
Dunia yang di bilang orang sebagai tempat untuk menumpang minum, yang artinya hanya sebagai tempat persinggahan sesaat ini nyatanya di penuhi dengan lika liku kehidupan yang menyertai.
Ada kisah yang rumit, ada pula kisah pilu, bahkan ada pula kisah yang hanya flat - flat saja. Kehidupan yang benar - benar bahagia mungkin hanya sesaat saja dapat di rasakan.
Rumitnya dunia kehidupan orang tua mungkin tidak akan terbaca oleh anak - anak mereka. Tapi mereka pasti akan merasakan, saat kelak mereka sudah dewasa. Betapa rumit dunia yang fana ini.
Tanpa meninggalkan kisah yang tercipta oleh orang tua mereka di masa lalu, kini kisah seorang anak yang dulu merupakan gadis mungil kesayangan Daddy tirinya, telah di mulai.
Tumbuh menjadi remaja cantik yang bergelimang harta tak lantas membuat gadis itu menjadi sombong dan congkak. Ia bahkan tumbuh menjadi remaja yang baik hati, dan rendah diri.
Alexander International School adalah salah satu sekolah terbaik dan termahal di Ibukota yang di bangun di atas tanah seluas 18 hektare. Dari namanya saja kita sudah bisa menerawang, berapa banyak uang yang harus di gelontorkan untuk menyekolahkan anak - anak di sana. Apalagi jika masuk melalui jalur mandiri.
Konon, sekolah dengan kurikulum Internasional mendukung pendidikan anak - anak yang lebih baik. Apalagi mereka memiliki saudara di luar negeri.
Dan Alexander International School menerapkan kurikulum seperti International Baccalaureate, Edexcel, dan Cambridge International Examinations.
Setidaknya biaya sebesar Rp. 100.000.000,- sampai Rp. 300.000.000,- harus di persiapkan pertahunnya untuk satu anak yang masuk melalui jalur mandiri. Sedangkan ketiga anak Kenzo ada di sekolah itu dengan jenjang yang berbeda - beda. Belum lagi uang saku sekolah yang di bagi Kenzo untuk ketiga anaknya. Dimana Galen dan Clarice sudah sampai punya ATM pribadi untuk sang Ayah menyalurkan uang saku yang tidak akan muat di kantong mereka.
Seperti halnya Brighta Clarice Agasta, yang masuk ke sekolah itu melalui jalur mandiri. Sekolah dengan biaya fantastis itu sama sekali tidak akan membuat Daddy Kenzo pusing dengan urusan pembayaran. Pendapatan perbulan dari perusahaan yang kini sudah di turunkan padanya itu, bahkan sudah cukup untuk biaya seolah anak - anak selama satu tahun.
Sempat merasa tak enak hati, Mommy Calina meminta untuk Clarice sekolah di sekolah negeri biasa. Mengingat Clarice sudah sangat merepotkan Kenzo sejah di dalam kandungan. Tapi Daddy Kenzo yang sangat menyayangi Clarice, membuat Bapak tiga anak itu selalu memilih sekolah terbaik bahkan termahal sekalipun untuk putri tirinya.
Lagi pula meski tidak selalu berprestasi dengan juara 1. Tapi Clarice selalu masuk ke dalam ranking sepuluh besar. Dan itu sudah cukup membuat sang Daddy bangga.
"Cla!" panggil anak perempuan dari arah belakang.
Saat Clarice berjalan memasuki gedung sekolah. Setelah turun dari mobil mewah sang Daddy.
Seragam sekolah berwarna putih lengan pendek dengan aksen sebuah dasi menyilang di leher, di padu dengan rok kotak - kotak di atas lutut dengan warna dan motif yang sama dengan dasinya. Sebuah jam tangan Christian Dior melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Hai, Han!" jawab Clarice berhenti melangkah, untuk menunggu sahabat satu kelasnya, yang bernama Hanna Arista.
"Tumben baru datang?" ucap Hanna saat langkahnya sudah sejajar dengan Clarice. "Biasanya paling rajin!" sindirnya tersenyum menggoda.
