Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 142 ( Merayu Daddy Ken )


__ADS_3

Waktu masih terus berjalan. Di tengah hiruk pikuk dunia, di antara ratusan juta manusia, terlalu banyak orang-orang yang ribut dengan urusan masing-masing. Namun semua masalah yang menghampiri mereka, adalah sesuatu yang sudah di gariskan oleh Tuhan.


Setiap manusia pasti memiliki masalah sendiri-sendiri, karena urusannya pun beda-beda. Yang jelas, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai di kemudian hari.


Maka jika kita bisa menyadari sejak dini, sebaiknya kita tanamkan biji-biji ataupun benih-benih terbaik. Agar kelak jika sudah saatnya menuai, maka yang kita dapatkan adalah kebaikan-kebaikan dari biji terbaik kita.


Satu pesan lain adalah... Jadilah seperti padi. Semakin tua, semakin berisi, semakin merunduk. Bukannya semakin tua semakin mendongak ke atas. Karena jika batangnya tidak sanggup, justru akan patah dan tumbang sebelum memanen hasilnya.


Duduk berdampingan menghadap Kakek Adhitama, sepasang suami istri yang sejak tadi berusaha untuk menghasut sang pendiri Adhitama Group, berakhir dengan rasa tegang. Dimana sesuatu yang sedang mereka usahakan ternyata sudah di ketahui oleh target.


"Em... Maaf Tuan Adhitama. Saya mewakili anak saya, Zuria Agatha sudah meminta maaf kepada Pak Kenzo dan juga Nyonya Kenzo." jawab Gita yang menyadari jika sang suami tengah tergagap tak berdaya. "Dan saya rasa masalah mereka adalah masalah anak-anak remaja jaman sekarang..." lanjut Gita. "Jadi jangan sampai merambat ke dalam urusan bisnis kita, Tuan."


Kakek Adhitama menganggukkan kepalanya pelan, "Masalah anak-anak remaja jaman sekarang...." Kakek Adhitama mengulang kalimat yang di ucapkan oleh Gita dengan heran dan sedikit mencibir samar.


"Aku tau... anak jaman sekarang memang pergaulannya jauh lebih bebas. Apalagi mereka semua bebas menggunakan gadget dan mengikuti trend yang sedang booming di luar sana. Namun salahnya mereka adalah menerapkan semua itu di negara kita yang berbeda dengan budaya barat. Belum lagi contoh-contoh buruk yang tersebar tanpa nilai edukasi."


"Tapi jika kita pintar, dan tau cara mendidik anak yang benar, aku rasa tidak akan ada anak remaja seumuran cucu sambung ku, Clarice. Yang berani mengatai orang yang lebih tua dengan julukan wanita murahan. Apalagi mereka sesama perempuan."


Detak jantung Afrizal semakin tidak karuan. Ia tak menyangka julukan yang di sematkan oleh sang putri untuk Nyonya Kenzo telah samapi ke telinga sang Tuan Besar.


"Maaf atas keteledoran kami, Tuan Adhitama. Dan kami sungguh menyesal akan hal itu. Tapi alangkah baiknya tidak perlu membawa-bawa urusan bisnis dalam kesalahpahaman ini, Tuan..." ucap Afrizal dengan penuh harap. "Saya akan berusaha untuk memperbaiki sikap dan sifat anak kami..."


"Jujur, kalau seandainya istri ku sendiri yang di katai seperti itu, bukan hanya saham yang akan aku tarik. Tapi satu keluarga akan aku pidanakan!" lanjut Kakek Adhitama dengan seulas senyum datar  dan setengah menunjukkan kesinisan.


Detak jantung yang sudah tidak normal, kini bertambah tidak karuan. Bagaimana tidak, nafas pun kini terasa berat dan serasa susah untuk menghirup udara bersih.


"Jadi kalau putra ku hanya mencabut saham di perusahaan kamu tanpa mempidanakan kamu, itu artinya dia masih punya hati yang lapang. Dan terlalu baik!"


