Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 119 ( Nonton Balap Liar 1 )


__ADS_3

Clarice memutuskan untuk kembali membaca novel Dilan yang ada di tangannya, setelah merasa salah tingkah akibat melihat adegan yang membuatnya sedikit... muak.


Saat sedang asyik lanjut membaca dan berangan, ia menggumamkan sesuatu yang bisa di dengar oleh Vino yang kembali masuk ke dalam gedung sekolah.


"Aku!" jawab Vino ketika di tanya oleh Clarice siapa gerangan sosok yang seperti Dilan.


"Kamu?" tanya Clarice tak percaya dengan jawaban Vino. "Kamu, Dilan? jangan mimpi! Percaya diri sekali!" ucap Cla sedikit memicingkan mata.


"Dilan tampan di masa dulu, dan aku juga tampan di masa kini..." jawab Vino.


"Tapi sepertinya... Dilan tidak pernah di cium ataupun mencium pipi gebetannya sebelum mereka resmi berpacaran!" sindir Clarice pada apa yang baru saja di lakukan Neha pada Vino.


Clarice masih sangat tidak suka dengan apa yang baru saja dia lihat. Selain kecewa, juga ada rasa cemburu yang sesungguhnya tak boleh ia rasakan. Sehingga sesekali ia menyahuti kalimat Vino dengan sedikit ketus.


"Kamu melihatnya?" tanya Vino dengan sedikit ragu.


Namun ia tidak bisa memungkiri jika Clarice pasti melihatnya. Apalagi dinding kaca putih itu hanya tertutup oleh beberapa garis. Yang artinya, orang - orang di dalam tetap bisa melihat mereka di luar, dan begitu juga sebaliknya.


"Aku tidak buta, tentu saja aku melihatnya!" ketus Clarice kembali menunduk dan melihat barisan huruf di dalam novel dengan sampul biru muda itu.


"Memangnya salah kalau dia mencium pipiku?" tanya Vino.


"Mungkin di jaman sekarang... itu tidak salah!" jawab Clarice tanpa melihat Vino. "Salahnya adalah kenapa kalian melakukan itu di saat ada orang di sekitar kalian? juga di area sekolah?" tanya Clarice mulai menatap Vino dengan tatapan kesal. "Apa kalian lupa kalau ada CCTV?" tanya Clarice melirik CCTV yang mengarah keluar gedung.


Atau lebih tepatnya mengarah pada jalanan di depan lobby, di mana siswa siswi biasa di turunkan atau di naikkan oleh jemputannya.


Vino tersenyum tipis tanpa melihat Clarice, tapi melihat ke arah tangga. Dan di saat senyum itu muncul ketampanan pemuda itu semakin terlihat nyata di depan Clarice.


Namun hati Cla yang sedang dirundung perasaan yang tidak ia inginkan, justru membuang muka di mana biasanya ia sampai harus mencuri pandang pada Vino. Ia benar - benar muak dengan apa yang di lakukan dua anak muda tadi.


"Apa tadi kamu tidak lihat? kalau dia mencium pipi ku dengan tiba - tiba." jawab Vino. "Aku bahkan tidak tau kalau dia berani mencium pipiku. Selama aku mendekatinya, baru kali ini dia mencium pipiku." jelas Vino.


"Cih!" acuh Clarice memilih untuk kembali membuang muka. "Memangnya kamu pikir aku bisa percaya semudah itu?" cibir Clarice menunjukkan sikap tidak percaya pada sang idola.


Kembali tersenyum, "Kenapa kamu terlihat sangat kesal?" tanya Vino. "Padahal yang di cium aku... bukan pacarmu..." lanjut Vino semakin tersenyum menggoda.


Sontak Clarice mendelik mendengar kalimat Vino. Apa ia benar - benar terlihat kesal saat berkata tadi? Ah! sial!


"Siapa yang kesal?" kilah Clarice tak ingin mengakui tentu saja.


"Tentu saja kamu! kan kamu yang sedang berbicara dengan aku." jawab Vino. "Atau...sebenarnya kamu cemburu?" tanya Vino percaya diri.


