Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 47 ( Aku Datang! )


__ADS_3

Memilih untuk memejamkan mata di atas bantal nan empuk di kamarnya, Calina berusaha untuk tertidur dan melupakan kenyataan apa yang ia temui hari ini.


Matahari sudah condong ke barat. Cahaya matahari di kamar Calina pun sudah meredup. Menyisakan hari yang siap untuk berubah menjadi malam.


Calina, Ibu hamil itu tampak masih tenang di dalam mimpinya. Tampak masih nyaman menikmati hiburan yang di berikan Tuhan di bawah alam sadarnya.


Wajah cantik natural yang bahkan belum mandi itu terlihat lebih berisi di bagian pipinya. Namun sama sekali tak mengurangi kecantikan khas bunga desa yang tersemat untuknya. Meski saat tidur sekalipun.


Langkah kaki berjalan pelan tanpa suara memasuki kamar yang masih remang - remang oleh cahaya dari jendela yang masih terbuka.


Menyalakan lampu utama kamar, sorot mata langsung menangkap tubuh berselimut tebal yang miring ke sisi kanan. Menghadap bantal kosong yang tak ada siapapun di sana.


Berjalan mengendap, mendekati tempat tidur sang wanita, ia berhenti tepat di sisi kanan ranjang. Menatap wajah cantik natural Calina yang terlelap. Tanpa sadar bibir tipis menyungging senyuman.


Segera ia duduk di bagian tempat tidur yang kosong. Ia rebahkan tubuhnya tepat di bantal yang kosong. Menghadapkan wajah tepat di depan sang wanita.


Jarak wajah mereka semakin dekat. Sepasang mata yang biasa terlihat tajam, kini terlihat lembut menatap kesempurnaan ciptaan Tuhan di depan mata.


Sorot mata mengukir indah garis wajah seorang gadis yang mengisi hari - hari nya selama beberapa bulan ini. Nafas berhembus, dan berdesir hangat di kulit wajah putih khas milik Calina.


Hal kecil yang tak di sadari itu, berhasil membuat sepasang mata inda terbuka dengan cepat. Dua sorot mata bertemu, dan...


"AAAKKKHH!" teriak Calina seketika terduduk dari tidurnya.


Siapa yang tak histeris, saat mata tengah tertidur lelap di kamar sendiri, kemudian tiba - tiba wajah seseorang ada di depan mata.


"Hahahah!" gelak tawa sang pengganggu tidur Calina sama sekali memperlihatkan rasa tak bersalahnya.


"Kamu!" sentak Calina kesal memukul lengan Kenzo yang masih asyik berbaring. Calina menoleh ke sisi kanan dan menatap wajah tampan yang terkekeh itu.


"Sejak kapan kamu datang?" tanya Calina datar.


"Barusan!" jawab Kenzo beranjak dari tempat tidur Calina, dna berdiri mendekati meja rias Calina.


Calina menatap sinis pada tubuh tegap di depan cermin. Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, semua tampak masih sama. Baju, jam tangan, juga celana lelaki itu.


"Kamu belum mandi?" selidik Calina.


"Sudah!" jawab Kenzo singkat sembari menyisir rambut hitamnya.


"Kapan?"

__ADS_1


"Barusan, di kamar mandi tamu..." jawab Kenzo terdengar sangat santai.


"Barusan?" ulang Calina, "kenapa mandi di sini? Memangnya kamu dari mana?" Calina mencoba terus menyelidik. Guna mencari tau siapa perempuan cantik yang bersama Kenzo tadi.


"Tadi ada urusan di luar!" jawab Kenzo sembari menyisir rambutnya di meja rias Calina.


"Urusan dengan siapa?"


"Emm... Teman!" jawab Kenzo setelah berfikir.


"Yakin dengan teman?"


"Memangnya dengan siapa kalau bukan dengan teman atau klien?"


"Siapa tau kamu ada urusan dengan... pacar kamu, misalnya!" sindir Calina mencoba menggali lebih jauh. Akankah Kenzo menceritakan tentang perempuan itu. Kalau pun tidak jujur, siapa lah dirinya untuk marah.


"Harus berapa kali lagi aku harus menceritakan kalau aku tidak punya kekasih!"


"Oh, ya?" tanya Calina terlihat tidak mau percaya begitu saja. "Lelaki setampan dan sekaya kamu mana mungkin tidak punya pacar!"


