Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 145 ( 200 CM )


__ADS_3

Jika Clarice bersikap ketus dan dingin pada Arsen, itu adalah hal biasa selama mereka berada di sekolah. Atau di manapun, saat mereka hanya berdua atau bersama Naufal dan Hanna.


Namun semua itu berubah, dan seolah tidak berlaku ketika pertama kalinya sang pemuda mendatangi rumah pengusaha ternama Ibukota Kenzo Adhitama. Di mana di dalam rumah itu tinggallah seorang putri cantik yang sangat di ratu-kan oleh pemilik rumah.


Selain shock mendapati Arsen dan Ibunya ada di rumah, Cla juga bingung harus melakukan apa dengan tamu yang satu ini. Karena sebelumnya ia sempat berjanji untuk tidak lagi berurusan dengan pemuda yang terlalu banyak fans itu.


Jika saja tidak bersama Ibunya, mungkin Cla sudah akan mengusir Arsen. Ya, meskipun mungkin ia akan kembali mendapat ceramah dan ceramah dari sang Mommy.


Jadi apa  yang bisa dia perbuat, pemuda itu tiba-tiba muncul di rumahnya, dan membawa serta garda terdepan yang tak akan bisa ia pinta untuk pulang. Rumah ini bahkan jarang di datangi teman sekolahnya. Kecuali Naufal dan Hanna. Atau teman dekat di Junior dan Elementary School.


Setelah obrolan singkat, di mana Ibu masing-masing meminta keduanya untuk mencari tempat lain untuk mengobrol. Maka Cla menemukan ide, ketika sang Ibu merekomendasikan kolam renang sebagai tempat mereka menghabiskan hari pertama di skors.


"Dari mana kamu tau rumah ku?" tanya Cla ketika keduanya memilih untuk ke halaman belakang melalui jalan di luar rumah.


Dari sisi kanan rumah, kolam renang sudah bisa di lihat sebagian. Karena kolam renang di rumah mewah itu berukuran sangat luas untuk kelas kolam renang pribadi. Karena memang meliuk dari belakang rumah sampai ke sisi kanan rumah.


Ada berbagai ukuran kolam renang di rumah satu ini. Mulai dari untuk bayi, balita, anak-anak, remaja, sampai dewasa yang mana kedalamannya menjadi 200 cm. Sehingga jika memiliki anak-anak balita memang harus benar-benar di jaga jika mereka sedang berada di area belakang rumah.


Untuk itulah para anak-anak Kenzo Adhitama semua adalah perenang hebat. Mereka sudah di latih oleh pelatih khusus sejak usia dua tahun. Agar ketika mereka tidak sengaja jatuh ke kolam, mereka bisa menyelamatkan diri dengan menepi sendiri.


Dan di salah satu sudut area belakang, ada satu bangunan yang di gunakan untuk membilas diri pasca berenang dan juga berganti baju. Ada banyak handuk bersih dan baju renang yang biasa di gunakan untuk pribadi maupun untuk tamu.


Dan di sinilah Cla akan memulai petualangannya bersama Arsen untuk pertama kali. Sudah sering ia berenang bersama Naufal dan Hanna yang sama-sama pandai berenang. Tapi di sini ...


Dirinya yang sangat akrab dengan air, sungguh berbeda dengan Arsen yang sangat takut dengan kedalaman.


"Aku pernah mengajak sopir ku untuk mengikuti mu saat pulang sekolah..." jawab Arsen terkekeh salah tingkah sambil mengamati kedalaman kolam renang keluarga Kenzo Adhitama. Untuk saat ini yang terlihat hanya yang biasa di gunakan oleh bayi sampai anak-anak saja. "Dan beruntung ternyata Mama ku berteman dengan Daddy mu... Aku pikir hanya Naufal saja yang beruntung karena orang tua kalian adalah rekan bisnis."


"Sejak kapan kamu tau, Daddy ku dan Mama mu berteman?" tanya Cla.


"Semalam lah!"


"Jadi sebelum ini, kamu itu penguntit?" gumam Clarice dengan sepasang mata yang memicing ke arah Arsen yang berjalan di sisi kirinya.


