Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 34 ( Menangisi Permata yang Hilang )


__ADS_3

4 jam telah berlalu, mobil yang di kemudikan Zio mulai memasuki gang menuju rumah Ibu Calina di kampung, alias rumah Mama Shinta.


Mama Shinta tinggal sendirian sejak Papa Rudi meninggal. Namun saat malam tiba, akan ada anak tetangga berusia sekitar 16 tahun yang tidur di sana, dan di gaji bulanan atas pekerjaan itu. Yakni menemani Mama Shinta sampai pagi dengan tidur di kamar tamu.


Mobil Zio berhenti tepat di depan rumah Mama Shinta saat jam tangannya menunjukkan pukul 1 siang. Dimana pintu rumah Mama Shinta terlihat tertutup rapat.


Setelah mematikan mesin mobilnya, Zio tak segera turun dari kuda besinya. Ia menatap rumah Mama Shinta dengan perasaan yang campur aduk. Ia takut sendiri dengan apa yang akan terjadi jika ternyata Calina tidak ada di sana dan Mama Shinta belum tau semuanya.


Lain cerita jika Calina ternyata ada di dalam rumah itu, dan Mama Shinta sudah mengetahui semua permasalahan mereka selama ini.


"Ayo Zio! Turun!" ucapnya pada diri sendiri.


Dengan perasaan masih gamang, Zio turun dari mobilnya. Berjalan setengah menunduk mendekati pintu rumah Mama Shinta. Hingga ia akhirnya hanya mematung di depan pintu. Berulang kali tangan terangkat, namun kembali turun. Terangkat lagi dan turun lagi.


"Zio?" panggil seseorang dari arah belakang.


Zio yang mengenali itu suara siapa, segera menoleh dan mendapati sang Ibu mertua yang terlihat baru pulang dari masjid. Karena masih mengenakan mukena bagian atas.


"Ma..." sapa Zio gamang.


"Kamu kenapa ke sini?" tanya Mama Shinta tampak biasa saja, sembari berjalan mendekati Zio.


Zoo menyambut dengan meminta tangan Ibu mertuanya untuk di salami dan di ciumnya. "Bisa kita bicara di dalam, Ma?"


"Oh, iya! Ayo masuk!" ucap Mama Shinta sembari membuka kunci pintu utama rumahnya. "Kamu sudah lama menunggu? Tadi ada pengajian dulu di masjid. Jadi baru pulang..."


"Tidak kok, Ma.. Zio baru datang.." jawab Zio mengikuti langkah Mama Shinta memasuki rumah yang hanya pernah ia inapi satu kali itu.


"Duduklah, nak! Kamu mau kopi?" tawar Mama Shinta sembari melepas mukenanya, dan masuk ke ruang tengah untuk meletakkan mukenanya.


"Tidak usah, Ma! Zio cuma ingin bertemu Mama saat ini." jawab Zio menghela nafas berat. Ia bingung harus memulai dari mana. Melihat Mama Shinta yang pulang dengan membuka kunci pintu dulu, bisa di pastikan jika tak ada orang lain selain Mama Shinta di rumah ini.


"Memangnya ada apa, nak?" tanya Mama Shinta kembali ke ruang tamu dan duduk di hadapan Zio. "Kamu kok tumben kesini sendiri, kemana Calina? Ini kan hari sabtu?"


Zio kebingungan, mendengar pertanyaan Mama Shinta, membuat semua semakin jelas, jika Mama Shinta tak tau di mana Calina berada. Bahkan tak tau jika Calina pergi dari rumah.


Zio menurunkan satu lututnya dan ikuti lutut satunya. Berdiri di hadapan Mama Shinta dengan menjadikan lutut sebagai penopang tubuhnya yang gagah. Kepalanya masih menunduk dalam, masih ragu untuk menatap wajah Mama Shinta yang ekspresinya terlihat datar - datar saja.

__ADS_1


"Ada apa, Zio? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Mama Shinta heran.


"Ma... Maafkan Zio..." lirih Zio terdengar sangat pilu.


"Maaf? Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu lakukan pada Mama, sampai kamu minta maaf pada Mama dengan cara seperti ini?" tanya Mama Shinta menatap sedih menantu satu - satunya itu.


