
Julukan anak tiri yang sebutkan oleh Zuria, telah di balas oleh Clarice dengan sebutan yang tak kalah menjijikkan oleh Clarice. Yaitu belatung betina. Selain gatal, Clarice juga menganggap Zuria adalah gadis yang tidak tau malu.
Sudah di perlakukan tidak baik oleh Arsen, tapi masih percaya diri dengan menjadikan Arsen sebagai tameng. Padahal jika mau, Arsen pasti sudah memukulnya. Tapi Arsen bukanlah tipe pemuda yang mudah memukul, apalagi lawan jenis.
Namun semua kericuhan di antara Zuria dan Clarice mungkin akan segera lenyap, ketika orang tua masing-masing akan datang.
Dan Zuria merasa paling panik di sini. Dengan menyebut nama Tuan Kenzo Adhitama, sedikit banyak berarti gadis itu tau siapa pemilik nama tersebut.
Sedangkan untuk Arsen, ia masih merasa bersalah, karena membuat orang tuanya mendatangi sekolah. Tapi ia memang tidak bisa jika harus meninggalkan Clarice menyelesaikan masalah yang berawal dari postingannya di akun media sosial.
Sehingga ia memilih untuk bertanggung jawab dengan ikut masuk ke dalam ruang BK. Dan ia bersyukur bisa ikut masuk, jika tidak, ia yakin Clarice tadi sudah menyerang Zuria lebih dulu. Dan itu bisa memperberat hukuman sang gadis.
Jika di Alexander International School ada tiga remaja yang sedang adu mulut di ruang BK, maka di tempat yang berbeda-beda ada tiga pasang orang tua yang sedang pusing dengan masalah anak-anak mereka yang menginjak usia remaja.
***
Mommy Calina dan Daddy Kenzo tengah makan siang bersama di salah satu rumah makan yang ada di pinggir jalan setelah aksi cemburu Daddy Kenzo terhadap teman lama sang istri.
Mereka baru saja selesai menyantap makanan yang mereka pesan, dan hendak meninggalkan rumah makan tersebut. Di saat tiba-tiba suara ponsel Mommy Calina berbunyi, yang menandakan ada pesan masuk di akun chat miliknya.
Layar ponsel yang masih berada di atas meja itu pun menyala, dan memunculkan nama pengirim pesan. Hanya nama, dan pesan tak terlihat sebelum layar kunci di buka.
"Mrs. Maria..." gumam Mommy Calina membaca nama pengirim pesan.
"Mrs. Maria?" tanya Daddy Kenzo yang merasa tidak mengenal nama itu.
Satu-satunya guru Alexander International School yang di kenal dan di ingat oleh Daddy Kenzo di tingkat Senior adalah, Mr. Zakaria. Sang kepala sekolah tingkat Senior di Alexander International yang kini sudah menginjak usia 50 tahun.
"Guru BK di sekolah Clarice, Mas..." jawab Calina resah. Berpikir, kenapa sampai guru BK mengirim pesan padanya.
"Guru BK?" pekik Daddy Kenzo sembari bertanya dalam hati, apa mungkin sang putri tersangkut masalah, sampai harus berurusan dengan guru BK.
Masalah apa? Itulah yang menjadi pertanyaan sang Daddy.
Daddy Kenzo mengenal betul putri sambungnya itu sejak bayi. Bahkan turut menjaga nya sejak di dalam kandungan. Sebagai seorang Ayah sambung yang merawat sejak kecil, tentu sang Daddy tau seperti apa sosok Clarice.
Gadis kecilnya itu tak pernah sekalipun membuat masalah di sekolah ataupun di luar sekolah. Tak pernah sekalipun ia dan istri nya di panggil ke sekolah untuk kesalahan sang anak gadis. Alia tak pernah sampai masuk ke ruang BK.
"Kira-kira ada apa ya, Mas?" tanya Calina yang memiliki pikiran yang sama dengan sang suami. "Aku takut membukanya..." gumam Calina.