Afrizal dan istrinya sudah tidak bisa lagi berucap. Niat hati datang untuk mencari simpati, namun belum apa-apa sudah di ultimatum terlebih dahulu oleh Kakek Adhitama. Dan keduanya hanya bisa menunduk dengan menghela nafas panjang.


Menyerah, adalah jalan ninja untuk keduanya saat ini.


***


Seorang gadis memilih untuk duduk di gazebo yang ada di area parkir khusus tamu. Setelah mobil yang berisi kedua orang tuanya dan seorang sopir meninggalkan dirinya begitu saja. Di saat dia tidak punya pilihan lain untuk bisa pulang selain antar jemput orang tua atau sopir.


Ia memilih untuk menepi di sana, setidaknya untuk menghindari teman-teman yang sekarang dalam proses penjemputan. Hingga satu persatu murid Alexander International School meninggalkan area sekolah dengan cara yang mereka miliki.


"Kenapa belum pulang?" suara seseorang dari belakang membuat Zuria melompat kaget, hingga ia turun dari gazebo. Menoleh ke belakang, dan menatap tajam pada pria tersebut.


"Mengagetkan saja kamu!" seru Zuria menghentak pemuda yang entah bagaimana bisa tau jika ada dirinya di sana.


"Melamun saja! sampai tidak tau ada yang melintas di sampingmu!" ujar pemuda itu sembari duduk di sisi kanan gazebo.


"Siapa yang melamun!" sahut Zuria dengan nada ketus dan kesal.


"Burung di atas sana!" jawab sang pemuda mendongak ke atas. Menatap ranting-ranting pohon dengan hijau daun yang berbaris rapi. "Kamu lah!" lanjutnya menoleh pada Zuria.


"Siapa yang melamun? aku hanya kesal karena karena ternyata orang tu ku meninggalkan aku di sini!" jawab Zuria sambil kembali duduk di posisinya semula. Memunggungi sang pemuda yang menatap nya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Namun ujung bibir sang pemuda terangkat. Menertawai dengan lirih akan apa yang sedang di alami oleh gadis yang hari ini menjadi trending topik.


"Untuk apa kamu menghampiriku?" tanya Zuria menoleh ke belakang, meski tak bermaksud melihat pemuda itu. "Ingin mengejekku?" tanya Zuria. "Kamu kan temannya gadis itu!"


"Aku tidak ingin mengejek mu... aku hanya ingin mengatakan, lain kali kalau cari lawan yang tepat! Jangan yang di atas keluargamu!" ujar sang pemuda.


"Memangnya kamu tau dari mana kalau keluarga Clarice itu di atas keluarga ku?"


Menghela nafas panjang, "Zuria... Zuria... lain kali cobalah lebih pintar sedikit! Aku tau sebesar apa Adhitama Group! Dan aku juga tau sebesar apa perusahaan yang didirikan oleh keluargamu. Karena  Papa ku juga menanam saham di perusahaan milik orang tua mu, sebesar 5%!" ujar pemuda yang tak lain adalah Naufal itu.


"Kamu yakin?"


"Ya, tentu saja aku yakin! Sedikit banyak aku sudah di ajak Papa ku untuk mempelajari bisnis!" jawab Naufal. "Dan jika sampai Adhitama Group menarik saham nya di perusahaan Daddy mu, aku yakin Papa ku juga akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


Zuria menatap Naufal dengan tatapan yang memicing tajam, "Kamu menakuti aku?"


"Tidak! siapa yang menakuti kamu! Aku hanya berkata apa adanya!" jawab Naufal datar.


Zuria membalikkan badan, menatap jengah pada Naufal. Tapi sedikit banyak ia pun menduga hal itu akan benar terjadi jika memang orang tua Naufal juga salah satu investor di perusahaan sang Ayah.


"Pulang sana!" usir Zuria menghempas keberadaan Naufal yang di anggapnya sebagai pengancam nyawanya untuk tetap bisa berada di sekolah terbaik di Ibukota.


