
Memasuki komplek perumahan elit dengan nama besar Paragon House & Residence, Cla mengendarai sendiri mobil mini cooper merah miliknya.
Jantung sudah berdetak tidak beraturan bagai sedang berlari kencang karena tengah di kejar tembakan peluru yang mengincar nyawanya.
Sepanjang jalan berbagai jenis bayangan berkeliaran mengisi kepala dan ingatannya. Sudah sangat tidak sabar untuk bisa sampai di rumah mewah milik keluarga Wilson.
"No...No...No..." Cla terus saja menggelengkan kepalanya setiap mengingat kalimat Arsen yang mengatakan dirinya milik orang lain. Sungguh ia tak ingin Arsen memiliki pemikiran jika dirinya dan Vino memiliki hubungan apapun.
"Apa yang terjadi semalam cukup viral, Sen! Semua teman-teman menjadikan momen semalam sebagai story mereka, meskipun endingnya tidak sesuai harapan mereka... Apa kamu tidak tau?" gumamnya berulang kali.
Menghela nafas kasar terus menerus. "Sejak kapan kamu meninggalkan semua media sosial, sampai tidak tau akhir dari cerita semalam?"
"Yaa Tuhan... Kenapa harus seperti ini?" gumamnya meremas kemudi bundar ketika sudah parkir di depan rumah mewah keluarga Wilson.
Cla menatap lurus ke depan sebelum ia turun dari mobil. Menyiapkan hatinya, mempersiapkan segala sesuatu untuk memberi penjelasan pada sang pembalap yang entah saat ini sedang apa.
Melihat wajahnya yang masam dan bekas tetesan air mata melalui cermin tengah mobilnya, Cla di buat miris dengan penampilannya pagi ini. Rambut panjang yang belum di sisir, wajah cantik yang belum tersentuh air di tambah belum gosok gigi.
Semalam ia tampil sangat cantik dan nyaris sempurna, tapi sang pemuda tak sedikit pun berada di sampingnya apalagi di hadapannya. Dan ia tak tau, apakah Arsen melihat penampilannya atau tidak tadi malam.
Sedangkan pagi ini, ia hendak menemui pemuda itu, tapi penampilannya justru nyaris seperti gadis pemalas yang jarang mandi dan baru bangun tidur. Ya, karena memang dia baru bangun tidur dan hendak menemui pangeran paling tampan di sekolah karena suatu hal yang memang terpaksa dan harus segera di luruskan.
"Penampilan mu sungguh menyedihkan, Cla..." lirihnya menatap resah. "Arsen mungkin akan mual melihat mu pagi-pagi seperti ini!" gerutunya pada diri sendiri.
Cla membuka dashboard, beruntunglah di sana ada sisir lipat kecil yang bisa ia gunakan untuk merapikan rambutnya yang berantakan. Mengambil tisu basah dan mengusap wajahnya yang masam.
Setelah di rasa rambut sudah sedikit rapi dan mata sudah tidak lagi menyisakan bekas air mata, keluarlah sang gadis dari mobil merahnya, dan langsung mendekati pintu pagar besi yang tingginya kurang lebih 3 meter itu.
"Cari siapa, Non?" tanya Security yang menyambut kedatangannya.
Melihat Cla keluar dari mini cooper, sudah bisa di lihat jika Nona satu ini bukan sembarang Nona. Sehingga security berusia sekitar 40 tahun itu langsung keluar dari pintu pagar yang biasa di gunakan oleh Security keluar masuk area pagar.
"Saya Clarice temannya Arsen," jawab Cla. "Apa Arsen ada, Pak?"
"Mas Arsen?" tanya sang Security mengerutkan keningnya.
"Ya, Pak," Cla mengangguk. "Arsen ada, kan?"
"Memangnya Nona tidak di beri tau? Kalau pagi ini Mas Arsen berangkat ke Amerika."
"What!" pekik Clarice dengan lidah yang tercekat, mata memicing tajam pada security itu. "Amerika?" tanya Cla memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ya, Nona..." jawab security itu.
"Pagi ini?"
"Ya, Nona!"
Lemas... Tubuh sang Nona muda terasa begitu lemas dan tidak karuan. Persendian di dalam tubuhnya terasa hendak lepas satu persatu.
Runtuh sudah harapan Clarice yang ingin memberikan penjelasan pada sang pemuda tentang kenyataan antara dirinya dan Vino. Cla menggelengkan kepalanya pelan, berharap semua ini hanyalah mimpi, dan anggap saja ia memang belum bangun dari tidurnya.