"Cemburu?" tanya Cla sedikit memekik. "Untuk apa?"


Menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan, "Menurutku Neha mungkin sengaja melakukan itu di depan kamu..."


"Kenapa sengaja?" tanya Clarice memicingkan matanya pada Vino.


"Ya... biasanya seorang gadis itu peka, kalau ada gadis lain yang menyukai lelaki yang sedang jalan bersamanya..." ucap Vino tersenyum penuh arti.


Clarice memikirkan maksud dari kalimat Vino, sampai akhirnya dia paham maksud dari sindiran sang ketua kelas.


"Jadi maksud kamu... Aku menyukai kamu, begitu?" tanya Clarice menahan warna merah di pipinya supaya tidak sampai muncul.


Apa semudah itu orang membaca gerak geriknya?


Tidak! Vino tidak boleh tau jika selama ini ia mengidolakan sang Atlit.


Mau di taruh di mana mukanya, jika sampai ternyata Vino menyadari, jika setelah scene di lapangan basket sore itu, ia terus mengharapkan untuk bisa berhubungan baik dengan sang lelaki?


Intinya, yang di inginkan Clarice adalah jangan sampai kekagumannya pada Vino di ketahui oleh orang lain, apalagi Vino sendiri.


"Dulu waktu aku masih SMP, banyak yang mengidolakan aku diam - diam. Tapi aku lebih fokus mengejar gadis yang aku sukai di banding mereka." ucap Vino penuh percaya diri. "Dan mungkin saja sekarang kamu salah satu gadis yang mengidolakan aku diam - diam." ujar Vino tergelak tanpa suara.


Meskipun benar, Clarice tetap memberikan ekspresi mencibir. Dengan cara membulatkan matanya lebar, memiringkan bibir, dan terakhir ia menutup buku dengan sangat keras. Seolah mempertegas pada Vino, jika argumen sang pemuda tidak benar untuk dirinya.


Clarice kini menarik nafas panjang dan membuka mulutnya lebar. Ingin berucap, tapi bingung apa yang harus ia katakan.


"Lalu sekarang... kamu merasa semua gadis di sekolah ini mengagumi kamu?" tanya Clarice.


"Tidak semua... tapi aku yakin ada!" jawab Vino tanpa ragu.


Clarice tergelak dengan suara kekehan yang lirih, "Kenapa 70% laki - laki di sekolah ini terlalu percaya diri?" tanya Cla tanpa melihat Vino.


"Aku tidak pernah mengatakan apa yang aku ceritakan sekarang adalah karangan. Semua benar adanya!"


"Dan aku tidak peduli kalaupun cerita kamu itu benar - benar nyata!" sahut Clarice dengan nada setengah mengejek. "Yang aku tau,, kamu itu buaya darat!"


Tergelak lirih, "Padahal aku ini tipe cowok setia!" jawab Vino membuat Clarice memperhatikan Vino dengan dahi yang berkerut. "Kalau aku sudah punya kekasih, aku pasti akan setia dan mencintai dia sepenuh hati." lanjutnya.


Lagi - lagi Clarice mencibir jawaban Vino, pandangan matanya mengamati sekitar. Kemudian ia berucap...


"Maaf boy! aku kurang percaya padamu!" ucap Clarice berdiri dari duduknya, dan melangkah di depan Vino. "Bye!" pamit Cla segera mendekati pintu keluar. Karena mobil yang sangat ia kenali sudah ada di depan sana, menunggu dirinya untuk datang.


Vino yang di ejek hanya bisa tergelak tanpa suara. Dalam hati ia berkata, perempuan memang di ciptakan dengan berbagai sifat dan gaya. Sementara tatapan matanya mengikuti langkah Clarice yang kini mendekati mobil berjenis CRV warna putih.


***

__ADS_1


"Papa!" seru Clarice begitu memasuki pintu mobil bagian depan.


"Maaf, Sayang... Papa terlambat.." ucap Papa Zio ketika sang anak gadis bersalaman dan mencium punggung tangannya.


