
Di ruang meeting yang cukup luas, Kenzo memimpin kegiatan meeting mingguan. Di sisi kiri, ada Venom sang asisten. Berjarak dua orang dari Venom, ada Zio yang menghadap laptop miliknya.
Kenzo menatap Zio yang tengah membacakan laporan untuknya. Kenzo menatap serius pada Zio. Karena memang seperti itulah Kenzo Adhitama.
Tak pernah terlihat ramah di hadapan para karyawannya. Termasuk para petinggi setara Zio sekalipun. Teruma di jam serius macam ini.
Zio selesai membacakan dan menjelaskan hasil laporannya. Namun Kenzo tampak masih diam menatap dirinya. Sang bos belum juga memberikan tanggapan. Kenzo hanya masih terus menatap Zio, dengan tatapan yang ...
"Pak Kenzo? Apa ada yang salah dengan laporan saya?" tanya Zio pada Kenzo.
Seketika Kenzo tersadar dari lamunannya tentang apa yang sedang menganggu pikirannya. Di balik wajah seriusnya, ada rasa takut yang ia simpan seorang diri. Ada jerit yang tak bisa ia teriakkan.
Ada pilu seorang ayah tiri yang tengah ia sembunyikan. Selain menatap serius Zio yang sedang menjalankan tugasnya, ia juga menatap karena masalah pribadi.
"Tidak! Tidak ada yang salah!" jawab Kenzo kemudian.
Kenzo menarik nafas panjang sekaligus membuang pandangan dari Zio. Pagi itu jelas ia terlihat tidak sepenuhnya konsentrasi.
"Apa kita tunda meeting pagi ini, Pak?" bisik Venom pada Kenzo.
"Tidak! Kita lanjutkan!"
Kenzo meminum habis air putih di dalam gelas kaca miliknya. Kemudian kembali memimpin meeting. Kali ini ia fokus 100 persen. Ia tinggalkan bayangan Ayah kandung putri tirinya yang ada di depan mata.
***
š Rumah Sakit Jiwa Ibukota
Zhika masih betah duduk di kursi panjang taman belakang Rumah Sakit kala matahari sudah merangkak naik. Tak ada yang ia lakukan selain bergumam tidak jelas.
"Orang mati tidak akan kembali..." ucap seseorang tiba - tiba dari arah samping kirinya.
Zhika menoleh dengan gerakan khas ODGJ.
"Untuk apa di harapkan kembali!" lanjutnya duduk di ujung kursi yang di tempati Zhika. Berjarak kurang lebih 1 meter dari Zhika.
"Gila!" ucap Zhika, entah dalam keadaan sadar atau tidak.
"Kamu juga gila!" balas perempuan itu.
"Kalian semua gila!" sahut ODGJ yang lainnya.
"Kayla! Kamu gila!"
"Kamu juga gila, Zhika!" balas perempuan bernama Kayla, yang duduk di ujung kursi Zhika.
Dua ODGJ saling melotot tajam. Sama - sama memberikan tatapan yang mengintimidasi.
"Kalian gila...." sahut perempuan yang berdiri.
"Siapa yang gila?" sahut satu ODGJ lain yang baru datang.
"Rianti! Mereka gila!"
__ADS_1
"Kamu juga gila, Mona! Hahahahaha!" tawa Rianti dengan keras.
Zhika berdiri dan mendekati Kayla yang masih duduk di ujung kursi.
"Kamu jahat!" ucap Zhika mencoba untuk memukul Kayla.
"Kamu juga jahat!" sahut Kayla menahan tahan tangan Zhika yang ingin memukulnya.
"Kamu... Kamu..." ucap Zhika dengan nafas terengah.
"Apa? Kenapa aku?" tanya Kayla.
"Kamu sama gilanya dengan saudara mu!"
"Kamu juga sama gilanya dengan Kakakmu! Hahahaha!" balas Kayla mendorong Zhika, hingga Zhika jatuh ke belakang.
"Hahahahaha!" Kayla kembali tertawa, kemudian berlalu dari hadapan Zhika yang masih terduduk di tanah berumput hijau.
"Kayla jahat!" serunya sembari berdiri.
"Zhika jahat!" balas Kayla menoleh ke belakang sekilas. Kemudian kembali berjalan menjauhi Zhika, Mona dan Rianti yang masih berdiri di dekat kursi panjang taman.
Zhika memasang wajah cemberut, sembari memelintir rambutnya yang hitam dan bergelombang, namun sangat acak - acakan. Ia berjalan ke arah berlawanan dengan teman yang bertengkar dengannya.
***
Di lorong Rumah Sakit, ada dua pasang mata yang sebenarnya mengawasi empat ODGJ yang sedang bertengkar ala mereka.
"Seperti itulah mereka, Pak!" ucap seorang dokter pada seorang pengunjung pasien.
Tersenyum tipis, "Pak Gilang sudah lihat reaksinya, bukan?" tanya dokter spesialis gangguan jiwa itu. "Dia sudah bisa merespon dan membela diri. Sedikit demi sedikit, dia pasti akan sembuh dan kembali normal."
"Andai aku bisa merawatnya di rumah ku lebih lama. Aku yakin dia akan sembuh!"
