
Keluar dari ruang kerja Kenzo, Zio dan Zahra tampak sama - sama canggung. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Zahra hanya menunduk dalam selama berada di dalam lift yang sama dengan Zio. Sedangkan Zio sesekali mencuri pandang, namun tak berani untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Sampai lift yang mereka naiki tiba di lantai yang mana menjadi tempat mereka untuk bekerja. Keduanya keluar secara bergantian, dengan Zahra yang keluar lebih dulu atas kode tangan dari Zio. Zahra hendak berbelok untuk masuk ke bilik kerjanya, namun...
"Bisakah kamu masuk ke ruangan saya sekarang?" tanya Zio memberanikan diri untuk mengajak bicara serius Zahra.
Tanpa berani menolak, Zahra hanya bisa mengangguk menuruti perintah atasannya.
Duduk berhadapan, keduanya kembali di pertemukan dalam situasi yang sangat kaku dan canggung.
"Apa menurut mu putriku tadi bicara jujur dan apa adanya?" tanya Zio mengawali obrolan.
Zahra terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawab, "Saya belum terlalu mengenal Nona Clarice, Pak. Jadi saya tidak terlalu paham bagaimana saat ia bicara serius dan bercanda..." Zahra mengakhiri jawaban dengan seulas senyum simpul.
"Jika... apa yang di ucapkan Clarice adalah serius, dan aku benar - benar mengikuti saran Pak Kenzo dan Pak Gilang, apa kamu bersedia menikah dengan saya?" tanya Zio lagi - lagi memberanikan diri.
Zahra hanya terus menunduk, "Saya tidak tau, Pak," jawabnya kemudian. "Karena saya belum pernah memikirkan ini sebelumnya." Zahra menggelengkan kepalanya pelan.
Zio pun terdiam. Ia ragu untuk melanjutkan obrolan, meski ia ingin mengobrol lebih lama. Mengingat Zahra juga merupakan seorang janda yang di tinggal mati suaminya. Mungkin asih ada ketakutan tersendiri di dalam diri perempuan itu.
"Kamu mungkin sudah banyak mendengar tentang cerita kelam saya selama ini..." ucap Zio. "Saya pernah di tinggal Calina saat saya mulai mencintainya. Kemudian aku sama seperti kamu... yang di tinggal mati orang paling kita cintai... Dan kesedihan yang kamu rasakan saat itu, aku juga pernah mengalami."
"Dan dari kisah hidupku sendiri, saat ini aKu bisa menyimpulkan. Bahwa aku bisa menjadi brengsek untuk satu orang, tapi juga bisa malaikat bagi satu orang lainnya."
"Dari itu, Zahra... aku tidak ingin menjadi malaikat, dan aku juga tidak ingin menjadi lelaki brengsek!"
Zahra masih diam mendengarkan cerita Zio. Yang arah nya belum ia ketahui.
"Aku ingin menjadi diriku sendiri..." lirih Zio menatap lekat mata Zahra yang juga mengarah padanya. "Untuk itu... bisakah kamu membantu u untu mewujudkannya?" tanya Zio dengan nada yang sangat syahdu.
"Maksud, Bapak?" tanya Zahra yang tak mau menafsirkan sendiri perkataan Zio. Meski ia mulai tau kemana arah bicara Zio.
Zio menarik nafas panjang, dan menyembunyikannya pelan nan panjang. Seiring mengurai rasa gugup yang menyeruak di dalam dada sang duda.
"Berhentilah bekerja, dan menikahlah denganku...."
Sontak sepasang mata Zahra terbuka lebar. Menatap mata Zio dengan tatapan yang antara percaya dan tidak percaya dengan kalimat serius yang di ucapkan Zio.
Zahra menghela nafas kasar sembari menunduk dalam...
***
Jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Menjadi waktu bagi seluruh karyawan untuk pulang. Kecuali mereka yang mendapat jam lembur.
Semua karyawan pastilah di jam itu sudah berbondong - bondong untuk turun ke lantai dasar melalui lift secara bergantian.
Keadaan di lantai dasar sudah cukup ramai oleh karyawan yang bersiap pulang. Ada yang masih mengobrol di sofa lobby. Ada pula yang berdiri di meja resepsionis untuk bergosip terlebih dahulu, karena jelas mereka bekerja di ruangan yang berbeda.
