Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 51 ( Uncle Gilang! )


__ADS_3

Menghempaskan tubuh tinggi besarnya di tempat tidur berukuran standard, dengan bedcover berwarna pink bergambar tokoh kartun Minnie Mouse, di kamar yang setiap sudutnya di dominasi warna pink, Gilang berbaring dengan mesejajari kepala Clarice yang tidurnya sudah acak adul.


Ya, makhluk kecil itu tidur dengan tidak beraturan. Kepala yang tidak pada bantalnya, dan guling yang bukan lagi di peluk. Melainkan di tindih oleh tubuh mungilnya. Gadis itu tertidur tengkurap di atas guling.


"Clarice..." lirih Gilang berulang kali mentoel hidung mungil. Kemudian mencubit gemas pipi gembul sang keponakan.


"Clarice... Wake up!" bisik Gilang gemas. Ia goyang pelan tubuh kecil itu. "Uncle punya hadiah dari Aussie!" ucapnya lagi sembari mencium pipi Clarice.


"Emmmmh!" Clarice menggeliat. Namun bukan untuk bangun dari tidurnya. Melainkan berpindah posisi dari di atas guling, kini sudah di atas tempat tidurnya, dengan membelakangi Gilang yang mengganggu tidur nyenyaknya.


Gilang tergelak, keponakan perempuannya ini sangat lucu dan menggemaskan. Meskipun tak ada ikatan darah di antara mereka, tetap saja Gilang menyayangi Clarice sepenuh hati.


"Clarice... You don't miss me?" tanya Gilang dengan suara lebih keras, dengan mendekap erat tubuh kecil Clarice.


Sayu - sayu sepasang mata kecil mulai membuka secara perlahan. Membalikkan badan dengan cepat untuk melihat tangan siapa yang mendekap tubuh mungilnya.


Mata yang masih terlihat mengantuk itu mulai melihat siapa yang ada di depan matanya. Reflek ia terbangun dengan mata terbuka lebar.


"Uncle Gilang!" seru Clarice tersenyum senang. Meski belum sadar 100 % ia tetap dapat mengenali sosok tampan yang mirip dengan Daddy Kenzo.


"Yes, girl!" jawab Gilang sembari duduk bersila dan merentangkan kedua tangannya. Menunggu sang keponakan memeluk dirinya.


Dan benar saja, Clarice melompat dan memeluk paman kesayangannya erat. Gilang pun memeluk erat tubuh kecil Clarice, kemudian mencium gemas pipi gembul sang peri kecil.


"Uncle kapan datang?" tanya Clarice.


"Baru saja!" jawab Gilang. "Ini sudah mau malam, kenapa kamu masih tidur?" Gilang mendudukkan Clarice di pahanya.


"Clarice sangat mengantuk! Tadi saat ikut Daddy ke kantor, Clarice tidak bisa tidur!" jawab Clarice dengan suara mungilnya.


"Kenapa?"


"Bermain sama Daddy!"


"Memangnya Daddy tidak sibuk?"


"No!" jawab Clarice cepat.


"Baiklah... Sekarang saatnya bermain dengan Uncle!" seru Gilang mengangkat tubuh Clarice, menggendong di lengannya sebelah kiri. Membawa gadis gemoy itu keluar dari kamar serba pink milik gadis itu.


"Galen masih tidur!" ucap Clarice menunjuk pintu kamar orang tuanya.


"Hmm... Kamu benar!" jawab Gilang. "Kita bangunkan saja, yuk!" ujar Gilang tersenyum jahil.


"Boleh!" seru Clarice antusias.


"GIIIILLLL!"


Teriak Kenzo dari ruang bawah membuat lelaki tampan nan humoris itu berhenti mendadak. Langkah lebar seketika tertutup rapat.


Gilang dan Clarice saling tatap dengan mengangkat kedua alis masing - masing. Bibir mengulum senyuman. Menunggu instruksi apa yang akan keluar dari mulut Daddy kenzo.