"Saya pernah tidak sengaja mendengar, dia menyebut nama Pak Gilang! Entah itu dalam keadaan sadar atau tidak!"
Sontak Gilang menoleh pada dokter di sampingnya, "Dokter yakin?" tanya Gilang antusias.
"Ya, saya yakin!" jawab Dokter itu. "Hanya saja, ketika saya meminta dia untuk mengulang. Dia tidak mau! Mungkin dia berucap tanpa sadar. Hanya karena merasa mengenal nama anda."
Gilang terdiam, jantungnya seperti di pompa dengan sangat keras karena seperti tak percaya dengan ucapan dokter itu.
Namun akan ada rasa senang tersendiri, jika benar gadis itu menyebut namanya, walau tanpa sadar. Itu artinya, gadis itu masih mengingat dirinya, meski tidak sepenuhnya ada di kepalanya. Melainkan hanya semacam halusinasi semata.
"Aku tau..." jawab Gilang yang juga merupakan seorang psikiater. "Boleh saya menemuinya?" tanya Gilang. "Rasanya sudah berbulan - bulan aku tidak berbincang dengannya."
"Silahkan!" jawab dokter itu. "Mungkin Pak Gilang bisa membawanya ke tempat yang lebih tenang."
"Hm.. Aku tau!" jawab Gilang.
Gilang pun berlalu dari hadapan dokter itu. Dan mendekati seseorang yang saat ini mulau berjalan memasuki koridor dengan menundukkan kepalanya dalam.
***
__ADS_1
"Hai?" sapa Gilang berjalan mensejajari langkah gadis yang sebenarnya cantik. Namun terlihat acak - acakan.
"Ka....." gadis itu menggantung kalimatnya. Seolah terperangah dengan keberadaan Gilang di Rumah Sakit.
"Tidak perlu mengingat..." ucap Gilang tersenyum manis.
"Pergi kamu!" ucap gadis itu mendorong - dorong lengan Gilang untuk menjauh.
"Kamu kenapa?" tanya Gilang.
"Pergi!" seru gadis itu kemudian berlari kencang meninggalkan Gilang yang masih terpaku tak percaya.
Gadis itu menghilang setelah berbelok memasuki lorong yang mengarah ke tangga lantai. Gilang pun kini terdiam.
Sebagai psikiater yang pernah membawa gadis itu pulang, tentulah ia tahu apa yang terjadi dengan perempuan yang ia cintai itu.
Entah, apa yang membuat seorang Gilang Adhitama, yang merupakan CEO sebuah perusahaan di Australia justru jatuh cinta pada seorang ODGJ.
Padahal, bermodal harta dan tampangnya yang tampan, ia bisa mendapatkan sekelas artis sekalipun.
Tapi siapa yang bisa memaksakan hati? Semua terjadi begitu saja. Cinta jatuh di hati siapa saja, dengan kondisi apa saja.
"Sabar..." ucap dokter tadi mendekati Gilang.
"Aku tau..." jawab Gilang, "sepertinya aku ingin pulang saja!" ucapnya.
"Baiklah, Pak!" jawab Dokter itu.
Gilang pun berlalu meninggalkan lorong belakang Rumah Sakit Jiwa. Ia terus berjalan hingga sampai di parkiran khusus tamu.
Sebelum masuk ke dalam pintu kemudi mobilnya, ia berdiri di samping mobilnya. Menyandarkan punggung pada badan mobilnya. Kemudian mendongak ke atas, ia tatap sebuah jendela kanca yang ada di lantai dua. Konon kata dokter, di sanalah kamar gadis yang ia cintai berada.
Ia terus menatap jendela dengan kaca dengan kelambu yang tertutup rapat itu. Beberapa menit kemudian, gorden berwarna abu - abu itu terbuka separuh.
Dari balik kaca ia dapat melihat seorang gadis berambut hitam, melihat keluar. Gilang pun tersenyum setelah mengenali siapa dia. Hingga akhirnya dia sorot mata bertemu dalam satu garis lurus.
Gilang semakin tersenyum cerah. Namun tidak dengan gadis pujaannya. Ia hanya menatap datar pada Gilang yang kini melambaikan tangan.
Gadis itu masih betah melihat ke arah bawah untuk beberapa saat. Menatap Gilang dengan tatapan yang sulit di artikan. Setelah merasa cukup, gadis itu menutup kembali gordennya hingga rapat.
Di saat itulah tatapan mereka terputus. Dan Gilang pun mengakhiri dengan senyum lega. Sempat kecewa karena gadis itu menghindar. Kini merasa lega, karena ternyata gadis itu menghindar karena memiliki alasan tersendiri. Dan memilih untuk melihatnya dari jauh.
Merasa gorden tidak akan terbuka kembali, Gilang pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Untuk kemudian meninggalkan area rumah sakit. Ia harus segera kembali ke Australia malam ini.
š "Kak, Clarice pulang jam berapa?" tanya Gilang pada Kenzo.
š "Jam 11!"
š "Biar aku yang jemput! Setelah itu aku antar ke kantor!" ucapnya setelah melihat jam tangan yang menunjukkan pukul setengah sebelas siang.
š "Baiklah kalau begitu!"
š "Hemm!"
__ADS_1
Gilang pun melajukan mobilnya menuju International School, dimana Clarice berada.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...