Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 139 ( Mencari Ide )


__ADS_3

Terkadang Tuhan memberikan kita kehidupan yang di penuhi dengan kenikmatan harta berlimpah, bukan berarti mencintai kita, bukan juga karena ingin mengangkat derajat kita. Karena derajat manusia di mata Tuhan adalah sama. Bukan di lihat berapa banyak harta kita, dan berapa banyak jumlah saham yang kita miliki. Karena semua itu hanyalah titipan Tuhan semata.


Tapi kekayaan itu terkadang di berikan Tuhan kepada manusia untuk menguji mereka. Bagaimana sikap, sifat dan juga cara mereka bersyukur ketika Tuhan ikut turun tangan untuk membantu mempermudah mereka menjadi kaya dan bergelimang harta.


Bukan pula mereka yang kekurangan adalah mereka yang diabaikan oleh Tuhan. Justru terkadang merekalah yang di cintai Tuhan. Karena mungkin dengan keadaan seperti itu, mereka menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Dan jika mereka di berikan kekayaan, Tuhan takut mereka akan menjauh.


Yang jelas, tangan Tuhan tidak akan pernah melepaskan makhluknya begitu saja. Tuhan akan memberi pertolongan di waktu yang tepat. Di saat kita semua menemukan pelajaran hidup yang luar biasa.


Namun tak jarang manusia lupa untuk bersyukur dan semakin tamak dengan apa yang mereka miliki. Merendahkan orang lain, atau bahkan memilih-milih teman utuk bergaul, dengan dalih sederajat.


Dan yang paling fatal, ketika Tuhan memberikan kehidupan yang di penuhi degan uang yang mengalir, justru mereka mendidik anak menggunakan uang, bukan menggunakan otak dan akhlak.


Memanglah benar jika seseorang harus berusaha untuk bisa mencapai kesuksesan. Tapi jangan lupa, jika usaha keras bisa saja akan sia-sia jika tidak disertai oleh Tuhan. Melewatkan do'a untuk memohon kemudahan jalan pada Tuhan Yang Maha Esa.


Mereka seolah lupa, jika di atas langit masih ada langit yang luas dan lebih tinggi!


Seperti halnya kisah satu ini. Dimana seseorang yang bisnisnya di berikan kemudahan oleh Tuhan sampai puluhan tahun lamanya, justru lupa jika semua adalah titipan. Dan sampai pada satu titik, akhirnya kehancuran itu datang perlahan dengan cara yang sangat singkat.


***


Afrizal, lelaki berusia setengah abad lebih sedikit itu adalah seorang pengusaha yang mengelola dan mendirikan satu perusahaan besar. Di mana di dalam perusahaan itu ada beberapa Investor yang cukup terkenal di dunia bisnis yang ada di negara ini.


Salah satunya nama besar perusahaan Adhitama Group ada di barisan pertama dari 2 investor terbesar yang tergabung di dalam bisnis expedisi yang terbesar di seluruh pulau Jawa, ARL Express.


Bukan hanya ARL express, Afrizal juga memiliki bisnis lain yaitu Taxi online yang tersebar di seluruh pulau jawa.


Namun setelah puluhan tahun lamanya ia mendirikan perusahaan itu, Tuhan mengujinya dengan satu masa di mana ia harus bersiap untuk jatuh, sejatuh-jatuhnya. Hanya karena satu kesalahan sepele yang di akibatkan oleh dirinya sendiri yang kurang memperhatikan tingkah anak-anaknya.


Lebih dari itu, mungkin saja mereka tipe orang-orang yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang mereka miliki.


Satu julukan, wanita murahan yang di sematkan oleh sang putri pada istri penerus Adhitama Group, membuat mereka seolah tengah bergelantungan di ranting pohon yang tumbuh di atas tebing yang dalam. Di mana di bawah sana ada jurang dan semak belukar yang siap untuk menjadi tumpuan sang pengusaha dalam keadaan hidup atau mati.


Kalau tidak mati, sudah past terluka parah. Dan 90% cacat.


Seperti itulah nasib sang pengusaha. Jika ia mengembalikan 20% saham Adhitama, memang ia masih bisa berdiri. Tapi saat itu terjadi pasti benyak Investor lain yang akhirnya bertanya-tanya. Untuk  kemudian ikut menarik saham mereka. Lalu nasibnya ke depan, bagiamana?


Entahlah, biarlah cerita itu akan menjadi pelajaran kita semua. Untuk saling menghargai.


Kabar mengejutkan akhirnya benar di terima oleh Afrizal, membuat dirinya beserta seluruh keluarganya kini seolah tengah bergelantungan di ranting pohon yang tidak lagi segar. Melainkan pohon yang rapuh dan siap menjatuhkan mereka ke dalam jurang yang dalam itu.


"Tuan, Adhitama Group menarik seluruh saham yang mereka tanamkan pada anda!"


"A...APA!!!" Afrizal memekik kencang hingga membuat sang istri yang resah langsung menoleh pada sang suami yang masih berdiri di depan pintu dengan sepasang mata yang terbelalak lebar.