"Ya... karena hanya ingin tau saja di mana rumah kamu. Karena kamu selalu menolak kalau aku ingin ikut Naufal dan Hanna main ke rumahmu..." jawab Arsen terkekeh jahil. "Selalu saja hanya Naufal dan Hanna yang boleh main ke rumah kamu.." jawab Arsen seolah tengah menggerutu, menyampaikan protes.


"Karena aku memang tidak suka terlalu banyak teman yang mengetahui isi rumah ini." jawab Clarice. "Meskipun Daddy tidak pernah melarang aku mengajak teman ke rumah ini, tapi aku lebih nyaman membawa teman ke rumah Papa. Karena jelas-jelas itu rumah milik Papa ku. Sementara rumah ini..." Cla terdiam untuk sesaat. "Aku terkadang tidak enak menyebut rumah ini sebagai rumah ku..." lanjut Clarice terdengar sendu.


"Kenapa begitu?" tanya Arsen.


Menarik nafas panjang, kemudian menghelanya perlahan. Clarice menatap lurus ke depan. "Kamu tau kan posisi ku di rumah ini...?" tanya Cla menoleh pada Arsen sekilas.


"Ya, aku tau..." jawab Arsen membuang wajah dari tatapan Cla. Karena baginya apapun posisi Cla di rumah ini, yang ia cari bukan itu. Tapi hati Clarice sendiri. Meskipun tidak ada seorang Kenzo Adhitama di belakang Cla, tetap saja niatnya itu tidak akan pernah berubah.


"Dan itulah yang membuat aku terkadang berbeda. Bukan Daddy yang membedakan aku. Tapi orang-orang di luaran sana yang sering menganggap hidupku beruntung. Padahal aku hanya anak sambung... Dan mengatai aku tidak pantas untuk bisa menikmati fasilitas berlebihan yang di berikan oleh Daddy padaku."


"Daddy Kenzo sangat menyayangiku... Dia tidak pernah sekalipun membedakan aku dengan Galen maupun Dygta. Bahkan beliau membeli 2 hektar tanah di kota sebelah sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-16 beberapa bulan lalu. Untuk kelak di atas namakan namaku saat umur ku genap 17 tahun, katanya." jelas Clarice mengingat saat ia berulang tahun, satu keluarga di bawa keluar kota. Dan di tunjukkanlah tanah kosong seluas 2 hektar sebagai hadiah ulang tahunnya.


"Kamu tentu bisa memperhitungkan, berapa puluh milyar uang yang harus di keluarkan Daddy untuk 2 hektar tanah di daerah itu? permeter persegi saja kata Mommy masih di angka 10 sampai 12 juta!"


"Hemm... aku tau. Papa pernah membeli tanah di sana untuk di dirikan kantor cabang..."


Suasana yang semula kaku dan dingin, kini menjadi sendu karena cerita Clarice yang di anggap sangat menyentuh hati Arsen. Dan Arsen sendiri tentu tidak akan pernah bosan  mendengar cerita apapun yang di sampaikan Clarice. Justru itu akan menjadi hal baik untuk dirinya.


"Kenapa aku jadi bercerita..." gumam Clarice ketika keduanya sudah mencapai area belakang rumah.


"Tidak perlu menyesal! Aku akan selalu menjadi pendengar setia untukmu, kapanpun kamu membutuhkan aku, aku akan datang!" tandas Arsen dengan nada bicara yang serius.


Clarice tergelak tanpa suara mendengar ucapan Arsen yang menurutnya, sok iyes!


"Di sana ruang gantinya!" Cla menunjuk bangunan berukuran kurang lebih 6x6 meter yang di gunakan untuk berganti baju.


Di dalam ruangan itu ada dua bilik seukuran kamar mandi yang bisa di gunakan untuk berganti baju ataupun mandi. Ada satu almari kaca besar yang berisi handuk dan perlengkapan renang lainnya. Kemudian ada sebuah cermin panjang yang menempel di dinding dengan tiga buah wastafel di meja bawah cermin. Kemudian ada teras di bagian depan dengan sebuah kursi besi panjang.