"it's okay, Papa!" jawab Clarice tanpa terlihat raut wajah yang sedih.


' Justru dengan Papa terlambat menjemput Cla, Cla jadi tau seperti apa sosok Malvino Lubis! '


Batin Clarice melirik ke arah pintu lobby. Di mana ia masih bisa melihat Vino duduk di sana.


"Kita langsung pulang?" tawar Papa Zio. "Mama sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua."


"Okay, Pa!" jawab Clarice sembari memakai seat belt di depan dadanya.


Dan mobil pun melaju meninggalkan sekolah terbaik di Ibukota yang terkenal dengan biayanya yang fantastis. Dan semua itu imbang dengan fasilitas dan kurikulum yang di terapkan.


***


Rumah yang di beli oleh Zio saat masih bersama Naura, kini terasa begitu ramai. Rumah itu di huni oleh keluarga baru Zio, tanpa meninggalkan kenangan sosok Naura Azalea. Foto wanita cantik dengan kulit putih mulus itu tetap terpajang di salah satu sisi dinding di ruang tengah.


Kini mobil CRV Papa Zio sudah sampai di halaman parkir. Dan seorang gadis kecil bernama Zefanya, atau biasa di panggil Zefa menyambut kedatangan sang Papa dan sang Kakak perempuan.


"Papa! Kak Clarice!" seru gadis mungil berusia 4 tahun itu.


"Hai, Zefa!" balas Clarice mendekati sang adik. Kemudian menggendong gadis kecil itu untuk masuk ke dalam rumah bersama, menemui Mama Zahra yang ternyata masih menyiapkan makan malam di meja makan.


"Sore, Ma!" sapa Clarice mendekati Mama sambungnya, kemudian mencium pipi Mama Zahra tanpa bersalaman. Karena tangan Mama Zahra masih belepotan. Sehingga wanita cantik yang merupakan mantan karyawan Adhitama Group itu menolak untuk bersalaman.


"Sore, anak Mama!" setidaknya kalimat itu yang selalu di sematkan untuk menjawab salam dari anak tiri yang selalu ia anggap sama dengan Felia.


"Di mana Felia, Ma?" tanya Clarice yang masih menggendong sang adik.


"Di kamarnya. Tadi pulang sekolah langsung mandi dan tidur." jawab Mama Zahra.


"Oh..." jawab Clarice sembari mencium pipi Zefa dengan gemas. "Kamu di sini dulu, ya? Kakak mandi dulu."


"Okay, Kakak Cla!" jawab Zefa dengan suara mungil nya.


Sementara Clarice langsung naik ke lantai dua. Dan masuk ke kamarnya yang kini sudah bernuansa flamingo. Clarice masuk, dan kamar itu selalu dalam kondisi bersih dan rapi. Karena Mama Zahra selalu membersihkannya meski jarang di tempati oleh sang pemilik kamar.


Clarice segera mandi untuk menghempaskan keringat dan bau badannya, ketika jam dinding sudah menunjukan pukul setengah 5 sore.


Selesai mandi Cla memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur sembari mengecek ponselnya. Di mana ada pesan chat dar Naufal yang mengajaknya untuk keluar besok sore. Saat malam minggu.


Begitulah mereka. Bersahabat, tapi sering jalan berdua, apalagi saat Clarice tengah menginap di rumah Papa Zio. Karena sangat dekat dengan rumah masing - masing. Hanya beda perumahan saja.


"Ya... jalan - jalan saja! Yang penting kita keluar seperti biasa!" jawab Naufal.


"Okay! nanti bilang Papa dulu!" balas Clarice.


"Okay, Cla!" jawab Naufal yang berharap banyak dengan izin yang akan di berikan oleh Papa Zio.


***


Setelah membalas pesan chat dari Naufal, kini muncul chat dari nama Arsen!


Sama seperti Naufal, pemuda itu mengajak Clarice untuk keluar besok sore. Entah kemana. Yang jelas chat Arsen terlihat penuh dengan pengharapan.