Bahkan ada yang masih mengganti sepatu kerja mereka dengan flat shoes sederhana di area depan lobby. Rata - rata mereka adalah wanita yang pulang pergi bekerja menggunakan motor.
Dan saat semua berlangsung, sama sekali tidak ada yang menyangka jika akan ada yang menyedot perhatian mereka semua. Yakni keluarga kecil sang CEO.
__ADS_1
Dimana saat semua asyik dengan alur pembicaraan mereka masing - masing, pintu lift khusus petinggi perusahaan terbuka.
Bagi yang sedang membicarakan Clarice yang memanggil Zio dengan sebutan Papa, tentu mereka sontak menoleh ke arah pintu lift itu.
Begitu pula dengan mereka yang sedang membicarakan sosok wanita yang membawa Galen, dan di panggil Mommy oleh sang Tuan Muda kecil, tentu juga ikut menoleh.
Atau pun, mereka yang mengenali Calina sebagai mantan istri Zio, tentu juga ikut menoleh setelah memberi penjelasan pada mereka yang tak tau. Karena penasaran apa posisi Calina, kenapa bisa datang bersama Galen?
Sejak siang perusahaan sudah di hebohkan dengan dugaan - dugaan yang di karang sendiri oleh mulut - mulut yang pandai mengarang cerita. Dan jawabannya kini hanya tinggal menghitung detik.
Siapa gerangan yang muncul di balik pintu lift khusus petinggi perusahaan?
Sang CEO, 'kah?
Sang General Manager, 'kah?
Atau Calina Agasta?
Maka detik yang di nanti telah tiba...
Langkah sepatu kerja berwarna hitam, keluar lebih dulu dari balik pintu. Di susul dengan langkah sepatu flat shoes berwarna hitam seorang wanita. Ya, dialah Sang CEO dan keluarga kecilnya.
Bagi mereka yang sedang berada di area lift, sampai membeku dan tertegun bahkan lupa untuk menyapa sang Bos, saat melihat betapa CEO mereka menggenggam posesif tangan seorang wanita yang mereka yakini sebagai Nyonya Kenzo Adhitama.
Posisi yang di impikan banyak wanita di luaran sana. Bahkan di dalam perusahaan itu sendiri. Namun wanita yang paling beruntung di muka Bumi ini, hanyalah Calina Agasta. Janda beranak satu yang kecantikannya khas ala Bunga Desa.
Saat langkah Kenzo sudah memasuki Lobby, maka yang terjadi jauh lebih membekukan suasana. Semua mata, semua fokus seolah tersedot pada satu titik yang sedang berjalan dengan saling menggenggam tangan satu sama lain.
Hingga semua lupa untuk menyapa CEO mereka. Yang mana biasanya mereka akan langsung sigap dan berebut untuk mencari perhatian. Meski tak satupun yang mendapatkannya. Bahkan sekedar lirikan sekalipun. Dan satu kata 'Hm!' sudah cukup bagi Kenzo untuk membalas sapaan para petinggi perusahaan.
Berjalan tanpa melihat kanan kiri adalah ciri khas seorang Kenzo Adhitama saat berada di perusahaan. Sehingga pria 36 tahun itu tak terlihat canggung sama sekali. Karena pembawaannya memang sangat cuek dan dingin pada orang - orang di perusahaan.
Berbeda dengan sang istri yang jelas terlihat canggung dan gugup, ketika tiba - tiba menjadi pusat perhatian oleh seluruh mata yang ada di Lobby. Ia hanya terus tersenyum, meski tak tau harus ia tunjukkan pada siapa senyum itu. Yang jelas ia hanya bisa menunduk untuk menghindari tatapan matanya bertemu dengan tatapan orang - orang yang ada di dalam sana.
Yang mana terlihat dari ekor matanya, ada beberapa tatapan yang seolah ingin menelannya hidup - hidup. Ya, mungkin itu tatapan dari orang - orang yang mengharapkan sosok Kenzo sebagai suami mereka. Atau mungkin mereka adalah penggemar berat sang CEO?
Entahlah, Ibu dua anak itu hanya bisa memikirkan dalam benaknya, tanpa ia masukkan ke dalam hati. Karena nyatanya selama ini hanya dirinya yang jelas - jelas di gandeng seorang Kenzo di perusahaan itu.
