Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 170 ( Prom Night 2 )


__ADS_3

MC bertanya siapa yang mungkin ingin membagikan kesan-kesan selama di sekolah ini kepada teman-teman. Di saat semua siswa memilih untuk diam, tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya untuk bisa bercerita menggunakan mic.


"Oh... okay! siapa ini yang ingin menyampaikan kesan yang di dapat selama di sekolah ini..." tanya MC berjalan mendekati sang pemuda yang berdiri tidak jauh dari posisinya.


"Perkenalkan dirimu, Boy!" ujar sang MC dengan nada bicara yang sangat ramah.


"Malvino Lubis! Panggil saja Vino!"


"Hai, Vino!" sapa sang MC laki-laki dan perempuan bersamaan.


"Helo!" balas Vino.


"Apa nih kesan kamu selama sekolah tiga tahun di Alexander International School?" tanya sang MC laki-laki yang terlihat lebih agresif pada seluruh peserta prom night.


"Saya adalah siswa Atlit di sekolah ini. Saya masuk melalui jalur prestasi non akademik yang di seleksi dengan sangat ketat ketika saya masih duduk di bangku kelas IX. Dan ketika saya terpilih untuk bisa masuk ke sekolah ini, sungguhlah itu suatu kehormatan yang luar biasa untuk saya."


"Dan saya bangga serta kagum pada seluruh murid di sekolah ini, khususnya teman-teman saya. Karena mereka tidak pernah memandang harta dan tahta. Sehingga saya bisa bergaul dengan siapa saja."


"Terima kasih juga saya sampaikan kepada kepala sekolah, seluruh guru dan juga seluruh komite yang berkerja untuk sekolah ini. Karena memberikan saya kesempatan untuk menempuh pendidikan yang sangat berkesan di sekolah ini."


"Yeaay!" seru sang MC bertepuk tangan. "Ada lagi yang ingin di sampaikan?"


"Sejak awal memasuki sekolah ini, saya mengetahui tentang seorang gadis yang luar biasa. Hanya saja saya sangat ragu untuk mendekatinya. Karena tahta kami sangat berbeda..."


"WOW!" seru dua MC bersamaan.


Dan suasana yang semula hiruk pikuk, kini hening dan hanya suara Vino yang terdengar di dalam aula yang teramat luas itu.


"Sehingga saya memilih untuk mendekati gadis yang benar-benar terlihat menerima saya apa adanya." ucap Vino lagi. "Namun sayang... pilihan saya sangat salah, karena dia berkhianat meninggalkan saya untuk laki-laki yang lebih mampu di banding saya. Hingga satu kejadian membuat saya membulatkan tekat untuk mengejar gadis yang sesungguhnya saya impikan sejak pertama kali saya memasuki sekolah ini."


"Siapakah dia?" tanya sang MC memasang ekspresi penasaran yang teramat tinggi.


Vino bergerak berjalan ke belakang panggung, dan mengambil sebuah bucket bunga berwarna merah yang di bentuk sangat indah dengan ukuran yang cukup besar. Kemudian kembali berbaur dengan teman-teman yang semula berdansa, Vino tampak diam dengan menatap dalam pada bucket bunga itu.


Dan semua ini tentu tidak luput dari pandangan Arsenio Wilson yang masih duduk di kursi Naufal. Menatap lurus ke arah depan. Memandangi aksi yang sedang di mainkan oleh Vino.


Sang pemuda satu ini tampak sangat tenang, dingin dan tidak peduli dengan sekitar. Titik fokusnya hanya satu, sosok Clarice yang malam ini terlihat sangat cantik, menawan dan sangat istimewa di matanya. Hanya saja jemari lentik itu tidak bisa untuk ia genggam di malam prom night ini.


Di mana ia tidak akan mendapatkan ulang momen ini bersama dengan Clarice. Sungguh sesuatu yang sangat menyesakkan dada untuk sang pemuda. Tapi semua ini memang tidak luput atas satu perjanjian yang... tidak semudah itu untuk di khianati. Dan ini perlu untuk di garis bawahi.


Kembali pada lantai dansa, di mana semua sorot mata tertarik pada satu titik, seorang pemuda berjas hitam yang tengah membawa bucket bunga mawar merah yang sangat cantik dan indah dari belakang panggung.


Meminta mic dari sang MC secara khusus, Vino membawa bucket di tangan kanan, dan mic di tangan kiri. Melangkah mendekati gadis cantik bergaun cantik berwarna cream yang terlihat sangat menawan. Berdiri berhadapan, dengan jarak yang tak lebih dari satu meter. Sang pemuda terlihat tampan dan sang gadis terlihat cantik


"Brighta Clarice Agasta... Kamu masih ingat dengan obrolan pertama kita?" tanya Vino.


