Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 111 ( Mall Metropolitan )


__ADS_3

Tumbuh menjadi remaja seperti pada umunya, kehidupan Clarice bisa di bilang lebih mujur di banding teman yang lainnya. Meski kedua orang tua kandungnya bercerai di saat ia bahkan belum pernah di perkirakan akan ada di dalam rahim sang Bunda, nyatanya tak membuat Clarice bersedih.


Karena kenyataannya kini dunia sangat baik padanya. Di mana ia justru semakin memiliki banyak orang yang sangat menyayangi dirinya. Kedua orang tua sambungnya, sangat menyayangi Clarice dengan sangat tulus. Bahkan Zahra yang membawa anak kandungnya pun, sama sekali tidak pernah membedakan Clarice dengan anaknya, Felia.


Jika semasa kecilnya, Clarice terlihat sangat humble dan mudah akrab dengan anak seusianya, berbeda dengan kini yang tumbuh menjadi lebih tertutup, dan tidak suka terlalu banyak teman, apalagi dari lain kelas. Bagi Clarice, lebih baik memiliki satu atau dua sahabat, asal tidak pernah bermusuhan, dan bersahabat dengan sangat akrab dan tulus.


Tapi bukan berarti Clarice tidak suka berteman. Ia tetap baik dna menanggapi setiap teman yang mengobrol ataupun tak segan mengantar teman sekelasnya yang belum di jemput oleh orang tuanya. Asal dia tidka perlu menjemput sang Daddy di kantor.


Seperti saat ini, ia hanya akrab dengan Hanna, kemudian Lia yang duduk di bangku depannya. Tapi pertemanan Clarice dan Lia tak seakrab dengan Hanna. Meski Lia duduk tepat di bangku depan bangku Clarice. Tapi bukan berarti mereka semua saling berjauhan.


Selain Hanna, Clarice juga berteman dengan seorang teman laki - laki di kelasnya. Dari sekian banyak anak laki - laki di kelas, hanya dia yang paling dekat dengan Clarice. Namanya Naufal Mahardhika. Dia anak yang humble dan menyukai dunia modif. Konon ia suka sekali dengan drift di usia yang bahkan belum genap 17 tahun. Itu semua karena terlalu sering ikut dengan Kakak laki - lakinya yang sudah berusia 20 tahun.


Meninggalkan sang atlit yang membonceng seorang gadis yang di ketahui Cla sebagai Kakak kelasnya, maka kini Clarice sudah berada di kantor sang Ayah tiri rasa Ayah kandung.


Semua sudah hafal dengan Clarice yang pasti akaan menebar senyum ramah. Begitu juga dengan Galen. Bedanya Galen jarang fokus pada orang sekitar yang menyapanya. Ia hanya selalu berjalan lurus dan hanya tersenyum pada yang berpapasan dengannya, dan orang itu menyapa dirinya dengan menyebut namanya, Tuan kecil Galen.


Memasuki lift berdua, Clarice dan Galen tentu bebas mau memasuki lift yang mana. Toh itu gedung milik keluarganya. Tidak aan ada yang berani menegur keduanya. Beruntung, keduanya bukan anak orang kaya yang lasak dan semaunya.


Clarice dan Galen memasuki lift khusus petinggi di sana. Dan saat lift sampai di lantai dua, lift terbuka. Dan seseorang yang menunggu di depan pintu sontak tersenyum ramah dan mengangguk begitu melihat siapa yang sudah ada di dalam lift.


"Selamat sore, Nona Clarice dan Tuan kecil Galen..." sapanya.


Meski orang itu tau jika Clarice adalah anak sahabatnya, tapi tetap saja gadis cantik itu anak tiri dari sang CEO. Jadi ia patut untuk menghormati gadis remaja itu.


"Siang juga, Om Beni!" balas Clarice dengan senyum ramah pula.


Sementara Galen hanya tersenyum sekilas seperti biasa.


Beni masuk ke dalam lift, ini untuk kali pertama Beni bertemu Clarice di dalam lift. Tanpa berdampingan dengan sang Daddy, maupun saat situasi serius.


"Siswa Alexander sudah pulang semua, Nona?" tanya Beni.


"Ya, Om! sudah!"


"Nona Clarice tidak mengikuti kegiatan Ekskul?" tanya Beni.


"Ikut, Om... Clarice ikut Ekskul Cheerleader. Dan hanya latihan setiap hari Jum'at saja."


"Oh..." Beni mengangguk. "Anak saya juga sekolah di sana, Nona. Tapi saya yakin Nona tidak mungkin mengenalnya." ucap Beni sang Manager Keuangan.


"Oh, Ya? siapa, Om?" tanya Cla dengan wajah yang berubah serius. "Kelas berapa? siapa tau Clarice kenal. Walau tidak pernah akrab dengan banyak anak di sekolah. Tapi Cla tau satu persatu nama mereka. Terutama kelas 10."


