Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 78 ( Calon Mama Cla? )


__ADS_3

Clarice mengambil sebuah bola berukuran kecil namun sedikit memiliki massa. Sehingga jika di lempar dengan tenaga penuh, maka akan bisa mencapai jarak yang cukup jauh.


"Papa! terima ini!" seru Clarice melempar bola di tangannya ke arah sang Papa.


Namun siapa sangka bola itu justru mengenai punggung seorang wanita yang duduk membelakangi dirinya dan sang Papa.


Clarice mungkin tak terlalu mengingat siapa yang terkena bola darinya. Tapi wanita itu jelas sangat mengenali dirinya tanpa celah.


"Nona Clarice!" pekik lirih Zahra saat melihat anak yang di maksud Zio adalah Clarice.


Sungguh terasa seperti mimpi untuk seorang Zahra yang sama sekali tidak tau apa yang baru saja terjadi antara Zio dan Kenzo.


Zahra menatap dalam mata Zio, setelah dengan nyata mendengar jika Clarice memanggil GM nya itu dengan sebutan Papa. Bukankah Clarice anak CEO nya di kantor?


Zio pun gelagapan mendapat tatapan itu dari Zahra. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu orang kantor di hari pertama membawa Clarice jalan - jalan.


Dan lebih herannya lagi, kenapa harus Zahra? Bukankah orang di kantor jumlahnya ratusan?


Circle seolah hanya berputar di situ - situ saja bagi Zio.


"Kenapa Nona Clarice memanggil Bapak dengan sebutan Papa?" tanya Zahra yang saat ini sudah berdiri dengan tatapan tak percaya pada Zio.


Menghela nafas panjang, "Panjang ceritanya, Zahra..." jawab Zio lirih.


Zahra mencoba untuk menjabarkan jawaban Zio. Namun semua hanya seperti benang ruwet yang sulit di urai di dalam kepala Zahra.


"Papa! ayo lempar bolanya!" teriak Clarice untuk yang kedua kalinya.


"Iya, Sayang!" jawab Zio segera mengambil ancang - ancang untuk melempar bola kecil yang sudah berada di tangannya.


"Yeay!" seru Clarice saat berhasil menangkap bola yang di lempar oleh Zio.


Zio menghampiri Clarice dan meminta agar gadis itu bermain sendiri dahulu. Karena ia ingin berbicara dengan Zahra. Karyawan di bawahnya yang akhir - akhir ini mencuri perhatiannya.


Melihat apa yang coba di perintahkan Zio pada Clarice, Zahra pun akhirnya memangil putrinya. Dan di bawa untuk mendekati Clarice dan Zio.


"Biarkan Nona Clarice bermain dengan Felia, Pak." ucap Zahra mengarahkan Felia untuk berkenalan dengan anak bosnya.


Bukan untuk mencari kesempatan, agar lebih dekat dengan keluarga Adhitama. Toh anak mereka seumuran. Hal yang wajar jika saling mengenal satu sama lain, bukan?


Lagi pula tanpa mendekatkan Felia pada Clarice, Zahra pun sudah mulai mengenal Gilang. Karena Gilang yang ternyata menyukai sang saudara kembar. Bahkan kini keduanya tinggal di dalam satu apartemen.


"Iya! kamu benar!" jawab Zio. "Sayang... kenalkan, ini namanya Felia. Felia ini Clarice! kalian main berdua ya?" pinta Zio.


"Main di sana, ya?" Zahra menyahut dengan menunjuk satu ruang yang tertutup jaring, dengan kolam yang di penuhi bola - bola plastik ringan dengan berbagai ukuran.


"Ok, Ma!" jawab Felia.


"Ok, Papa!" jawab Clarice.


Dan pergilah dua bocah berusia 5 tahun itu untuk masuk ke dalam kolam bola yang berukuran cukup besar. Meninggalkan orang tua masing - masing untuk mengobrol berdua dengan masih duduk di dalam arena Playground yang memang sangat luas.


"Jadi apa saya boleh tau, cerita tentang Nona Clarice yang memanggil Bapak dengan sebutan Papa?" tanya Zahra membuka obrolan. "Bukankah Pak Zio dan Nona Clarice baru berkenalan?"

__ADS_1


"Kamu benar, Zahra! kami memang baru berkenalan." jawab Zio tanpa menoleh Zahra. Fokus matanya tetap tertuju pada sang putri yang terlihat langsung akrab dengan Felia.


"Lalu kenapa bisa Nona Clarice memanggil Pak Zio Papa? Dan lagi, dia hanya pergi berdua dengan Pak Zio. Apa Pak Kenzo tidak marah? Apalagi istrinya..."


Pikiran Zahra masih terlihat sangat bingung. Ia sengaja menggempur Zio dengan banyak pertanyaan. Agar pikiran rumit itu segera terjawab dan berubah menjadi pikiran yang terbuka.


"Kamu tau, kenapa istri Pak Kenzo tidak pernah muncul di kantor, ataupun di perkenalkan?"


Zahra hanya menggeleng mendengar pertanyaan Zio.


"Karena ternyata istri Pak Kenzo adalah Calina, mantan istri ku." jawab Zio terdengar pilu dan menyedihkan.


Reflek Zahra menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Serasa tak percaya dengan kenyataan pertama yang ia dengar.


"Dan saat kami bercerai, kami semua tidak tau, kalau ternyata Calina dalam keadaan hamil." lanjut Zio terdengar berbicara dengan menahan sesak di dalam dada.


Tatapan matanya kosong ke arah Clarice berada. Namun bukan Clarice yang menjadi titik fokusnya.


"Jadi Nona Clarice anak kandung Pak Zio? Sedang dengan Pak Kenzo adalah... anak sambung?" tanya Zahra ragu namun sangat penasaran.