Kemudian di sisi kiri bangunan ada 3 tiang shower yang menyatu dengan alam dan beralas bebatuan yang sangat kontras dengan pohon-pohon dan tumbuhan rindang di sekitarnya. Dua botol pump berisi hair & body wash berada di antaranya.


"Kita jadi berenang?" tanya Arsen mendelik.


"Ya! why not?" jawab Cla dengan entengnya, tanpa rasa bersalah karena sudah mengambil keputusan secara sepihak.

__ADS_1


Mendengar jawaban Clarice, Arsen langsung menoleh pada kolam renang yang cukup besar. Dan saat membaca angka ukuran yang tertera di kolam renang dewasa, pura-pura tidak sadarkan diri rasanya bisa menjadi jalan ninja sang pembalap.


' 200 cm! '


Pekiknya dalam hati dengan mata terbelalak dengan di sertai wajah yang tegang bukan kepalang. Bahkan dadanya ikut kembang kempis, seiring dengan nafas yang memburu.


' Tinggi ku saja belum genap 170 cm! '


Dada Arsen bergemuruh tidak karuan. Memikirkan, apa yang akan ia lakukan di dalam kolam renang nanti? Ia sama sekali tidak bisa berenang. Kalau pun berani untuk masuk ke dalam air, paling dalam hanya berani sampai air setinggi pusar saja, atau sekitar 100 cm. Itupun ia hanya akan diam tanpa berani berpindah-pindah tempat dengan cara berenang asal.


Menghilangkan trauma memang tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Begitulah yang di alami oleh remaja 16 tahun satu ini. Dunia ia anggap masih tenggelam, dan ia belum bisa menyelamatkan diri dari dasar air.


"Apa tidak ada acara lain yang bisa kita lakukan di sini?" tanya Arsen mencoba untuk mengalihkan niat Cla yang ingin mengajaknya berenang.


"Tidak ada..." jawab Cla enteng. "Ayo!" Cla kembali memaksa Arsen untuk melangkah mendekati ruang ganti.


Cla menarik lengan Arsen yang sengaja memberatkan tubuhnya. Sehingga ketika Cla menariknya, yang ikut bergerak hanya tangannya saja. Sementara kaki dan tubuhnya sangat sulit untuk di gerakkan oleh Clarice. Berdiri bagai batu yang menancap kokoh di tanah.


"Seperti nya karaoke lebih seru" ujar Arsen masih terus berusaha merubah aktivitas.


"Tidak ada karaoke di rumahku!" sahut Cla berhenti menarik tangan Arsen sesaat, namun matanya membulat menatap Arsen dengan gemas.


"Ah, serius?" tanya Arsen. "Rumah sebesar ini tidak ada karaoke!" lanjutnya melihat sekitar, guna menghindari tatapan Cla yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Ya, tentu saja! Karena Daddy dan Mommy tidak hobi bernyanyi seperti mu yang suka bermain gitar sambil bernyanyi di kelas!" jawab Cla cepat. "Sudah! Ayo, jangan banyak bicara! berat sekali tarikan mu! apa kamu ini makan batu, hah!" ujar Clarice yang kembali berusaha menarik tangan Arsen dengan kedua tangannya.


Tergelak, Arsen menatap Cla dengan tatapan yang gemas dan lucu. "Mana ada makhluk hidup makan batu. Yang ada itu manusia di jaman batu! Bukan manusia makan batu!"


"Itu manusia purba!"


"Nah, itu tau!"


Saking kesalnya pada Arsen, Cla membanting tangan Arsen hingga tangan Arsen menubruk tubuhnya sendiri. Melepasnya dengan hentakan yang cukup keras. Kemudian Cla meletakkan kedua tangannya di pinggang. Sang gadis berkacak pinggang seolah menantang Arsen dengan caranya. Ia sedikit mendongak saat melihat Arsen yang sedikit lebih tinggi darinya.