Ia tahu permasalahan di dalam rumah tangga putrinya. Tapi tidak lantas membuat Mama Shinta membenci Zio. Meski dalam hati kecil seorang Ibu, pasti ada rasa kecewa yang teramat dalam.


Namun bagaimanapun Mama Shinta harus bijak dalam menyikapi permasalahan pelik dalam rumah tangga. Jangan sampai anaknya menjadi janda karena sebagai Ibu ia gagal menyikapi masalah putrinya dengan baik.


Zio mendongak, menatap sendu sepasang mata Ibu mertuanya. "Ma, Zio yakin Mama sudah tau apa yang terjadi antara Zio dan Calina."


"Memangnya apa yang terjadi sekarang?" maksud Mama Shinta adalah menanyakan permasalahan baru di antara keduanya.


"Mama mungkin tau, kalau Zio..." Zio menggantung kalimatnya dan kembali menunduk. Ia ragu dan malu menceritakan semuanya saat ini. Saat penyesalan mulai menggelayuti hati, rasanya sudah terlambat.


"Kalau kamu punya istri lain?" tanya Mama Shinta langsung pada intinya.


Sontak Zio mendongakkan kepalanya. Menatap tak percaya pada Ibu mertuanya yang bisa menebak dengan rinci. Sepasang mata membulat nyaris sempurna.


"Jika itu yang kamu maksud, Zio. Maka Mama sudah tau. Bahkan semua masalah di dalam pernikahan kalian." jawab Mama Shinta datar. Tak ada ekspresi murka di wajahnya. Semua masih terlihat lembut, namun jelas memancarkan kekecewaan yang teramat dalam. "Dan bukan hanya Mama yang tau, Zio. Almarhumah Mama kamu sendiri pun tau, kalau kamu punya dua istri. Dan Calina adalah istri yang kamu sia - siakan. Iya, kan?"


Bagaimana ia bisa meminta maaf, dan mengakui segala kesalahannya saat sang Bunda telah pergi untuk selamanya. Menyisakan duka yang semakin terasa menusuk begitu dalam.


"Ma.. Maafkan Zio, Ma!" ucap Zio dengan mata kembali berkaca - kaca dan menggenang. Ia maju mendekat dan meraih kedua tangan Mama Shinta yang berada di pangkuan. Menciumnya beberapa kali seperti pengantin melakukan sungkem. "Ampuni Zio, Ma! Maafkan Zio sudah membuat Calina hidup menderita bersama Zio selama ini..." ucap Zio terdengar parau. Air mata mulai terjatuh bebas.


Mendengar kata menderita, membuat sepasang mata Mama Shinta yang menatap kosong ke depan, seketika meluncurkan cairan beningnya secepat kilat. Dada naik turun menahan isakan agar tidak sampai meledak.


"Kamu harus tau, Zio..." ucap Mama Shinta tanpa menunduk, tanpa melihat menantunya sama sekali. Ia biarkan tangannya berada dalam dekapan Zio yang mulai menitikkan air mata di sertai isakan kecil. "Sebagai seorang Ibu, tentulah Mama kecewa, sangat kecewa!" Mama Shinta menekan kata kecewa yang memang benar adanya.


"Putri Mama satu - satunya, putri Mama yang paling kami cintai harus menjalani biduk rumah tangga yang tidak mudah. Menjadi istri kedua tanpa ia ketahui sebelumnya. Menjadi istri sandiwara di hadapan kami semata. Tidak ada cinta, tidak ada mimpi indah, atau bahkan sekedar harapan indah untuknya dari mu." Air mata kembali meluncur bebas.


"Dimana ia memimpikan untuk hanya akan menikah sekali seumur hidup." jelas Mama Shinta. "Kamu tau, sebelum pernikahan kalian terjadi, ia berkata bahwa hanya akan menambatkan hatinya pada suaminya nanti, yaitu kamu. Calina berjanji akan patuh dan menurut pada suaminya, yang mana itu adalah kamu."