"Status kita sama di sekolah ini. Kamu tidak berhak mengusir ku dari sekolah ini semau mu."


"Aku tidak mengusir mu dari sekolah ini! aku hanya meminta mu untuk tidak di gazebo ini! Aku yang lebih dulu berada di sini, jadi kamu pergi sana!"


"Kalau pun kamu lebih dulu duduk di gazebo ini, tidak ada tulisan di gazebo yang menunjukkan khusus untukmu. Jadi aku bebas duduk di mana saja!" sahut Naufal acuh.


"Kamu dan teman mu itu memang sama! sama-sama menyebalkan!"


"Tidak perlu berlebihan, ini masih di lingkungan sekolah!" jawab Naufal datar. "Lihat! masih ada CCTV yang mengarah pada kita!" ujar Naufal menunjuk salah satu CCTV yang ada di salah satu sudut area parkir.


Zuria mengikuti arah yang di tunjuk oleh Naufal, dan hanya bisa menghela nafas berat.


"Hemmm..." Zuria menahan emosi segenap jiwa. Ia tidak pandai dalam hal menahan emosi. Tapi mau tak mau harus ia lakukan, untuk menghindari masalah semakin meruncing.


Terkekeh, Naufal akhirnya berdiri dan melangkah meninggalkan gazebo, "Jaga dirimu baik-baik! mungkin dunia sedang menguji keluarga kalian..." ucap Naufal tanpa menoleh pada Zuria yang meliriknya geram.


Jika bisa tentu gadis itu akan memilih untuk menyumpal mulut Naufal menggunakan daun-daun di atas pohon. Tapi... Dunia sedang menjatuhkan dirinya, akibat dari kecerobohannya sendiri.


***


Akhirnya Afrizal dan istrinya hanya bisa meninggalkan ruang tamu Kakek Adhitama dengan tangan kosong. Sudah tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk bisa mendapatkan simpati dari seorang Adhitama, apalagi Kenzo Adhitama.


Berjalan berdua menuju mobil mereka yang terparkir di parkiran sementara, kaki keduanya terasa lemas tak bertulang. Bagaimana tidak, dunia hendak jatuh di atas kepalanya. Siap tak siap keduanya harus mengubah pola hidup untuk sementara waktu ini.


Atau mungkin untuk selamanya jika mereka tidak bisa bangkit.


"Apa yang harus kita lakukan, Dad?" tanya Gita pada suaminya.


Sopir membuka pintu untuk majikannya yang sedang seperti orang tidak makan satu minggu.


"Kita pulang, Pak!" ucap Gita saat memasuki mobil, melewati sang sopir yang masih berdiri di ambang pintu.


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Apa kita tidak menjemput Nona Zuria?" tanya sang sopir.


"Oh my God!" pekik Gita tercekat dengan mata terbelalak. "Bagaimana kita bisa melupakan anak kita, Daddy?"


Sepasang suami istri itu saing tatap dengan mata yang membulat sempurna.


"Kita ke sekolah Zu sekarang!" ajak Afrizal.


***


Meninggalkan ributnya para orang tua Zuria dan Zuria sendiri, ada Clarice yang sudah siap untuk mendatangi sang Daddy yang ada di ruang kerjanya. Guna menindak lanjuti penarikan saham yang dilakukan sang Ayah sambung pada perusahaan Afrizal.


Karena keputusan itu memang di ambil akibat dari masalah yang menyangkut dirinya di sekolah hari ini. Cla merasa harus bertanggung jawab akan itu.


Melangkah mendekati pintu ruang kerja sang Daddy yang ada di lantai dasar, Clarice berharap permintaannya akan di kabulkan oleh sang Daddy, walau dengan syarat.


Jika di pikir lebih matang, memang kasian jika Zuria tidak bisa mengikuti ujian tengah semester. Dan berakhir dengan kolom nilai yang kosong.