"Iya, tadi Galen susah sekali bangun! Aku dan Dygta jadi ikut berangkat kesiangan!" jawab Clarice dengan bibir malas yang mengerut.
"Kenapa susah bangun? Tumben!" tanya Hanna yang sudah hafal dengan sahabatnya sejak di SMP itu, jika Clarice lebih suka berangkat pagi.
"Nonton bola sama Daddy! Tapi Daddy tidur dia masih begadang sampai pertandingan berakhir!" gerutunya sembari berjalan bersama Hanna menaiki tangga untuk sampai di kelas mereka yang berada di lantai 2.
"Pantas saja Galen masih mengantuk!" sahut Hanna.
Dan sampailah Clarice dan Hanna di depan ruang kelasnya. Sudah banyak siswa yang datang, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh kurang 5 menit.
Di kelas itu hanya ada 20 bangku, yang artinya paling banyak hanya boleh ada 20 siswa. Bangku di bagi menjadi 5 baris. Di mana setiap baris berisi 4 bangku. Baris pertama, adalah bangku yang menempel pada dinding, yang ada pintu kelasnya.
Saat masuk ke dalam kelas, banyak suara - suara dari teman - temannya yang berkata murid baru, murid baru, dan murid baru. Tentu membuat penasaran Clarice yang sudah duduk di bangkunya.
"Memangnya ada murid baru?" tanya Clarice pada Hanna yang duduk di bangku sebelahnya.
Namun Hanna hanya mengangkat kedua pundaknya sembari menyebikkan bibirnya, sebagai pertanda jika dia pun tidak tau.
"Lia, memangnya ada murid baru?" tanya Clarice pada Lia yang duduk di bangku depannya.
Lia menoleh ke belakang, "Katanya sih iya..." jawabnya.
"Cowok atau Cewek?" sahut Hanna.
"Katanya si cowok! Dia sudah di ruang guru..." jawab Lia menatap Hanna.
"Ganteng nggak?" tanya Hanna tersenyum penuh arti.
Namun Lia hanya mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak tau! Anak - anak yang tadi sempat lihat dia datang!"
"Apa kata mereka?" tanya Hanna seperti menginterogasi.
"Katanya sih... ganteng.." jawab Lia sambil mengangkat satu ibu jari di sertai cekikikan.
"Oh, gitu..." sahut Clarice merasa biasa saja.
Bukan berarti Clarice remaja yang tidak normal. Hanya saja ia mewanti diri - sendiri untuk tidak semudah itu menyukai lawan jenis. Apalagi terlihat seperti seorang pengemis cinta.
Meskipun untuk saat ini ada salah satu teman kelas nya yang membuatnya betah untuk sekedar menatapnya. Dan sedikit banyak kehadiran anak itu membuat Clarice rajin untuk datang ke sekolah, meski bukan alasan utamanya.
__ADS_1
Tapi semua itu, hanya ia simpan di dalam hati. Di lubuk hati terdalam. Karena tak ingin mengkhianati sang Mommy dan juga tekatnya untuk tidak berpacaran, setidaknya sampai lulus sekolah Senior Hight School.
Clarice menoleh ke sisi kanan sedikit ke belakang. Di sana, di bangku nomor tiga baris pertama atau meja yang menempel pada pada dinding, siswa laki - laki tengah duduk sembari menatap layar ponselnya.
Rambut hitam yang di sisir rapi. Postur tubuh yang ideal untuk anak seusianya. Karena semua siswa tau pemuda itu adalah seorang atlit renang, basket dan sepak bola. Ia pun masuk Alexander international School melalui jalur prestasi non akademik.
Clarice kembali menatap meja sekolahnya, dengan menyimpan senyum samar. Senyum rahasia yang artinya ia mengagumi pemuda itu. Tanpa satu orang pun yang tau, termasuk Hanna, sahabat yang paling dekat dengannya.
Sayangnya, anak itu tak pernah sekalipun melirik dirinya. Tak pernah sekalipun mendekatinya. Semua obrolan yang di ucapkan etika bertemu hanya flat tentang pelajaran sekolah.
