Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 68 ( Rival? )


__ADS_3

Shock saat tiba - tiba melihat Zio ada di belakangnya, membuat Calina mendadak sedikit terlihat kaku dan setengah gugup. Apalagi ada suami dan anak mereka yang sedang entah di sebelah mana.


"Kami sudah menikah?" tanya Zio dengan suara yang terdengar sangat sendu di telinga. Seolah ada getaran yang coba untuk di tutupi.


Melihat shaving foam yang dominan milik laki - laki, juga beberapa snack anak kecil membuat Zio merasa sesak sendiri.


Ada satu masa di mana dia membenci perempuan di depannya itu. Ada pula satu masa di mana dia terbuai oleh malam yang membuatnya lupa diri. Dan terakhir ada satu masa di mana dia menyesal telah kehilangan Bunga Desa yang kecantikannya natural ala gadis desa.


Mengangguk pelan, "sudah, Mas..." jawab Calina tanpa melihat sepasang mata Zio.


Jantung yang semula normal - normal saja, kini berdetak lebih cepat. Bergemuruh di dalam dada karena mendengar berita yang mengejutkan.


Tersenyum gamang, Zio hanya berangan jika ia pantas untuk mendapati kenyataan ini. Di mana perempuan yang belum bisa ia lupakan itu sudah menikah dengan pria lain yang entah siapa.


"Selamat Calina..." ucap Zio tersenyum samar dan menahan sedih.


"Semoga kamu juga segera menemukan pengganti Naura, Mas..." jawab Calina.


Mengangguk, "Hm...ya.." jawabnya sembari memaksakan senyuman tetap terlihat dari bibirnya yang seolah sudah kaku.


"Kamu... Kamu tidak bekerja, Mas?" tanya Calina setelah melihat penampilan Zio yang hanya memakai baju casual saja.


"Aku cuti," jawab Zio, "ada sesuatu yang harus aku selesaikan di luar kantor!"


"Oh..." Calina mengangguk paham.


"Kamu sendirian?" tanya Zio tak melihat sosok yang terlihat membersamai sang mantan.


"Aku bersama suami dan anak kami, Mas. Hanya saja entahlah mereka ada di mana..." jawab Calina melihat kanan kiri dengan dada berdegup kencang. Khawatir jika Zio dan Kenzo tiba - tiba bertemu dalam keadaan suaminya yang belum siap.


"Oh!" Zio mengangguk. "Ya sudah, kamu.. Bisa melanjutkan belanja." ucap Zio dengan seulas senyum yang terpaksa. "Maaf sudah mengganggu waktumu." lanjutnya.


"Tidak masalah, Mas! Senang bisa bertemu dengan mu!"


Kali ini Zio tersenyum lembut, "aku juga..." lirihnya menatap dalam sepasang mata Calina yang pernah menghanyutkan dirinya pada satu malam yang.... Indah.


Tersenyum lagi, "bye..." lirih Zio sembari melangkahkan kakinya pelan meninggalkan posisi Calina yang berdiri di barisan rak sabun.


Calina menatap punggung tegap Zio dengan perasaan yang campur aduk. Antara mengingat kembali masa lalu, dan mengingat rasa khawatir suaminya. Juga masa depan putrinya.

__ADS_1


Tapi bagaimanapun, bukankah Zio berhak tau jika ia memiliki seorang anak?


Dan bukankah kelak Clarice pun akan membutuhkan Ayah kandung sebagai wali jika kelak ia menikah?


Pikiran Calina terus berputar. Siap tidak siap, semua itu akan terungkap. Dan Zio akan mengetahui segalanya.


Sebelum berbelok memasuki lorong gondola di sisi kirinya, Zio menoleh ke belakang. Sebenarnya sedari tadi, nalurinya berkata jika ada sorot mata yang masih melihat dirinya.


Dan ketika ia menoleh ke belakang dengan posisi badan yang miring untuk memasuki lorong, maka pandangannya kembali bertemu dengan pandangan Calina, yang mana detik berikutnya Calina melempar senyum ramah padanya.


Membalas dengan senyuman yang sama, kemudian Zio mengangguk sebagai tanda berpamitan.


' Semoga kamu bahagia, Cal. Maafkan aku! '


Batinnya dan barulah ia kembali melangkah. Meninggalkan sosok yang pernah hadir di masa lalunya. Sosok yang pernah ia sia - sia kan, dan sosok yang pernah ia sesali kepergiannya.