"Jangan ganggu Galen tidur!" seru Kenzo menghadap ruang atas. "Kalau sampai Galen bangun karena ulahmu! Apartemen ini akan memblokir akses kehadiranmu!"

__ADS_1


Gilang mendelik dengan mengulum gelak tawa menatap Clarice di gendongan. Clarice pun reflek melakukan hal yang sama. Lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan mungil yang putih nan halus.


"Waduh!" pekik Gilang, "Daddy Kenzo benar - benar menyebalkan! bisa - bisa kita tidak boleh jalan - jalan ini!" gerutu Gilang.


"Ya sudah! Kita main berdua saja, Uncle!" pungkas gadis mungil itu.


"Hemm... Baiklah! Uncle punya mainan baru buat Clarice!"


"Oh ya! Clarice mau! Clarice mau!" seru Clarice bertepuk tangan riang.


"Kita turun!" ujar Gilang membawa gadis kecil itu turun dengan masih berada di gendongan lengan kirinya.


Di ruang bawah ada Calina yang tengah membantu suaminya melepas jas hitam beserta dasi milik sang CEO.


"Mau kami bawa kemana Clarice?" tanya Kenzo mengintimidasi sang adik.


"Ke mobil!" jawab Gilang.


"Mau kemana?" sahut Calina.


"Uncle Gilang bilang ada hadiah untuk Clarice!" jawab Clarice dengan polosnya.


"Nah!" seru Gilang, "benar! Kita ambil dulu ya Kakak ipar!" seru Gilang melambai pada Calina.


Kenzo dan Calina hanya bisa menatap dua manusia beda ukuran itu meninggalkan ruang tengah hingga berlalu dari apartemen mereka.


"Padahal mereka jarang bertemu, kenapa bisa begitu akrab!" gumam Calina lirih.


"Gilang memang menyukai anak - anak," jawab Kenzo, "sebisa mungkin pasti dia usahakan untuk merebut hati Clarice dan Galen." lanjutnya.


Kenzo menatap lekat Calina dengan pertanyaan itu. Ada rahasia tentang Gilang yang belum pernah ia ceritakan pada Calina. Rahasia yang sangat sensitif, atau bahkan memalukan bagi beberapa orang.


"Kenapa?" tanya Calina karena melihat Kenzo diam saja.


"Dia enggan menikah..."


"Kenapa?"


"Karena dia hanya akan menikah dengan wanita yang benar - benar ia cintai."


"Dia tidak pernah jatuh cinta?" tanya Calina. "Jangan - jangan dia up normal!" tebak Calina dengan sedikit gelak canda.


Kenzo tersenyum kecil menanggapi candaan istrinya, "Gilang Adhitama, sebenarnya dia orang yang sangat humble namun sulit jatuh cinta." ucap Kenzo, "Selama ini dia memang dekat dengan banyak wanita. Dia juga sering berkencan dengan wanita - wanita cantik. Tapi semua hanya di anggap sebagai seru - seruan saja. Tidak ada satupun yang benar - benar dia cintai." Ucap Kenzo menghayati. "Sampai akhirnya dia jatuh cinta pada seorang gadis beberapa tahun yang lalu."


Jelas Kenzo lebih panjang, sembari mengarahkan Calina untuk menaiki tangga.


"Hanya saja dia jatuh cinta pada gadis yang tak biasa... Dan itu membuatnya sulit move on, sampai detik ini."


"Tak biasa bagaimana maksudnya?"


"Dia menyukai gadis yang mengalami kelainan mental.."


"What!" pekik Calina tak percaya. "Kamu yakin, Mas?"

__ADS_1


"Hem..." Kenzo mengangguk. "Papa dan Mama melarang keras akan hal itu. Setidaknya sampai gadis itu sembuh."


"Maksud kamu, jika gadis itu bisa sembuh Papa dan Mama mengizinkan Gilang menikah dengan dia?"