"Kenapa kamu tidak mau berenang?" tanya Clarice. " Kamu takut air?" tanyanya. "jadi kamu sebenarnya tidak pernah mandi?" cibir Cla. "Lalu bau harum ini? hanya parfum?" sindirnya terus menerus.


Akting yang luar biasa, Cla!


Padahal sang gadis sudah sangat tahu.


"Lalu kenapa tidak mau berenang? cuaca sedang cerah, sangat cocok untuk berenang!"


"Tapi... bagaimana kalau kamu hitam gara-gara berenang di siang hari, di kolam renang outdoor seperti ini?"


"Kulit hitam bisa di putihkan lagi..." jawab Clarice santai. "Itu! di kedalaman 130 cm sampai 200 cm tidak terlalu panas, karena dekat pohon besar. Kita bisa beradu kecepatan di sana!" ujar Cla.


"What!" pekik Arsen kembali mendelik.


' Cla benar-benar menyebalkan hari ini! '


Gerutu Arsen dalam hati.


"Sudah ayo!" ajak Cla lagi.


"Kamu sajalah yang berenang! aku sedang tidak ingin masuk air. Aku akan menunggui kamu berenang dengan memasukkan kaki ku di kolam ini! Dan lagi kolam ini tidak panas! Aku sedang malas berpanas-panasan!"


Arsen menunjuk kolam untuk anak-anak yang hanya setinggi 50 cm sampai 75 cm. Kolam itu di lindungi oleh atas yang sengaja untuk menghalau panas matahari. Dan juga ada beberapa jenis perosotan untuk anak-ana di kolam itu.


"Jadi kamu takut hitam?" tanya Clarice memicingkan matanya.


"Tidak juga..." jawab Arsen.


"Ah, bilang saja kamu takut air!" cibir Clarice. "Pulang saja sana kalau tidak mau berenang denganku!" usir Clarice membuang wajah dengan raut wajah masam. Namun berucap demikian tanpa berani menatap wajah Arsen.


"Kamu mengusir aku hanya karena aku tidak mau berenang dengan mu?" tanya Arsen.


Clarice tidak menjawab. Karena memang bukan hatinya yang berbicara demikian. Tapi hanya sebuah ancaman yang tak bisa ia jelaskan alasannya.


"Baiklah... aku akan pulang..." jawab Arsen lirih dengan rasa penuh kecewa dan penyesalan karena di usir hanya karena tidak mau ikut berenang. Padahal ia tidak mau juga karena memiliki trauma.

__ADS_1


"Kalau kamu pulang, jangan pernah lagi muncul di hadapan ku! Aku tidak mau lagi mengenalmu. Aku akan blokir dan hapus nomor ponselmu. Dan anggap aku tidak pernah menceritakan apapun juga kepadamu." ucap Cla dengan ketus dan nafas menggebu. "Dan aku juga akan menganggap mu tidak pernah ada di kelas!"


"Aku akan membenci mu seumur hidupku..." desis Clarice dengan mata yang menatap lurus ke depan. Dadanya bergemuruh bagai hendak meledak. Mendapati Arsen menganggap serius jika ia mengusir sang lelaki, sungguhlah bukan itu yang ia inginkan.


Arsen memicingkan matanya. Menatap wajah Clarice yang di penuhi emosi. Sedikit banyak ia tau jika Cla tidak bersungguh-sungguh mengusirnya. Tapi mendengar kalimat kelanjutan yang di ucapkan Clarice, Arsen mulai paham. Bahwa ...


' Wanita memang susah di mengerti! '


Gerutu Arsen dalam hati.


"Baiklah... kita berenang!" jawab Arsen langsung melangkah menuju ruang ganti. Meninggalkan Clarice yang langsung menyeringai begitu melihat Arsen berubah pikiran. Tentu saja Arsen tidak tau jika Clarice tengah tersenyum kesenangan di belakang sana.


Meskipun dalam benak Arsen sungguh pusing. Apa yang akan ia lakukan nantinya di dalam kola renang?


Hanya berendam? akan sangat memalukan!


' Ya Tuhan... tolong aku! '


Batinnya sembari menginjak lantai teras ruang ganti.