"Tapi apa yang ia dapat setelah pernikahan kalian, Zio?" tanya Mama Shinta menahan isak tangis. "Luka, kecewa dan kehancuran saat melihat ternyata kamu sudah punya istri lain sebelum dirinya. Dunia seolah menjungkir balikkan hatinya begitu saja."


"Maafkan Zio, Ma..." lirih Zio berulang. Dan kini air mata sudah semakin deras di pipinya. Tak pernah terlihat menangisi hal lain selain kepergian kedua orang tuanya, tentu membuat Zio siang itu seperti anak kecil yang merengek pada Ibunya.

__ADS_1


"Calina adalah putri kami satu - satunya. Anak yang Mama lahirkan dengan bertaruh nyawa. Dan kamu tau, kami harus menunggu kehadirannya di dalam rahim Mama selama beberapa tahun lamanya." lirih Mama Shinta. "Anak yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang di rumah ini, ternyata sama sekali tak mendapatkan kasih sayang di rumah suaminya." ucap Mama Shinta semakin terdengar pilu. "Hati Ibu mana yang tidak akan sakit melihat anaknya menderita. Tanpa pernah berbagi keluh kesah pada Mama ataupun Almarhum Papa nya."


Suara tangisan Zio mulai terdengar lebih keras dari sebelumnya. Namun tangisan Mama Shinta adalah tangisan paling pilu yang terdengar saat ini.


"Jika Ayahnya masih hidup, ia pasti mengambil kembali permata kami yang sudah dengan bodohnya kami serahkan pada pemuda tampan yang tak berhati seperti kamu."


Berat rasanya mengatakan menantunya sebagai pemuda tak berhati. Tapi kenyataan yang ia ketahui memang seperti itu.


Zio menangis sejadi - jadinya. Merasa malu, bodoh dan menjadi laki - laki paling kejam di dunia.


"Sekarang katakan," Mama Shinta sedikit menunduk, melihat menantu yang tengah menangisi kebodohannya itu. "Kenapa kamu tiba - tiba datang kemari tidak bersama Calina? Atau kamu ingin mengembalikan Calina ke rumah ini?" tanya Mama Shinta dengan derai air mata yang tak terbendung, meski tak ada suara tangisan lagi, namun kehancuran masih jelas terlihat.


Zio menggeleng cepat, "tidak, Ma! Sama sekali tidak!" ucap Zio cepat, seolah menolak keras penyataan Ibu mertuanya.


"Lalu untuk apa, nak? Kalau kamu ingin mengembalikan Calina ke rumah ini, kami akan menerimanya dengan lapang. Itu lebih baik untuk Calina dan kami. Dari pada kamu meninggalkan anak ku tanpa kabar atau tanpa kepastian."


Zio semakin menggeleng cepat. Ia mendongakkan kepalanya menatap sang Ibu mertua dengan penuh harapan.


"Jika bagimu Calina adalah beban, kembalikan. Itu lebih baik untuk kalian berdua. Lagi pula kedua orang tua mu sudah tidak ada. Papa Rudi juga sudah tidak ada. Tidak ada lagi yang mengharuskan kalian untuk tetap bersama."


"Kamu bebas menentukan pilihan, Zio.... Tapi jangan sakiti anak Mama..." ucap Mama Shinta semakin terdengar pilu.


"Ma... Zio sama sekali tidak menginginkan Calina pergi! Justru sekarang Zio..." Zio kembali menggantung kalimatnya.


"Apa?"


"Calina pergi dari rumah, Ma..." tangisan Zio semakin pecah mengatakan hal yang membuatnya seharian ini pontang - panting.


"Apa!" pekik Mama Shinta. "Apa maksud kamu, Zio? Sejak kapan! Kenapa dia bisa pergi tanpa pamit terlebih dahulu!"


Mama Shinta yang shock memberondong Zio dengan berbagai pertanyaan yang membuat Mama Shinya shock berat.


"Zio juga tidak tau, Ma! Dia hanya meninggalkan surat ini!"


Zio yang menangis mengeluarkan selembar kertas yang ia lipat dari saku celananya. Kemudian menyerahkan pada Mama Shinta.


Dengan rasa kecewa, khawatir yang bercampur aduk, Mama Shinta berteriak pilu.

__ADS_1


"Calinaa!"


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2