Jika soal harta, biarlah itu menjadi pembelajaran untuk mereka. Agar tidak lagi bersikap semena-mena pada orang lain. Juga tidak bersikap sombong pada siapapun juga.


Kalimat-kalimat yang di sampaikan oleh sang Mommy barusan benar-benar berhasil membuat Clarice memiliki pertimbangan. Jika saja sang MOmmy tidak mendatanginya ke kamar, mungkin saat ini ia masih menjadi Clarice yang masih berada di bawah pengaruh jin. Tanpa rasa kasihan pada orang lain.


Berdiri di depan pintu, sang gadis mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk bisa mendengar suara sang Daddy memintanya untuk masuk, meski Cla yakin jika Daddy nya tidak tau, bahwa dirinyalah yang mengetuk pintu itu.

__ADS_1


"Masuk!"


Maka Clarice segera menekan handle pintu, dan mendorongnya pelan. Yang pertama ia lihat dari celah sempit adalah sofa untuk tamu rekan kerja yang datang ke rumah untuk urusan bisnis. Kemudian Cal mendorong lebih dalam, hingga terlihatlah sang Ayah di balik meja kerja seorang diri. Entah apa yang sedang di lihat oleh sang Daddy di layar laptop kerjanya. Hingga membuat sang Daddy tapak sangat serius dalam bekerja.


"Daddy?" panggilnya lirih.


Mendengar suara siapa yang sedang berdiri di ambang pintu, cepat-cepat Daddy Kenzo menoleh ke arah pintu. Dan sang putri sambung yang teramat ia sayangi, terlihat dengan seulas senyum manis. Sungguh tak biasa sang anak gadis mendatanginya di ruang kerja.


"My baby Cla?" panggil Daddy Kenzo dengan mata yang sedikit terbelalak. Tak percaya, gadis remaja yang ia anggap selamanya balita itu berdiri di sana.


"Hai, Daddy?" sapa Clarice tersenyum manja. "Daddy sibuk?" lanjutnya bertanya.


"Tidak!" jawab sang Daddy dengan cepat. "Kapan Daddy pernah sibuk jika anak-anak dan istri Daddy yang bertanya?" canda Daddy Kenzo menatap sayang pada gadis 16 tahun yang masih berdiri dengan baju rumahan itu.


Tersenyum malu-malu, Cla menutup pintu dan menghampiri sang Daddy yang menunggunya di balik meja kerja. Clarice duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang Ayah.


"Ada perlu apa, anak Daddy yang cantik?" tanya Daddy Kenzo yang langsung meninggalkan fokusnya pada layar laptop. "Tidak biasanya anak gadis Daddy sampai mendatangi ruang kerja Daddy yang katanya sempit ini..." lanjut Daddy Kenzo dengan menatap lekat sang anak gadis.


Clarice cekikikan mendengar kalimat sang Daddy. Awal-awal memasuki rumah baru itu, beberapa tahun silam, Cla menganggap ruang kerja Daddy nya terlalu sempit, karena banyak rak-rak yang berisi buku dan dokumen penting.


"Katakan, kamu mau minta apa?"


Clarice tersenyum kikuk, "Daddy janji akan mengabulkan permintaan Cla?" tanya Cla yang ragu akan permintaannya di kabulkan oleh sang pemimpin. Baik pemimpin perusahaan, juga pemimpin rumah tangga di dalam istana yang besar dan luas tu.


"Apa dulu?" tanya Daddy. "Selagi Daddy mampu pasti akan Daddy kabulkan, tapi jika Daddy tidak mampu, maka... Daddy tidak akan mengabulkan..." jawab Daddy Kenzo menatap lekat sang putri. Memberikan ketegasan dari apa yang beliau katakan.


"Em... Sepertinya Daddy tidak akan mengabulkan keinginan Cla..." Clarice menunduk, seolah-olah ia tengah bersedih.