Mungkin karena pemuda itu sudah memiliki gebetan di kelas yang lain. Entah pacaran atau tidak, yang jelas Clarice sering melihat mereka bertemu di kantin. Atau bahkan jalan berdua di lorong kelas.
It's fine! Clarice tidak akan pernah di buat pusing oleh hal itu. Karena tujuannya datang ke sekolah adalah untuk belajar. Jika ada yang menarik perhatian hati remajanya, biarkan hati itu sendiri yang menyimpannya.
Untuk kemudian ia jadikan sebagai penyemangat datang ke sekolah lebih awal dan tidak suka membolos.
Detik terus berjalan, sampai seorang guru perempuan berusia sekitar 30 tahun masuk ke dalam kelas.
"Stand up, please!!" seru pemuda yang tadi di lihat Clarice.
Sontak semua berdiri dan menghadap ke depan dengan posisi badan yang tegak. Tanpa ada jemari yang menyentuh benda lain selain meja masing - masing.
"Greet to teacher, please!" serunya lagi setelah semua murid sudah berdiri dengan baik.
"GOOD MORNING, Mrs. TIARA...!!" sapa semua murid secara bersamaan pada salah satu guru Bahasa Inggris di sekolah itu.
"Morning too, Students..." balas Mrs. Tiara dengan senyum ramahnya.
"Sit down, please!" perintah sang ketua kelas kemudian.
Dan semua murid pun kembali duduk di kursi masing - masing seperti semula.
"Hari ini, kita kedatangan teman baru... Semoga kalian semua dan teman baru ini bisa bersahabat baik, yaa.." pinta Mrs. Tiara setelah ia juga duduk di kursinya.
"Yes, Mrs!" jawab semua murid secara serentak.
Mereka sudah mendengar kabar ini sebelumnya. Jadi momen perkenalan murid baru memang sudah mereka tunggu sejak tadi.
"Silahkan masuk!" ucap Mrs. Tiara pada seseorang yang ada di balik pintu.
Dan...
Remaja laki - laki dengan tinggi badan yang sangat ideal untuk remaja seusia mereka, di balut dengan seragam sekolah yang entah dari mana, masuk ke dalam kelas dengan langkah tegas dan penuh wibawa.
Hidung mancung, kulit putih, wajah lonjong dan rambut hitam di potong rapi yang di buat berdiri, sungguh semakin memperjelas betapa tampan si murid baru.
Sebuah tas rangsel hitam bertengger di punggungnya. Jam tangan hitam, yang dengan di lihat saja sudah bisa di tafsir harganya mencapai jutaan rupiah, melingkar di pergelangan tangan kirinya. Aura tampan semakin menguar di pandangan mata lawan jenisnya.
Bergerak bagai adegan slow motion, pemuda itu kini sudah berdiri di tengah - tengah papan tulis. Menghadap murid satu kelas yang tak satupun ia kenal. Namun ia sangat percaya diri akan di sambut baik oleh teman - teman barunya.
"Perkenalkan diri kamu dengan baik dan jelas..." perintah Mrs. Tiara, dengan di ikuti gerakan tangannya.
"Baik, Mrs!" jawabnya. "Hai! Tak kenal maka tak sayang! Seperti kita yang tak saling mengenal! Aku yakin kalian tidak menyayangi aku saat ini!" ucapnya mengawali perkenalannya.
Dan ucapan pemuda itu membuat semua murid tersenyum tipis. Bahkan beberapa siswa laki - laki ada yang sampai tertawa. Baru kali ini ada murid baru yang memperkenalkan diri dengan banyak bicara terlebih dahulu.
Melihat semua teman barunya tersenyum, ia pun ikut tersenyum. Dan pemuda itu terlihat semakin tampan dengan senyum manisnya.
"Untuk itu, perkenalkan... Nama saya Arsenio Wilson. Panggil saja Arsen!"
"Haaaiii... Arseenn!" sapa semua murid serentak dengan kompak. Kecuali Clarice yang menatap datar pada Arsen.
"Hai, juga!" balas Arsen dengan senyum lebar percaya dirinya.
Dan Mrs. Tiara ikut tergelak dengan cara Arsen memperkenalkan dirinya.
