
Berkumpul di ruang CEO tanpa ia ketahui jika Calina ada di dalam sana, membbuat Zio gugup sendiri ketika melihat sang mantan istri ternyata ada di sofa bersama Gilang dan Galen.
Bukan karena masih cinta, melainkan dulu jika dengan terpaksa harus membawa istri ke kantor, pastilah Calina masuk ke ruang kerjanya. Hingga ahirnya banyak karyawan yang mengenal Calina.
Tapi sekarang, perempuan itu harus masuk ke ruang kerja Kenzo, Bosnya sendiri.
Melihat Calina yang saat ini terlihat sangat anggun dan berwibawa, sudah cukup membuktikan jika wanita itu jauh lebih bahagia di banding saat bersama dengan dirinya dahulu. Dan jelaslah jika Kenzo memakmurkan hidup istrinya,
Ya! tentu saja!
"Ini laporan hari ini, Pak!" ucap Zio menyerahkan map berisi laporan - laporan kantor yang wajib ia setorkan siang itu. Kemudian tersenyum menatap putrinya yang terlihat sangat akrab dan manja pada Ayah tirinya. Meski di dalam hati tentu ia menyimpan rasa cemburu.
"Duduk saja, Zi!" perintah Kenzo datar. Wajah tampannya tak seseram biasanya, tapi tetap terlihat dingin.
Sementara Zahra masih mencoba untuk mengamati situasi yang ada. Jika sikap Zio seketika menjadi demikian, kemudian wanita yang tampak sangat anggun itu memanggil Zio dengan sebutan 'Mas', apakah benar jika dia adalah mantan istri Zio?
Pemikiran itu terus bermunculan di dalam benak Zahra. Karena ia memang sama seperti yang lain, belum pernah sekalipun melihat sosok istri sang CEO. Juga tak pernah mengenal mantan istri Zio. Meski ia orang pertama yang di beri tahu Zio tentang rumitnya kehidupannya di masa kini.
' Ternyata mantan istri Pak Zio sangat cantik. Pantas Pak Kenzo pun bersedia menikahinya bahkan saat menjadi janda sekalipun. '
Batin Zahra melihat apa yang di kenakan Calina, serta memeta wajah hingga tubuh Calina.
Dan saat ia yang masih terpaku dengan keadaan, tanpa sengaja sorot matanya bertemu dengan sorot mata Calina yang menatapnya dengan lembut.
Calina tersenyum dan mengangguk saat secara tidak sengaja Zahra melihat ke arah dirinya. Ia tau apa yang ada di dalam benak perempuan 28 tahun itu.
Dan apa yang di lakukan Calina tentu membuat Zahra spontan mengangguk hormat dan tersenyum ramah. Dan Zahra beralih menatap Gilang, untuk kemudian mengangguk hormat dan tersenyum ramah.
Meski hubungan keduanya tak lagi kaku karena keberadaan Kayla di apartemen Gilang. Tetap saja di kantor, Gilang adalah anak pemilik perusahaan.
Dan Gilang pun melakukan hal yang sama. Tersenyum ramah seperti yang biasa ia lakukan. Hanya saja karena Zahra sangat mirip dengan wanita yang ia simpan di dalam apartemen, membuat pria 32 tahun itu jadi merindukannya. Meskipun baru saja mereka berpisah.
Kembali pada Zahra yang akhirnya mengikuti cara Zio untuk menghadap Kenzo yang tampak masih memangku Clarice di paha kirinya. Cara terampuh saat berhadapan dengan situasi yang membingungkan.
"Ini laporan dari saya, Pak.." ucap Zahra menyerahkan map di tangannya.
"Hm.." jawab Kenzo meraih map Zio lebih dulu. "Duduklah!" perintah Kenzo datar.
"Terima kasih..."
"Daddy, Aunty itu calon Mama Cla!" celetuk Clarice begitu saja. Lengan mungil Gadis kecil itu masih menggantung di leher sang Ayah tiri.