Clarice terdiam membeku untuk sesaat. Dadanya bergemuruh dengan detak jantung yang tidak biasa. Seolah masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Kenapa demikian? Kenapa bisa dirinya di hadapkan dengan momen seperti ini.


Dengan sangat kaku sang gadis hanya mengangguk tanpa bisa berucap apapun juga.


"Saat itu kamu tengah belajar memasukkan bola basket ke dalam ring selepas pulang sekolah. Sesungguhnya saat itu... sejak awal aku sudah mengikuti mu, melihat mu dari jauh." ucap Vino membuat seisi ruangan membeku. Menanti hal apa yang akan terjadi setelah ini.


Sedikit banyak semua pasti tau dan paham kisah antara Vino dan Neha yang terjalin sejak sang pemuda memasuki sekolah ini tiga tahun yang lalu.


"Mungkin itu hari pertama kamu melihat jika ada aku di sekolah ini..." lanjut Vino, namun Clarice tampak menggelengkan kepala dengan seulas senyuman bingung.


Jelas saja! Karena bagi Cla, justru dialah yang seperti tak terlihat oleh sang pemuda.


"Aku tau, Clarice... Aku hanyalah butiran debu yang tiada arti. Aku bukan Naufal Mahardhika, anak pengusaha yang memiliki jalinan bisnis luar biasa dengan Daddy mu, Tuan Kenzo Adhitama. Aku juga bukan sosok Arsenio Wilson yang merupakan anak seorang pengusaha batu bara yang bisa memiliki segalanya hanya dalam sekali kedipan mata." ucap Vino.


Kali ini kalimat Vino cukup menyentuh banyak hati yang rata-rata hati yang berasal dari keluarga berdarah biru.


Namun bukan hanya mereka yang terdiam saat ini. Ada Hanna yang sesungguhnya tak sanggup melihat semua ini. Ada Hanna yang jika bisa mengulang waktu ia akan memilih untuk tidak datang dalam acara ini. Walau tidak akan mendapatkan momen prom night kembali suatu saat nanti.


Tapi sang Atlit terlanjur masuk ke dalam jurang yang dalam, pikirnya.


"Aku hanyalah anak seorang karyawan yang bahkan posisinya hanya pengganti Papa mu di perusahaan Daddy mu..."


Dua MC yang merupakan MC undangan dari luar lingkup sekolah tentu mengerutkan kening mereka. tidak asing ketika mereka mendengar nama Kenzo Adhitama di sebutkan. Tapi untuk kata Daddy dan Papa yang seolah mengarah pada orang yang berbeda membuat jalur di dalam kepala sang MC berputar dan macet hingga sulit di urai.


Clarice menggigit bibirnya bagian dalam. Berusaha menguasai kegugupan, tapi yang ada ia justru merasa sangat tidak nyaman. Gadis satu ini bukanlah gadis yang suka di lihat banyak orang. Gadis satu ini bukanlah gadis yang suka mencari perhatian pada siapapun juga.

__ADS_1


Tapi di berikan kalimat menyentuh seperti ini dengan panjang lebar oleh pemuda di hadapan, memang pernah menjadi mimpi dan angan-angannya di masa lalu.


Hanya saja ketika semua itu menjadi nyata, ia bagai sedang di bekukan di dalam freezer. Membuat aliran darahnya pun bahkan terasa berhenti. Dan tak tau harus berbuat apa. Sepertinya usia dan waktu cukup mempengaruhi kehidupan Cla.


"Clarice... Dengan segenap rasa yang aku miliki, dengan waktu dan ketulusan yang sudah kita lalui bersama, dengan di berikannya izin atas dirimu untuk menjalin kasih dengan lawan jenis... Maukah kamu menerima diriku untuk menjadi cinta pertama kamu?" tanya Vino dengan suara yang nyaris bergetar. Segenap jiwanya ia curahkan untuk momen satu ini. Momen yang tak akan pernah ia lupakan.


"Woooww!" seru sebagian teman sekolah mereka mendengar pernyataan Vino.


Jangan tanya seberapa gugup sang Atlit mengucapkan kalimat yang teramat dalam itu menggunakan mic di hadapan ratusan teman sekolahnya. Sudah pasti kaki serasa bergetar hebat. Tapi semua harus tetap ia lakukan demi mengejar cinta yang ingin ia miliki. Sebelum terlambat.


