom car?" tawar Naufal. "Setelah itu gantian kalian bertiga, dan kami menjaga Cla. Toh, dengan kondisi mual dan pusing seperti ini tidak baik untuk Clarice ikut bermain bom bom car! Kalau tertabrak tubuhnya bisa semakin tergoncang!"


"Ya, setuju! pergilah!" sahut Hanna.


"Iya, pergilah. Sebentar lagi juga aku akan baik-baik saja.." jawab Clarice.


"Ya udah, ayo!" Naufal berdiri, mengajak Vino yang masih duduk di samping Clarice.


"Nah, Kak Arsen kemana?" tanya Shandy memutar tubuhnya.


"Mungkin di toilet!" sahut Hanna.


"Kalau begitu kalian para gadis saja yang main dulu!" ucap Naufal setelah berpikir beberapa saat. "Aku dan Vino nunggu Arsen dulu. Kasihan kalau di tinggal!"


"Ya udah! Ayok!" sahut Hanna memimpin pasukan para gadis.


Ketiga gadis itu meninggalkan Clarice bersama dua pemuda yang pasti siap untuk menjaga si Tuan Putri yang sedang tidak baik-baik saja akibat wahana permainan.


"Padahal aku sangat suka dengan permainan satu itu!" ujar Clarice menatap ketiga teman gadisnya sedang mengantri.


"Kita bisa kesini lagi kapan-kapan..." sahut Naufal yang memposisikan dirinya untuk duduk di anak tangga paling bawah, bahkan pinggangnya menempel pada betis kaki Cla yang berselonjor ke bawah.


"Iya, minggu depan juga tidak masalah!" sahut Vino.


"Eh, kemana sih si Arsen?" gumam Naufal. "Dia menghilang begitu saja!"


"Aku di sini!" suara pemuda yang sedang di bicarakan tiba-tiba terdengar dari tangga teratas.


Semua menoleh ke atas, di mana Arsen yang siang itu mengenakan celana jeans panjang berwarna biru tua dengan di padu kaos biru langit lengan pendek dan sepatu sport putih itu turun dengan membawa gelas kopi sekali pakai berwarna coklat muda berukuran kecil. Entah apa yang di bawa sang pembalap.


"Dari mana, Sen?" tanya Naufal, satu-satunya manusia yang saat ini bisa bersikap normal pada Arsen.


Tanpa menjawab, sang pemuda terus menuruni tangga dengan cepat dan langsung duduk begitu sampai di anak tangga ketiga, lurus di belakang Naufal.


"Minum ini..." ucap Arsen menyerahkan gelas kecil itu pada Clarice yang kembali menghadap depan setelah tadi pandangan matanya sempat bertemu dengan pandangan mata Arsen, ketika sang gadis mendongak ke atas.


DEG!


Setelah sekian purnama, suara ini kembali terdengar untuk dirinya. Setelah sekian waktu sang pemuda tak bertegur sapa dengan nya, kini sang pemuda menunjukkan perhatian sederhana dengan segelas ...


"Apa ini?" tanya Clarice menerima gelas yang di berikan oleh pemuda dingin yang dulunya sangat suka bercanda itu.


"Teh hangat!" jawab Arsen tanpa melihat pada Clarice.


Clarice menoleh ke kiri, menatap wajah tampan dengan tatapan tak percaya karena Arsen melakukan hal ini.


"Jadi kamu dari tadi pergi buat beli teh hangat doang?" tanya Naufal.


"Hemm..." jawab Arsen datar. "Minumlah selagi hangat!" titah Arsen menatap wajah Clarice dengan perasaan yang tidak menentu.


"Thanks..." ucap Clarice menatap lekat wajah pemuda yang kehangatannya sangat ia rindukan.


Clarice meneguk teh hangat di dalam gelas dengan pelan. Naufal menghadap ke arah depan, di mana di sana para gadis sudah beraksi di arena bom bom car.


Lalu.... Arsen dan Vino saling beradu tatap tajam, dingin, bahkan mencekam di belakang punggung Clarice.


Tidak ada yang menyadari hal ini. Dan tidak ada yang tau kenapa keduanya seperti ini.


Clarice? Rasanya bukan ini satu-satunya masalah di antara keduanya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2