"Apa dulu yang kamu inginkan, sayang... katakan! biar Daddy bisa cepat memberikan keputusan, antara mengabulkan atau tidak."


"Daddy?" panggil Cla lirih dan sendu.


"Cla pernah tidak masuk sekolah saat sedang ujian tengah semester, saat masih Junior dulu. Daddy pasti ingat, saat Cla harus masuk ke rumah sakit dalam keadaan tidak baik-baik saja, karena demam berdarah."


"Ya, tentu Daddy sangat ingat. Saat itu, kamu baru duduk di bangku Junior High School, lebih tepatnya tiga tahun yang lalu." jawab sang Daddy. "Dan itu adalah momen terberat untuk Daddy, karena baru pertama kali ada anak Daddy yang terkena demam berdarah. Padahal rumah dalam keadaan bersih."


"Kala itu karena Cla mengikuti acara kemah, Daddy. Dan mengikuti kegiatan jelajah malam. Dan pulang dari hutan itu, Cla sakit dan tidak bisa ikut ujian tengah semester."


"Daddy ingat..." gumam Daddy Kenzo.


"Dan karena Cla tidak bisa mengikuti ujian tengah semester kala itu, nilai Cla kosong. Dan Cla sangat sedih dan kecewa. Bahkan Cla merasa sangat malu pada teman-teman di sekolah.. Karena nilai Cla terendah tanpa perjuangan sedikit pun, akibat tidak bisa mengikuti ujiannya.."


Daddy Kenzo mulai berfikir, mencoba untuk menerawang ke mana arah pembicaraan sang anak gadis sebenarnya.


"Untung saja waktu itu guru memberikan kesempatan untuk bisa mengikuti ujian susulan setelah pulang sekolah di hari-hari terakhir..."


"Ya, Daddy juga sangat ingat." jawab sang Daddy masih terus menerawang dan mencoba untuk mengurai apa yang sedang menjadi tujuan sang putri menceritakan masa lalu.


"Daddy... bisa tidak Daddy memberi kesempatan pada Zuria untuk bisa mengikuti ujian tengah semester?" tanya Clarice pada intinya.


Dan memang inilah yang di tunggu oleh sang Daddy. Daddy Kenzo menatap wajah putrinya yang di penuhi dengan tatapan sendu dan penuh harap. Sementara dirinya?


"Apa yang membuat kamu meminta hal ini pada Daddy?" tanyanya. "Padahal ini masuk ke dalam kategori permintaan yang sulit untuk Daddy kabulkan."


Daddy Kenzo mencoba untuk memahami putrinya yang terkadang sifatnya memang mirip dengan sang Ibu. Pemaaf dan lebih memilih untuk menyelesaikan semua masalah dengan baik-baik.


Dan saking seringnya berinteraksi dengan sang gadis sejak bayi, membuat Clarice sedikit banyak juga memiliki kemiripan padanya. Dan itu kebanggan yang luar biasa untuknya.


Terkadang emosi Cla memang mirip dengan Daddy Kenzo. Meledak jika terlalu di usik. Tidak seperti Mommy Calina yang selalu elegan menghadapi masalah sebesar apapun juga. Dan jika terlalu lelah, ia memilih untuk menghindar dan menghilang.


"Mommy benar... tidak seharusnya kita terlalu banyak catatan buruk di sekolah, Daddy..." jawab Clarice memasang wajah sedih dan memelas. "Rasanya sangat kasian jika Zuria tidak memiliki nilai, meskipun saat ini aku masih sangat membenci dia!" lanjutnya.


"Karena gara-gara dia, aku jadi tidak bisa sekolah besok dan lusa!" gerutu Clarice mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku juga kasian kalau nilainya terendah di sekolah  tanpa perjuangan."

__ADS_1


"Kamu tau, my baby girl... mengubah keputusan Daddy adalah hal paling sulit yang harus di perjuangkan oleh siapapun yang ingin Daddy mengubah keputusan." jawab Daddy Kenzo menatap lekat sang putri.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2