Clarice membuka mulutnya sedikit saking shock nya dengan kenyataan yang ada di depan mata. Ia berkedip beberapa kali saking tidak percayanya dengan apa yang di dengarnya ini.


Di hadapan banyak teman sekolah, di hadapan ratusan mata, Clarice di buat harus tersenyum semanis yang ia bisa pada akhirnya. Namun wajah merah karena malu juga tidak bisa di tutupi lagi.


"Terima! Terima!" seru sebagian tamu yang hadir.


"Say yes! say yes! say yes!" seru sebagian lagi.


Jika Clarice membeku dan tidak bisa berucap dan juga tidak bisa memberi jawaban dalam waktu sedemikian singkat, justru ada sosok yang memilih untuk membawa kakinya melangkah meninggalkan aula sekolah yang sudah di dekor dengan sangat indah dan mewah.


Mengambil satu gelas minuman berwarna merah yang di susun dengan sangat unik. Meminumnya hanya dalam satu kali tenggak saja dan langsung meletakkannya di atas meja dengan sedikit menghentak.


Dan mengundang perhatian beberapa teman yang ada di dekat meja. Namun mereka hanya diam tanpa berani bertanya pada sang pemuda yang sampai lulus sekolah masih mencuri perhatian beberapa gadis. terutama adik kelas.


Hingga langkah kaki itu sampai di pintu untuk keluar masuk aula, belum juga terdengar jawaban apa yang akan di berikan oleh Clarice. Justru suara MC yang terdengar olehnya.


"Jadi apa jawabannya, Nona Clarice?" tanya MC laki-laki.


"Kalau di lihat dari senyum nya Nona Clarice, seperti nya sesungguhnya sudah lama saling suka, ya?" tebak MC perempuan.


"Sepertinya sih iya... Hanya menunggu waktu saja.. Apalagi tadi juga dansa berdua, ya?" sahut MC laki-laki dengan suara yang di baur dengan senyum menggoda.


Seseorang yang meninggalkan aula pun hanya bisa melangkah dengan menatap lurus ke depan. Telinga sudah sangat panas mendengar semua kalimat yang di ucapkan oleh para MC.


Ia sangat yakin, jika hal yang paling tidak ia inginkan akan terwujud dan terjadi dalam hitungan menit. Ia sungguh tidak ingin mendengar jawaban dari sang gadis jelita.


"I'll go!" jawabnya pada sebuah saluran telepon yang baru saja menghubungi dirinya.


***


Arsenio Wilson, pemuda tampan yang kini berusia 18 tahun itu kini mengemudikan mobil BMW 4 Series Coup miliknya. Dengan perasaan yang bercampur aduk dan dengan suasana hati yang tidak menentu, kepala Arsen di penuhi dengan kalimat-kalimat MC yang mengatakan jika Cla terlihat tersenyum senang dengan momen yang di sedang di lalui. Belum lagi suara dukungan yang di teriakkan oleh teman-temannya.


Lelah dengan pikiran, sang pemuda memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya yang mulai sepi, karena jarum jam sudah menunjukkan angka 22.50 WIB.


Menarik nafas panjang, Arsen membuka dashboard mobilnya, mengeluarkan selembar foto yang entah sejak kapan ada di sana. Yang jelas, mobil putih miliknya ini sudah satu tahun lebih bersamanya.


Sang pemuda diam membeku dan menatap dalam foto tersebut. Foto dirinya dan Clarice yang di ambil saat ia masih sering mendatangi kediaman Kenzo Adhitama untuk berlatih renang bersama Cla, sebelum ia memutuskan untuk menjauh.


Dan foto itu pula yang pernah membuat Shandy kecewa, ketika secara tidak sengaja menemukannya di dalam dashboard. Sedang dirinya tidak bisa untuk terus membohongi sang adik kelas yang terlanjur terlihat bahagia ketika menjadi kekasihnya.


Berbagai kenangan, berbagai ingatan muncul begitu saja ketika melihat senyum sang gadis jelita. Segala sesuatu tentang dirinya dan Cla bertebaran di kepalanya yang terasa pening.


"Katakan padaku jika kelak ia menyakitimu, Cla..."


"Katakan padaku jika sampai kamu meneteskan air mata karenanya. Walau satu tetes sekalipun!"


"Aku mencintaimu, Clarice..."


Rancau sang Tuan Muda Wilson yang sedang di landa galau.


"Tapi aku harus pergi... Aku kalah..." ucapnya tersenyum lirih, pilu dan penuh luka yang tersimpan di dalam dada.