Ada apa? pikir sang Nyonya Afrizal yang semakin bingung dengan ekspresi sang suami.


"Katakan padaku, jika kamu berbohong!" hentak Afrizal pada Romi yang sedang berada di kantor pusat kepimpinan Afrizal.

__ADS_1


"Mana mungkin saya berbohong, Tuan! surat resmi terpampang nyata di layar laptop saya! Dan itu berasal dari email resmi milik Pak Venom!" jawab Romi dengan sedikit terengah. Laki-laki berusia 32 tahunan itu sungguh terlihat frustasi. "Saya akan kirim ulang ke email Tuan sekarang! Dan akan semakin baik, jika Tuan segera datang ke kantor!"


"Baiklah! tunggu aku!" jawab Afrizal dengan dada bergemuruh ia matikan ponsel dengan meninju udara menggunakan tangan yang masih menggenggam ponsel yang seketika padam itu.


Seolah tak ingin lagi mendengar kabar itu. Atau membuka email yang akan di kirimkan oleh Romi, sang Asisten.


"Ada apa, Dad?" tanya Gita yang sejak tadi menatap dengan penuh tanda tanya pada sang suami yang jelas terlihat sangat emosi.


"Adhitama menarik semua sahamnya!" ujar Afrizal dengan kepala yang seketika itu terasa begitu pusing dan berat. Rasa frustasi mengoyak kejiwaan yang sebelum ini baik-baik saja dan tenang-tenang saja.


"Apa?" pekik Gita dengan nafas yang tertahan, mata terbuka lebar. Dan mulut pun ikut membulat saking kagetnya.


Bagi sang wanita, bukan hanya dunia yang runtuh di atas kepalanya. Tapi segala sesuatu yang ada di depan mata serasa menutup pandangannya pada seisi dunia.


Apa kata geng sosialita yang ia ikuti? Jika sampai mereka tau, Adhitama Group, Investor terbaik melepaskan diri dari perusahaannya.


Apa kata tetangga yang selama ini memuji kesuksesan Afrizal?


Dan bagaimana jika rumah pun pada akhirnya akan ikut hilang kepemilikan akibat tak kunjung bisa bangkit?


"Tidak!" gumamnya lirih dengan sedikit menghentak. "Tidak mungkin! aku tidak mau kita miskin, Dad!" ujarnya dengan dada yang tak kalah bergemuruh dari sang suami. Mengingat saham mereka hanya 30%. Yang mungkin saja akan habis untuk memenuhi tuntutan dei tuntutan yang mungkin akan mereka dapatkan dari para pekerja.


"Memangnya Mommy pikir Daddy mau jadi miskin!" jawab Afrizal setengah menghentak sembari menggaruk kasar kepalanya sebelah kiri. "Daddy jug tidak mau kita miskin!"


"Lakukan sesuatu, Dad! kita harus segera mendatangi Tuan Kenzo!" ujar Gita dengan menarik-narik jas dengan kancing terbuka yang di kenakan oleh Afrizal.


"Sedikit banyak Daddy tau siapa dan seperti apa Tuan Kenzo Adhitama itu!" jawabnya dengan dada yang naik turun karena nafas yang terengah untuk menetralkan perasaan. "Dia tidak akan semudah itu memaafkan Zuria dan kita! Buktinya saja dia membawa-bawa saham karena masalah yang di perbuat oleh anak kita!"


Gita menarik nafas dan membuangnya resah. Berpikir keras untuk mencari solusi terbaik. Karena mencari Investor baru untuk menutupi semua ini pastilah tidak mudah. Belum lagi berita penarikan saham yang di lakukan oleh Adhitama Group akan sangat cepat terendus media massa, khususnya pengejar berita bisnis. Dan dengan cepat beredar ke seluruh pelosok negeri.


"Bagaimana kalau kita mendatangi Tuan Adhitama langsung?" saran sang wanita. "Mommy yakin, Tuan Adhitama masih punya Hak untuk keputusan satu ini, Dad!" usulnya. "Bukankah Tuan Adhitama sangat baik. Yaa... meskipun kadang-kadang memang menjengkelkan.


"Daddy juga berfikir seperti itu!" jawab Afrizal menatap lekat sang istri.


"Sebaiknya kita lebih dulu menemui Tuan Adhitama, sebelum Tuan Kenzo mengadu. Kita pasti bisa mengambil hatinya kembali, Dad! Toh selama ini proses bagi hasil selalu lancar!"


"Mommy, benar!" sahut Afrizal segera meminta sang istri untuk bergeser duduk. "Jalan, Pak!" ujar Afrizal pada sang sopir setelah menutup pintu penumpang.


"Baik, Tuan!" jawab sang sopir yang menuruti saja keinginan majikannya dengan mengerutkan keningnya.


Mobil melaju meninggalkan area parkir khusus untuk tamu. Mobil Alphard berwana hitam itu melaju pelan keluar dari kotak parkir, untuk kemudian melintasi pagar pemeriksaan dan lolos dengan sangat mudah. Karena memang memiliki identitas wali murid.