Satu kalimat singkat dari Clarice itu seketika menyedot perhatian semua orang dewasa yang ada di dalam ruangan Kenzo. Semua menoleh ke arah Clarice yang tentu saja di anggap belum paham apapun urusan orang dewasa.
Tapi anak kecil tidak mungkin asal bicara jika memang tidak ada apapun, bukan?
__ADS_1
Zahra memekik dalam hati. Menatap tak percaya pada anak Bos nya itu. Bagaimana mungkin Nona kecil itu memperkenalkan dirinya yang hanya pegawai biasa sebagai calon Mamanya.
Lalu siapa Papa nya?
Semua orang dewasa yang ada di dalam ruangan tentulah di buat tertegun dengan penuturan Cla yang tampak sangat polos namun nyata. Terlihat dari ekspresi Clarice yang sangat santai.
Dan kini Kenzo, Calina dan Gilang menatap Zio dan Zahra bergantian. Seolah mencari jawaban yang pasti dari apa yang di celetukkan Clarice baru saja.
Zio dan Zahra tentu hanya bisa membeku di tempat masing - masing. Seolah keduanya tengah duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa.
Zio tak menyangka jika Clarice akan berucap di depan semua orang. Dan yang paling gila adalah di depan Zahra secara langsung. Meski dalam hati ia memang menginginkan Zahra, tapi rasanya sangat malu jika sampai sang putri membuka tabir yang masih ia tutupi.
Zio masih ragu untuk menjalin hubungan yang baru. Meski dalam hati ia sudah bertekad untuk merubah diri menjadi lebih baik. Dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga.
Zahra sendiri hanya bisa membeku karena celetukan yang di anggap tak masuk akal itu. Dalam hati ia memang mengagumi sosok Zio yang tampan dan mapan di usia muda. Tapi semua itu hanya ia anggap sebagai sebatas rasa kagum saja. Bukan rasa ingin memiliki.
Tapi takdir tidak ada yang tau, bukan?
"Benar begitu, Zio?" tanya Kenzo selaku orang paling di hormati di sana. Sehingga ia berhak untuk mencari kebenaran. Apalagi keduanya berada dalam satu kantor.
Tak bisa menjawab, Zio hanya menatap gemas pada sang putri yang di anggap terlalu frontal.
"Sayang... apa yang kamu katakan?" protes Zio pada putrinya.
"Kenapa?" tanya Clarice heran. Karena ia merasa hanya berucap sesuai apa yang ada.
Entah Zio merasa sesak sendiri ketika memberi penjelasan macam itu. Karena ia seolah tengah menjadi manusia paling munafik di muka Bumi.
Sementara Zahra seketika menunduk dalam. Karena merasa dirinya memang ta pantas untuk sekedar di lirik seseorang sekelas Zio Alvaro.
"Tapi, Papa... Cla ingin punya Mama juga! Dan Aunty Zahra sangat baik. Jadi biar Aunty Zahra saja yang menjadi Mama Clarice..." ucap Clarice sampai merubah posisi menjadi menghadap sang Papa.
"Tidak semudah itu, Sayang..."
"Daddy... Cla mau Aunty Zahra jadi Mama Claa...." rengek Clarice pada Kenzo yang di ketahui nya tak pernah menolak apapun yang ia inginkan.
Kenzo Adhitama, lelaki berusia 36 tahun yang tak pernah bisa menolak keinginan anak tirinya itu pun hanya bisa menengahi keduanya.
"Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, Zi!" ucap Kenzo serius. "Jika memang kalian ada rasa, please! keluarlah salah satu!" lanjut Kenzo. "Aku tau kalian menyimpan sesuatu yang sama - sama tidak bisa di ungkapkan."
Ya sedari tadi, sejak Clarice berucap, Kenzo terus mengawasi ekspresi dan sikap dua anak buahnya di depan matanya.