Arsen mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dengan alat kecil berbentuk jarum, ia mengeluarkan kartu ponselnya. Untuk kemudian mematahkan begitu saja kartu yang selama ini menjadi nomor ponselnya. Menghapus aplikasi Chatting. Menutup semua media sosial yang ia miliki. Seolah sang pembalap ingin menghilangkan jejaknya dari muka Bumi ini.


Clik...


Layar ponsel nya kini kembali gelap. Seiring dengan segala sesuatu yang seolah akan ia mulai dengan hal-hal yang baru.


"Bye.. Clarice..." ucapnya menatap selembar foto tanpa berkedip, sebelum akhirnya mengembalikan foto itu ke tempatnya semula.


30 menit sudah sang pemuda berhenti di tepi jalan. Dan hanya untuk melamun dan mengakhiri semuanya. Kini saatnya untuk ia benar-benar kembali pulang.

__ADS_1


***


"Arsen?" panggil Mama Rania yang melihat sang putra menaiki tangga menuju lantai dua.


"Ya, Ma?" jawab sang pembalap menoleh wanita yang sudah melahirkannya tengah duduk di sofa depan televisi lantai 2.


"Kenapa sudah pulang?" tanya sang Ibu heran. "Ini baru jam setengah 12 malam... Mama pikir prom night masih berlangsung, bukan? Dulu Mommy saja sampai rumah jam 1 malam. Bahkan mungkin lebih."


"Arsen hanya bosan di sana, Ma!" jawab sang pemuda mendekati sang Ibu. Kemudian dengan sangat manja Arsen berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ibunya.


tergelak lucu. "Mana mungkin acara prom night membosankan!" jawab sang Ibu menepuk pelan lengan Arsen. "Kamu sih tidak ajak satu cewek sekalipun."


"Memangnya siapa yang bisa Arsen bawa ke acara prom night?" Arsen melirik wajah sang Ibu dengan raut wajah cemberut.


"Shandy?"


Arsen membuang pandang mendengar jawaban Mama Rania, menoleh pada layar televisi yang menampilkan sebuah film jadul yang berasal dari daratan China.


"Tidak mungkin Arsen mengajak dia. Arsen sudah mengakhiri semuanya sepulang dari Bali." jawab sang putra bungsu.


"Hemmm..." sang Mama mengangguk. "Mama tau..." lanjutnya.


"Tau dari mana?" Arsen sontak kembali menatap wajah sang Ibu.


"Tadi Mama tidak sengaja bertemu dia dan Mamanya di mall."


"Oh..." Arsen menanggapi dengan datar.


"Jadi berangkat besok?"


"Jadi lah, Ma!"


:"Sudah yakin?" tanya sang Ibu serius.


"Sangat yakin!" jawab Arsen bersikap seolah semua baik-baik saja.


"Sudah ikhlas melepas... Cla?" tanya Mama Rania dengan sedikit ragu. Khawatir putranya tersinggung.


"Sudah!" jawab Arsen setegas mungkin.


"Okay! Apapun pilihan kamu, asal kamu mau menjadi penerus Papa, Mama akan menyetujuinya, Boy!"


"Thank you, Ma!" jawab Arsen kembali duduk dan mendaratkan satu kecupan di pipi sang Ibu sebelum akhirnya meninggalkan sang Ibu dan masuk ke dalam kamarnya.


"Good night, Boy!"


"Night too, Mama!"


# # # # # #


Pagi kembali menyapa Ibukota yang selalu ramai penduduk. Matahari mulai memunculkan sinar kecilnya, meski belum menampakkan diri.


Seorang gadis menggeliat dari balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang berbalut piyama tidur setelah mendengar suara sang Ibu memanggilnya.


"Yes, Mommy... Come in..." jawabnya dengan suara yang masih sangat malas untuk bangun dari tidurnya.


Clekk!


"Cla.. ada titipan buat kamu..." ucap Mommy Calina menyerahkan satu box berukuran sedang ke hadapan Cla yang bahkan masih terbaring malas di tempat tidurnya.


"Dari siapa, Mommy?" tanya nya dengan kedua mata yang masih sangat sipit.


"Arsen!" jawab Mommy Calina.


"Arsen?" pekiknya terbelalak.


Sontak sang gadis yang tampak masih sangat mengantuk itu duduk terkesiap sembari menyibak selimut tebalnya dan langsung turun dari ranjang untuk menghampiri Mommy Calina dan meraih box itu.


"Mommy keluar dulu, ya?" pamit Mommy Calina.


"Yes, Mommy!"

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2