"Biar aku saja!" jawab Kenzo meraih ponsel Calina yang masih tergeletak di atas meja.
Kenzo menggeser layar ponsel ke atas, kemudian memasukkan sandi ponsel Calina. Keduanya memiliki sandi ponsel yang sama. Sehingga tidak ada satu hal pun yang tersembunyi antara satu sama lain.
Kenzo langsung masuk ke dalam aplikasi chat berwarna hijau, dan nama Mrs. Maria ada di barisan teratas, di atas namanya.
Kenzo langsung membuka pesan dan membaca pesan yang di sampaikan oleh sang guru BK dengan sura lirih, untuk bisa di dengar oleh sang istri saja.
"Selamat siang, Nyonya Kenzo Adhitama. Saya ingin menyampaikan jika Ananda Brighta Clarice Agasta terlibat dalam pertengkaran antar murid di kantin sekolah. Dengan ini, saya mengharapkan kehadiran wali murid sekarang juga, untuk berdiskusi dalam menyelesaikan masalah ini bersama wali murid yang lain. Berikut saya kirimkan bukti perselisihan antara Clarice dengan siswa yang lain. Terima kasih!"
Kenzo mengakhiri membacanya dengan di ikuti meng-klik tombol play di dalam video yang dikirimkan sang guru. Dan mulailah rekaman CCTV yang berjarak tidak terlalu jauh dari posisi Clarice dan Hanna berada.
"Clarice..." lirih Mommy Calina tak percaya sang putri terlibat pertikaian dengan murid yang lain.
Di dalam video itu, tampak jelas percakapan Clarice dan seorang siswi lain di mana bet lengan kiri yang di kenakan oleh tiga siswi di depan Clarice berwarna kuning. Yang artinya mereka siswa kelas dua.
Sedang Clarice berwarna merah, yang artinya Clarice kelas satu. Dan simbol merah artinya mereka adalah siswa dengan paling banyak waktu yang tersisa di sekolah tersebut.
Dan warna hijau di berikan kepada anak kelas tiga. Yang artinya mereka menuju pelepasan masa sekolah.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, dan Daddy Kenzo bergumam, "Aku tidak yakin, Clarice merebutkan anak laki-laki..." gumamnya.
"Sama, aku juga, Sayang!"
"What!" pekik Daddy Kenzo saat mendengar anak perempuan di depan Clarice menyebut sang istri sebagai wanita murahan.
Daddy Kenzo sampai harus mengulang video untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Dan apa yang di dengar memang tidak salah. Gadis yang sama sekali tidak ia kenal itu dengan lantang menyebut Clarice anak sambung, dan menyebut sang istri wanita murahan yang beruntung.
"Berani sekali dia mengatai mu wanita murahan! Clarice anak tiri, anak sambung!" geram Kenzo ingin sekali memutar ke belakang mulut kakak kelas Clarice itu.
"Sayang... kamu jangan terbawa emosi, ya..." ucap Mommy Calina mengusap lengan suaminya dengan lembut.
"Anak seperti ini harus di beri pelajaran, Sayang!" jawab Daddy Kenzo saking kesalnya. "Masih kecil saja mulutnya sudah seperti mulut buaya! bagaimana kalau sudah jadi emak-emak!" ujar Kenzo membuat Mommy Calina terkekeh tertahan.
Mommy Calina tidak menyangka sang suami mengerti tentang kaum emak-emak yang terkenal dengan cerewet, suka ghibah, dan juga penguasa Bumi yang tak terkalahkan.
"Aku sangat mendukung Clarice menyiram muka anak itu!" ucap Daddy Kenzo ketika melihat rekaman CCTV menunjukkan Clarice yang tanpa ragu menyiram muka kakak kelasnya.