"Memangnya apa yang tidak mungkin di dunia ini?" tanya Kenzo balik sembari berjalan mendekati ranjang.


Kenzo tersenyum miring. Mengulum seulas senyum. Ia mulai paham arah bicara Calina yang sedari tadi terdengar songong. Ia hempaskan bokongnya di ujung tempat tidur Calina. Menghadap Calina dan menatap lekat wajah cemberut yang entah sejak kapan wajah cantik itu di tekuk sedemikian parah.


"Jadi sedari tadi sebenarnya kamu sedang menyelidiki aku?" tebak Kenzo menatap lekat Calina dengan setengah menggoda. "Kamu mau tau kemana saja aku selama lima hari ini?"


Sontak wajah Calina merah merona. Merasa malu dengan tebakan kenzo yang memang benar adanya. Namun mana mungkin ia akan mengaku begitu saja. Ia pun tak ada niat menyelidiki. Tapi entah, kenapa dada bergemuruh sebelum mendapat jawaban pasti dari Kenzo tentang perempuan itu.


Calina membuang pandangannya. Mengalihkan sorot mata ke sisi jendela yang belum tertutup.


"Hemm?" tanya Kenzo mengulang dengan mengulum senyuman.


"Ti..tidak! Siapa juga yang menyelidiki kamu!" kilah Calina.


"Yakin?" Kenzo semakin lekat menatap wajah Calina yang mulai salah tingkah.


"Yakinlah!" sembur Calina, tepat di depan wajah Kenzo.


Kenzo kembali tergelak tanpa suara. Dia adalah seorang CEO dengan berbagai prestasi. Membaca gelagat, raut wajah bahkan nada bicara adalah hal yang mudah untuk ia lakukan.


"Kamu pasti belum mandi!" tebak Kenzo sengaja mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Hah!" pekik Calina, "jam berapa ini?" tanyanya menoleh jam weker di meja nakas.


"Setengah enam!" sahut Kenzo.


"Oh my God!" pekik Calina. "Bagaimana bisa aku ketiduran selama itu!" gerutunya segera bangkit dari tempat tidur.


Calina mondar mandir di depan Kenzo. Mengambil handuk, mengambil baju dan berulang kali melewati Kenzo seperti orang kebingungan.


Sementara sepasang mata Kenzo hanya mengikuti pergerakan Calina yang sebenarnya sedang salah tingkah. Dan berakhir pada pintu kamar mandi yang di tutup Calina dengan membanting keras. Hingga Kenzo memejamkan matanya singkat saking kagetnya..


"Kenapa dia?" gumam Kenzo menyungging senyum heran. "Cemburu?" kikiknya.


Biasanya sekonyol apapun Calina, akan tetap memperlakukan apartemennya dengan baik. Tanpa membanting pintu atau pun benda lainnya.


***


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Sepasang suami istri duduk berdua di teras depan rumah. Di depan sana ada hamparan kebun teh yang sangat luas.


Sang lelaki baru saja selesai mandi, karena baru pulang dari perkebunan. Mengecek secara langsung tanaman teh yang akan di panen besok, di pagi - pagi buta.


"Apa yang kamu pikirkan, Mas?"


"Tidak ada," jawabnya, "aku hanya kasian sama kamu yang harus beradaptasi dengan kehidupan di perkebunan seperti ini." jawab sang lalaki mengusap lembut lengan istrinya. "Jauh dari hingar bingar seperti saat di Ibukota."


"Tidak masalah, Mas! Ini adalah hukuman yang harus kita jalani. Setidaknya kita masih bisa bersama." jawab sang wanita.


"Sabar ya, Sayang! Hanya empat tahun kita di sini..."


"Sampai kapanpun aku tidak masalah, Mas! Asal sama kamu. Toh tinggal di sini terasa jauh lebih tenang..." jawabnya menatap hamparan kebun teh. "Setiap hari bisa melihat dedaunan hijau, suara burung berkicau setiap pagi. Aku tidak pernah mendengarnya saat kita di Ibukota."


"Hemm..." jawab sang lelaki tersenyum. "Terima kasih ya, Sayang!"


"Setidaknya kamu tidak di pecat, Mas! Meskipun kita harus memulai semua dari nol!"


"Kita pasti bisa beli rumah baru di Ibukota saat kita kembali nanti!"


"Ya, Mas!" jawab sang wanita dengan lemah lembut. "Kita pasti bisa!"


Meyakinkan sang suami, jika semua pasti baik - baik saja. Dan kembali bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2