Setelah menghilangnya Zio dari pandangan, Calina menunduk. Melihat troli yang berisi barang Kenzo dan Clarice.


Kembali berfikir, bagaimana jika Zio tau bahwa suaminya kini adalah Kenzo. Yang tak lain dan tak bukan adalah bosnya Zio sendiri.


Maka setelah dirinya merasa normal kembali, Calina kembali menatap deretan kebutuhan rumah yang ada di depannya. Mengambil apa yang dia butuhkan dengan tangan sedikit lemas.


Dan saat itu juga, "maaf..." suara lelaki yang hampir 6 tahun terakhir bersamanya utu terdengar dari belakang sembari tangan kekar yang menyentuh pundak kirinya.


"Aku tadi melihatnya, tapi aku sengaja pergi!" jawab Kenzo.


Tersenyum lirih, "tidak masalah, Mas..." jawab Calina. "Maaf, sudah berbincang dengan laki - laki lain tanpa seizin kamu.."


Kenzo menggeleng lemah, "kita bisa pulang sekarang saja?" tanya Kenzo. "Bukankah nanti malam kita mengantar Mama Shinta pulang?"


"Iya, Mas!" jawab Calina.


Kenzo pun mendorong troli yang berisi penuh dengan barang belanjaan pilihan Calina, Kenzo dan Clarice.


"Clarice, kita pulang, ya?" tanya Kenzo pada putri tirinya.


"Ok, Daddy!" seru Clarice.


Calina membawa troli ke dalam baris antrian kasir. Sementara Kenzo membawa Calina untuk membeli jajanan di barisan food court yang ada di depan super market.

__ADS_1


Selesai dengan pembayaran, Calina kembali mendorong troli untuk di bawa sampai ke perbatasan antara mall dan apartemen. Kenzo dan Clarice pun selalu mengikuti Ibu rumah tangga itu.


Langkah keluarga kecil itu sudah memasuki apartemen. Kenzo dengan barang bawaan, sedang Calina menggandeng Clarice san satu kantong kecil di tangan lainnya.


Mereka memasuki lift untuk bisa sampai di apartemen mereka. Hingga mereka kembali keluar di lantai tempat apartemen mereka berada.


"Galen! Kakak punya banyak snack buat kita!" seru Clarice menyapa Galen yang duduk bersama Mama Shinta di ruang tengah.


"Aku mau!" jawab Singkat Galen dengan suaranya yang khas.


"Mas, aku bantu!" ujar Calina meraih dua kantong dari Kenzo.


"Tidak perlu, Sayang!" jawab Kenzo menolak memberikan dua kantong pada istrinya. Dan ia memilih untuk langsung membawanya ke dapur. Supaya Mbak Irah lebih mudah untuk menatanya.


"Kamu balik ke kantor, Mas?" tanya Calina mencoba memperbaiki dasi Kenzo.


"Tidak usah, Sayang! Biar di selesaikan Venom!" jawab Kenzo kembali memberantakkan kembali dasinya hingga ia lepas.


"Baiklah, aku buatkan kopi dulu!" ujar Calina berjalan ke arah dapur. "Clarice, ganti baju dulu, Nak!" titah Calina pada Clarice yang sedang mengeluarkan semua hasil berburunya di super market.


"Yes, Mommy!" jawab Clarice segera naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


Saat Calina menyiapkan kopi, dan Kenzo melepas sepatunya di ruang depan. Denting bel berbunyi beberapa kali. Namun terdengar cukup sopan.


Kenzo yang berada paling dekat dengan pintu pun, segera berdiri dan membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu siapa yang datang.


"Selamat siang, Pak Kenzo?" ucap seseorang yang kini sudah berdiri di depan pintu.


Dimana tubuh sang pemilik Apartemen kini serasa membeku bagai bongkahan es yang mengambang di lautan es.


"Zio!" pekik Kenzo mencoba menetralkan dirinya.


Bukankah semua sudah meyakinkan dirinya, bahwa dunianya tidak akan runtuh begitu saja saat Zio mengetahui semua rahasia ini.


Dan bukankah semua bilang, posisinya di hati Clarice tidak akan semudah itu tergeserkan?


Tapi semua hanyalah perkataan, belum benar - benar terbukti.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


✍️ Tebak - tebakkan, yuk!


Menurut kalian, mereka akan berdamai atau bermusuhan?


__ADS_2