Clarice menatap punggung Arsen dengan senyum penuh kemenangan. Ia berjalan di belakang Arsen sampai akhirnya keduanya masuk ke dalam ruang ganti.


"Terserah kamu mau pakai baju renang yang mana! Yang jelas semua baju renang di sini bersih." ujar Clarice menunjuk almari yang menggantung berbagai jenis baju renang.


"Hemm..." jawab Arsen datar dan langsung menggeser almari kaca berukuran besar dengan empat buah pintu itu.


Clarice mengeluarkan baju renang yang biasa ia pakai. Baju renang dengan nama Clarice di bagian punggung nya. Baju renang dengan lengan dan celana panjang itu akan membalut ketat tubuhnya. Kemudian warna hitam bercampur pink di bagian lengan dan roknya, akan memperlihatkan jelas posisi dirinya jika nanti ia masuk ke dalam kolam renang yang dalam.


Jika Cla sudah masuk ke dalam ruang ganti, maka Arsen hanya mengeluarkan celana renang yang panjangnya hanya sampai di atas lutut saja. Untuk atasan ia memilih untuk tidak memakai baju. Sehingga tubuh putih dengan bagian perut dan dada yang masih natural akan tetap terlihat.


Clarice keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Arsen yang keluar dari bilik sebelahnya. Keduanya terdiam sesaat di depan pintu masing-masing. Saling melihat satu sama lain. Sungguhlah ini baru pertama kali.


Sadar ada yang sedang tidak memakai atasan, Cla langsung membuang pandang ke arah lain. Meletakkan baju di gantungan yang tersedia di dekat almari.


"Kenapa tidak pakai baju?" tanya Clarice sedikit ketus dengan membelakangi Arsen.


"Hah? memangnya kenapa?" tanya Arsen bingung.


"Kamu tidak malu ada aku tapi kamu tidak pakai kaos?"


"Kenapa malu?" tanya Arsen. "Laki-laki sudah biasa seperti ini..." ujar Arsen dengan nada yang menggoda.


"Memalukan!" seru Clarice kembali menggeser pintu kaca, kemudian mengeluarkan kaos dalam yang tersedia. "Pakai ini!" Clarice menyodorkan kaos dalaman berwarna putih itu ke arah Arsen yang sedang menyimpan baju yang sebelumnya ia kenakan.


"Untuk apa? lagi pula ini kolam renang pribadi, bukan?" tanya Arsen sengaja menggoda Cla yang ia tau jika sang gadis tengah malu-malu.


"Sekali lagi pakai ini! atau aku akan mendorongmu ke kolam 2 meter!" ujar Clarice.


Menghela nafas kasar. "Hah! iya-iya!" jawab Arsen pasrah.


"Belum apa-apa sudah mau main dorong saja kamu!" gerutu Arsen lirih sembari memakai kaos dalam yang di berikan Cla.


"Hah?" Cla menoleh pada Arsen. "Bicara apa kamu?"


"tidak ada..." jawab Arsen pura-pura. Sembari melirik kanan dan kiri.


"Kamu tadi mengomel, kan?"


"Mengomel bagaimana?" Arsen menatap Cla dengan yakin, meskipun dalam hati sesungguhnya masih takut jika benar-benar akan di ceburkan ke dalam kolam 200 cm.


"Jujur!" Cla mencubit lengan Arsen dengan cukup kencang.


"Aduhh!" pekik Arsen meringis. "Cla! sakit, you know!"


Cla hanya mencibir dengan gerakan bibir yang bergerak tidak beraturan, di sertai dengan gerakan kepala ke kanan dan ke kiri.


Arsen melihat tingkah Cla yang satu ini, membuatnya gemas sendiri. Ingin rasanya Arsen menggigit gadis di depannya. Tapi mana mungkin  itu ia lakukan.


"Sudah, ayo!" ajak Clarice.

__ADS_1


Dan keduanya pun akhirnya berjalan keluar ruang ganti dan mendekati kolam renang yang luasnya tiada tara.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2