Tapi yang ada, ini benar-benar nyata, ia mengenakan baju yang di berikan oleh Arsen, ia juga mengenakan jam tangan pemberian sang pembalap. Tidak mungkin jika semua ini hanyalah mimpi semata. Kakinya yangn berbalut sendal tidur pun benar-benar berpijak pada Bumi.
"Untuk apa Arsen ke Amerika?" tanya Cla lirih. "Liburan?"
Ya, Cla berharap Arsen mengunjungi Amerika hanya untuk berlibur, bukan untuk tinggal atau menatap lama di sana. Karena jika itu terjadi, Cla akan semakin sulit menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan dan menceritakan semuanya.
Security itu tersenyum. "Mas Arsen mengambil kuliah di Columbia University, Nona..."
"Hah!" pekik Cla kembali dengan mata yang tadi memicing kini terbelalak cukup lebar. Guntur bagai menyerang jantung yang sejak tadi pagi sudah di hajar tidak karuan.
"Bukannya Arsen kuliah di Binus?"
"Setau saya, Mas Arsen itu daftar kuliah di dua tempat, Non. Satu di Binus, satu lagi di New York. Dan entah kenapa, semalam Mas Arsen memutuskan untuk mengambil kuliah yang di Columbia. Dan membatalkan yang di Binus." jawab Security dengan ramah.
Mulut Clarice terbuka cukup lebar, kali ini lidahnya benar-benar tercekat. Sungguh ia tak percaya akan menghadapi hal seperti ini. Kaki dan tangan terasa lemas seketika mendengar Arsen akan berkuliah di Amerika, sedang ia di Indonesia.
Padahal ia sudah membatalkan untuk kuliah di Aussie demi bisa satu kampus dengan Arsen. Tapi ternyata sang pembalap justru memilih untuk kuliah di New York, Amerika yang membutuhkan kurang lebih 22 jam perjalanan udara untuk bisa sampai di negeri paman sam bagian New York.
Jika keputusan itu di ambil semalam, itu artinya Arsen mengambil keputusan setelah merasa dirinya dan Vino menjalin hubungan.
__ADS_1
"Lalu kenapa nomor ponsel Arsen tidak bisa di hubungi, Pak?" tanya Cla. "Dan bahkan terakhir di lihat semalam."
"Kalau masalah itu saya kurang tau, Non..." jawab sang security. "Saya jarang berkomunikasi dengan Mas Arsen melalui telepon."
"Kapan dia berangkat, Pak?" tanya Cla dengan sepasang bola mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sudah berangkat ke Bandara sejak satu jam yang lalu, Non." jawab security itu. "Tapi sopir bilang mau mampir ke rumah temannya mas Arsen dulu."
"Satu jam yang lalu..."
Gumam Cla sembari mengingat-ingat kembali. Satu jam yang lalu berarti benar, Arsen mengantar box ke rumah nya terlebih dahulu dan barulah pergi ke Bandara.
' Pantas saja Mommy bilang, Arsen buru-buru... '
Ucap sang gadis dalam hati.
"Pesawat Arsen berangkat jam berapa?" tanya Cla dengan sedikit menghentak karena panik. Sungguhlah sang gadis ingin mengejar Arsen ke Bandara. Semoga Tuhan masih memberikan takdir untuk mereka bisa bersama.
"Sekitar pukul 8 sepertinya, Nona."
"Pakai penerbangan komersial atau pribadi?"
"Pribadi, Non. Karena Tuan dan Nyonya juga ikut berangkat!"
Cla langsung menoleh jam tangan pemberian Arsen yang masih melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"07. 10! Masih ada waktu untuk aku sampai di Bandara. Kalau tidak macet, pasti terkejar!" Gumam sang gadis yang langsung bergegas meninggalkan rumah Arsen setelah berucap terima kasih pada security yang menerima dan memberi penjelasan dengan sangat baik padanya.
Melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata yang biasa ia gunakan, Cla berharap sampai di Bandara jauh lebih cepat dari waktu yang biasa ia gunakan untuk bisa sampai di Bandara.
Roda mobil Clarice kembali berputar. Kali ini berputar dengan lebih cepat dari pada saat ia meninggalkan rumahnya tadi. Tapi apakah ia bisa sampai di Bandara sebelum jam 8 nanti?
Di saat hari minggu pagi, memang jarang ada mobil dan sepeda motor yang berkeliaran. Tapi tak sedikit pula jalan yang di tutup untuk di gunakan sebagai lokasi car free day.
Jantung Clarice kembali terasa seperti tengah di gempur oleh kenyataan hidup yang luar biasa menantangnya.
Selama dua tahun lebih menanti sang pemuda untuk mengucapkan kata I love you, namun tak pernah sekalipun terwujud. Bahkan hubungan terasa semakin jauh setiap harinya. Meski sesekali terlibat dalam adegan romantis.