"Aku akan meminta izin pada Papa kamu, sekaligus berkenalan. Supaya kamu di izinkan untuk pergi!" mohon Arsen melalui pesan chat.


"Tapi sudah ada yang mengajak aku pergi lebih dulu." jawab Clarice. "Dan itupun aku belum izin Papa. Tapi kamu juga sudah mengajak pergi aku juga. Hemmm..."


"Siapa yang mengajak kamu pergi di malam minggu?" tanya Arsen penuh dengan rasa penasaran tentu saja.


"Ada pokok nya. Dan Papa pasti jauh lebih percaya membiarkan aku pergi dengannya dari pada dengan kamu." jawab Cla.


"Kenapa begitu?"


"Karena Papa cukup mengenal Papanya, dan juga keluarganya!"


"Oh, begitu..." jawab Arsen dengan rasa kecewa yang luar biasa.


Namun rasa kecewa itu hanya bisa ia pendam di dalam dada saja. Ia tak punya hak untuk mengatur Clarice, bukan?


"Maaf ya, Arsen..." ucap Clarice dengan rasa kasian.


Tapi di mata Clarice Arsen adalah pemuda yang pecicilan, dan pasti banyak kandidat yang bisa di pilih Arsen untuk keluar di malam minggu. Membuat rasa kasihan itu terombang ambing di dalam sanubari.


"Ya..."


Jawaban singkat Arsen membuat Clarice kini merasa bersalah. Tapi ia tentu juga takut jika meminta izin untuk pergi dengan pemuda yang tak di kenal sang Papa.


***


terlepas dari chat, waktu makan malam telah tiba. Dan Clarice keluar kamar dengan baju santainya yang berwarna hijau muda. Bertepatan dengan Cla keluar kamar, pintu kamar Felia terbuka bersamaan dengan wajah pemiliknya yang kusut setelah bangun tidur.


"Baru bangun, Fel?" tanya Clarice yang sudah hampir sampai di ujung tangga atas.

__ADS_1


"Eh, iya. Sejak kapan kamu datang, Cla?" jawab Felia yang tak mengetahui kedatangan Clarice.


"Tadi sore," jawab Cla sembari menunggu langkah Felia untuk sampai di sampingnya, kemudian menuruni anak tangga bersama. "Sepertinya kamu benar - benar kelelahan, Fel?"


"Iya, hampir setiap hari aku dan teman - teman latihan basket. Karena sebelum ujian akhir semester nanti akan ada lomba basket antar kelas." jawab Felia. "Untuk memilih murid - murid yang layak mewakili sekolah lomba basket antar sekolah semester dua nanti."


"Oh,  jadi di sekolah kamu, mereka di pilih dengan metode seperti itu?" tanya Cla. "Tidak di pilih dari mereka yang mengikuti kegiatan ekskul basket, ataupun dari mereka yang memang masuk ke sekolah dengan jalus prestasi non akademik?"


"Ya, di pilih dengan cara yang kamu maksud juga. Tapi kadang banyak anak yang  berbakat, tapi malas mengikuti kegiatan ekskul basket."


"Ya, sih! kamu benar." jawab Cla ketika keduanya sudah sampai di anak tangga terakhir.


"Malam, Ma!" sapa Clarice dan Felia berbarengan tanpa di rencanakan.


"Malam, Zefa!" sapa Clarice mencium pipi Zefa yang duduk di samping sang Mama.


"Malam, Kak!"


"Malam, Sayang! ayo duduk!" balas Mama Zahra menunjuk dua kursi yang ada di depannya.


"Ya, Ma!" jawab keduanya lagi.


Seperti itulah mereka. Meskipun tidak kembar, tapi sejak berkenalan 11 thun silam dan kedua orang tua mereka menikah, mereka selalu di anggap kembar. Dan segala sesuatu mereka kerjakan bersama. Sehingga sudah hafal dan sudah biasa jika mereka memiliki kekompakan yang terkadang di miliki oleh anak kembar.