"Ya... Seperti itu!" Kenzo mengangguk kembali. "Seumur hidupku, sejauh aku mengenal Gilang, tak pernah sekalipun aku melihat sorot mata ketulusan saat melihat seorang gadis." lanjutnya, "tapi saat dia melihat gadis itu, ada sorot mata yang sangat tulus..."


Calina tampak mencerna cerita Kenzo. Mengurai benang ruwet sejak pertama kali ia mengenal sosok Gilang beberapa tahun yang lalu. Dan ia cukup tersentuh akan cerita tentang Gilang yang menurutnya akan sangat berat mendapat ujian macam itu.


"Memangnya dimana Gilang bertemu gadis itu?" tanya Calina saat keduanya sudah memasuki kamar mereka.


"Gadis itu kabur dari Rumah Sakit Jiwa, dan Gilang tidak sengaja menabraknya. Karena merasa bersalah, ia membawa gadis itu ke apartemennya. Karena dia tidak tau kemana harus mengantar gadis itu pulang!" jawab Kenzo. "Gilang memutuskan untuk merawatnya, setidaknya sampai luka - lukanya sembuh."


"Lalu siap sangka Gilang akan jatuh cinta padanya, begitu?" tebak Calina.


"Ya! Dan itu membuatnya mengurungkan niat untuk mencari tempat tinggalnya!" jawab Kenzo sembari duduk di tepi ranjang, dan menunduk untuk mencium pipi gembul Galen. Laki - laki kecil yang menjadi satu - satunya keturunannya saat ini. "Dia sangat tulus merawat gadis itu!"


"Kenapa dia tidak takut merawat orang gila?"


Kenzo melirik Calina yang berdiri di tepi ranjang. Dengan pelan Kenzo menarik tangan wanita itu, lalu mendudukkan Calina di pangkuannya. Mendekap erat dari belakang, kemudian mendaratkan kecupan di pipi si bunga desa.


"Selain kuliah bisnis, Gilang juga kuliah kedokteran. Dia bahkan memiliki gelar SpKJ!"


"Ha!" pekik Calina tak percaya.


"Ya, selama enam tahun dia kuliah di dua tempat!" jawab Kenzo. "Itulah sisi hebat seorang Gilang. Meskipun Papa sering menyebutnya brandalan, tapi dia sangat pintar dan mengutamakan pendidikan!"


"Wow!" seru Calina.


"Kenapa?" tanya Kenzo semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di perut Calina. "Kami tidak menyangka Gilang lebih hebat dari aku?"


"Iya! Aku kira kamu yang paling hebat dan pintar!"


"No.. No.. No!" jawab Kenzo. "Gilang lebih punya dedikasi! Untuk itulah aku meminta dia yang mengurus perusahaan di Aussie!"


"Hemmm..." Calina mengangguk - anggukkan kepala paham. "Tapi menurutku, tetap saja kamu yang terhebat!" Calina memiringkan wajah dan mencium pipi Kenzo.


***


Di tempat parkir bawah, ada Gilang yang tengah mengeluarkan box berukuran besar dari bagian belakang mobilnya.


"Apa itu, Uncle?" tanya Clarice tak sabar.


"Tunggu sebentar baby girl!" jawab Gilang. "Tarraaa!" seru Gilang menunjukkan kota kardus berukuran besar.


"Wow!" seru Clarice dengan mata terbelalak. "Istana Barbie!" ucapnya kemudian.


"Yes! Kamu suka?" tanya Gilang.


"Tentu saja, Uncle! Ini sangat besar!" ujar Clarice melompat - lompat girang. "Ayo kita buka, Uncle! Clarice tak sabar!" ucapnya.


"Ayo kita kembali ke apartemen Daddy!" ajak Gilang meraih tangan mungil dengan tangan kirinya.


"Ayo!" ujar Clarice penuh semangat.

__ADS_1


...🪴Happy Reading 🪴...


__ADS_2