"Oh, ya?" tanya Beni yang berdiri di dekat dinding lift sebelah kanan.


Sedangkan Clarice berdiri di dekat dinding sebelah kiri. Dan Galen bersandar pada dinding lift bagian belakang. Tanpa rasa ingin untuk ikut nimbrung berbincang dengan dua orang beda usia itu. Ia haya fokus pada siaran pertandingan PUBG yang ia dengarkan melalui sebuah headset bluetooth di telinga kirinya.


"Kebetulan anak saya juga kelas 10. Tapi saya tidak ingat dia berada di kelas 10 berapa."


"Memangnya namanya siapa, siapa tau Clarice kenal."


Belum sempat Beni menjawab, pintu lift hendak terbuka di mana ruang kerja Beni berada.


"Maaf ya, Nona Clarice... kapan - kapan kita sambung lagi. Sekalian saya tanya anak saya dulu, dia berada di kelas berapa." ucap Beni mengakhiri obrolan.


"Oh, iya, Om." jawab Clarice dengan nada yang santai dan ramah.


"Saya permisi dulu, Nona..." pamitnya menunduk hormat.


"Ya, Om..."


"Permisi Tuan kecil, Galen..." pamit lelaki 47 tahun itu pada pada Galen.


"Eh, iya, om!" balas Galen yang memang sejak awal tidak fokus pada siapa saja yang ada di ruang lift bersamanya.


Clarice menduga - duga, siapa gerangan siswa Alexander International School yang merupakan anak dari Manager keuangan di perusahaan sang Daddy. Ia sungguh tak menyangka jika dunia sesempit ini.


Namun saat pintu liftnya terbuka di lantai tertinggi yang ada di gedung, Cla mengakhiri lamunan dengan berjalan bersama Galen mendekati pintu ruang kerja sang Daddy.

__ADS_1


"Selamat sore, Nona Clarice dan Tuan kecil Galen..." sapa sekretaris Kenzo yang ada di depan pintu.


"Sore, Tante..."


Panggilan Om dan Tante yang di sematkan oleh Clarice pada seluruh karyawan Adhitama Group, adalah karena sudah kebiasaan sejak kecil. Sehingga sampai ia berusia 16 tahun pun, panggilan itu tetap sama dan tidak berubah. Begitu juga dengan Galen yang memanggil semua orang yang berusia dewasa dengan sebutan Om dan Tante.


Kedua kaka beradik itupun masuk ke dalam ruang kerja sang Daddy setelah Clarice mengetuk pintu ruang CEO.


"Selamat sore Papa! Daddy!" sapa Clarice begitu masuk ke dalam ruang kerja sang Daddy.


Gadis remaja itu langsung menghambur untuk memeluk sang Papa, kemudian berganti memeluk sang Daddy yang ada di kursi kebesaran CEO.


"Hai, Sayang!" setidaknya itu kalimat yang keluar dari bibir dua lelaki yang sama - sama memiliki cinta yang besar untuk anak gadis yang cukup manja pada mereka berdua itu.


Sedangkan Galen hanya mencium tangan kedua lelaki dewasa yang ada di dalam ruangan itu. Entah apa yang sedang di obrolkan oleh dua orang itu. Yang jelas, mereka tampak serius dengan laptop sang Daddy yang masih menyala dan beberapa berkas yang ada di atas meja.


"Daddy dan Papa masih lama?" tanya Clarice yang masih berdiri di samping meja kerja Daddy Kenzo.


Papa Zio menoleh dan melirik Daddy Kenzo, selaku  orang nomor satu di kantor, Daddy Kenzo yang berhak memutuskan untuk mengakhiri ataupun melanjutkan meeting berdua itu.


"Sudah selesai, Sayang..." jawab Daddy Kenzo langsung menutup semua program yang masih tersimpan di task bar satu persatu. Dan secepat kilat ia klik tombol shut down.


"Daddy yakin?" Clarice memicingkan matanya seolah tak percaya dengan jawaban sang Daddy.


"Tentu saja..." jawab Daddy Kenzo tanpa beban.


Clarice mengintip layar laptop yang sudah berubah gelap. Kemudian dia tersenyum pada sang Daddy yang kini menutup layap laptopnya.


"Kamu mau menagih janji Daddy kemarin, kan?" tanya Daddy Kenzo dengan senyum simpul pada sang anak gadis.


"Hehehe!" gelak Clarice. "Ya iyalah. Kan Daddy sudah janji menemani Cla beli handphone baru!" seru Clarice.


"Memangnya kenapa handphone kamu, nak?" tanya Papa Zio ikut  bergabung pada obrolan anak dan Daddy tirinya.