Satu kalimat singkat yang merupakan gabungan dari tiga kata yang teramat pendek pula. Namun kalimat singkat yang merupakan pernyataan cinta itu selalu mampu membuat siapa saja merasa dirinya terasa melayang. Terbang ke angkasa, menikmati indahnya cakrawala.
Semua itu karena kalimat singkat satu ini di rasa sangat sakral dan bermakna sangat dalam untuk setiap pasangan muda mudi yang sedang di mabuk cinta dan kasih. Atau juga untuk mereka yang sedang menanti di berikan pernyataan demikian dengan sangat tulus oleh seseorang.
Contohnya Clarice...
Bertahun-tahun menanti, namun tak kunjung di dengarnya. Dan ketika mendapat kalimat itu, justru bertepatan dengan momen yang sungguh tidak tepat. Apalagi dengan di tambah kesalahpahaman yang membuat sang pemuda memilih untuk meninggalkan tanah air.
Sehingga membuat sang gadis kini harus berjuang untuk meluruskan apa yang sudah terlanjur bengkok ini.
Bisakah ia sampai di Bandara sebelum Arsen dan kedua orang tuanya terbang landas meninggalkan tanah air tempat ia dan sang pembalap dilahirkan?
Bisakah ia menyampaikan dan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi semalam, dan apa yang sesungguhnya ia rasakan dan ia pendam selama ini?
Hanya menggenggam ponsel di tangan kirinya, dan mengenakan setelan baju dan sandal tidur yang tidak seharusnya ia pakai di tempat umum seperti Bandara, Cla tidak peduli dengan tatapan aneh ratusan pasang mata yang ia lewati. Semua ia lintasi dengan cuek dan acuh. yang terpenting saat ini, ia harus segera sampai di loket informasi keberangkatan pesawat.
Melirik jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 07.55 WIB. Sungguh semua ini karena jalanan ramai oleh orang-orang yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan di luar rumah. Di tambah jalanan yang di tutup untuk car free day.
"Keluarga Tuan Jonathan Wilson menaiki pesawat pribadi milik beliau dengan jadwal penerbangan jam 08.00 WIB. Dan saat ini sedang melakukan take off." jawab petugas wanita dengan sangat ramah.
"Ha?" lirih Clarice menatap dengan tatapan tak percaya pada sang petugas. Jawaban ini sangat menghentak relung hatinya.
"Kalian tidak salah cek, kan?" tanya Cla yang sudah terlihat sangat ling lung saat ini.
"Tidak, Nona..." jawab petugas dengan sangat yakin.
Dengan kaki yang lemas, Cla berjalan gontai mendekati teras dekat landasan pesawat terbang. Tatapan matanya kosong ke arah depan. Bahkan tangannya pun nyaris tidak kuat walau hanya membawa satu ponsel di genggaman.
Berdiri di tepi pagar, di depan sana banyak sekali pesawat dengan berbagai nama yang terpampang di bagain body pesawat. Ada yang sedang landing, sedang parkir, atau bahkan yang siap lepas landas.
Mata Clarice tertuju pada salah satu pesawat pribadi yang keluar dari kandangnya. Cla menatap dari posisi yang sangat jauh saat ini. Tapi Cla yakin, itu pasti private jet yang akan membawa Arsen dan kedua orang tuanya meninggalkan Indonesia.
"Arsen?" panggil Cla lirih dengan mata yang siap menjatuhkan buliran bening.
__ADS_1
Gadis itu bak tengah melamun di tengah keramaian. Menatap ke arah private jet berwarna putih yang sedang berjalan pelan menuju jalan yang akan menjadi titik sang pilot melakukan lepas landas.
"Kenapa harus berpisah dengan cara seperti ini?" gumam sang gadis.
"Sen? Tidak kah kamu melihat aku di sini?" tanya Cla. "Aku seperti orang gila yang mengejar mu sampai ke sini dengan penampilan seperti ini..." lirihnya terdengar sangat pilu dan menyesakkan dada.
"Sen? Kenapa tidak sejak dulu mengatakan cinta padaku?" tanyanya lirih. "Kenapa?"
Sepasang mata Cla yang berkaca-kaca kini sudah meneteskan sebutir air mata dari masing-masing kelopak mata. Tatapannya masih pada private jet yang kini melintas di depannya. Meski di depan mata, tentu saja jarak mereka sangat jauh. Ratusan meter bahkan.
"Kalaupun seandainya dulu aku tidak bisa menjalin hubungan, setidaknya aku bisa berjanji untuk menjadi kan kamu cinta pertama ku, saat ijin untuk berpacaran aku dapatkan." ucapnya meremas pagar besi dengan sangat kuat.