"Sekolah asal saya adalah Bandung Independent School. Pindah ke Jakarta karena Papa dan Mama di Jakarta. Selama di Bandung saya tinggal bersama Oma, Opa dan keluarga Aunty saya."
"Wiiihhh... kayak Shiva saja, tinggal sama Kakek dan Neneknya!" celetuk salah satu siswa laki - laki yang duduk di bangku paling belakang.
Dan semua langsung tergelak mendengar celetukan berupa candaan itu. Suasana perkenalan murid baru yang di penuhi dengan konsentrasi dan suasana serius, justru menjadi moen canda tawa bersama.
"Bedanya aku hobi naik motor, bukan sepeda," sahut Arsen menatap teman barunya. "Dan juga tidak berani melompat dari atas gedung, takut motor ku tidak bisa menolong ku!" sahut Arsen dengan gurauan yang sama, dan itu semakin membuat seisi kelas tertawa lepas.
__ADS_1
"Hahaha!"
"Di hari pertama saja sudah bisa di lihat ya! Kalau dia ini humble dan suka bercanda!" sahut Mrs. Tiara dengan masih menahan tawanya.
Sebagai guru, Mrs. Tiara memang cukup humble dan suka bercerita ini dan itu dengan caranya yang unik, tidak kaku seperti guru yang lain. Membuat semua siswanya merasa lebih santai ketika belajar. Kemudian kembali bersemangat setelah sesi bercerita usai.
"Duduk di sana, Arsen!" ucap mrs Tiara menunjuk bangku nomor tiga dari depan, di baris kedua. Bangku itu memang kosong, karena sang penghuni memutuskan untuk pindah sekolah keluar negeri.
"Terima kasih, Mrs!"
"Ya.." jawab Mrs. Tiara menyudahi tawanya sambil menyiapkan buku materi hari itu.
Sementara Arsen menjadi pusat perhatian semua anak - anak murid yang ada di dalam kelas. Sampai pemuda itu duduk di bangku yang sudah di tunjuk untuk menjadi bangkunya.
Di lihat dari penampilannya memang Arsen cukup menarik. Clarice sendiri sampai ikut melihat wajah baru di kelasnya itu sampai lelaki itu duduk di bangkunya. Yang mana meja yang ia tempati berjajar dengan meja yang di tempati oleh sang atlit pujaan Clarice.
Membandingkan dua wajah itu secara sekilas, dan bagi Clarice yang masih remaja, keduanya memang sama - sama tampan. Sama - sama memiliki karakter sendiri - sendiri, dengan hanya di lihat kesan luarnya saja, Cla bisa menebak jika dua orang itu memiliki hobi yang berbeda.
Penampilan Arsen terlihat lebih gaul dengan baju yang kurang rapi di banding murid di sebelahnya. Ia yakin baju putih yang berasal dari sekolah lamanya itu akan keluar saat jam pulang sekolah nanti.
Clarice kembali pada fokusnya, yaitu mengeluarkan buku pelajaran bahasa inggris. Dan siap untuk terus berbicara menggunakan bahasa inggris di mata pelajaran itu.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore. Yang artinya jam pulang untuk anak - anak sekolah dengan sistem full day School. Clarice keluar dari ruang kelas, bersama dengan Hanna. Berjalan beriringan menuju pintu kelas, dimana semua antri untuk keluar satu persatu.
Di pintu belah dua ruang kelasnya, Clarice berpapasan dengan murid baru itu. Sorot mata mereka bertemu, dan Clarice yang tak terllau mudah akrab dengan anak laki - laki hanya diam dan langsung membuang pandang. Meski dalam hati ia mengakui jika pemuda itu memang tapan. Pantas jika kedatangannya menggemparkan satu sekolah.
Bahkan di jam istirahat tadi ia sempat mendengar anak - anak dari kalas lain, bahkan kakak kelas membicarakan anak itu di kantin. Dan yang membuat Clarice heran adalah, ada yang mengaku tinggal satu komplek dengan anak itu, hanya saja tidak terlalu akrab. Yang di ketahui nya, si Arsen itu suka dengan dunia balap.
Balap? jika anak seumuran itu, berarti mereka punya hobi balap liar?