Langkah Kenzo dan Calina sudah dekat dengan pintu keluar yang terbuka otomatis. Namun sorot mata para karyawan masih saja mengarah pada mereka. Bahkan orang - orang yang berada di luar pun, sudah mengintai mereka sejak masih di dalam Lobby.
Mobil Alphard warna putih, sudah menunggu sang pemilik untuk memasukinya. Dimana pintu segera bergeser saat Kenzo dan Calina terlihat keluar dari pintu kaca yang terbuka secara otomatis.
"P..Pa...Pak.." gagap seorang karyawan yang fokusnya terbelah kemana - mana. Namun matanya tak berkedip menatap sang CEO dan Calina secara bergantian.
Tentu seorang Kenzo tak akan menjawab sapaan ambigu yang menurutnya tidak masuk akal ataupun tidak sopan.
Ya, Kenzo punya pemikiran yang jauh berbeda dengan orang - orang awam yang biasa humble di manapun mereka berada.
Clarice di minta untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Kemudian Calina, di susul Galen, dan barulah sang CEO masuk paling belakang dan duduk di samping pintu yang terbuka.
Pintu mobil bagian belakang mulai tertutup dengan cara bergeser secara perlahan. Memutus tatapan para karyawan yang seolah ingin menginterogasi keluarga bahagia itu. Namun tentu saja Kenzo tidak akan memperdulikannya.
__ADS_1
Kuda besi berwarna putih dengan kisaran harga 1 M itu melaju meninggalkan area depan Lobby. Juga meninggalkan para karyawan yang langsung berdesas desus. Hingga menimbulkan suara bising.
Sehingga Lobby yang sempat membeku, langsung ramai karena saling berkasak kusuk. Tentu saja membicarakan hot news yang baru saja lewat. Bahkan grup whatsApp pun langsung ramai oleh rekaman CCTV yang berada di Lobby.
Ulah penjaga CCTV memang sangat sigap, bukan?
Meski mereka tak berada di lokasi, tentu mereka tak ketinggalan momen langka itu. Dimana akhirnya semua tau siapa Ibu dari Nona Clarice dan Tuan Muda kecil Galen.
***
Di dalam mobil ...
"Mereka semua melihat ku seolah aku ini santapan lezat!" gumam Calina saat mobil mulai meninggalkan area perusahaan.
Kenzo mengulum tawa di bibirnya. Setengah mati ia menahan diri agar tidak tertawa.
"Kok kamu malah ketawa sih, Mas?" tanya Calina melirik kesal pada sang suami di sampingnya.
Bukannya menjawab, Kenzo justru kembali terkekeh.
"Ya... karena kamu memang santapan lezat, Sayang!" jawab Kenzo melirik nakal pada sang istri.
Dan Calina tau arti dari lirikan mata Kenzo.
"Aku bicara serius, Mas!" desis Calina.
"Me too..." sahut Kenzo dengan sangat enteng bahkan meiuk - liuk.
"Tapi tatapan matamu seperti itu..." sembur Calina.
"Why?" tanya Kenzo tak merasa melakukan apapun.
"Sudahlah, jangan di bahas tentang aku!" pungkas Calina. "Kamu selalu ketus ya kalau di depan mereka?"
"Memang harus seperti itu sebagai pemimpin, Sayang!'
"Jadi terkesan sombong!" sindir Nyonya Kenzo.
"Yaaa.... mungkin sebagian orang akan berfikir begitu. Tapi sebagai pemimpin, kalau kita tidak memiliki pembawaan yang seperti itu, mereka akan menganggap kita mudah di remehkan!"
Calina mendengar dengan seksama penjelasan sang suami.
"Aku sama sekali tidak ada maksud sombong! Hanya saja kalau kita terlalu ramah, kadang mereka akan berfikir 'Ah, Pak Kenzo orangnya santai... tidak selesai hari ini juga beliau tidak akan marah!' begitu, Sayang!" jelas Kenzo memberikan contoh kelakuan karyawan laknat.
Calina mengangguk paham.
"Dan aku tidak suka karyawan semacam itu! aku selalu menginginkan semua selesai tepat pada waktunya."
Calina tersenyum, "Ternyata kamu hebat, Mas!" ujar Calina bangga, dengan di sertai sebuah kecupan di pipi. Menghiraukan dua anak mereka yang duduk di belakang.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1