"Di mana Papa dan Zhian, Ma?" tanya Clarice.


"Masih di luar, sebentar lagi pasti masuk."


"Kenapa di luar?" tanya Felia.


"Karena Zhian meminta Papa untuk memperbaiki sepedanya."


"Oh.."


***


"Pa? besok sore Naufal ngajak Cla jalan - jalan, boleh tidak?" tanya Clarice ketika sesi makan malam telah usai dan semua sudah berpindah ke ruang tengah. Sedangkan Zhian dan Zefa sudah asyik dengan mainan masing - masing.


Meski pertanyaan Clarice untuk meminta izin pada sang Papa, tetap saja Mama Zahra dan Felia ikut menyimak.


"Kemana?" tanya Papa Zio.


"Nggak tau... di cuma ngajak, dan suruh minta izin Papa dulu boleh keluar apa tidak."


Menghela nafas panjang, sebagai Ayah tentu Papa Zio harus berfikir keras ketika hendak melepas anak gadisnya keluar di malam minggu. Meski ia mengenal keluarga Naufal, dan ini bukan kali pertama Clarice pergi dengan pemuda itu, tetap saja ada rasa khawatir.


"Seperti biasa, ya? tidak boleh lebih dari jam 10 malam!"


"Okay, Papa! thank you" jawab Clarice memeluk Papa Zio yang memang duduk di sampingnya.


"Kalau Felia... boleh tidak, Pa?" tanya Felia ikut meminta izin.


Papa Zio, sebagai kepala keluarga, dia adalah pemegang tanggung jawab utama untuk istri dan anak - anaknya. Dan sekarang, kedua anak gadisnya yang memang sudah beranjak remaja sama - sama meminta izin untuk pergi di malam minggu.


Ia sadar, jika kelak pasti akan kehilangan suka cinta anak - anak yang hanya untuknya seperti ketika mereka masih kecil. Dan setelah remaja, mereka akan lebih suka pergi dengan teman - temannya, ketimbang keluarga. Belum lagi nanti setelah dewasa.


Kini Papa Zio sudah merasakannya. Di mana dulu ia juga suka pergi di malam minggu. Menghabiskan malam dengan teman - teman, sampai lupa jika di rumah ada Mama Reni yang selalu setia menunggu anaknya pulang di ruang tamu.


"Jadi... kalian berdua akan meninggalkan Papa dan Mama di malam minggu?" tanya Papa Zio dengan suara yang pilu.


Membuat Clarice dan Felia saling tatap satu sama lain. Seolah bertanya, apakah salah jika kita pergi di malam minggu bersama teman - teman?


Dan keduanya hanya mengedikkan bahu, sebagai jawaban tidak tau.


"Tidak boleh ya, Pa?" tanya Felia mengulang.


Menarik nafas panjang, kemudian menghelanya pelan. Papa Zio harus menurunkan egonya dan membuat anak - anak tetap nyaman dengan usia dan kehidupan mereka.


"Boleh, asal tidak lebih dari jam 10 malam..." jawab Papa Zio kemudian menatap pilu pada kedua putrinya. Meski Felia putri tiri, kedudukan sang gadis tetap sama. Tidak ada yang di bedakan olehnya.


"Thank you, Papa!" seru Felia beranjak dari tempat duduknya dan ikut memeluk leher Papa Zio dari belakang sofa.


# # # # # #


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Clarice ketika Sabtu sore telah tiba. Di mana Naufal sudah datang menggunakan motor berjenis CBR, dengan sekaligus membawa helm untuk Clarice.


"Nonton balapan!" jawab Naufal tersenyum tipis sembari membantu Cla memakai helm.


"Balap liar?" tanya Clarice.


"Ya... bisa jadi begitu!" jawab Naufal.


Clarice mulai berfikir, apa balap liar yang akan mereka datangi sama seperti yang akan di datangi oleh Vino dan Neha?


"Okay! setuju!" jawab Clarice dan bersiap untuk naik ke atas motor seharga puluhan juta itu.


...🪴 Bersambung... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2