"Ya, kamu benar!" jawab Zio. "Tapi Pak Kenzo sudah menemani Clarice sejak ia masih berada di dalam kandungan." lirih Zio terdengar sangat parau.


"Maksud Pak Zio?"


Melihat Zahra yang tampak sangat antusias dengan kenyataan itu, Zio pun menatap lekat janda satu anak itu. Sorot mata mereka bertemu dalam satu garis lurus. Membuat desiran aneh di dalam dada semakin terasa nyata.


Sama - sama bisa merasakan ada yang aneh di dalam diri mereka. Sesuatu yang sulit untuk di artika, juga sulit pula untuk di ungkapka.


Zio kembali menatap Clarice, kemudian barulah ia menceritakan semua tentang kenyataan apa yang baru saja ia hadapi. Mulai dari perasaan anehnya saat pertama kali melihat Clarice di ruang kerja Kenzo. Sampai waktu dimana ia melihat Clarice bersama Calina di pusat perbelanjaan. Terakhir, saat ia mendatangi apartemen Kenzo kemarin.


"Sekarang aku hanya bisa bersyukur, karena Clarice bersedia menerima ku tanpa harus melalui drama yang sulit." ucap Zio. "Aku sekarang yakin, jika Calina dan Pak Kenzo merawat anak ku dengan sangat baik dan penuh kasih sayang."


"Saya juga bisa merasakan, kalau Pak Kenzo sangat menyayangi Nona Clarice..." sahut Zahra.


Zio menghela nafas panjang dan lega. Karena ada tempat baginya untuk berbagi cerita, selain hanya bercerita pada foto Naura yang mana tak akan pernah mendapat jawaban.


"Lalu... bagaimana kalau orang - orang di kantor melihat hal ini seperti saya?" tanya Zahra. "Apa semua sudah di persiapkan? saya khawatir beberapa orang akan menganggap Nyonya Calina adalah wanita yang memanfaatkan keadaan."


"Tidak akan ada yang berani menggunjing istri bos, bukan?" tanya Zio. "Selama mereka membutuhkan pekerjaan, aku yakin tidak akan ada yang berani membicarakan Pak Kenzo dan Calina."


"Ya, semoga saja!"


"Papa!" seru Clarice berlari mendekati Zio.


Zio pun sigap merentangkan tangannya untuk menyambut sang buah hati. Sungguh damai hati Zio, saat Clarice mendarat di dalam pelukannya.


"Ada apa, Sayang? Anak Papa yang paling cantik!" gemas Zio menciumi pipi genbul nan mulus Calrice.


"Cla haus!" jawab Clarice.


"Mama!" seru Felia mendeati Zahra.


"Ada apa, Nak?"

__ADS_1


"Haus!" jawab Felia.


"Tunggu sini, biar Papa belikan minuman.


"Tapi di larang membawa makanan dan minuman masuk, Pak." sahut Zahra.


Zio berfikir sejenak, "Kalau begitu bagaimana kalau mainnya sudah. Kita ganti jalan - jalan, beli ice cream dan sekaligus makan malam.' tawar Zio pada putrinya.


"Boleh.." jawab Clarice mengikuti kemauan sang Papa.


"Saya permisi ya, Pak Zio. Silahkan di lanjutkan acara jalan - jalannya bersama Nona Clarice." pamit Zahra karena merasa tidak enak hati.


"Hah? kenapa kita tidak pergi bersama saja?" tanya Zio. "Toh anak - anak senang kalau kembali bermain bersama." ujar Zio. "Bukan begitu, Clarice?"


"Yes, Papa!" jawab Clarice senang.


"Kamu mau kan, Felia?" tanya Zio pada anak Zahra.


"Iya, Om! Felia mau..." jawab Felia tak kalah antusias dari Clarice.


"Ayo!" ajak Zio menatap Zahra yang tampaknya masih sungkan.


"Baiklah, Pak Zio.." jawab Zahra setelah menimbang - nimbang.


Malam itu pun berlalu dengan makan malam bersama, antara Mas Duda dan Mbak Janda. Yang mana masing - masing membawa anak perempuan dengan usia yang hanya beda beberapa minggu saja.


***


Malam semakin larut, Clarice pulang bersama Zio menuju rumah Zio. Rumah yang pasti menjadi milik Clarice pula.


Perjalanan di tempuh dengan Clarice yang tampak masih asyik dengan segelas ice cream viral di pangkuannya. Sedang sang Ayah, fokus mengemudi sambil sesekali melirik ke arah anaknya.


"Kamu senang malam ini, Sayang?"


"Ya, Papa! Clarice sangat senang!" jawab Clarice dengan tangan yang tak berhenti memasukkan ice cream ke dalam mulut kecilnya.


"Bagaimana kalau hari sabtu nanti, kita jalan - jalan lagi?" tawar Zio.


"Kemana?"


"Kebun binatang, mau?"


"Boleh! Cla mau!" seru Clarice senang. "Yeay! Yeay! yeay!"


Zio pun tersenyum melihat anaknya begitu senang. Namun seketika senyum itu berubah menjadi senyum kecut, saat mengingat jika besok Clarice sudah harus pulang bersama Kenzo.


"Siapa Aunty yang tadi, Pa?" tanya Clarice. "Calon Mama Clarice?" tanya Clarice dengan polosnya.


Sontak Zio pun terperangah dengan pertanyaan bocah 5 tahun yang sangat menggemaskan itu.


Sungguh ia tam menyangka sang anak bisa memiliki pertanyaan macam itu, meski dalam hati ia pun... Mengharapkannya.


...🪴 Bersambung ...🪴...

__ADS_1


__ADS_2