"Kamu memang putri Daddy yang pemberani, Clarice!" serunya lagi dengan senyuman bangga. "Kalau perlu tumpahi rambutnya pakai spaghetti mu yang di tumpahi jus itu, my baby girl!" ucap Kenzo gemas dan geram secara bersamaan. "Jadi bajumu kotor 'kan karena di tumpahi oleh anak sialan itu!"
Sampai beberapa orang yang mendengar gerutuan Daddy Kenzo menoleh dan menatap aneh pada Daddy Kenzo.
"Daddy Kenzo! jangan sembarangan kalau bicara!" Mommy Calina memukul pelan lengan sang suami yang menurutnya terlalu frontal dalam berucap di tempat umum. "Lihat! semua orang menoleh ke arah kita!" bisik Mommy Calina.
"Memangnya aku peduli!" jawab Daddy Kenzo yang masih terpukau dengan aksi sang putri sambung yang rupanya satu frekuensi dengan dirinya. Tanpa melihat sekitar yang menatap nya aneh.
"Kamu itu, Mas!" gerutu Mommy Calina gemas. "Clarice bisa jadi brutal kalau di biarkan..."
"Sayang! anak ini berani sekali mengatai kamu wanita murahan, tentu saja aku akan sama seperti Clarice. Tidak akan membiarkan anak itu lolos begitu saja!" engah Daddy Kenzo. "Aku akan melindungi semua anak-anakku dari jeratan hukum apapun, asal mereka memang membela yang benar!" lanjutnya tegas hingga kembali bisa di dengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Siapa nama anak ini?" gumamnya kemudian.
"Sebenarnya aku tidak ingin pakai emosi, Sayaang... tapi anak ini bikin emosi." jawab Daddy Kenzo mengamati Vidio yang menunjukkan sang anak gadis telah berjalan meninggalkan area kantin sekolah.
"Sebaiknya kita langsung saja datang ke sekolah, Mas!" ajak Mommy Calina. "Tapi kamu harus dinginkan dulu kepalamu..."
"Sudahlah, aku tau apa yang harus aku lakukan, Sayang!" pungkas Daddy Kenzo dan langsung beranjak dari duduknya, setelah mengembalikan ponsel sang istri.
"Aku sudah biasa menyelesaikan urusan anak nakal, saat Gilang masih sekolah dulu!" lanjutnya sembari berjalan menuju mobil Alphard, di mana Mang Heru ternyata sudah ada di sana.
"Kalau Gilang yang berucap seperti tadi mungkin aku tidak heran. Tapi kalau kamu..." Calina mendongak menatap sang suami dengan heran.
"Sudahlah, Sayang! aku akan selalu berada di barisan terdepan untuk melindungi putriku!" ujar Kenzo menatap lurus ke depan.
Memiliki harta berlimpah, memiliki kecerdasan dan sebagainya, tentu Daddy Kenzo tak akan gentar untuk membela sang putri yang menurutnya sama sekali tidak bersalah.
"Sudah selesai makannya, Mang?" tanya Mommy Calina ketika sampai di mobil.
"Sudah, Neng!" jawab Mang Heru terkesiap.
"Kita ke sekolah Clarice, Mang!" ujar Daddy Kenzo.
"Siap, Den!" jawab Mang Heru tanpa perlu bertanya kenapa.
Mobil mewah itu pun meninggalkan parkiran rumah makan dengan membawa majikan yang sudah tidak sabar untuk bisa sampai di sekolah sang anak sulung. Terutama Daddy Kenzo yang ingin tau, seperti apa wajah asli penghina istri dan anaknya itu.
***
Di tempat lain, di gedung yang sama menjulangnya dengan gedung Adhitama Group, seorang pengusaha batu bara yang kejayaannya tak kalah dari kenamaan Adhitama, tengah menjalani meeting bersama para jajaran petinggi perusahaan.
__ADS_1
Saat sedang memimpin rapat yang tak kunjung usai, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari sebuah nama julukan yang di sertai sebuah tanda hati berwarna merah.