"Gara - gara Galen, tuh, Pa!" adu Clarice melirik galen yang langsung menyebikkan bibirnya di atas sofa, ketika mendengar namanya di sebut sang Kakak.


"Tapi Uncle, itu gara - gara Kakak sendiri yang jahil banget sembunyikan ponsel Galen!" balas Galen tak mau di salahkan begitu saja. "Padahal sedang ada pertandingan seru yang sudah tidak sabar untuk Galen tonton!" ucap Galen menyampaikan alasannya pada Papa Zio.


"Tapi kan tidak seharusnya di banting, Galen!" seru Cla dengan suara sedikit menghentak Galen. Ia masih tidak terima ponsel tiga mata miliknya rusak begitu saja.


"Ya... namanya juga reflek! alias nggak sengaja!" balas Galen cuek sembari kembali menatap layar ponselnya di mana pertandingan PUBG masih terus berlangsung, dan suara pembawa acara terdengar jelas di headset mahal miliknya.


"Dasar kamu, ya!" seru Clarice pada sang adik. Menatap wajah tampan pemuda 13 tahun yang sangat mirip dengan sang Ibu.


"Memangnya tidak bisa di perbaiki?" tanya Papa Zio yang merasa belum bisa memberikan anak - anaknya ponsel tiga mata dengan mudah seperti Daddy Kenzo.


Meski ponsel miliknya dan Zahra adalah ponsel tiga mata. Tapi jika untuk anak sekolah rasanya terlalu mahal, meski ia bisa mengusahakan untuk tiga anaknya.


"Cla tidak mau, Pa! Jelas rasanya beda!"


Papa Zio hanya bisa menghela nafas, tanpa bisa membantu apa - apa.


Kembali pada Cla dan Galen, meski suara keduanya sering sama - sama besar, bahkan adu mulut, tapi keduanya sebenarnya saling menyayangi.


"Sudah - sudah... nanti beli yang terbaru.." pungkas Daddy Kenzo tak ingin keduanya saling beradu kembali, setelah semalam menemukan jalan tengah, dan sama - sama meminta maaf.


"Yang 14?" tanya Clarice dengan mata bundar yang menatap sang Daddy dengan tatapan penuh harap.


"Terserah kamu mau yang mana..." jawab Daddy Kenzo enteng.


"Yeay! Cla mau yang 14!" seru Clarice berseru senang.


Kemudian gadis remaja itu menoleh Galen dangan mengejek sang adik yang masih menggunakan tipe 13, seperti miliknya yang di hancurkan sang adik semalam.


"Daddy! Galen juga mau!" seru Galen menginginkan tipe yang sama dengan sang kakak. Sebenarnya ia tidak terlalu menggubris ponsel. Tapi gara - gara sang Kakak mengejek, rasanya ia juga harus meminta.


"Punya mu masih bagus! untuk apa beli lagi!" jawab Daddy Kenzo yang tak ingin melanggar aturan yang di buat Calina untuk anak - anak. Yaitu untuk tidak membeli sesuatu yang belum terlalu di perlukan.

__ADS_1


"Tapi Daddy belikan Kakak ponsel baru, Galen tidak." cemburu Galen pada sang Kakak.


"Ponsel Kakak kamu rusak, dan itu juga kamu yang merusaknya. Masa iya, Kakak kamu tidak punya ponsel?" tanya Daddy Kenzo menatap putra sulungnya.


"Harusnya Kakak di belikan yang sama saja dengan yang sudah rusak!"


"Enak saja!" sahut Clarice. "Kalau sudah ada yang versi baru, untuk apa beli yang versi lama."


"Sudah, Clarice... jangan berdebat..." sahut Papa Zio yang tidak suka melihat perdebatan antar saudara.


"Tapi Galen itu resek, Pa!" sahut Clarice menghempaskan tubuhnya di kursi dekat kursi yang di duduki Papa Zio.


Daddy Kenzo selalu tersenyum jika melihat sang putri mengerutkan bibir, kemudian di tambah dengan kedua tangan yang melilit di depan dada. Tidak memiliki anak perempuan kandung, membuat Daddy Kenzo memperlakukan Clarice bak putri raja.


Mengenai pembelian ponsel, dengan uang sau yang sedemikian besar, Clarice bisa dengan mudah membelinya menggunakan uang tabungan miliknya. Tapi rasanya tidak rela jika harus mengeluarkan uang tabungan untuk ponsel yang seharusnya tak perlu ia beli.


Dan perlu di ingat, meski uang saku Clarice banyak, tapi kebutuhan anak seusianya dengan lingkungan semacam Alexander International School, sudah pasti kebutuhan mereka juga banyak dengan harga yang tidak murah.