"Maksud, Bapak?" Zahra sontak menatap Kenzo karena merasa tidak seperti itu yang ia rasakan.
"Sebaiknya kalian menyisihkan waktu untuk mengobrol berdua. Aku yakin ada sesuatu yang sama - sama belum bisa kalian ungkapkan. Sebelumnya aku mash ragu. Tapi dari apa yang dikatakan putri ku, aku yakin kalian memang ada sesuatu!" jelas Kenzo.
__ADS_1
"Clarice... please, Sayang... jangan asal bicara. Kan kemarin Papa sudah bilang..."
"Tapi waktu main di Playground, Felia bilang kalau dia juga ingin punya Papa seperti Papa! Dan Cla juga ingin punya Mama seperti Aunty Zahra. Jadi tidak ada yang salah kan kalau Papa dan Aunty Zahra menikah?" terang Clarice berdasarkan pemikiran di otak kecilnya. "Ya kan, Daddy?" tanya Clarice mendongak sang Ayah tiri.
Kenzo hanya mengangguk Membenarkan apa yang di terawang bocah 5 tahun itu.
"Ya kan, Mommy?"
Calina hanya bisa tersenyum tanpa bisa memberi jawaban. Belajar dari pengalamannya sebagai istri Zio di masa lalu, tentu ia tak ingin menjerumuskan seseorang dalam ikatan yang salah. Meski ia sebenarnya percaya jika Zio pasti bisa berubah.
Atau mungkin sekarang sudah berubah?
Jika memang Zio dan Zahra sampai benar menikah, ia berharap keduanya akan di berikan kehidupan yang bahagia dan cinta yang abadi.
Zio dan Zahra sama - sama menarik nafas panjang. Tentu keduanya bingung harus menjawab apa. Ini benar - benar di luar rencana.
"Lebih baik kamu saja yang berhenti bekerja, Zahra," sahut Gilang dengan senyum menggoda. "Aku setuju - setuju saja kalau kalian menikah.."
"Tapi, Pak Gi..."
"Stop!" Kenzo memotong kalimat yang akan di sampaikan Zahra. "Lebih baik sekarang kalian keluar. Dan obrolkan secara pribadi. Aku hanya akan mendukung apa yang di inginkan anakku." jelas Kenzo tidak ingin urusan Zio dan Zahra terjadi berlarut - larut di dalam ruang kerjanya.
"Dia anakku!" sahut Zio tak ingin Clarice hanya di akui sebagai anak Kenzo saja.
Kenzo memiringkan bibirnya jengah.
' Jadi tidak sebebas ini menyebut Clarice sebagai anakku! '
Gerutunya dalam hati.
"Dan akan lebih baik jika kamu menikah lagi, Zio! Supaya ada yang membantu kamu merawat Clarice jika ia menginap di rumah kamu" tutur Kenzo tanpa peduli dengan sahutan Zio.
"Betul!" sahut Clarice antusias. "Tos, Daddy" Clarice menunjukkan telapak tangannya pada Kenzo untuk melakukan tos.
Dengan senang hati Kenzo menepuk tangan mungil itu.
Zio dan Zahra akhirnya hanya bisa saling lirik, tanpa tau harus berbuat apa. Detik berikutnya keduanya sama - sama memalingkan wajah karena malu.
***
Jam pulang kantor telah tiba, dengan bangga dan percaya diri Kenzo benar - benar menggenggam tangan Calina saat keluar ruang kerjanya, hingga memasuki lift.
Bahkan saat keluar dari lift khusus, ia tetap menggenggam tangan kiri Calina. Sedang di lengan kirinya ada Galen yang ia gendong. Sedangkan Clarice berada di genggaman tangan kanan Calina.
Membuat semua yang ada di lantai satu membeku tanpa ada yang bisa mengatakan satu katapun. Semua mata tersedot ke arah satu titik yang sama.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...