Oh My God! mereka mengancam nyawa mereka sendiri, pikir Clarice.
Tanpa di sadari Clarice, jika Daddy kesayangannya dan Uncle kesayangannya adalah mantan pembalap liar di masa mudanya.
Tapi lagi - lagi masa muda oang tuanya, biarlah menjadi kenangan. Tanpa perlu semua hal di ketahui oleh anak - anak mereka.
Ketika tanpa sengaja pandangan mata Clarice bertemu dengan pandangan mata Arsen, membuat Arsen sedikit tertegun. Namun ia ragu untuk menyapa ataupun bertanya.
Yang ada di dalam benak pemuda 16 tahun itu adalah Clarice bukan sembarang siswi di kelas itu. Terlihat dengan Clarice yang langsung membuang muka ketika berpapasan dengannya.
Semua berjalan ke arah lobby gedung Senior High School, untuk kemudian pulang meninggalkan sekolah dengan jemputan masing - masing.
Namun beberapa siswa ada yang pulang pergi naik motor sendiri, bagi mereka yang lolos uji coba SIM sekolah. SIM khusus yang di programkan oleh sekolah. Salah satunya siswa yang lolos ujian SIM itu adalah Atlit yang di puja Clarice diam - diam.
Pemuda itu berjalan ke arah parkiran motor yang cukup jauh dari gedung sekolah. Sedangkan Clarice menghampiri Mang Heru yang sudah menunggu bersama Galen. Meski begitu Clarice tak lupa untuk mencuri pandang pada pemuda yang hanya terlihat punggung tegap nya saja. Dimana sebuah tas hitam bertengger di punggung itu.
Ya, jam pulang sekolah untuk Galen dan Clarice memang tidak jauh berbeda. Hanya berbeda 15 menit saja, dengan Galen yang keluar lebih dulu. Terkadang justru sama, karena Galen tertinggal mata pelajaran, ataupun tugas yang belum selesai.
"Sore, Mang!" sapa Clarice pada Mang Heru yang kini jauh lebih tua dari saat mengantarkan sang Ibu dan Ayah kandungnya pulang 17 tahun silam.
"Sore, Neng..." balas Mang Heru yang mengemudikan mobil Alphard milik Daddy Kenzo yang sudah generasi ketiga dari yang pertama kali di naiki Calina 17 tahun silam.
"Kita ke kantor Daddy dulu, Mang?" tanya Clarice yang duduk bersebelahan dengan Galen.
"Ya, Neng... kebetulan Den Kenzo tidak ada meeting penting. Hanya saja tadi belum bisa ikut menjemput akran beberapa berkas dari Papa Neng Clarice harus di periksa hari ini." jawab Mang Heru.
"Oohh... berarti Daddy lagi sama Papa?" tanya Clarice pada Mang Heru.
"Ya, Neng..." jawab Mang Heru.
Namun saat Mang Heru menjawab, perhatian Clarice sudah terpecah dengan sosok yang muncul id samping mobilnya.
Dimana pemuda yang mencuri perhatian sejak pertama memasuki ruang kelasnya itu melintas dengan motor berjenis CBR berwarna merah. Ia tersenyum tipis, bahkan tidak ada yang mengetahui jika Cla tengah tersenyum melihat pemuda itu.
Namun senyum itu lenyap ketika menyadari ada sosok lain yang duduk di belakangnya. Seorang gadis yang diketahui Cla sebagai Kakak kelas mereka. Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat. Dan gadis itulah yang di anggap Cla sebagai gebetan dari sang pemuda.
Cemburu? Tidak, Cla tidak berhak dan merasa tidak perlu untuk memiliki perasaan cemburu. Toh ia tak pernah berjuang dan tak ingin berhubungan dengan pemuda itu.
Sakit hati? Apalagi! ia merasa tidak perlu merasakan semua itu.
Dan mobil kembali melaju setelah melewati pagar pemeriksaan. Dengan Cla asyik dengan ponselnya. Sedangkan Galen sejak tadi sudah sibuk dengan ponselnya yang sudah terpasang headset. Benar, dia sedang bermain game kenamaan, PUBG.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...