Namun sayang seribu kali sayang.... Saking paniknya dengan kondisi dan situasi buruk yang sedang melanda sepasang suami istri itu, mereka sampai melupakan sesuatu.


"Mommy? Daddy?" gumam Zuria yang celingak celinguk di area parkir khusus tamu, setelah 3 menit mobil Afrizal melintasi pos pengamanan.


Gadis cantik dengan kulit putih itu mendatangi parkiran untuk menemukan kedua orang tuanya yang katanya akan menunggunya di mobil. Dan sudah pasti jika mobil mereka terparkir di parkiran khusus untuk tamu.

__ADS_1


"Mommy!" seru Zuria mencari keberadaan orang tuanya ditempat parkir yang tak ada satu mobil pun itu.


"Kalian meninggalkan Zu disini?" hendak Zuria mulai berfikir jika kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan sekolahnya.


"Daddy! Mommy!" seru Zuria meremas udara di tangannya dengan sangat erat. Bahkan gigi ikut mengerat. Dan kaki menginjak Bumi dengan sangat kesal disertai gemuruh di dalam dada.


Cepat-cepat Nona Muda Afrizal itu mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi sang Ayah yang entah sudah samapi di mana. Yang jelas ia harus pulang. Karena jika di tinggalkan seperti ini, ia tak tau harus pulang dengan siapa.


Karena sekolah tidak akan membiarkan dirinya untuk meninggalkan sekolah jika tidak sesuai dengan kesepakatan antara pihak pengamanan dan orang tua. Karena aturan Alexander International School yang sangat ketat. Dan ia tidak memiliki opsi dalam pulang pergi sekolah kecuali antar jemput oleh sopir atau orang tua.


"Daddy!" teriak Zuria menebas udara karena ponsel sang Daddy tidak bisa di hubungi.


Tentu saja! karena ponsel sang Ayah sudah dalam mode off. Alias di matikan setelah mendapatkan kabar buruk dn Asistennya.


"Mommy!" ucapnya segera mencari nomor ponsel sang Mommy.


"Ayo angkat, Mommy!" gemas Zuria karena sang Mommy tidak segera mengangkat panggilan telepon darinya.


"Huaa!" teriak Zuria karena sang Mommy tidak mengangkat panggilan telepon.


Ya, karena ponsel sang Mommy dalam mode silent. Sudah di dalam mode silent sejak beberapa saat yang lalu, ketika hendak memasuki ruang BK. Sehingga ketika ponsel di dalam tas mewah itu berdering, sang pemilik tidak bisa mendengarnya.


"Daddy! Mommy! kalian benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa lupa kalau punya anak yang tadi di suruh ke kelas untuk mengambil tas!" omel Zuria seperti orang gila.


"Padahal sopir satunya sedang libur! Tega sekali kalian meninggalkan Zu di sini! apa kata teman-teman nanti kalau melihat Zu masih berada di sekolah?" gerutunya. "Padahal tadi Zu bilangnya akan pulang bersama kalian... Dan satu jam lagi mereka akan keluar!"


"Oh my God!"  seru Zuria menatap hamparan langit putih bercampur biru yang jauh di atas sana.


Zuria kepusingan sendiri di area parkir. Berulang kali ia menghentak paving yang berbaris rapi dan rapat. Dan berulang kali pula ia terlihat seperti hendak menangis. Menangisi hari yang terasa begitu buruk. Hari yang di penuhi kesialan untuk dirinya dan juga keluarganya.


Semua berawal dari rasa percaya diri yang berlebihan. Membuat mereka semua seperti orang yang lupa diri. Zuria dengan congkaknya melebarkan permasalahan sepele sampai membawa-bawa orang tua.


Sebelum itu Afrizal dan istrinya juga termasuk orang yang sombong dan pilih-pilih dalam berteman. Yang di kejar oleh mereka adalah mereka yang masuk dalam jajaran kelas atas. Tanpa menyadari jika mereka sendiri juga termasuk golongan menengah jika saja hanya mengandalkan 30% saham yang mereka miliki.


***


"Tuan Adhitama ada?" tanya Afrizal pada security yang berjaga di pos pengamanan rumah mewah Adhitama yang berada satu komplek dengan rumah Kenzo.


"Apa Tuan sudah ada janji dengan Tuan Adhitama?" tanya security yang tak ingin kecolongan pengamanan.


"Belum... tapi kami saling mengenal! Saya yakin beliau tidak akan menolak kedatangan kami!" jawab Afrizal percaya diri. Tentu ia masih percaya diri untuk mengangkat dagu di hadapan security.


Security mengamati Afrizal dengan seksama. Menatap tamu yang tak di undang itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Tunggu sebentar, Tuan... saya akan menghubungi orang rumah!" jawab Security singkat dan langsung masuk ke dalam pos penjagaan melalui pintu pagar yang hanya bisa di lewati oleh satu orang saja. Alias lebarnya tidak sampai 1 meter.


"Ya! cepatlah" jawab Afrizal dengan ekspresi yang menutupi raut wajah aslinya.

__ADS_1


...🪴 Bersambung... 🪴...


__ADS_2