Lirih pilu, penyesalan yang tiada arti, dan takdir yang tidak dapat di ubah menyelimuti Clarice yang kesepian di tengah hiruk pikuk Bandara International Soekarno Hatta.
Dan air mata yang sejak tadi ia coba untuk tidak turunkan dengan deras pada akhirnya harus berjatuhan dan membanjiri pipi putih mulus. Ketika roda private jet milik keluarga Wilson sudah tidak lagi menyentuh landasan pesawat.
Hingga roda pesawat masuk ke dalam sangkarnya. Dan burung besi itu kini menukik menuju langit cakrawala yang akan memberi jalan untuk mereka bisa sampai di New York, Amerika.
"Good bye... Arsen... Good bye.." lirih Cla di tengah isakan. "Thank you and sorry for your love..."
Dengan pundak yang naik turun, dada yang kembang kempis, nafas tersengal dan mata yang di penuhi dengan genangan air bening, Cla tetap setia melihat pesawat yang semakin lama semakin terlihat kecil dan akhirnya menghilang di telan awan putih.
Membiarkan diri untuk tetap berada di sana hingga beberapa waktu lamanya. Cla memuaskan diri untuk menyaksikan, mengingat, dan mengenang hari ini. Hari dimana seharusnya ia mendapatkan cinta yang ia inginkan. Namun semua harus berakhir pilu dan tidak tau bagaimana kedepannya.
Mengingat... Arsen benar-benar meninggalkan semua media sosial yang di miliki. Bahkan aplikasi chat pun sudah tidak bisa di kunjungi lagi. Otomatis komunikasi mungkin juga akan terhalang.
Dengan langkah gontai, lemas dan wajah kusut akibat air mata yang sulit ia hentikan hingga hampir satu jam lamanya, akhirnya sang gadis meninggalkan Bandara dengan perasaan hampa.
Tidak hanya berhenti di sana, ketika memasuki mobilnya, sang gadis kembali menangis tersedu. Menangisi takdir cinta yang belum juga berpihak padanya. Bahkan setelah kebebasan ia dapatkan dari kelurga.
"Lalu dengan siapa aku akan kuliah di Binus, Arsen?" gumamnya dengan suara yang bergetar.
"Aku memilih kampus itu karena kamu... Bukan karena yang lain..." lirihnya dengan nafs yang sulit di atur.
"Haruskah sekarang aku mengucapkan selamat tinggal?" tanyanya pilu, namun detik berikutnya kalimat itu justru membuat air matanya semakin deras mengucur.
"Aku tidak mau, Sen...."
Membiarkan diri tetap menangis hingga beberapa, sampai akhirnya ia ingat akan ucapan sang Ibu...
"Yakinlah... Takdir Tuhan selalu lebih baik dari rancangan manusia..."
Mengingat kalimat itu, Cla mengusap air matanya dengan tisu. Menguatkan hati untuk tidak larut dalam perpisahan ini.
"Aku yakin, tuhan mentakdirkan sesuatu yang lebih baik untukku!"
Gadis cantik berusia 18 tahun itu kini melajukan mobil nya meninggalkan Bandara. Melepas kepergian Arsen dengan hati yang lapang, meski ia tau semua ini tidak akan mudah untuk beberapa waktu ke depan.
Mobil mewah itu semakin jauh dari Bandara, dan terlihat sangat kecil jika di lihat dari langit, di mana Arsen tengah mengudara bersama keluarganya.
...🪴 THE END 🪴...
✍️ : Tidak terasa kita sudah sampai di episode terakhir novel Cinta Yang Tak Ku Rindukan. Novel ini lebih fokus untuk melupakan cinta yang tak di inginkan.
Seperti Calina yang tak menginginkan lagi cintanya pada Zio. Kemudian Clarice yang tak menginginkan lagi cinta yang pernah ada untuk Malvino Lubis.
Lantas bagaimana kisah cinta Clarice dan Arsen? Akan kah hanya sampai di sini?
Tentu tidak kawan! Kisah mereka akan di tulis menggunakan judul baru yang akan tayang perdana pada Senin, 24 Juli 2023. Di platform yang sama dan di tulis oleh Author yang sama.
Jika di tanya kenapa ganti judul?
Karena kisah Clarice dan Arsen di masa depan sangat tidak cocok dengan tema dan judul novel ini ya, Kak. Jadi Author harus membuat judul baru.
Masih ada Extra Part yang akan tayang hari Rabu.
Tapi BTW cerita apa yang akan di tayangkan oleh extra part? Tunggu ya, Readers... 😉
Regards,
Lovallena ❤️
__ADS_1