Sang pengusaha sangat hafal pada si pemilik nomor, bahwasannya tidak mungkin telepon jika tidak karena sesuatu yang penting dan darurat. Maka segera ia men-jeda rapat, dan keluar dari ruang rapat bersamaan dengan menggeser tombol hijau.
Dalam sambungan telepon...
"ya, Ma?" jawab sang pengusaha.
"Pa, anak kita masuk ruang BK!" seru suara wanita dari sebrang sana dengan kepanikan yang ada.
"Ha! bagaimana bisa?" tanya sang pengusaha tidak percaya.
"Entahlah, Pa! Mama juga tidak tau awalnya bagaimana. Dari video yang di kirimkan Mrs. Maria, sepertinya Arsen sedang jadi... rebutan!" ucap sang wanita ragu menyebut sang putra menjadi rebutan.
"Sshhss!" sang pengusaha tergelak mendengar sang anak bungsu menjadi rebutan di sekolah barunya.
"Tidak biasa nya Arsen berulah di sekolah!" lanjut sang wanita. "Meskipun Mama tau anak bungsu kita itu memang tampan... tapi tidak biasanya sampai membuat dua gadis bertengkar di sekolah.."
"Lantas bagaimana?" tanya sang pengusaha di tengah rasa ingin tertawanya.
"Kita di minta untuk datang ke sekolah sekarang, Pa!"
"Baiklah, Papa jemput Mama sekarang!"
"Iya, Pa!"
Sang pengusaha pun spontan membubarkan rapat yang harusnya ia pimpin sampai selesai. Dan mengatakan jika rapat akan di lanjutkan esok hari.
Kemudian ia segera pulang untuk menjemput sang istri, dan mendatangi sekolah sang bungsu.
Arsen tak pernah mereka rawat sepenuhnya selama ini, karena kesibukan dan juga permintaan darii sang nenek yang meninggal sebelum Arsen akhirnya di pindah ke Ibukota. Tapi komunikasi dan hubungan tak pernah putus di antara mereka.
Untuk pertama kali mendapat panggilan dari sekolah sejak sang bungsu pindah ke Ibukota memang cukup mengejutkan sang pengusaha. Tapi mendengar alasan sang putra masuk ruang BK membuat sang pengusaha terkekeh geli.
***
Di tempat lain lagi, sepasang suami istri yang tengah makan siang bersama di rumah mewah dengan tiga lantai di buat geger dengan video yang di terima oleh sang istri. Sebuah Video yang menunjukkan sang putri tengah menghampiri seorang gadis kemudian muncullah suatu perdebatan yang lirih namun sangat sengit.
Yang membuat sang laki-laki tercengang adalah nama Kenzo Adhitama yang di ujar-kan sang putri.
"Apa-apaan Zuria ini?" gumamnya sedikit terengah.
"Apa gadis yang berdebat dengan Zuria itu anak sambung Kenzo Adhitama?" tanya sang wanita.
"Bisa jadi, Mom!" jawab sang lelaki.
"Itu berarti cucu sambung Tuan Adhitama?" tanyanya lagi.
"Kalau iya! ya berarti benar dong, Mommy!"
Kedua suami istri itu saling tatap dengan tatapan heran akan ulah sang putri di sekolah. Kemudian tanpa senyum sang Tuan besar berucap...
"Kita berangkat sekarang masalah besar di depan mata!" resah sang suami yang tak lain adalah Ayah kandung Zuria Agatha.
Maka seperti dua pasang pasutri lainnya, mereka pun langsung menuju Alexander International School menggunakan mobil keluarga yang tak kalah mewah pula dari yang lainnya.
Sebagai pengusaha yang tak kalah tenar, tentu membuat sang pengusaha hampir imbang dengan dua orang tua lainnya.
Namun ada satu hal yang di jaga oleh sepasang orang tua satu ini...
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...