Misalnya saja kalau Cla sedang mengerjakan tugas atau sekedar bersantai di Cafe, sudah pasti bukan sembarang Cafe. Atau jalan - jalan ke Mall dengan Hanna. Yang di beli pasti sesuatu yang harganya cukup mahal. Contohnya saja baju, jam tangan dan aksesoris lainnya. Meski tidak selalu branded.


Sehingga belum tentu uang Clarice selalu sisa banyak setiap bulannya.


***


Jam yang di tunggu Clarice telah tiba. Mereka satu keluarga pergi ke Mall Metropolitan untuk membeli ponsel baru Clarice.


Berjalan dengan rombongan lengkap, sudah pasti mereka benar - benar terlihat sebagai keluarga besar yang bahagia.


Satu jam berlalu, dan Clarice sudah mendapatkan apa yang ia mau, yaitu ponsel dengan logo apel tergigit keluaran terbaru.


"Kita makan malam dulu di sana ya, Daddy?" ajak Clarice menunjuk sebuah restauran bernama P*nci**s, restauran yang berada paling dekat dengan posisi mereka saat ini. Tujuan Cla hanya satu, ia sudah tak sabar untuk membuka box ponsel terbarunya, alias unboxing.


"Boleh." jawab Daddy Kenzo yang memang selalu kesulitan untuk menolak permintaan sang anak gadis.


Dan duduklah keluarga besar itu di kursi paling tepi. Paling dekat dengan jendela. Di mana mereka bisa dengan mudah melihat orang - orang yang berseliweran di dalam Mall Metropolitan.


"Kamu suka?" tanya Daddy Kenzo yang duduk tepat di dapan Clarice.


"Tentu saja, Daddy! thank you so much!" seru Clarice kembali berdiri dan mencium sekilas pipi sang Daddy. "Mommy juga!" ujar Clarice ganti mencium pipi Calina yang duduk di samping sang Daddy.


Sementara tawa ceria Clarice berbanding terbalik dengan bibir Galen yang cemberut. Ia pun ingin ponsel yang sama. Tapi apalah daya. Ia enggan mengeluarkan uangnya untuk membeli ponsel.


Belum lagi akan mendapat omelan sang Mommy jika ia membeli ponsel baru. Karena ponsel yang kini ia genggam juga baru tiga bulan.


Sesi makan malam berjalan dengan khidmat sampai semua piring sudah berkurang makanannya. Di tengah mengunyah makan malamnya, mata Clarice tak sengaja melihat ke arah orang yang berlalu lalang.


Clarice memicingkan matanya, saat melihat sosok yang baru tadi pagi ia kenal melintas. Ya, Arsenio Wilson. Pemuda itu tengah bejalan dengan seorang gadis yang usianya mungkin tak jauh berbeda dengan mereka, 16 tahun.


Lantas siapa gadis itu? pacarnya? bukankah Arsen baru di Jakarta?


Pandangan mereka bertemu untuk kedua kalinya dalam hitungan detik. Dan Clarice langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan tak lagi menoleh pada sang pemuda yang memang sangat memikat kaum hawa dari segi fisik. Ia yakin jika Arsen mengenali dirinya. Tapi ia tak mau terlalu percaya diri dengan menyapa duluan.


Seperti yang di lakukan Kakak kelasnya tadi siang di sekolah. Yaitu memperkenalkan diri pada Arsen dengan cara menemui Arsen yang sedang makan siang di kantin bersama Naufal dan beberapa murid laki - laki lainnya.


Mereka terlihat begitu murah, bukan?


Dan setelah melihat pengaruh hadirnya seorang Arsen di sekolah, tentu membuat Clarice minder untuk berkenalan dengan Arsen. Karena yang mendekati Arsen begitu banyak. Selain cantik, mereka juga tak segan untuk Sok kenal so deket. Sedangkan ia melihat dirinya adalah remaja yang kuper, dan kurang pergaulan.


Meski kenyataannya Clarice adalah siswi yang cantik, dengan kecantikan natural. Dan juga di dukung dengan apa yang di kenakan, semua adalah barang - barang dengan kwalitas bagus. Atau mungkin karena itulah banyak anak laki - laki yang minder untuk mendekati dirinya yang memang terlihat berkelas?


Tapi masalahnya, di sekolah itu banyak pula yang memakai barang - barang seperti Clarice. Mahal dan berkelas. Bedanya mereka di tonjolkan. sedangkan Cla tidak.


Melanjutkan makan malamnya, Clarice sesekali mengedarkan pandangannya pada sekitar. Apakah pemuda itu masih ada di sekitarnya atau tidak? Setelah tak berhasil menemukan, Clarice yakin jika pemuda itu sudah pergi ke lantai lain.


***


"Siapa namamu?" tanya Arsen yang tiba - tiba muncul di belakan Clarice.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2